
"Ayo kita kembali, waktu makan siang sudah hampir habis!" Ucap Andri sambil menyimpan ponselnya kedalam saku celananya. Setelahnya meneguk kopi pesanannya.
"Ah! Kamu benar. Ayo Lia, Fira!" Sahut Nisa setelah melihat jam tangannya.
Lia dan Fira mengangguk, mereka berdiri lalu berjalan menuju meja kasir membayar pesanan mereka. Setelahnya mereka kembali berjalan menuju perusahaan tempat mereka bekerja. Setibanya di studio, Angga masuk kedalam ruangan sambil membawa kamera milik Fira.
"Halo tuan!" Sapa mereka sambil membungkukan badannya.
Angga berjalan kearah Fira, ia menyodorkan kamera tersebut kehadapannya. Fira terkejut.
"Bagaimana bisa dia memiliki kameraku?" Batin Fira.
"Lain kali, bawa kamera ini bersamamu. Kau tidak akan pernah tau apa yang terjadi di studio ketika kau tidak ada!" Ucapnya lantas pergi dari studio.
Lagi-lagi Fira terkejut, ia memahami betul apa yang dikatakan Angga barusan. Lia menghampiri Fira.
"Apa yang terjadi?" Tanya Lia.
"Sepertinya seseorang ingin merusak kerja keras kita!" Jawab Fira sambil menatap pintu masuk studio.
"Apa? Apa dia melakukan sesuatu terhadap kameramu?" Tanya Nisa yang terkejut mendengar ucapan Fira.
Fira mengecek kameranya, dan ya beberapa foto terhapus dari kameranya.
"Ada foto yang hilang, mungkin sengaja dihapus orang!" Ucap Fira menatap ketiga teman kerjanya.
"Apa kita harus melakukan pemotretan ulang?" Tanya Andri.
Fira tersenyum.
"Tidak, foto yang hilang itu merupakan foto buram. Bagiku itu tidak masalah, kita mendapatkan foto yang bagus disini!" Jawab Fira.
Ketiga temannya bernafas lega, mereka tidak jadi bekerja ulang untuk mengembalikan foto yang hilang.
"Tapi, siapa yang tega melakukan ini?" Tanya Nisa diangguki Lia.
"Apa kamu mencurigai seseorang?" Tanya Lia.
Fira menatap ketiga temannya, ia tidak mungkin mengatakan bahwa Starla yang melakukannya. Lagi pula, ia tidak memiliki bukti.
"Aku tidak tahu!" Jawab Fira sambil menggelengkan kepalanya.
"Yah... baiklah, ayo kita kembali bekerja!" Ucap Andri.
Tak terasa hari telah berlalu, saatnya bagi para pegawai kantoran untuk pulang. Jalanan kota Jakarta padat akan kendaraan para pegawai kantoran. Mereka dengan senang hati pulang kerumah menemui keluarga yang telah menunggunya.
"Fira, kami pulang duluan ya!" Pamit Lia.
"Baiklah, kalian berdua berhati-hatilah!" Jawab Fira sambil melambaikan tangannya.
Sebuah motor melaju meninggalkan Fira sendiri dihalaman parkir.
"Aku tidak menyangka Nisa dapat mengendarai sepeda motor. Aku juga tidak menyangka Andri memiliki pasangan!" Ucap Fira menatap kepergian teman kerja barunya.
Tanpa ia sadari, sesosok pria tengah menatapnya jauh dibelakang Fira. Pria itu berjalan menghampirinya.
"Apa kau sedang menunggu seseorang?" Tanyanya.
"Tidak, aku tengah menunggu taksi!" Jawab Fira tanpa menatap siapa lawan bicaranya.
__ADS_1
"Ekhem... baiklah!" Ucap pria itu sambil berdehen agar Fira memperhatikannya.
Fira menengok kearah samping, ia terkejut melihat Angga yang berada disampingnya.
"Maaf tuan, saya kira anda orang lain!" Sahut Fira sambil membungkukan badannya.
"Tidak masalah, kau juga pernah masuk kedalam mobil orang tanpa tahu pemilik mobil itu siapa!" Jawab Angga menyidir Fira mengenai kejadian pagi tadi.
Fira mengangkat kepalanya, menatap kesal bos barunya itu.
"Jika kamu bukan bos ku, aku sudah memukulmu!" Batin Fira kesal.
"Apa kau sedang menunggu seseorang?" Tanya Angga.
"Tidak, saya tengah menunggu taksi!" Jawab Fira.
"Ikut denganku!" Ucap Angga.
"Maaf?" Fira bingung dengan ucapan Angga barusan.
"Pulang bersamaku!" Jelas Angga.
"Oh, tidak usah saya bisa pulang sendiri!" Tolak Fira.
"Apa kau berani menolak atasanmu?" Tegas Angga memaksa.
"Ti-tidak! Bukan begitu, hanya saja saya tidak enak hati apabila merepotkan anda!" Jelas Fira.
"Tidak repot!" Angga menarik paksa tangan Fira menuju mobilnya terparkir.
"Ugh! Kenapa dia maksa aku sih?" Batin Fira kesal.
Keheningan terjadi, tidak ada yang berani membuka suara.
"Apa benar kau membutuhkan uang 2 miliar agar dapat keluar dari rumahmu?" Tanya Angga memecah keheningan.
Fira melirik kearahnya ia terkejut dari mana Angga tahu mengenai hal itu.
"Benar, tapi dari mana anda tahu?" Jawab Fira dengan tatapan menyelidik.
"Hanya tau!" Ucap Angga singkat.
"Tolong jangan cari tahu mengenai saya lagi!" Sahut Fira, Angga menoleh menatap Fira yang tengah melihat keluar jendela.
"Aku tidak akan pernah berhenti mencari informasi mengenai dirimu, Klasenna!" Gumam Angga.
Fira menoleh, ia sekilas mendengar ucapan Angga namun tak terdengar jelas. Angga kembali fokus kejalanan.
"Apa yang anda katakan tadi?" Tanya Fira.
"Tidak ada!" Jawab Angga.
"Aku sekilas mendengar dia menyebutkan nama seseorang," batin Fira.
Setelahnya keheningan kembali mencekam, Angga tak lagi melirik Fira. Ia hanya fokus menatap jalanan, sementara Fira ia mencuri-curi pandang kearah Angga.
Mobil berhenti tepat didepan gerbang rumah Fira.
Fira melihat rumahnya, ia melepas sabuk pengaman lalu membuka pintu mobil. Angga meraih tangan Fira, mencegahnya untuk keluar dari mobil. Fira menoleh.
__ADS_1
"Ada apa tuan?" Tanya Fira.
Angga menatap dalam Fira, kenangan ketika ia bersama Senna kembali teringat. Senyuman dan candaan Senna sangat dirindukan Angga. Sosok gadis kecil yang selalu mempermainkannya itu sangat berarti bagi Angga.
"Tuan?" Panggil Fira setelah ia tak mendengar jawaban dari Angga.
"Oh? Tidak, kau boleh pergi!" Ucap Angga melepaskan tangan Fira.
Fira mengangguk, ia keluar dari mobil.
"Terima kasih, tuan!" Ucapnya dengan tulus.
Angga mengangguk, Fira menutup kembali pintu mobil. Setelahnya Angga melajukan mobilnya meninggalkan Fira.
Fira masuk kedalam rumahnya, ia tak mendapati Starla disana. Dengan perasaan lega, Fira naik kelantai atas menuju kamarnya berada.
Kamar bernuansa putih hitam khas keluarga Bagaskara, kasur lembut nan empuk berwarna ungu muda. Fira membaringkan tubuhnya diatas kasur empuk miliknya. Ia meraih sebuah boneka lalu memeluknya.
Kedua matanya terpejam, nafasnya perlahan melambat. Detak jantungnya berdetak dengan normal. Fira berusaha merileks kan tubuh serta pikirannya.
TOK... TOK... TOK
"Fira, sayang apa kamu didalam?" Panggilan serta ketukan dipintu membangunkan Fira. Fira berjalan kearah pintu.
"Iya ayah, aku disini!" Jawab Fira.
"Ada apa, ayah?" Tanyanya setelah membuka pintu.
"Tidak ada, ayah dengar kamu mengundurkan diri dari HSE. Benar begitu?" Ucap Bagas.
"Benar ayah, aku mendapat tawaran pekerjaan yang lebih baik!" Jawab Fira.
Bagas masuk kedalam kamar Fira, ia berjalan menuju meja belajar Fira. Disana terdapat foto masa kecil Fira dengannya, Bagas mengambil salah satu bingkai lalu menatapnya dengan seksama.
"Dulu, kamu begitu kecil dan lucu. Ayah tidak menyangka sekarang kamu sudah besar!" Ucapnya sambil mengusap foto tersebut.
"Waktu berjalan dengan cepat ayah!" Jawab Fira.
Bagas tersenyum miris, ia meletakan kembali bingkai foto tersebut.
"Apa kamu akan pergi?" Tanya Bagas menatap sendu Fira.
"Ya, ayah. Aku ingin bertemu dengan keluargaku yang sesungguhnya!" Jawab Fira dengan senyuman manis.
Bagas menghela nafas.
"Ayah harap, kamu tidak akan melupakan ayah!" Ucapnya.
Bagas berjalan mendekat kearah Fira, lantas memberi kecupan hangat dikeningnya.
"Ayah sangat menyayangimu!" Lanjutnya.
"Aku juga sayang ayah!" Jawab Fira seraya memeluk ayahnya, Bagas membelai lembut rambut Fira.
"Bagaimana pun, kamu adalah ayah yang telah merawatku!" Batin Fira.
DARREN FALAIVAN
__ADS_1