GADIS KECIL KESAYANGAN CEO 2

GADIS KECIL KESAYANGAN CEO 2
CHAPTER 20


__ADS_3

"Maafkan aku, aku harap kau mau menungguku!" Ucap Angga setelah ia memberhentikan mobilnya lalu menatap Yunda dengan tatapan penuh kasih. Angga membelai lembut rambut Yunda.


Angga memanggil petugas keamanan yang menjaga rumah Yunda untuk membuka pintu gerbang.


"Iya tuan?" Tanya penjaga itu.


"Tolong buka gerbangnya, Yunda tertidur!" Jawab Angga dengan ekspresi datar.


Penjaga itu mengangguk kemudian ia membuka gerbang, Angga membuka pintu mobilnya lalu menggendong Yunda masuk.


"Bawakan barang-barangnya dibagasi!" Titah Angga.


"Baik tuan!" Penjaga itu menyanggupi.


Angga menekan bel rumah menggunakan jidatnya, seorang wanita dengan mengenakan pakaian maid keluar menyambutnya ia terlihat terkejut melihat Angga menggendong Yunda.


"Nona apa yang-" ucapan wanita itu terpotong.


"Ssttt... jangan berisik!" Sahut Angga dengan suara pelan.


Maid tersebut mengangguk, Angga masuk kedalam rumah Yunda. Rumah itu tampak sepi, ia hanya menemukan maid yang membukakan pintu untuknya.


"Dimana kamarnya?" Tanya Angga datar.


"Diatas tuan!" Jawabnya.


Angga berjalan naik keatas tangga, jika dirumahnya ia dapat menggunakan lift maka disini ia hanya bisa meniti tangga.


Maid tersebut membukakan pintu kamar Yunda, Angga masuk lalu membaringkan tubuh Yunda diatas kasur. Angga menatap Yunda dengan tersenyum kecil, Angga menarik selimut untuk menutupi tubuh Yunda. Angga membelai pipi Yunda lalu mencium keningnya.


"Selamat malam!" Gumam Angga.


Angga kembali berjalan keluar, terlihat tatapan bingung dan penuh tanda tanya diwajah maid Yunda.


"Maaf tuan, anda siapa?" Tanyanya.


Angga melirik sekilas kearahnya "Atasannya." Angga menjawab.


Angga bergegas pergi dari rumah Yunda, penjaga keamanan dirumah Yunda menyerahkan barang bawaan Yunda kepada pelayan rumah Yunda.


Pagi tiba...


"Ummh...," Yunda membuka kedua matanya secara perlahan, Yunda menatap atap kamarnya.


"Apa aku dikamar?" Gumamnya sambil bangun dari tidurnya.


Maid yang semalam menyambut Angga masuk kedalam kamar Yunda.


"Selamat pagi, nona!" Sapa pelayan tersebut.


"Bibi, siapa yang membawaku kemari?" Tanya Yunda bingung.


"Seorang pria, dia bilang atasannya nona. Tapi, kenapa dia mencium nona ya?" Jawabnya.


Pelayan itu berpikir keras mengenai kejadian semalam saat Angga mencium kening Yunda. Yunda yang mendengarnya terkejut dengan wajah merah.


"A-apa?! I-itu bi, tolong jangan beri tahu Papa!" Ucap Yunda.


Pelayan itu tertawa kecil.


"Tentu nona!" Jawabnya.


Yunda berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, setelahnya turun kebawah untuk menyantap makan pagi.


"Bi, Papa belum pulang?" Tanya Yunda.


"Belum nona, tuan besar sedang dinas diluar kota. Kemarin beliau bilang akan pulang malam ini!" Jawab maid tersebut.


Yunda mengangguk paham, Ayah Yunda yakni Wijaya Denandra seorang TNI angkatan darat. Ibu Yunda telah meninggal dunia saat Yunda masih kecil, Yunda tinggal bersama ayahnya walaupun ayah Yunda jarang memiliki waktu untuknya.


Yunda menyantap makan paginya sambil sesekali mengusap jidatnya.


Yunda tiba diperusahaan Sunjaya, Yunda tampak tidak fokus bekerja karena terus memikirkan Angga.


"Kak Yunda!" Sapa Fira, Fira menghampiri Yunda yang baru masuk.


Yunda tersenyum membalas sapaan Fira.


"Bagaimana semalam, apakah kalian menimatinya?" Tanya Yunda sedikit berbasa-basi.


"Tentu saja, aku senang sekali." Jawab Fira.

__ADS_1


"Benar, aku juga sangat senang. Tidak kusangka Jarvis sangat romantis!" Lia menjawab.


Yunda tersenyum menanggapi jawaban Fira dan Lia.


"Bagiku itu tidak menyenangkan!" Sahut Nisa.


"Lho? Kenapa?" Tanya Lia dan Fira bersamaan sementara Yunda memasang ekspresi heran.


"Semalam kalian asyik bersama dengan pasangan kalian, sementara aku sendirian!" Jawab Nisa cemberut.


"Eh? Bukankah kamu pergi bersama kak Yunda?" Tanya Lia.


"Benar. Kak, apa kakak tidak pergi?" Tanya Fira.


"Kak Yunda dibawa pergi Direktur Sunjaya," jawab Nisa.


"Apa? Bagaimana bisa?" Tanya Lia dan Fira terkejut.


"Entahlah, kami berdua memang pergi bersama. Tapi, ketika sampai tuan Angga membawa kak Yunda pergi." Sahut Nisa.


"Apa yang kakak lakukan dengan presdir?" Tanya Fira diangguki Lia.


"A-aku hanya membahas pekerjaan bersamanya," jawab Yunda sedikit gugup.


"Bahkan saat malam juga?" Ucap Lia tak percaya.


"Presdir memang tidak punya hati, seharusnya dia membiarkan kak Yunda bersenang-senang!" Oceh Nisa tak terima.


Angga tiba diperusahaannya dan sedikit mendengar ocehan Nisa.


"Apa yang kau katakan tadi?" Tanya Angga dengan nada datar.


Keempat gadis itu terkejut dengan kedatangan Angga.


"Ti-tidak ada tuan, maafkan saya." Jawab Nisa.


Angga kembali berjalan, Jarvis yang ikut berjalan dibelakangnya menarik tangan Lia dan membawanya pergi.


"Huuff... syukurlah aku baik-baik saja," ucap Nisa lega.


.....


"Fira!" Panggil Angga ketika ia melihat Fira.


"Kau temani aku makan siang!" Ucap Angga tanpa berbasa-basi.


"Apa?!" Fira terkejut hingga tanpa sadar meninggikan nada bicaranya.


Fira sadar akan ucapannya dengan cepat ia meminta maaf "Maaf, tadi saya hanya terkejut." Ucapnya.


"Tidak masalah. Ayo cepat!" Angga menarik lengan Fira membawanya berjalan keluar dari perusahaan.


Angga membawa Fira kesebuah kafe terdekat bernama Paradise Cafe.


"Saya pesan chocolate cake dengan choco lava!" Ucap Fira memesan makanannya setelah Angga menyuruhnya. Fira tampak ragu untuk memesan, ini pertama kalinya ia makan bersama Angga.


"Kau tidak pernah berubah, dari dulu kau sangat menyukai coklat." Gumam Angga.


"Maaf? Anda berkata apa tadi?" Tanya Fira yang samar-samar mendengar gumaman Angga.


"Bukan apa-apa!" Angga menjawab.


Fira memakan makanannya dengan perasaan gugup, sementara Angga makan dengan tenang tanpa merasakan kegugupan.


Selesai makan siang, Angga membawa Fira kesebuah taman. Fira duduk menatap pohon yang tumbuh, bunga-bunga yang bermekaran dengan sangat indah.


"Kau mengingatkanku pada adik kesayanganku!" Ucap Angga sambil menatap Fira.


"Benarkah?" Sahut Fira tak mempercayainya.


Angga mengangguk.


"Dia sangat menyukai coklat, dia juga sangat cantik sama seperti dirimu!" Kata Angga.


"Siapa nama adik anda?" Tanya Fira.


"Klasenna Glorya Sunjaya!" Jawab Angga.


"A-apa? Kla-Klasenna?" Beo Fira tak percaya.


Perlahan Fira merasakan sakit pada kepalanya, Fira merintih sambil memegang kepalanya. Angga tampak khawatir dengan keadaan Fira.

__ADS_1


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Angga setelah Fira merasa lebih baik.


"Ti-tidak apa-apa!" Jawabnya.


"Senna... apa benar aku Klasenna?" Pikir Fira.


Angga membawa Fira pulang kerumahnya, Angga memang sengaja mengucapkan hal itu agar Fira mengingat siapa dirinya. Angga hanya ingin membuat Fira mengingat siapa dirinya dan kelak ia tidak akan menyakiti hati Yunda.


"Tuan Angga!" Sapa Starla yang melihat Angga didepan gerbang rumahnya.


Angga menoleh dan mendapati Starla yang hanya mengenakan kaos dengan celana pendek.


Starla senang melihat Angga berada didepan rumahnya, dengan cepat Starla bergelayut manja dilengan Angga. Angga tampak risih dengan keberadaan Starla yang menggandeng erat lengannya.


"Tuan Angga, apakah anda datang kesini untuk menemuiku?" Tanya Starla.


"Ekhem! Permisi, maaf saya mengganggu. Saya permisi masuk kedalam!" Ucap Fira yang merasa jengkel dengan adanya Starla.


"Cih! Hey anak terbuang! Apa kamu iri hah?!" Ucap Starla menghina Fira.


Angga yang marah mendengar adik kesayangannya dihina dengan sangat keji seperti itu mencengkram erat lengan Starla kemudian melepaskan gandengan tangan Starla yang mengikat lengannya.


"Aah... sa-sakit..." Starla merintih.


Mendengar rintihan dari Starla membuat Fira berbalik menatapnya.


Angga berbisik ketelinga Starla "Jangan menghinanya atau aku patahkan lenganmu!" Ancamnya.


Angga menghempaskan lengan Starla dengan kasar kemudian masuk kedalam mobilnya, Angga melajukan mobilnya keluar dari kompleks perumahan Fira.


"Sebanarnya apa hubungan tuan Angga dengan Fira?" Batin Starla berpikir.


Setelah melihat Angga pergi, Starla berbalik ia menatap Fira kesal. Fira bingung dengan tatapan dari Starla.


"Awas saja kamu! Lain kali akan aku buat kamu menderita!" Ucap Starla dalam hati.


Starla masuk kedalam rumahnya sambil memegang pergelangan tangannya diikuti Fira yang berjalan dibelakangnya.


"Ibu!" Panggil Starla.


"Kenapa, sayang?" Sahut Ana.


Anatasya turun dari kamarnya menghampiri putri kesayangannya, sesampainya dibawah Ana membelai lembut rambut Starla.


"Lihat tanganku! Fira mencengkramnya dengan erat!" Adu Starla berbohong.


"Apa?! Bagaimana bisa?" Tanya Ana terkejut.


Ana melihat Fira yang masuk kedalam rumah, dengan cepat Ana menghalangi jalan Fira lalu menjambak rambutnya.


"Apa salah putriku sampai kau berani menyakitinya hah?!" Bentak Ana.


"A-aku tidak bersalah, aku sama sekali tidak menyakitinya...," jawab Fira sambil memegang lengan ibunya yang menjambak rambutnya.


"Bohong! Dia menyakitiku bahkan dia berani mengancamku!" Sahut Starla.


Fira menatap tajam kearah Starla, kenapa dia berbohong? Padahal orang yang mencengkram lengan serta mengancamnya itu Angga bukan dirinya.


Ana semakin mengeratkan jambakannya, ia menatap Fira dengan tajam.


"Kau! Aku membiarkanmu tinggal dirumah ini! Tapi kau sama sekali tidak tahu berterima kasih!" Bentak Ana.


"Aku bisa saja membuangmu sejak hari itu jika bukan karena suamiku!" Lanjutnya.


"Dengarkan aku!" Fira menatap kedua bola mata ibunya yang tengah membara penuh amarah.


Fira juga tidak ingin tinggal dirumah ini, jika saja ia punya uang saat ini juga Fira akan keluar dan mencari keberadaan keluarganya.


"Bu-bukan keinginanku tinggal disini... a-aku juga tidak ingin berada disini...," jawab Fira dengan suara bergetar.


"Halah! Dasar anak sampah!" Ana menghempaskan tubuh Fira kelantai.


"Jangan pernah kau berani mengadu!" Tegas Ana.


Starla tersenyum puas melihat Fira dimarahi.


"Melihatmu membuatmu jijik!" Ucap Ana.


"Siapa yang kau bilang sampah?" Tanya seorang pria dari balik pintu.


Huhu maaf baru up, sy gak punya kuota🙏

__ADS_1


Tetap dukung karya saya ya semuanya😘😘


__ADS_2