
"Ma-maaf, saya tidak tahu jika anda itu direktur perusahaan AL Group. Ja-jadi yang menabrak saya tadi pagi itu anda?" Ucap Fira.
"Hmm? Kenapa sekarang kau terlihat gugup? Padahal pagi tadi kau masih begitu santai," sahut Angga.
"Mau bagaimana lagi, toh itu juga salahmu sendiri kan? Siapa suruh menyetir mobil tidak memperhatikan jalan," balas Fira sambil mengangkat bahunya.
"Kau ini gadis yang aneh, gadis yang sopan namun sedetik kemudian berubah menjadi gadis menyebalkan!" Ucap Angga.
"Karena itu adalah gayaku!" Setelah berkata demikian Fira pergi menuju kantin meninggalkan Angga.
Angga terus menatap Fira, sampai akhirnya Fira menghilang dibalik dinding. Angga menyunggingkan senyum tipisnya, kemudian ia berbalik menuju ruangannya.
"Kenapa lama?" Tanya Dimas.
"Maaf, tadi aku bertemu seseorang jadi mengobrol sebentar!" Jawab Fira.
Dimas menggelengkan kepalanya, keduanya lantas berjalan menuju mobil.
"Jarvis!" Panggil Angga kepada asisten pribadinya.
"Kenapa?" Ucap Jarvis.
"Cari tahu siapa itu Alfira!" Jawab Angga.
"Kenapa kau tiba-tiba menyuruhku untuk menjadi mata-mata?" Tanya Jarvis.
"Ck! Tidak usah banyak bicara, cari tahu saja bisa kan?" Tegas Angga.
"Iya-iya akan aku cari tahu!" Jawab Jarvis dengan wajah malas.
Jarvis Ergardad, salah satu teman sekolah Angga. Dari mulai sekolah menengah atas hingga perguruan tinggi, Jarvis bekerja untuk Angga. Ia mulai mengikuti Angga kemana pun, Jarvis anak dari salah seorang pengikut Ardiaz. Oleh karena itu Jarvis berusaha menjadi asisten terbaik untuk Angga.
"Akan aku selesaikan laporannya, kamu bisa pulang dengan tenang!" Ucap Fira ketika pulang bekerja. Dimas mengantar Fira pulang kerumahnya.
"Baiklah, sampai jumpa nanti!" Jawab Dimas.
Dimas melajukan mobilnya keluar dari komplek perumahan Fira, Fira membuka gerbang rumahnya kemudian masuk kedalam dengan wajah malas.
"Heh kamu!" Panggil seseorang dengan nada tinggi.
"Setrika bajuku, besok aku akan memakainya keacara penting!" Lanjutnya sambil melemparkan baju yang ia maksud.
"Akan aku kerjakan nanti," jawab Fira.
"Enak saja nanti, sekarang! Kamu harus menyelesaikannya sekarang juga!" Ucapnya dengan marah.
"Starla, biarkan Fira istirahat dulu. Kamu bisakan menyetrika baju sendiri?" Sahut salah seorang pria.
Starla Putri Bagaskara, ia putri kedua dari keluarga Bagaskara. Starla selalu memperlakukan Fira seperti seorang pembantu. Sedangkan pria yang melerai Starla adalah ayah dari keduanya, Bagaskara.
"Tidak apa-apa ayah, aku akan menyelesaikannya!" Ucap Fira.
Fira naik keatas tangga menuju kamarnya, ia mengunci pintu kamarnya lalu membaringkan tubuhnya diatas ranjang.
"Jika saja aku punya banyak uang, aku akan pergi dari keluarga ini!" Ucap Fira sambil menatap langit-langit kamarnya.
"Ayah, ibu... aku merindukan kalian!" Lanjutnya.
__ADS_1
"Ayah dengar kan? Fira sendiri yang mau menyetrika bajuku, jadi ayah jangan menyalahkan aku!" Tegas Starla.
"Starla, kapan kamu akan menghargai Fira? Kapan kamu akan menyayangi Fira? Dia itu kakakmu!" Ucap Bagas dengan nada tinggi.
"Sampai kapan pun aku tidak akan menganggap Fira sebagai kakakku!" Tegas Starla, kemudian ia keluar dari rumah.
Bagas hanya bisa terdiam, ia kemudian menundukan kepalanya.
"Maafkan aku..." raut wajah penuh bersalah terpampang jelas diwajah Bagas.
"Jadi? Apa kau sudah menemukan informasi mengenai gadis itu?" Tanya Angga sambil membuka pakaiannya.
"Kau ini, memangnya segampang itu mencari informasi?" Jawab Jarvis.
"Aku hanya bertanya, kenapa kau marah?" Sahut Angga.
"Sudahlah, dengarkan besok kau harus hadir dirapat perusahaan. Jangan sampai terlambat!" Pesan Jarvis.
"Memangnya sejak kapan aku selalu terlambat?" Tanya Angga.
"Pagi tadi kau terlambat, bahkan saat ujian terakhir dikampus kau juga terlambat!" Jawab Jarvis.
"Benarkah? Aku tidak merasa aku pernah terlambat!" Sahut Angga.
"Kau sangat menyebalkan!" Ucap Jarvis kesal.
Angga membalikan badannya dengan dada telanjang, ia menatap Jarvis.
"Kau tidak pernah tahu apa yang aku rasakan jadi jangan menilai sifatku dengan seenak hati!" Tegas Angga dengan tatapan tajam.
"Baiklah, akan aku usahakan kau mendapatkan informasinya besok. Aku harus pulang sekarang!" Ucap Jarvis, ia kemudian bergegas keluar dari kamar Angga.
Angga menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan sendu.
"Sampai sekarang aku belum bisa menemukannya!" Ucapnya pelan.
Pagi tiba...
Angga terbangun dari tidurnya, cahaya matahari yang masuk kedalam kamarnya menyilaukan kedua bola matanya. Salah seorang pelayan rumahnya masuk sambil membawa sarapan untuknya, Angga memakai handuk kimononya kemudian berjalan masuk menuju kamar mandi. Sementara pelayan tadi, ia membereskan kamar Angga.
"Pak, apa anda mau minum teh?" Tanya pelayan tersebut.
"Tidak usah, hari ini aku tidak makan!" Jawab Angga dengan nada dingin.
"Baiklah, saya permisi kembali kedapur!" Ucap pelayan tersebut pamit.
Angga mengangguk, kemudian ia memakai pakaian yang telah disiapkan pelayan tadi. Angga menatap bayangan dirinya dari pantulan cermin, ia menatap kalung yang terpaut dilehernya.
"Aku jadi merindukan ibu," ucapnya pelan.
Lantas, Angga keluar dari kamarnya menuju ruang utama. Angga bergegas keluar dari rumahnya kemudian masuk kedalam mobilnya.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, Angga tiba diperusahaannya. Angga keluar dari mobil, ia kemudian berjalan masuk kedalam perusahaan. Tatapan orang-orang disekitarnya mengganggu penglihatan Angga.
"Mereka menatapku seakan-akan tidak punya pekerjaan!" Ucap Angga.
Sementara itu dirumah Fira...
__ADS_1
"Hey! Kamu ini bagaimana sih, menyetrika baju tapi tidak terlihat rapi. Kamu tidak menyetrikanya ya?" Ucap Starla dengan marah.
"Sayang, kenapa kamu marah-marah begitu?" Tanya ibu Starla.
"Ibu, bagaimana aku tidak marah. Dia menyetrika bajuku tapi masih terlihat kusut!" Jawab Starla dengan wajah manja.
"Hah! Ibu dan anak sama saja," batin Fira mengeluh.
"Heh! Apa kamu tidak bisa bekerja? Sudah menumpang tapi tidak mau bekerja, memangnya kamu pikir tinggal dirumah ini gratis apa?!" Bentak wanita tersebut.
"Aku tahu, memang didunia ini tidak ada yang gratis. Maka dari itu, jika kamu menginginkan pakaianmu rapi kamu harus membayarku!" Jawab Fira.
Fira berjalan keluar ia mengacuhkan Starla yang terus memarahinya tanpa henti.
"Dasar anak tidak tahu diri!" Ucap ibu Starla.
Fira tiba ditempatnya bekerja dengan wajah muram, Dimas memperhatikannya sambil memakan kue.
"Kenapa dengan wajahmu?" Tanya Dimas.
"Wajahku baik-baik saja, tidak ada luka kan?" Jawab Fira balik bertanya.
"Kenapa kamu terlihat muram?" Tanya Dimas sembari menepuk-nepuk tangannya membersihkan remehan kue.
"Aku berharap dapat terbebas dari keluarga iblis itu, setiap hari aku selalu diperlakukan sebagai pembantu. Aku memang bukan anak kandung mereka, tapi setidaknya mereka mengakuiku!" Jawab Fira sambil menundukan wajahnya.
"Aku mengerti," ucap Dimas menenangkan Fira.
Fira mengangguk, kemudian ia meraih kotak kecil yang ada didepan Dimas. Ketika hendak memasukan tangannya, bola mata Fira membulat terkejut.
"Hah! Sudah habis?!" Ucapnya dengan menatap tajam Dimas.
"Eh? Memangnya kamu mau memakannya?" Dimas balik bertanya dengan wajah bingung.
"Tentu saja, kenapa kamu habiskan semua. Dasar jahat!" Fira beranjak pergi dari sana. Fira berjalan menuju dapur tempat ia bekerja.
Dimas mengangkat sebelah alisnya, takut Fira marah ia bergegas menyusul Fira.
"Fir, kamu... emm," ucapan Dimas terhenti.
"Apa?" Tanya Fira datar.
"Apa kamu malam ini ada acara?" Tanya Dimas memberanikan diri.
Fira menoleh sambil membawa gelas kopi yang telah ia buat.
"Memangnya kenapa?" Fira balik bertanya, ia berjalan mendekat kearah Dimas. Tampak telinga Dimas memerah melihat Fira yang semakin mendekat.
"Itu... a-aku..." lagi-lagi Dimas tak meneruskan ucapannya.
"Aku apa sih, kamu kalau ngomong tidak pernah benar!" Fira merajuk lantas kembali ketempat ia mengerjakan tugasnya.
Dimas tersadar, kemudian ia mengejar Fira sambil meneriaki namanya.
ALFIRA SHERIA BAGASKARA
__ADS_1