GADIS KECIL KESAYANGAN CEO 2

GADIS KECIL KESAYANGAN CEO 2
CHAPTER 14


__ADS_3

"Kenapa kamu diam saja?" Tanya Dimas ketika Fira dan Dimas berada dalam perjalanan menuju rumah.


Fira melirik Dimas sekilas.


"Tidak apa, hanya sedang memikirkan pekerjaan!" Jawab Fira berbohong.


Dimas mengangguk, dalam hatinya ia ingin tahu apa yang dipikirkan Fira.


"Perasaan apa yang ada dihatiku?" Batin Fira sambil merebahkan punggungnya kesandaran kursi dengan mata terpejam.


Dimas melirik Fira, ia tersenyum.


....


"Jarvis!" Panggil Angga.


"Ada apa?" Tanyanya.


"Bawa ini, aku ingin hasilnya keluar besok!" Ucap Angga sambil memberikan bungkusan plastik kecil.


Jarvis mengernyitkan dahinya, ia menganggukan kepalanya pertanda bahwa ia memahami tugas yang diberikan Angga.


"Akhirnya kau memutuskan untuk mengecek DNA gadis itu!" Ucap Jarvis.


DNA? Lalu, apakah bungkusan itu sebuah sampel darah? Tidak! Itu bukan darah melainkan rambut. Ingatkah ketika Angga memeluk Fira saat dahan pohon terjatuh kearah Fira? Saat itulah Angga mengabil sehelai rambut Fira.


"Jangan banyak bicara dan lakukan saja tugasmu!" Titah Angga dengan datar.


Jarvis tampak berdumel sesuatu dan hal itu disadari Angga. Angga tak habis pikir, bagaimana bisa ia mendapat seorang asisten yang bahkan tidak menghargainya sebagai atasan. Yah, itulah Jarvis. Jarvis mengenal Angga sejak Angga masuk akademi bisnis. Ia mengikuti Angga karena status Angga yang jauh lebih tinggi darinya, ia memutuskan untuk setia hanya kepada Angga. Bahkan ia rela mempertaruhkan nyawanya demi melindungi Angga.


Jarvis, dulu ia pernah mendapat perlakuan kasar dari senior nya saat di akademi. Angga tak sengaja melihatnya, entah apa yang merasukinya Angga membantu dan menyelamatkan Jarvis dari siksaan seniornya itu. Jarvis sangat berterima kasih kepada Angga, namun Angga tak memperdulikan Jarvis.


Jarvis merasa sangat iba ketika ia mendengar bahwa adik kesayangan Angga meninggal. Seorang murid yang setara dengan Jarvis dan Angga menyindir soal Senna. Dia berkata bahwa mungkin saja Senna itu anak haram yang bahkan tidak diinginkan Tuhan, dialah Darren. Angga memukulnya hingga Darren masuk ICU, bagi Angga membalas orang yang telah menindasnya adalah hal yang wajib dilakukan. Karena seorang Sunjaya tidak pernah mengenal kata Ampun dan memaafkan.


"Jangan hanya berdumel jika tidak ingin gajimu kupotong!" Ancam Angga.


Jarvis membelalakan matanya.


"Kau ini benar-benar tidak punya hati. Baiklah, akan aku kerjakan!" Ucap Jarvis.


Jarvis melangkah keluar dari ruangan Angga. Angga menggelengkan kepalanya, Angga mengambil bingkai foto lalu memandanginya. Ia juga memainkan liontin yang terpaut dilehernya, liontin berbentuk separuh hati.


...

__ADS_1


"Angga, Senna kemarilah!" Ucap Gaby.


Angga dan Senna berjalan kearahnya.


"Ya bu?" Jawab keduanya dengan serentak.


Gaby tersenyum melihat putra-putrinya telah tumbuh besar. Sang kakak yang kelak akan menjadi pewaris, dan sang adik yang akan menjadi putri keluarga Sunjaya. Gaby sangat bahagia dengan keadaannya sekarang, begitu damai dan tidak pernah ada lagi pertempuran darah yang diakibatkan oleh balas dendam seseorang.


Gaby berjongkok didepan keduanya.


"Senna, jadilah anak yang baik... meski kau seorang wanita, tetapi kau harus menjadi kuat agar kelak tidak ada yang berani menyakitimu!" Ucap Gaby layaknya seorang ibu yang memberikan doa terbaiknya bagi sang putri.


Gaby memasangkan sebuah kalung liontin keleher Senna lalu membelai pipinya serta menciuminya.


"Dan Angga, jadilah kakak yang baik. Kakak yang melindungi adiknya, kakak yang menyayangi adiknya, serta seorang pria yang selalu bertanggung jawab atas perlakuannya!" Lanjut Gaby menatap lembut putra tercintanya.


Angga tersenyum. Gaby juga memakaikan liontin tersebut keleher Angga. Sebuah liontin dengan berbentuk hati namun terbelah dua.


"Kalian, harus saling menyayangi. Ibu tidak ingin ada pertengkaran diantara kalian!" Gaby lantas memeluk kedua buah hatinya dengan tetesan air mata yang mengalir.


...


Tanpa Angga sadari, setitik air mata jatuh.


Beberapa hari kemudian, Fira merasa sangat senang dapat bekerja dengan Lia, Nisa dan Andri. Mereka selalu menggoda Andri yang beberapa hari lagi ia akan menikah dengan gadis yang dicintanya. Fira ikut senang dengan pernikahan Andri.


"Aah... aku jadi iri padamu, dengan secepat itu kamu bisa menikah dengan Mia," ucap Lia sambil menghela nafas.


"Makanya, carilah pria yang kamu inginkan!" Sahut Nisa sambil mencubit lengan Lia.


"Iih... jangan mencubit lenganku bisa kan?" Gerutu Lia seraya mengusap lengannya yang dicubit Nisa.


Mereka tertawa pecah melihat ekspresi Lia, Nisa memang sangat suka mencubit Lia. Baginya itu menyenangkan apalagi melihat ekspresi wajahnya.


"Ngomong-ngomong, tuan Jarvis tampan juga ya!" Ucap Lia kembali ceria.


"Ya, ya. Dia memang tampan, tapi apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Nisa sedikit menangang Lia.


"Aku akan bilang seperti ini, 'Tuan Jarvis, aku sangat menyukaimu'" jawabnya.


Tanpa mereka sadari, Jarvis dan Angga berjalan melewati meja mereka. Jarvis terkejut mendengar ucapan yang dilontarkan Lia, sementara Angga menahan tawanya. Jarvis merasa malu dengan ucapan Lia, Fira menggelengkan kepalanya lalu mendongakan kepalanya menatap Jarvis dan Angga yang tengah berdiri dibelakang Lia.


Nisa dan Andri mengikuti arah pandang Fira, mereka begitu terkejut melihat Jarvia dan Angga. Sementara Lia, ia belum menyadari Jarvis.

__ADS_1


"Ekhem! Jadi kau menyukai Jarvis?" Tanya Angga menyadarkan Lia.


Lia membelalakan matanya dengan mulut sedikit menganga. Lia membalikan badannya menghadap Angga.


"Mampus! Aku ketahuan!" Batin Lia.


Lia tersenyum canggung dengan wajah merah karena malu.


Angga mengangkat sebelah alisnya menunggu jawaban Lia.


"I-itu tuan... sa-saya hanya bercanda...," jawab Lia dengan suara tercekat.


"Sungguh malang nasib mu Jarvis," ucap Angga sambil menepuk bahu Jarvis.


Angga berjalan meminggalkan meja Fira dan melupakan Jarvis. Fira, Nisa dan Andri juga ikut meninggalkan meja mereka menyisakan Jarvis dan Lia.


"Apa benar yang kau maksud barusan hanya bercanda?" Tanya Jarvis sedikit gugup.


Lia terdiam, Jarvis menarik lengan Lia meninggalkan kantin. Jarvis membawa Lia ketaman belakang perusahaan, mereka berdua mengobrol bersama walaupun sedikit canggung.


"Jika kau memang menyukaiku, maka datanglah kepadaku!" Ucap Jarvis setelah Lia menyatakan perasaannya.


Jarvis menatap Lia lekat-lekat, Jarvis mendekat kewajah Lia dan...


CUP...


Jarvis mencium bibir Lia, sebuah senyum mengembang diwajah Jarvis.


"Aku masih harus fokus menyelesaikan sebuah masalah tuan Angga, kita bertemu lagi lain kali!" Ucapnya seraya mengelus kepala Lia.


Wajah Lia memerah, Jarvis terkekeh kecil. Ia berjalan meninggalkan Lia, Jarvis kembali keruangan Angga. Sementara Lia masih larut dalam pikirannya, secara tiba-tiba ketiga temannya datang dan mengejutkan Lia.


"Wah! Apa cintamu terbalaskan?" Tanya Nisa sedikit menggoda Lia.


"Diamlah!" Sahut Lia dengan wajah kembali merah.


Ketiganya tertawa.


"Yah, jadi kau mempunyai seseorang yang harus kau lindungi. Benar?" Ucap Angga.


"Apa kau mengizinkanku untuk bersamanya?" Tanya Jarvis.


"Kenapa aku harus melarangmu? Itu kehidupanmu, aku hanya memintamu agar tidak mengkhianatiku!" Jawab Angga.

__ADS_1


Jarvis tersenyum "Terima kasih!" Ucapnya dengan tulus.


__ADS_2