
Angga melepaskan Yunda dari pelukannya, Angga menggenggam tangan Yunda lalu membawanya berkeliling.
Yunda melihat-lihat sekitar.
"Wah! Boneka itu cantik sekali!" Gumam Yunda sambil memperhatikan boneka yang ada disebuah tenda permainan lempar anak panah.
Angga menatap tenda tersebut dengan banyak boneka yang menggantung diatasnya.
"Kau menginginkannya?" Tanyanya sambil menghentikan langkahnya.
Yunda menatap Angga "Tidak, saya tidak menginginkannya!" Jawab Yunda sembari menggeleng.
Angga menarik lengan Yunda berjalan mendekat kearah tenda tersebut.
"Tuan, saya sudah bilang saya tidak menginginkannya!" Ucap Yunda menghentikan Angga.
"Berapa harganya?" Tanya Angga menunjuk boneka yang menggantung.
"Anda harus memenangkannya!" Jawab sang penjaga tenda.
"Baiklah, berapa aku harus membayarnya?" Tanya Angga.
"Cukup 10.000 ribu saja tuan!" Jawabnya.
Angga merogoh saku jasnya, ia mengambil dompetnya lalu mengeluarkan selembar uang kertas berwarna merah. Angga memberikannya kepada si penjaga tenda tersebut. Penjaga tenda itu menerimanya lalu memberikan uang kembalian beserta anak panah kecil.
"Silahkan tuan!" Ucapnya.
Angga hanya mengambil sebuah anak panah tersebut.
"Kau ambil saja kembaliannya!" Sahutnya tanpa menatap penjaga itu.
Penjaga tenda itu terkejut, dengan penuh bersyukur ia mengucapkan terima kasih. Yunda menatap Angga dengan seksama.
"Apa anda yakin mau memainkannya?" Tanya Yunda dengan ragu.
"Wanitaku menginginkan sebuah boneka, kenapa aku tidak memberikannya?" Jawab Angga seraya menatap kearah Yunda.
Yunda tersipu, wajahnya memerah seperti udang rebus yang siap digoreng dihidangkan bersama nasi hangat dan sambal goreng. Wah! Perut author jadi lapar muehehehe...
Angga membidikan anak panah itu, lalu menembakkannya tepat ditengah-tengah bidang.
Yunda terkagum termasuk si penjaga tenda.
"Wah! Anda sangat hebat!" Puji Yunda.
"Pilih boneka mana yang kau inginkan!" Ucap Angga sembari meletakan busur panah tersebut diatas meja.
Yunda menatap keatas, ia memilih-milih boneka mana yang akan ia ambil. Yunda tersenyum saat menatap boneka pilihannya.
"Itu tuan!" Yunda menunjuk sebuah boneka beruang yang cukup besar berwarna ungu.
Penjaga tenda mengambilkannya kemudian memberikannya pada Yunda, Yunda memeluk boneka itu dengan erat sambil tersenyum. Angga ikut tersenyum melihatnya.
__ADS_1
"Yah... meleset!" Ucap seorang anak laki-laki.
Angga melirik kesamping, ia melihat seorang anak laki-laki yang tengah memegang busur panah. Disampingnya berdiri gadis cantik nan mungil bersembunyi dibalik badan anak laki-laki tersebut.
"Yah... aku tidak mendapatkan bonekanya," sahut gadis mungil tersebut.
"Maaf ya, kakak tidak bisa memenangkannya untukmu!" Ucap anak laki-laki itu seraya mengelus rambut gadis mungil itu.
Yunda yang melihatnya tampak kasihan, Yunda berjalan hendak mendekati kedua anak kecil itu namun Angga mencegahnya dengan memegang tangannya.
"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Angga.
"Saya ingin memberikan boneka ini untuk gadis kecil itu," jawab Yunda.
"Biar aku yang mengurusinya!" Ucap Angga.
Angga berjalan mendekati kedua anak kecil itu.
"Gadis kecil, boneka mana yang kau inginkan?" Tanya Angga sambil membungkuk.
Gadis itu bersembunyi dibalik tubuh sang kakak, ia tampak menatap Angga dengan takut. Angga tersenyum ia lantas menatap sang kakak yang melindungi adiknya dengan memeluknya dari sambil.
"Katakan!" Suruh Angga kepada anak laki-laki itu.
"Me-merah muda!" Jawab sang kakak dengan ragu.
Angga kembali membayar seharga 100 ribu untuk satu anak panah. Angga menarik anak panah itu lalu melepaskan tarikannya, anak panah itu menancap tepat ditengah-tengah bidak seperti sebelumnya.
Sang penjaga tenda memberika boneka beruang berwarna merah muda pada Angga, lantas Angga memberikannya kepada gadis kecil itu.
Gadis itu tersenyum, ia menerimanya dan tak lagi bersembunyi dibalik tubuh sang kakak. Anak laki-laki tersebut juga ikut tersenyum melihat adiknya yang tersenyum.
"Terima kasih paman!" Ucap gadis itu.
"Tentu saja," jawab Angga sambil mengusap kepala gadis kecil tersebut.
"Tuan Angga sangat baik hati," ucap Yunda dalam hati.
"Apa kalian datang sendiri? Dimana orang tua kalian?" Tanya Angga.
"Orang tua kami tengah berjualan disebelah sana!" Jawab sang kakak sambil menunjuk sebuah tenda yang menjual makanan.
Angga merogoh saku jasnya, ia mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dari dalam dompetnya lalu memberikannya kepada anak laki-laki tersebut.
"Ambil ini dan berikan kepada orang tua kalian!" Ucap Angga.
Kedua anak itu mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Angga lalu keduanya berlari menuju tenda orang tuanya. Mereka memberikan uang yang diberi oleh Angga. Yunda tersenyum melihat kedua anak kecil itu, Angga menatap Yunda yang tersenyum. Angga berjalan menghampirinya lalu mencium pipinya.
"Apa ada lagi yang kau inginkan?" Tanya Angga sambil menyelipkan rambut Yunda kebelakang telinganya.
Yunda memegang pipinya yang tadi dicium Angga, Yunda tersipu malu. Angga menggenggam tangan Yunda membawanya kembali berjalan.
"Sa-saya boleh menaiki itu?" Tanya Yunda sambil menunjuk sebuah kincir ria.
__ADS_1
Angga melihat kearah yang ditunjuk Yunda, Angga mengernyitkan dahinya.
"Apa kau yakin?" Tanya Angga memastikan setelah melihat betapa tingginya kincir tersebut.
"Ya! Saya ingin menaikinya!" Jawab Yunda dengan semangat.
"Baiklah!" Jawab Angga sambil menaikan alisnya, Angga menarik lengan Yunda menuju penjual tiket. Setelah membayar tiket, Angga dan Yunda masuk kedalam sangkar kincir.
Perlahan kincir naik keatas, Yunda tampak gemetar saat kincir naik. Angga yang duduk disamping Yunda menggenggam erat tangan Yunda seraya mengusapnya dengan lembut.
"Kau bilang ingin menaikinya, tapi kenapa sekarang kau takut?" Tanya Angga dengan terkekeh kecil.
"Sa-saya penasaran bagaimana rasanya setelah teman-teman saya bercerita mengenai kincir ria. Tapi ternyata, rasanya sangat tidak nyaman." Jawab Yunda.
Angga menutup mata Yunda dengan telapak tangannya.
"Jika begitu, jangan melihat kebawah!" Ucap Angga mengingatkan. Yunda mengangguk kecil, Angga menatap bibir Yunda dengan seksama. Perlahan ia mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Yunda.
Yunda terkejut, dari balik tangan Angga yang menutup matanya kedua matanya terbelalak. Angga memeluk pinggang Yunda dengan tangan yang tersisa. Yunda kembali memejamkan matanya, begitupun dengan Angga.
"Manis," gumam Angga dalam hatinya.
Angga menjauhkan wajahnya dari wajah Yunda, kemudian melepaskan telapak tangannya yang menutupi mata Yunda. Belum sempat Yunda membuka mata, Angga lebih dulu memeluknya dengan erat. Yunda terkejut, perhatian yang diberikan Angga membuatnya merasa sangat nyaman. Yunda memejamkan matanya, ia juga menyentuh bibirnya seraya tersenyum.
"Hangat," gumamnya.
Angga tersenyum mendengar gumaman Yunda, ia berhasil membuat wanitanya merasa nyaman. Sebentar lagi, hanya sebentar lagi saja ia akan menjadikan Yunda miliknya seutuhnya.
"Kau miliku, Ayunda!" Ucap Angga dalam hatinya.
Kincir berhenti, Angga dan Yunda turun dari kincir.
"Apa kau lapar?" Tanya Angga.
Yunda mengangguk.
"Hmm... apa kau tahu makanan apa yang enak disini?" Tanya Angga sambil menatap sekitarnya.
"Hmm...," Yunda ikut menatap sekitar.
"Disana!" Yunda menunjuk sebuah tenda dengan bertuliskan "Kerak Telor".
"Kerak telor? Apa itu?" Tanya Angga yang tidak pernah merasakan bagaimana rasanya kerak telor, ia bahkan tidak tahu ada nama makanan itu disini.
"Itu salah satu makanan khas betawi!" Jawab Yunda menjelaskan.
"Betawi?" Tanya Angga dengan mengernyitkan dahinya.
"Maksud saya, kerak telor salah satu makanan khas Jakarta!" Jawab Yunda.
Angga mengangguk paham, maklum saja ia baru tinggal di Indonesia selama beberapa minggu. Angga hanya belajar bahasa Indonesia dan nama-nama tempat di Indonesia, Angga sama sekali tidak belajar mengenai makanan khas atau semacamnya.
__ADS_1
"Baiklah, ayo pergi!" Ucap Angga menarik lengan Yunda membawanya ketenda tersebut.