
"Kenapa tidak ada orang? Mereka pergi kemana?" Ucap Starla kesal.
Ia baru saja tiba dihotel dan ia tidak menemukan keberadaan orang-orang kantor. Starla sangat kesal karena dirinya ditinggal begitu saja. Starla memilih untuk beristirahat dikamarnya dari pada harus berdiri dilobi seperti orang gila. Starla memesan kamarnya sendiri.
"Aku pesan satu kamar!" Ucap Starla.
"Baik, siapa nama anda? Biar saya memasukannya kedalam daftar tamu," ucap resepsionis hotel tersebut.
"Starla Putri Bagaskara, aku ingin tinggal dihotel ini selama 3 hari!" Jawab Starla dengan berlagak sombong.
"Oh! Anda nona Starla? Kamar anda telah dipesan oleh tuan Angga!" Ucap resepsionis tersebut setelah memeriksa daftar tamu dilayar komputernya.
"Benarkah? Lalu dimana kamarku?" Tanya Starla.
"Kamar anda nomor 079, ini kuncinya!" Resepsionis tersebut memberikan kartu kunci kepada Starla.
Starla bergegas berjalan menuju kamarnya sambil menarik kopornya, Starla sudah tak sabar untuk segera membaringkan tubuhnya.
Sore harinya, semua orang kembali ke hotel untuk beristirahat. Starla turun kebawah setelah ia tertidur, ia merasa sangat lapar dan hendak mencari makanan diluar. Starla bertemu dengan Angga dan yang lain, ia merasa sangat kesal karena ditinggal.
"Kalian pergi kemana? Kenapa meninggalkan aku?" Tanya Starla dengan wajah cemberut didepan Angga.
"Kau lambat seperti siput!" Tegas Angga sambil berjalan pergi meninggalkan Starla.
Fira dan Yunda menahan tawanya, begitupun dengan Nisa, Lia dan Jarvis.
Starla menghentakan kakinya kesal karena Angga mencuekkannya, Starla melihat kearah Fira dan Yunda.
"Kenapa kalian tertawa? Apa yang lucu hah?!" Bentak Starla kesal kemudian ia berjalan keluar dari hotel.
Kepergian Starla membuat orang-orang melepas tawanya.
"Apa itu tadi? Siput?" Ucap Lia meledek.
"Hahaha... sangat lucu, perutku sampai sakit," balas Nisa.
Fira menggelengkan kepalanya melihat tingkah saudarinya yang sangat antusias mendekati Angga sampai ia dipermalukan oleh tingkahnya sendiri. Fira melirik kearah Yunda yang tersenyum sambil menunduk dengan wajah merah merona.
"Apakah, kak Yunda juga menyukai tuan Angga?" Pikir Fira.
Merasa ada seseorang yang menatapnya, Yunda menoleh kearah Fira kemudian memberi senyuman manisnya. Fira tersadar dari lamunannya, ia membalas senyuman Yunda.
Malam harinya, Angga mengunjungi kamar Yunda. Saat itu, Fira tengah berada dikamar Nisa sehingga Angga dapat berkunjung kekamar Yunda.
Angga memeluk Yunda dari belakang ketika Yunda tengah memilih pakaian dilemari.
Yunda seketika terkejut dan hampir berteriak namun Angga membuka suaranya, "Jangan takut, ini aku!" Ucapnya.
Yunda sedikit lega mendengar hal itu, namun jantungnya terus berdetak dengan kencang.
__ADS_1
"A-apa ada yang bisa saya lakukan?" Tanya Yunda.
Angga mencium pipi Yunda, "Tunggulah sebentar lagi, aku pasti akan menikahimu." Gumam Angga dalam hatinya.
Yunda merasakan rasa lelah dari Angga, melihatnya memeluk dirinya, melihatnya memejamkan mata, merasakan nafasnya yang tampak lambat. Yunda merasakannya, Yunda melihatnya, Yunda memahaminya. Tetapi apa haknya? Apa yang bisa dilakukannya? Siapa dirinya? Sebagai apa dia berperan?
"Malam ini aku harus pergi ke pertemuan bisnis, mungkin aku kembali besok siang. Aku serahkan semua urusan disini padamu, dan tolong kau jaga Fira!" Jelas Angga masih memeluk Yunda.
"Fira ya... siapa Fira bagimu? Mengapa dia terlihat begitu penting bagimu?" Pikir Yunda.
Yunda mengangguk, "Tentu, saya akan mengurus semuanya. Anda tenang saja!" Jawab Yunda.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau mual-mual tadi sore? Apakah kau sakit?" Tanya Angga.
Yunda terkejut mendengar pertanyaan Angga, ia bingung haruskah ia mengatakan hal yang sejujurnya kepada Angga ataukah ia masih harus menunggu waktu yang tepat untuk menceritakannya?
"Sa-saya...," belum sempat Yunda menjawab. Suara ketukan dipintu mengejutkan keduanya.
Angga melepaskan pelukannya, ia bergegas bersembunyi dibalik pintu kamar. Angga memberi isyarat, ia memiringkan kepalanya kearah pintu beberapa kali. Yunda mengerti apa yang dimaksud Angga, Yunda bergegas membuka pintu kamar dan tampaklah Fira.
"Kak, apa aku menganggumu?" Tanya Fira.
"Ah tidak, aku belum tidur tadi." Jawab Yunda sambil melirik Angga dari balik pintu.
Fira berjalan masuk kedalam kamar, Anggs bergegas keluar dari kamar Yunda namun ia melihat Fira hendak berlari dengan panik Angga keluar dari kamar hingga kepalanya terbentur pintu.
Fira mengernyitkan dahinya, sementara Yunda mendorong pelan tubuh Angga hingga keluar dari kamar. Setelah Angga keluar, Yunda dengan cepat menutup pintu kamar bersamaan dengan berbaliknya badan Fira.
"Apa aku salah dengar? Sepertinya aku mendengar suara laki-laki disini." Pikir Fira.
"Apa ada masalah?" Tanya Yunda.
"Ah! Tidak ada, apakah kakak sudah makan?" Sahut Fira.
"Iya, aku sudah makan."
"Hari sudah larut, sebaiknya kita segera tidur!" Lanjut Yunda sambil berjalan kearah kasur.
Yunda membaringkan tubuhnya diatas kasur yang empuk kemudian menyelimuti tubuhnya agar tak kedinginan, sementara Fira masih berdiri terdiam memikirkan suara aneh tadi. Fira menggelengkan kepalanya kemudian menyusul Yunda untuk tidur.
"Sial! Kepalaku terbentur!" Gerutu Angga sambil berjalan kearah kamarnya.
Diluar kamar, Angga melihat Jarvis tengah berdiri didepan kamarnya.
"Hm? Apa yang terjadi dengan kepalamu?" Tanya Jarvis ketika melihat luka memar dikepala Angga.
"Bukan urusanmu! Cepat pergi!" Jawab Angga dengan kesal.
"Cih! Padahal aku hanya bertanya baik-baik,"
__ADS_1
"Yahh... mungkin itu hukuman untukmu karena kau diam-diam masuk kekamar Yunda!" Lanjut Jarvis meledek Angga.
Angga tersenyum kesal, "Sialan kau Jarvis!!" Ucapnya dengan mengepalkan lengannya sedetik kemudian lengannya melayang kearah perut Jarvis.
BUGHH...
"Ughh... ke-kenapa kau memukulku?" Tanya Jarvis sambil memegang perutnya.
"Itu hukuman untukmu karena telah berani melawan atasanmu!" Tegas Angga.
Angga masuk kedalam kamarnya disusul Jarvis. Angga membuka pakaiannya lalu membuka lemari, memakai setelan jas yang lain.
Selesai berganti pakaian, Angga dan Jarvis pergi keluar untuk menghadiri pertemuan bisnis didaerah yang cukup jauh dari pantai Melati. Angga terdiam sambil mengamati ponselnya, sementara Jarvis fokus mengendarai mobilnya.
Ting...
*"Apakah kau belum tidur?"* tulis pesan Angga keponsel Yunda.
Yunda mendengar ponselnya berbunyi, Yunda membuka matanya lalu meraih ponsel yang ada diatas nakas. Yunda menatap layar ponselnya yang terpampang nama Angga dibilah notifikasi.
Dengan cepat Yunda memperbaiki posisinya, Yunda melirik kearah Fira yang tertidur. Yunda berjalan menuju sofa yang ada dipojok kamar agar tidak mengganggu tidur Fira.
"Belum tuan, apakah ada yang bisa saya lakukan?" Tulis pesan Yunda.
*"Tidak ada, aku hanya merindukanmu."*
Yunda tersipu membaca pesan Angga.
"Emm... begitukah, lalu bagaimana perjalanan anda?"
*"Yaah... tidak buruk, jalanan juga terlihat sepi mungkin karena sudah larut malam"*
"Ah benar,"
*"Lekaslah tidur, kau harus banyak beristirahat. Jaga kesehatanmu, aku akan segera kembali!"*
"Kenapa... kenapa dia begitu perhatian? Apa yang dia inginkan?" Pikir Yunda.
"Baiklah, semoga anda selamat sampai tujuan. Selamat malam, tuan!"
*"Malam juga!"*
Percakapan keduanya berakhir, Yunda merebahkan punggungnya disandaran sofa, memeluk ponselnya.
"Apakah dia akan menerima anak ini? Atau menyuruhku menggugurkannya?" Gumam Yunda pelan.
Yunda menatap perutnya kemudian membelainya dengan lembut.
"Kamu baik-baik didalam ya sayang, Mama tidak akan menyakitimu. Mama akan menjagamu walaupun tidak ada Papa!" Ucap Yunda dengan senyum manis mengembang diwajahnya.
__ADS_1