
"Apa? Bagaimana bisa hal itu terjadi?" Ucap Angga dengan nada marah.
"Maaf tuan muda, saya juga tidak tahu!" Jawab salah seorang pengawal Angga.
"Tidak! Itu tidak mungkin, itu pasti bohong kan?!" Angga sangat terpuruk mendengar berita kecelakaan yang menimpa adik kecilnya.
"Kita kembali!" Ucapnya sambil mengepalkan tangannya.
Marah, sedih, kecewa dan menyesal. Perasaan itu berkecamuk didalam hati Angga.
"Tapi tuan, anda tidak bisa pergi. Anda masih harus menyelesaikan tugas anda disini!" Cegah pengawalnya.
"Apa kau berani membantahku?!" Ucap Angga dengan menatap tajam pengawalnya itu.
"Saya tidak berani," sahutnya dengan menundukan kepalanya.
Meski Angga jauh lebih muda darinya, tetapi kekuatan Angga sangat besar. Ia mampu mengalahkan orang dewasa dengan postur tubuh 2 sampai 3 kali lipat lebih besar darinya. Sejak kecil, Angga dilatih agar bisa melindungi dirinya serta orang yang ingin ia lindungi.
Angga berlatih ilmu bela diri, seperti bermain pedang, berkelahi, memanah, serta menembak. Keahlian bela dirinya menurun dari Ardiaz.
Angga berjalan keluar dari kamarnya, Ia melangkah dengan perasaan hancur mendengar sang adik kesayangannya mengalami kecelakaan. Pengawal yang tadi bersamanya mengikuti langkah Angga, sampai tiba dihalaman rumah Angga menuju sebuah helikopter pribadinya yang memang sengaja ada disana jika saja ada keperluan mendadak yang harus ia hadiri.
Tanpa pikir panjang, Angga naik masuk kedalam helikopter. Beberapa saat kemudian helikopter tersebut terbang keudara meninggalkan mansion Sunjaya.
"Senna, kenapa hal ini terjadi padamu? Aku sungguh tidak percaya jika kau meninggalkan aku!" Ucap Angga dengan lirih sambil menatap liontin berbentuk hati separuh yang senantiasa ia pakai.
Liontin tersebut diberikan Gaby untuk kedua buah hatinya. Ia ingin kedua anaknya terus bersama, jika keduanya berpisah maka liontin tersebut menjadi pengingat kenangan keduanya. Penghubung kasih sayang keduanya, doa Gaby selalu yang terbaik bagi kedua buah hatinya.
Angga tiba dirumahnya, Gaby terkejut melihat Angga yang tiba-tiba pulang tanpa memberi kabar.
"Ibu, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Angga meminta penjelasan.
Gaby kembali bersedih, saat itu Gaby tengah berdiam diri menenangkan pikirannya setelah pemakaman Senna. Ia sangat terkejut melihat kedatangan Angga, ingin sekali Gaby memeluk Angga. Namun, Angga justru menanyakan perihal yang terjadi pada Senna.
Gaby menceritakan tentang apa yang terjadi pada Senna, berawal jalan-jalan bersama hingga kebakaran yang menghanguskan 'Jasad' Senna.
Angga merasa sangat sedih, ia marah pada dirinya karena telah pergi meninggalkannya. Ia sangat menyesal telah bersikeras ingin pergi. Angga berjalan menujy kamarnya dengan tatapan kosong, Angga bahkan mengabaikan panggilan dari Gaby yang menyuruhnya untuk tenang.
__ADS_1
Setibanya dikamar, Angga membanting keras pintu kamarnya. Menatap pintu itu dengan tatapan yang penuh amarah. Angga memukul keras pintu kamarnya yang terbuat dari kayu berkualitas. Ia tak peduli berapa rasa sakit yang ia dapatkan selepas memukul pintu itu.
Hatinya terlalu terluka, Angga menghancurkan semua barang yang ada. Bahkan ia sampai melukai telapak tangannya sendiri.
"SIALAN! Kau sangat bodoh Angga!" Umpatnya menyalahkan diri sendiri sambil mengacak-acak rambutnya.
Angga kembali menangis, seorang anak laki-laki tangguh berhati dingin tentu bisa merasakan rasa sakit kehilangan seseorang yang ia sayangi. Seberapa kuatnya Angga, hatinya tetap rapuh dan dapat hancur kapan saja jika ia kehilangan seseorang.
Angga terduduk lemas dilantai disamping tempat tidurnya, kamarnya berserakan dengan barang-barang pecah. Angga menenggelamkan ditelapak tangannya, hatinya benar-benar hancur.
"Sesakit inikah rasanya kehilangan? Aku tidak sanggup membendungnya!" Ucapnya dengan lirih sambil meremas baju didadanya.
"Sakit... sangat sakit...," lanjutnya kini sambil memukul-mukul dadanya.
Angga mengangkat wajahnya menatap langit-langit kamarnya. Ia mengingat kembali cerita Gaby mengenai Senna. Angga berpikir kembali soal tabrak lari dan kebakaran itu. Tidak mungkin hal itu terjadi secara alami berturut-turut. Angga mencurigai bahwa ada seseorang yang sengaja melakukannya.
Angga berdiri, ia berjalan keluar dari kamarnya.
Ardiaz baru saja tiba setelah ia mengurusi pemakaman Senna, ia melihat istri tercintanya tengah menangis tersedu-sedu sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Ardiaz tampak sangat iba dengan keadaan istrinya sekarang, Ardiaz menghampirinya memeluknya seraya memberikan kehangatan dan dukungan.
Gaby terdiam, ia menangis dipelukan sang suami. Luka yang begitu dalam mana bisa disembuhkan hanya dengan kata-kata kasihan.
Angga menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa, Ardiaz mendengar langkah kaki yang terdengar sangat cepat dari arah tangga. Diliputi rasa penasaran, Ardiaz menoleh dan melihat putra sulungnya tengah berjalan kearahnya.
"Kenapa dia ada disini?" Pikirnya.
Angga menatap sang ayah dengan tatapan datar, sementara ayahnya menatap Angga dengan bingung. Gaby menyeka air matanya, Gaby melepaskan diri dari pelukan Ardiaz lalu menatap sendu Angga.
"Angga, apa kau akan pergi lagi?" Tanya Gaby dengan suara agak serak akibat menangis terus-menerus.
Terdengar juga sisa isakan Gaby.
"Tidak, aku harus menyelidiki beberapa hal. Aku tidak akan kembali sebelum menyelesaikan masalah ini," ucap Angga dengan senyum hangatnya.
Angga sangat sedih melihat ibunya terluka, seorang ibu yang lemah lembut dan tidak berdaya itu sangat mudah rapuh.
__ADS_1
"Apa yang akan kau selidiki?" Tanya Ardiaz penasaran.
Angga menyunggingkan senyum sinis kepada Ardiaz.
"Bagaimana bisa kau seorang ayah tidak mencurigai kejadian yang menimpa anaknya sendiri?" Alih-alih menjawab Angga justru menyindir Ardiaz.
"Apa yang kau bicarakan Al?!" Ucap Ardiaz dengan tatapan tajam.
Ia tak lagi memanggil putranya itu 'Angga' melainlan 'Al' sebutan baginya jika Ardiaz tengah marah.
"Yaz... jangan marah," Gaby menenangkan hati suaminya seraya mengusap-usap punggung tangan Ardiaz.
Angga tampak malas menjelaskan maksud dari ucapannya, ia menjelaskan dengan detail walaupun enggan menjelaskan.
Ardiaz mengangguk paham setelah mendengar kecurigaan Angga. Angga kembali berjalan keluar.
"Aku akan menyusul Angga!" Ucap Ardiaz.
"Aku ikut!" Pinta Gaby.
"Tidak, kau harus istirahat. Biar aku dan Angga yang menyelesaikan masalah ini!" Jawab Angga melarang.
"Tapi... aku juga ingin membantu...," Gaby tetap pada pendiriannya, ia ingin sekali melihat orang yang telah tega membuat Senna mengalami hal buruk.
"Tunggulah, aku segera kembali!" Ardiaz mengecup kilas bibir Gaby sebelum berjalan keluar menyusul Ardiaz.
Gaby terdiam, mau tidak mau ia harus menuruti perkataan suaminya. Gaby senantiasa berdoa agar keluarganya diberi keselamatan.
Angga dan Ardiaz duduk dimobil yang sama, Ardiaz menatap Angga.
"Terima kasih!" Ucapnya.
Angga menoleh, ia mengangkat alisnya tanda bahwa Angga bingung dengan ucapan Ardiaz.
"Terima kasih sudah menjadi kakak yang baik, kau selalu berada didekat Senna. Menemaninya, bermain bersamanya. Kau terlihat persis sepertiku, jadi aku berpikir jika kau menjadi penggantiku untuk menjaga Senna!" Jelas Ardiaz tersenyum kepada Angga.
Angga ikut tersenyum.
__ADS_1
"Bodoh! Ayah sangat bodoh!" Ucap Angga.
Ardiaz tertawa mendengar ucapan Angga, Angga pun ikut tertawa bersama.