
"Kalian semua! Lepaskan aku! Apa salahku sehingga kalian mengurungku disini?!" Teriak seorang wanita sambil menggedor-gedor pintu kamar.
"Berisik!" Jawab seseorang diluar.
Wanita itu terdiam.
"AARGHHH... SIALAN!!" Teriaknya sambil mengacak-acak rambutnya.
....
"Ayah? Apa ayah baik-baik saja? Dari tadi aku lihat ayah hanya terdiam," tanya Fira setelah ia duduk disofa.
Bagas menatap Fira, didalam tatapannya terdapat rasa bersalah yang amat dalam. Bagas tahu tindakannya menyembunyikan serta menjauhkan Fira dari keluarganya merupakan kesalahan terbesar. Namun, Bagas tidak punya cara lain lagi. Jika ia mengembalikan Fira kepada keluarganya maka Shany akan berulah lagi. Shany akan terus membuat keluarga Gaby hancur, seluruh kebahagian Gaby harus menjadi miliknya.
Bagas tidak habis pikir, bagaimana bisa Shany memiliki dendam terdalam pada Gaby yang bahkan Gaby sendiri tidak pernah membuat Shany menderita.
"Ayah baik-baik saja, hari sudah larut sebaiknya kamu beristirahat!" Sahut Bagas.
"Baiklah, ayah juga pulang lah. Besok akan aku ceritakan semuanya!" Jawab Fira.
Bagas pamit pergi pulang kerumahnya, sementara Fira bersiap untuk tidur.
Ketika sampai didepan mobilnya, Bagas mengambil ponselnya dari dalam saku jasnya kemudian mencari nama seseorang dibilah pencarian kontak "Shany" itulah nama yang ia cari.
"Kenapa dia tidak mengangkat teleponnya?" Gumam Bagas kesal.
"Mencari seseorang?" Tanya seorang pria dibelakangnya.
Bagas berbalik dan mendapati Angga tengah berjalan kearahnya sambil tersenyum penuh arti.
"Kau! Apa yang kau lakukan padanya?!" Tanya Bagas dengan marah.
"Hm? Apa yang kau maksud dengan 'Padanya'?" Angga balik bertanya.
"Jangan pura-pura tidak mengerti!" Geram Bagas sembari mengepalkan tangannya yang memperlihatkan urat-uratnya.
"Yah... seperti yang kau tahu, aku mengurungnya!" Jawab Angga dengan santai.
"Kau! Kenapa kau melakukannya?" Tanya Bagas sedikit membentak.
"Kenapa aku melakukannya? Oh, bukankah itu sudah jelas karena dia berusaha membunuh adikku?" Jawab Angga.
"Kau ja-" ucapan Bagas disela oleh Angga.
"Dengar! Aku tidak akan membuatnya mati dengan cepat, karena dia memiliki darah yang sama dengan ayahku!" Sela Angga.
"Jika kau menginginkan adikmu kembali, maka kembalikan adikku dan beritahu dia cerita yang sebenarnya!" Lanjut Angga kemudian pergi meninggalkan Bagas.
Bagas terdiam lesu, Angga telah pergi dari halaman apartemen sementar Bagas masih berdiri didepan mobilnya.
"Aku tahu, aku salah... tapi aku tidak pernah menyakiti Fira," gumam Bagas.
...
"Buka pintunya bodoh! Apa kau tahu siapa aku hah!" Teriak seorang wanita yang terus meminta dibebaskan.
__ADS_1
Seorang pria bertubuh kekar dengan memakai setelan jas rapi masuk kedalam ruangannya, wanita tersebut tampak terkejut dengan kedatangannya. Tampan! Itulah pujian yang dilontarkannya dalam hati.
"Siapa kau?" Tanya wanita itu.
"Angga! Salam kenal, nona Firentia!" Jawab Angga dengan tersenyum palsu.
"Oh maafkan aku, aku telah salah menyebut namamu. Nona Shany Shanzoora, yah itulah namamu!" Lanjut Angga sambil menutup pintu lalu menguncinya.
Shany terkejut, Firentia memang namanya saat ini. Bagas yang merubahnya agar Shany tidak dapat ditemukan oleh Ardiaz. Bagas memberi nama Firentia lalu memalsukan identitas Shany.
Angga berjalan mendekat kearahnya, Shany melangkah mundur menjauh. Ia takut, Shany tidak tahu siapa pria yang ada dihadapannya kini. Tetapi yang pasti pria itu orang yang berbahaya baginya. Bahkan dia tahu siapa dirinya.
"A-apa yang kau inginkan?" Tanya Shany dengan suara bergetar.
Angga berhenti melangkah saat tidak ada lagi ruang bagi Shany untuk berjalan mundur. Angga menekan bahu Shany kedinding, kemudian menatapnya dengan tajam.
"Katakan kejadian 14 tahun lalu yang kau perbuat!" Ucap Angga dengan tegas.
Shany membulatkan kedua bola matanya. 14 tahun yang lalu? Mungkinkah kecelakaan itu? Pikir Shany.
"A-apa yang kau maksud? Aku sama sekali tidak mengerti!" Sahut Shany menghindari tatapan Bagas.
"Gadis pintar!" Ucap Angga.
Angga membelai lembut pipi Shany, saat ini usia Shany tak jauh beda dengan ibunya. Namun ia sama sekali tidak pantas jika dibandingkan dengan Gaby sang ibu dari Angga.
"Kau sangat cantik, tapi sayang sekali hatimu begitu busuk!" Kata Angga dingin.
"Jika kau tidak ingin bercerita, maka diamlah disini selamanya!" Lanjutnya sambil membalikan badannya kemudian berjalan kearah sofa.
"Ka-kau siapa? Kenapa kau menanyakan ini padaku?!" Teriak Shany kesal.
Angga mengeluarkan sebuah pisau lipat dari dalam saku jasnya kemudian memainkannya seperti seorang bayi yang bermain dengan boneka.
"Bicaralah perlahan, ceritakan kejadian itu secara rinci maka aku akan melepaskanmu!" Lanjut Angga.
"Tidak! Aku tidak tahu apa-apa!" Jawab Shany.
"Oh benarkah? Baiklah, tinggalah disini!" Ucap Angga yang kemudian berdiri.
"Satu hal yang perlu kau tahu, semakin kau menyembunyikannya maka akan semakin jelas bahwa kau melakukannya!" Lanjut Angga.
Angga keluar dari ruangan Shany dan kembali mengurung Shany.
"Hey kau! Keluarkan aku!" Teriak Shany.
"Jaga dia baik-baik, jangan biarkan dia lolos!" Ucap Angga mengingatkan para pesuruhnya untuk menjaga Shany dengan baik.
"Baik bos! Serahkan semuanya pada kami!" Jawabnya.
Angga berjalan keluar dari rumah tempat ia mengurung Shany.
Angga mengedarkan pandangannya kesekeliling area Villa Falaivan.
Ya, saat ini Angga berada di Bali. Angga mengurung Shany disebuah Villa yang cukup besar namun tak lebih besar dari Villa Camillia milik keluarga Sunjaya di Swiss.
__ADS_1
Sesosok pria bertubuh tinggi kekar dengan bola mata berwarna coklat terang menatap Angga dari samping. Pria itu bersuara memanggil Angga.
"Alsangga Gardiaz Sunjaya!" Panggilnya dengan nada agak menyindir.
"Heh! Rupanya seorang Sunjaya tak mampu memiliki Villa mewah di Bali dan malah meminjam Villa milik keluarga Falaivan," ujar Darren dengan berlagak sombong.
Darren Falaivan meminjamkan Villa-nya yang berada di Bali untuk menyekap Shany. Jarvis diberi perintah oleh Angga untuk menyampaikan permintaannya kepada Darren sebagai balas budi karena Angga berhasil mengembalikan uang perusahaan Darren yang dikorup oleh sekertaris Darren yaitu Alex.
"Cih! Jangan berlagak sombong didepanku!" Sahut Angga dengan nada dingin dan tak menatap Darren.
Darren tersenyum sinis, "Bagaimana Villa ini, sangat luas bukan?" Darren bertanya.
"Yah, cukup luas namun masih jauh kalah dari Villa Camellia!" Angga menjawab dengan senyum penuh kesombongan.
Darren tertawa mendengar jawaban Angga.
"Apa yang kau tertawakan?" Tanya Angga dengan dahi berkerut.
"Tidak ada! Hanya sedikit lucu saja," Darren menjawab menghentikan tawanya.
"Omong-omong, siapa yang kau sekap didalam? Dan kenapa kau meminjam Villa ku?" Tanya Darren.
Angga berbalik menatap Darren sambil menyelipkan kedua tangannya kedalam saku celana.
"Dia musuh keluarga Sunjaya, Shany Shanzoora. Aku memilih Villa mu karena lokasinya cukup strategis, aku tidak perlu pergi ke Bandara untuk pulang dan Villa ini memiliki halaman yang cukup luas sehingga helikopter dapat masuk. Mungkin keluarganya hanya tahu jika penyekapan itu pasti berada dirumah yang terpencil, tapi aku berbeda mereka tidak akan mencurigai tempat luas dan ramai pengunjung seperti Villa mu yang dekat dengan pantai Melati." Jelas Angga dengan tidak menghilangkan aura dinginnya.
[Pantai Melati, Bali]
Darren melongo namun sedetik kemudian ia mengangguk paham.
"Kau memang sangat hebat!" Puji Darren.
Angga menghela nafas panjang "Haah... jadi kau baru mengetahui jika aku ini hebat?" Angga bertanya sambil memijit pelan pelipisnya.
Darren terkesima, Angga berjalan melewati Darren menuju helikopternya.
"Eh tunggu! Aku sudah membantumu tidak adakah ucapan 'terima kasih'?" Cegah Darren dengan sedikit meninggikan suaranya.
Angga terus berjalan dan tidak menghiraukan ucapan Darren.
"Yah, aku tahu seorang Sunjaya tidak akan berterima kasih karena-" ucapan Darren terpotong oleh Angga yang menyebutkan ucapan 'Terima Kasih'.
"Terima kasih!" Sela Angga.
Darren terkejut, ia tak dapat mendengar dengan jelas ucapan Angga karena suara Angga terdengar begitu samar.
"Apa? Apa yang kau katakan tadi?" Tanya Darren terdesak penasaran.
Angga tersenyum kecil, ia menghentikan langkahnya kemudian berbalik menghadap Darren yang jauh beberapa langkah darinya.
"Seorang Sunjaya tidak pernah mengulang kata-katanya!" Ucap Angga kemudian kembali berjalan sambil memakai kacamata hitamnya.
Darren terkejut tak percaya dengan jawaban Angga yang membuatnya kesal, namun Darren menanggapinya dengan senyum kecil.
__ADS_1
"Kau pasti tahu aku tidak akan menolak permintaanmu kan?" Gumam Darren yang kemudian pergi dari tempatnya berdiri.
"Bali, aku harus membawa Yunda kesini dan tentu saja dengan Fira." Gumam Angga sesaat sebelum ia masuk kedalam helikopter pribadinya.