GADIS KECIL KESAYANGAN CEO 2

GADIS KECIL KESAYANGAN CEO 2
CHAPTER 29


__ADS_3

"Haahh... ada-ada saja, dia tidak tahu apa kalau aku akan berkencan?" Gerutu Jarvis.


Jarvis melihat Yunda melewatinya, Jarvis memanggil Yunda.


"Yunda!" Panggilnya.


Yunda berbalik, "Ada apa?" Tanya Yunda malas.


Ia masih kesal dengan perbuatan Jarvis beberapa waktu lalu, tepatnya setelah keluar dari ruang kerja Angga.


"Kau masih marah padaku?" Menyadari raut wajah kesal Yunda, Jarvis bergegas meminta maaf atas kesalahannya.


"Maafkan aku, aku hanya ingin menghiburmu!"


"Sudahlah, langsung saja pada intinya!" Jawab Yunda.


"Angga menyuruhku mengantarmu pulang!" Sahut Jarvis.


"Aku tidak mau, aku bisa pulang sendiri." Tolak Yunda.


"Aku harus pergi ke rumah sakit sebelum berangkat ke Bali!" Gumam Yunda dalam hatinya.


"Jarvis, Kak Yunda?" Ucap Lia yang tiba dihadapan keduanya.


"Ada apa?" Tanya Lia.


"Lia, kita pulang bersama Yunda ya? Nanti malam aku akan membawamu pergi jalan-jalan. Bagaimana?" Jelas Jarvis.


Lia mengangguk senang, "Baiklah, tidak masalah!" Jawab Lia.


"Kak Yunda, kakak pulang bersama kami saja!"


Yunda mengangguk kecil, ia berpikir hari sudah sore sangat sulit mendapatkan taksi. Maka ia memutuskan untuk pulang bersama Jarvis dan Lia. Lagi pula, Angga juga yang menyuruh Jarvis untuk mengantarnya pulang.


Disisi lain, Angga mendapatkan balasan pesan dari Jarvis bahwa ia telah membawa Yunda pulang bersamanya. Angga juga menawarkan tumpangan pada Fira, dengan senang hati Fira menyutujuinya.


...


Angga dan Fira tiba di Apartemen.


"Aku ikut masuk, kau harus bersiap untuk besok!" Ucap Angga sambil berjalan mengikuti Fira.


"Eh?" Fira bingung dengan ucapan Angga.


"Aku akan membantumu bersiap!" Jelas singkat Angga.


"Tidak usah tuan, saya bisa menyelesaikannya sendiri." Tolak Fira dengan sopan.


"Kau tidak bisa menolakku!" Angga membuka pintu kamar Fira.


Angga memiliki kunci cadangan kamar apartemen yang kini ditempati oleh Fira. Angga masuk kedalam kamar Apartemen Fira.


Fira berjalan mengikuti langkah Angga, Fira mengingat masa kecilnya yang tiba-tiba terlintas dikepalanya. Fira memegangi kepalanya yang terasa pusing.


"Kakak... tunggu aku!" suara Senna ketika kecil memanggil Angga terngiang dikepala Fira.

__ADS_1


"Kakak!" Ucap Fira membuat Angga terkejut, Angga membalikan badannya menatap Fira yang tengah kesakitan.


"Se-... ," Angga menghentikan ucapannya.


Angga mengambil nafas panjang sebelum kembali berbicara, "Fira, apa yang terjadi?" Tanya Angga.


"A-aku tidak apa," jawab Fira lirih.


Perlahan rasa sakit dikepala Fira mereda, Fira pamit menuju kamar mandi.


Fira membasuh wajahnya, kemudian menatap bayangan dirinya dicermin.


"Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku tidak mengingat apapun? Dan kenapa ketika aku melihat Angga, aku selalu bermimpi aneh?" Ucapnya.


Fira mengambil handuk kecil yang berada disampingnya kemudian membersihkan wajahnya. Fira berjalan keluar dari kamar mandi, Fira mencari keberadaan Angga karena Angga tak lagi ada ditempatnya.


Fira hendak memanggilnya namun ia mencium aroma makanan dari dapur, Fira melangkahkan kakinya menuju dapur dan melihat sosok Angga tengah memasak makanan.


"Tuan, apa yang anda lakukan?" Fira bergegas menghampiri Angga. Ia merasa tidak enak hati melihat atasannya memasak diapartemennya.


"Aku sedang memasak, kau pasti lapar. Aku lihat tidak ada makanan dikulkas, jadi aku memasak untukmu." Jawab Angga sambil mengaduk-aduk masakannya.


"Tetapi anda bisa memanggil saya, jangan memasak sendiri seperti ini." Fira berusaha meraih spatula yang tengah dipegang Angga namun, tangan Fira tak sengaja mengenai wajan panas.


"Aww...," Fira mengusap-usap lengannya yang terluka.


Angga dengan panik mematikan kompor lalu meraih lengan Fira yang terluka, Angga menarik lengan Fira menuju wesstaffel.


"Berhati-hatilah, untung aku yang memasak. Bagaimana jika itu kamu? Mungkin lukanya tidak akan seperti ini." Ucap Angga sambil membasuh luka Fira dan meniupnya.


"Anda berlebihan tuan, saya baik-baik saja." Jawab Fira.


"D-dari mana anda mendapatkan kalung itu?" Tanya Fira dengan ragu.


Angga menatap kalungnya kemudian menjawab dengan acuh tak acuh, "Ibuku yang memberikannya."


Angga berjalan menuju lemari penyimpanan obat, Angga mengambil peti P3K dari dalam lemari lantas kembali berjalan kedapur menemui Fira yang terkejut mendengar jawaban Angga.


Angga menatap sekilas wajah bingung Fira, kemudian ia kembali fokus mengobati luka Fira.


"Waktu aku masih kecil, aku dan Senna mendapat liontin ini. Ibu bilang untuk tidak pernah melepaskannya, dan ibu berpesan agar kita berdua terus bersama...,"


Angga mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan, Angga menatap Fira.


"Tetapi Senna pergi meninggalkanku, seharusnya aku tidak pergi meninggalkannya dulu. Mungkin saja Senna masih ada disini dan tidak pergi," lanjutnya.


"Klasenna... adikku tersayang, kapan dia akan kembali padaku?" Gumam Angga.


Tanpa Fira sadari air matanya jatuh seakan-akan ikut merasakan rasa sakit kehilangan keluarga. Namun tiba-tiba rasa sakit dikepalanya kembali menyerang.


Ingatan demi ingatan masa kecil Fira kembali muncul dibenaknya, suara lembut nan hangat dari Gaby terdengar jelas ditelinganya. Wajah cantik Gaby terlihat dengan jelas ketika dirinya memakaikan Fira liontin tersebut.


Fira memegangi kepalanya, Angga mencoba menenangkan Fira namun Fira menolak dan malah histeris.


"Ingatlah untuk tetap bersama,"

__ADS_1


"Senna... jadilah gadis yang baik! Jangan merepotkan kakakmu Angga!" pesan Gaby yang terdengar oleh Fira.


"Angga, kau harus bisa menjaga Senna dengan baik!"


Senna menatap Angga dengan senyum nakalnya, Senna selalu menjahili Angga dan kini Angga disuruh untuk menjaganya.


Fira melihat wajah kecil Angga, kepalanya bertambah pening.


"Aarrghh... apa ini semua?!" Jerit Fira.


"Fira tenanglah, ayo aku akan mengantarmu kekamar!" Ucap Angga.


"Tidak! Kamu pergilah! Jangan ganggu aku!" Tolak Fira sambil mendorong tubuh Angga.


Angga sedikit terdorong, namun ia kembali mencengkram bahu Fira.


"Lepaskan aku! Aku tidak membutuhkanmu! Aku membutuhkan kakakku!" Teriak Fira.


BBRAAKK...


"Fira ada apa? Kenapa kamu berteriak?" Bagas bergegas masuk mencari keberadaan Fira setelah ia mendengar Fira berteriak.


"Kau... kenapa kau ada disini?" Tanya Bagas dengan tatapan tajamnya.


Angga menatap datar pria tua yang sekarang berdiri dihadapannya, Angga sangat malas meladeni Bagas yang pastinya akan menyalahkan dirinya telah membuat Fira merasakan sakit.


"Fira, apa kamu baik-baik saja?" Bagas menghampiri Fira kemudian memeluknya seraya mengelus punggungnya.


"Ayah... aku ingin mencari keluargaku! Aku ingin mereka ayah!" Ucap Fira dengan berlinang air mata.


"Aku ingin menemui Angga!" Lanjut Fira.


Fira sangat bingung, Angga yang diucapkan ibunya itu Alsangga atau Angga yang berbeda. Fira sangat menyayangi Alsangga dan ingin memilikinya. Semenjak ia bekerja di perusahaan AL Grup, ia merasakan perasaan yang berbeda ketika melihat Alsangga.


"Senna... kapan kau akan mengingatku?" Pikir Angga sedih.


"Sayang... tenanglah, nanti kita cari bersama-sama." Ucap Bagas menenangkan Fira.


"Kenapa kau masih berdiri disana? Cepat pergi dari sini!" Tegas Bagas yang melihat Angga terdiam.


Angga tersenyum sinis kemudian berjalan kearah Bagas, Angga berbisik ketelinga Bagas memperingatkannya.


"Ingatlah siapa yang harus keluar dari sini dan ingatlah siapa yang berhak atas Fira!"


Bak disambar petir, perkataan Angga begitu menusuk hati Bagas. Ia sadar bahwa Angga keluarga kandung Fira. Tetapi, ia juga tak rela jika harus melepaskan Fira. Putri yang dijaganya selama 14 tahun lamanya.


Angga berjalan pergi keluar dari apartemen Fira. Sesampainya diluar gedung, Angga menatap keatas tepatnya pada lantai dimana kamar Fira berada.


"Senna, aku mohon ingatlah padaku... ingatah pada ibu dan ayah... ibu sangat merindukanmu," ucapnya dengan menitikan air mata.


"Kakak disini, kakak akan selalu menjagamu." Lanjutnya sambil mengusap air matanya sendiri.


Angga menatap liontinnya, liontin yang sama dengan Fira hanya berbeda warna permata. Angga mengenakan liontin berbentuk hati dengan permata berwarna biru, sedangkan Fira memakai liontin dengan bentuk yang sama namun permatanya berwarna merah. Angga menggenggam erat liontinnya.


"Aku berjanji akan membawa Senna pulang bu!" Ucapnya dengan mantap.

__ADS_1


Angga masuk kedalam mobilnya, berjalan untuk pulang kerumahnya.



__ADS_2