GADIS KECIL KESAYANGAN CEO 2

GADIS KECIL KESAYANGAN CEO 2
CHAPTER 40


__ADS_3

Angga membawa Yunda kerumahnya, asisten rumah tangga Angga terkejut melihat luka dilengan Angga. Angga menaiki tangga dengan menggendong Yunda menuju kamarnya.


"Tuan, biar saya obati luka anda!" Ujar Yunda ketika dirinya kinin berada diatas kasur Angga.


"Sampai kapan kau akan memanggilku dengan sebutan 'tuan' itu?" Tanya Angga mendekatkan wajahnya.


Hembusan nafas Angga menerpa wajah cantik Yunda, sepasang bola mata hazel menatapnya dengan begitu dalam. Yunda terpana dengan ketampanan Angga, sebuah senyum terukir diwajah Yunda. Angga mengangkat lengan Yunda, mendekatkannya kebibirnya lalu menciumnya. Angga juga nendekatkan dahinya kedahi Yunda, Yunda menutup kedua matanya.


"Aku mencintaimu!" Ucap Angga.


Angga menengadah menatap langit-langit kamarnya membuat Yunda bingung.


"Aku tahu kau memikirkan perasaan Fira," ujarnya.


"Kau tidak perlu khawatir, aku menyayanginya hanya sebatas karena dia adikku," sambungnya kembali menatap Yunda.


"Ayunda, maukah kau menikah denganku?" Yunda terkejut mendengar permintaan Angga.


Yunda menunduk, menatap jari manisnya yang terpasang sebuah cincin.


"Tuan, aku..." Angga menempelkan telunjuknya dibibir Yunda, menghentikan ucapannya.


"Jangan katakan apapun," ucap Angga.


Angga menempelkan jidatnya dibahu Yunda, hari ini ia merasa sangat lelah. Angga ingin tidur sebentar, merasakan kehangatan untuk sesaat.


"Biarkan aku seperti ini,"


Yunda mengukir senyumannya, Yunda memeluk Angga, memberinya kehangatan. Yunda mengelus-elus punggung Angga dengan lembut.


"Eum... Al," ucap Yunda dengan suara kecil.


Angga melepaskan diri dari pelukan Yunda, menatap Yunda.


"Kau bilang apa tadi?" Tanya Angga.


"Ah, bukan apa-apa!" Jawab Yunda dengan wajah merah seperti udang rebus.


Akal nakal Angga muncul dibenaknya, Angga mendorong tubuh Yunda keatas kasur. Menyelipkan jari jemarinya kejari Yunda, menekannya kekasur.


"Tuan, apa yang anda lakukan?" Tanya Yunda gugup.


"Aku ingin mencicipimu lagi," jawab Angga dengan seringainya.


Angga mengelus dengan lembut wajah Yunda, lengannya menurun hingga keleher. Angga melihat luka kecil dileher Yunda.


"Dia menyakiti wanitaku!" Pikir Angga


Angga menjilat luka itu, "Umh!" Yunda menutup matanya, terkejut. Angga kemudian mencium luka itu.


Angga mencium bagian lain leher Yunda, membuat wajah Yunda menjadi lebih memerah.


"Umh, tuan tolong hentikan," pinta Yunda sambil memejamkan matanya.


Angga mengigit leher Yunda, "Akh!"


Angga mengusap bibirnya, Yunda menatap Angga dengan napas menggebu.


"Tuan... jangan lakukan itu," ucap Yunda lemas.


"Tenang sayang, aku tidak akan menyakiti bayi kecil kita!" Jawab Angga.


Angga menarik lengan baju Yunda, menampilkan bahu cantik Yunda. Angga menjilat kecil bahu Yunda lalu menggigitnya lagi.


"Umh!" Yunda memeluk leher Angga, memejamkan matanya.


Angga terus menciumi leher Yunda, mengigit, menjilatnya. Membuat Yunda meras terangs*ng.


"Akh... hah... hah,"


"Umh! Jangan gigit lagi!"


"Sebut namaku!" Ujar Angga berbisik.


"Ugh..., tidak akan," jawab Yunda.


"Jangan salahkan aku jika aku melanjutkan keintinya!" Tegas Angga kembali berbisik.


Angga mengigit leher Yunda lagi.


"Akh... Al, hentikan..." lirih Yunda.


Angga menghentikan kegiatannya mengigit, Angga menatap sepasang bola mata Yunda yang sangat dekat dengannya.


"Sebut lagi!" Suruh Angga.


"Umh...," Yunda memutar bola matanya, menghindari tatapan Angga.


"Al...," lirih Yunda.


Angga tersenyum puas, "Nama yang bagus," pujinya.


Yunda kembali menatap Angga, dengan cepat Angga mencium bibir Yunda. Bola mata Yunda membesar, terkejut dengan tindakan tiba-tiba dari Angga.


Angga ******* nya dengan lembut, menautkan lidahnya dengan lidah Yunda. Perlahan Yunda menikmatinya, mengikuti setiap gerakan Angga. Yunda memeluk leher Angga dengan erat.


"Umh!"


"Beginikah rasanya? Berciuman...," gumam Yunda dalam hatinya.


"Rasanya hangat, bahkan mampu membuat tubuhku memanas, membuat jantungku berdetak dengan cepat!" Lanjutnya.


"Akhh...," Angga melepaskan tautannya, ibu jari Angga menyapu air liurnya dari bibir Yunda.


"Sweet," ucapnya.


"Ssh...," Angga merintih sambil memegangi tangannya.


"Ah! Al, tanganmu!" Yunda bangun dari tidurnya, Yunda menyentuh lembut luka Angga.


"Tidak apa, aku bisa menahannya!" Sahut Angga.


Yunda turun dari ranjang, ia berjalan keluar dari kamar Angga.


"Yunda, kau mau kemana?" Tanya Angga menatap kepergian Yunda.


Yunda tiba didapur, ia bertemu dengan asisten rumah tangga Angga.


"Eum, anu. Kotak P3K ada dimana, ya?" Tanya Yunda dengan ragu.


"Oh, sebentar. Biar saya ambilkan!" ART tersebut mengambil kotak yang diinginkan Yunda.


"Terima kasih!" Ucap Yunda setelah mendapatkan kotaknya.


Yunda kembali berjalan kekamar Angga.


"Kenapa kau pergi?" Tanya Angga saat melihat kedatangan Yunda.


Yunda meletakan kotak tersebut disamping Angga, Yunda membuka jas dan kemeja Angga.


"Katakanlah sesuatu!" Ujar Angga.


Yunda tetap terdiam, ia membuka kotak tersebut, mengambil obat luka dan kapas.


"Ayunda?" Yunda menempelkan telunjuknya ke bibir Angga.


"Kumohon," ucapnya dengan suara tersendat, tatapannya berkaca-kaca, menahan air mata.


Angga tersenyum, Angga menarik menggenggam lengan Yunda yang menempel dibibirnya kemudian menempelkannya kepipinya.


"Lakukan!" Ucap Angga.


Yunda mengobati luka Angga, setelah selesai Yunda meletakan kotak tersebut.


"Baiklah, kamu harus istirahat agar lukanya cepat membaik!" Ujar Yunda.


Angga memeluk pinggang Yunda, mendudukannya diatas pangkuannya.


"Terima kasih," ucap Angga.


Yunda tersenyum, "Tidak masalah,"


Yunda mengelus dengan lembut rambut Angga dan juga wajahnya. Sentuhan lembut Yunda memberi kenyamanan pada Angga.


"Apa kau mencintaiku?" Tanya Angga menghentikan pergerakan tangan Yunda diwajahnya.


"Aku hanya mencintai pria yang tulus mencintaiku," jawab Yunda tersenyum tulus.


Angga mencium pergelangan tangan Yunda, "Bagaimana jika kita lanjutkan permainan tadi?"


"Eh? Permainan apa?" Tanya Yunda bingung.


Angga menempelkan telunjuknya kebibir Yunda, "Aku ingin memakanmu!"


"Bagaimana dengan calon bayi kita?" Tanya Yunda mencemaskan kandungannya.


"Aku hanya ingin memelukmu, aku tidak akan menyakiti storberri ku." Jawab Angga.


"Stroberri? Kenapa kamu memanggilnya begitu?" Tanya Yunda sedikit tak suka.


Angga mengangkat tubuh Yunda agar ia dapat berdiri. Angga naik keatas ranjang, meletakan Yunda diatas kasur dengan perlahan.

__ADS_1


"Karena itu sangat manis," bisik Angga.


Yunda tersipu, ia ingat kata-kata itu pernah diucapkannya pada kejadian malam yang tak terduga.


"Jangan bahas itu lagi," ujar Yunda dengan telinga memerah.


Angga mengusap lembut bibir Yunda, kemudian menciumnya. Yunda mengalungkan tangannya keleher Angga, memejamkan matanya membiarkan Angga bermain dengan lidahnya.


"Umh!"


....


Sinar matahari memancar, menerangi bumi yang penuh dengan polusi. Kendaraan berlalu lalang kesana-kemari, padahal masih begitu pagi.


Alfira, berjalan memasuki halaman perusahaan Angga sambil membawa surat pengunduran diri. Fira tiba diambang pintu perusahaan, Fira mengambil ponselnya lalu menghubungi Dimas.


"Dimas?" Panggil Fira.


*"Fira, ada apa?"* tanya Dimas diseberang telepon.


"Apa kamu sibuk? Aku sangat merindukanmu" ujar Fira.


*"Oh? Tumben kamu merindukanku,"* Dimas terkekeh kecil mendengar gadisnya tengah merindukannya.


"Aku serius!" Gerutu Fira kesal.


*"Baiklah, aku sedang tidak sibuk. Aku akan menemuimu di Kafe Lavender, kamu tahu tempatnya?"* ucap Dimas.


"Aku tahu, sampai jumpa nanti!" Fira menutup sambungan telepon.


Fira kembali berjalan masuk kedalam perusahaan, Fira menaiki lift agar cepat sampai diruang kerja Angga. Sesampainya didepan pintu ruang kerja Angga, Fira mengetuk pintu namun tak ada jawaban. Fira memberanikan diri masuk kedalam, didalam Fira tidak mendapati Angga.


Fira berjalan mendekati meja kerja Angga, Fira meletakan surat tersebut diatas meja. Pandangannya tertuju pada sebuah bingkai foto yang tergeletak dimeja. Fira mengambilnya lalu mengamati foto yang ada dibingkai tersebut.


Kedua bola mata Fira membesar, ia terkejut bukan main setelah melihat terdapat foto dirinya ketika ia masih kecil. Fira tahu betul siapa saja yang ada didalam foto itu, Bagas pernah menunjukannya kepadanya. Foto itu sama dengan foto yang saat ini ada ditangannya.


Perasaan sedih, senang, kecewa, dan marah berkecamuk didalam hati Fira. Semuanya bercampur menjadi satu, pria yang dia kira mencintainya dan dicintainya ternyata adalah kakak kandungnya sendiri.


Fira syok, kepalanya terasa pusing. Perlahan ingatan ketika ia kecil melintas dibenaknya. Fira berlari keluar dari ruang kerja Angga dengan sempoyongan.


Memori itu semakin terlihat jelas dipikirannya, hal itu membuat kepala Fira bertambah sakit. Fira berjalan melewati pekerja resepsionis.


"Fira, kamu kenapa?" Tanyanya namun tak mendapat respon.


Fira menjerit kesakitan diluar perusahaan, pandangannya kabur, berputar seolah-olah ada yang memutar tubuhnya. Fira hilang keseimbangan, sehingga dirinya terjatuh dari tangga. Semua mata yang melihatnya berteriak histeris melihat Fira terjatuh.


...


Angga keluar dari kamar mandi, ia bergegas memakai pakaiannya. Setelahnya menghampiri Yunda yang masih tertidur, Angga membelai wajah Yunda memperhatikannya dengan seksama.


Yunda terbangun merasakan sentuhan hangat diwajahnya, Yunda memasang senyum hangat menyapa Angga.


"Pagi sayang, bagaiman tidurmu?" Sapa Angga.


"Sangat baik, aku sampai bermimpi indah." Jawab Yunda.


Yunda duduk diatas kasur, mengusap wajahnya agar dapat melihat dengan jelas wajah Angga.


"Benarkah? Mimpi apa itu?" Tanya Angga.


"Aku bermimpi, bayi kecil kita seorang anak laki-laki!" Jawab Yunda sambil tersenyum senang.


Angga ikut senang, ia mengangkat lengannya untuk mengelus perut rata Yunda.


"Bersiaplah, setelah itu kita sarapan. Pagi tadi ART mu menelepon, dia menanyakan dirimu." Ujar Angga.


"Ah? Apakah Papa sudah kembali?" Tanya Yunda.


"Ya, dia bilang begitu. Aku beralasan bahwa kau aku tugaskan untuk bekerja!" Ucap Angga.


Yunda mengangguk paham, ponsel Angga berbunyi.


"Ada apa?" Tanya Angga.


*"Adikmu masuk rumah sakit, dia terjatuh dari tangga. Saat ini, dia membutuhkan donor darah!"* ujar Jarvis yang menelepon Angga.


"Apa?! Apa kau bercanda?!" Angga terkejut, Yunda ikut penasaran.


*"Untuk apa aku bercanda, bodoh!"* jawab Jarvis.


Angga memutuskan sambungan telepon, Angga berjalan menuju nakas mengambil kunci mobilnya. Yunda ikut berdiri.


"Apa yang terjadi?" Tanya Yunda.


"Fira masuk rumah sakit, aku harus menemuinya!" Jawab Angga.


"Apa?"


"Aku akan menyuruh Jarvis menjemputmu!" Jawab Angga diangguki Yunda.


Angga berjalan kearah pintu, lengannya meraih pegangan pintu. Yunda menghentikannya, Angga menoleh kearahnya.


"Aku takut, semoga Fira baik-baik saja." Ucap Yunda bergetar.


Angga tersenyum, ia berjalan mendekat untuk mencium kening Yunda.


"Semua akan baik-baik saja," ucapnya.


"Aku pergi!" Angga berjalan keluar dari kamarnya.


"Marry!" Panggil Angga.


Marry bergegas menghampiri tuannya.


"Ya tuan?" Sahutnya.


"Jaga wanitaku, layani dia dengan baik!" Perintah Angga.


Marry mengangguk, "Baik tuan!" Jawabnya.


Angga membuka pintu rumahnya, ia terkejut mendapati sosok wanita tua yang sangat dirindukannya.


"Ibu?" Gumam Angga.


"Putraku sayang!" Gaby memeluk Angga, melepas segala kerinduannya.


"Kenapa ibu ada disini?" Tanya Angga.


"Ibumu terus merengek ingin menemuimu, apa dayaku yang tidak bisa melarangnya!" Jawab Ardiaz.


"Ibu masuklah," Angga mempersilahkan orang tuanya untuk masuk kedalam rumah.


Gaby dan Ardiaz duduk disofa, tak lama setelah itu Yunda tiba menuruni anak tangga. Gaby dan Ardiaz terkejut melihat keberadaan Yunda, Angga menghampiri Yunda memegangi lengannya saat tiba dianak tangga terakhir.


"Ibu, ini Ayunda. Calon istriku!" Ucap Angga memperkenalkan Yunda.


"Halo, senang bertemu dengan anda!" Yunda memberi salam dengan sedikit membungkuk.


Gaby berdiri menghampiri Yunda, "Sayang, bagaimana bisa kau menunduk begitu?" Ujar Gaby dengan bahasa indonesia yang telah ia pelajari.


"Aku tidak bisa menemani kalian lebih lama, Jarvis akan menjelaskan semuanya!" Ucap Angga.


"Kau mau kemana?" Tanya Ardiaz.


Angga tak menanggapi pertanyaan Ardiaz, ia lebih memilih mengatakan hal yang mengejutkan.


"Ibu, aku titip Yunda. Jangan biarkan dia berlari, dia tengah mengandung anakku!" Ujar Angga.


"Ah, baiklah." Jawab Gaby.


Angga bergegas keluar dari rumahnya, Gaby baru tersadar dengan apa yang diucapkan Angga.


"Tunggu! Alsanggaaa!" Teriak Gaby terkejut.


...


"Bagaimana bisa dia melakukan itu?" Ujar Gaby marah pada putranya.


"Sudahlah, lagipula anak itu akan bertanggung jawab!" Sahut Ardiaz.


"Ini semua salahmu!" Gaby menujuk Ardiaz.


"Kenapa aku?" Tanya Ardiaz bingung.


"Tentu saja! Jika kau tidak membiarkan putra kita bermain dengan Roger, dia tidak akan melakukan itu!" Jelas Gaby.


Yunda hanya terdiam sambil tersenyum menanggapinya.


"Haishh... gadis malang, tapi kau tidak begitu malang!" Ucap Gaby mengelus rambut Yunda.


"Maafkan Angga karena telah menodaimu," sambung Gaby.


"Tidak masalah, saya senang jika Al mau bertanggung jawab!" Jawab Yunda.


"Aihh... manisnya,"


"Permisi!" Jarvis tiba dirumah Angga.


"Jarvis, masuklah!" Sahut Gaby.


Jarvis masuk kedalam rumah Angga.

__ADS_1


"Angga bilang, kau akan menjelaskan semuanya. Apa maksud dia?" Tanya Ardiaz.


"Biar saya jelaskan diperjalanan," jawab Jarvis.


"Saya harus membawa nona Yunda kerumah sakit, tuan dan nyonya besar juga silahkan ikut bersama kami" lanjut Jarvis.


Mereka bergerak menuju rumah sakit, Jarvis menjelaskan semuanya kepada Gaby dan Angga. Gaby sangat terkejut mendengar putrinya masih hidup.


....


"Baiklah, donor darah telah selesai!" Ucap suster.


Fira menjalani operasi dibagian kepalanya, ia kehilangan banyak sekali darah. Angga sangat takut Fira meninggalkannya.


Gaby, Ardiaz, Yunda dan Jarvis tiba dirumah sakit.


"Sayang, bagaimana dengan Senna?" Tanya Gaby cemas.


"Dia akan baik-baik saja, bu!" Jawab Angga menenangkan ibunya sambil memeluknya.


Dokter keluar dari ruang operasi, "Apa kalian keluarga pasien?" Tanya dokter.


"Benar, bagaimana keadaan putri saya?" Sahut Ardiaz.


"Putri anda telah melewati masa kritisnya, saat ini kondisinya mulai membaik!" Jawab dokter tersebut sambil tersenyum.


"Syukurlah!" Ucap semua orang lega mendengar jawaban dokter.


"Apakah kami bisa mengunjungi pasien?" Tanya Ardiaz.


"Tentu saja, silahkan. Tapi, saya harap jangan membuat keributan. Kepala pasien masih sangat rawan ketika mendengar keributan!" Ujar dokter.


"Tentu saja, terima kasih!" Sahut Angga.


Dokter itu pamit pergi, Gaby dan Ardiaz masuk lebih dulu. Angga, Jarvis dan Yunda menunggu diluar.


"Kemarilah!" Panggil Angga kepada Yunda.


Yunda berjalan mendekat, Angga memeluk pinggang ramping Yunda.


"Aku lemas, bisakah kau memberiku booster?" Ucap Angga.


"Ah, booster apa itu?" Tanya Yunda bingung.


"Kiss me!" Jawab Angga tersenyum nakal.


Jarvis yang menyaksikan keduanya tampak iri, ia memutuskan untuk pergi dari sana.


"I-ini dirumah sakit, tidak baik!" Ucap Yunda.


"Aahh... apakah kau tidak bersedia?" Tanya Angga memasang ekspresi wajah sedih.


"Aku baru saja melakukan donor darah, bahkan aku belum makan sesuap nasi!" Sambungnya.


Yunda mengalungkan lengannya keleher Angga, "Baiklah, hanya sebentar!" Pasrah Yunda.


Perlahan Yunda berjinjit untuk menggapai bibir Angga, bibirnya bersentuhan dengan bibir Angga. Angga melum*tnya dengan santai, gerakan Angga semakin memperdalam. Yunda memukul dada Angga, mendorongnya perlahan.


"Hanya sebentar, jangan lebih!" Ucap Yunda kesal.


Angga terkekeh, seperti biasa Angga membersihkan bekas tindakannya tadi dibibir Yunda.


"Kau sangat manis!"


....


"Ibu... ayah...," ucap Fira lirih.


"Sayang, apa kau mengingat kami berdua?" Tanya Gaby senang.


Fira mengangguk lemah sambil tersenyum.


Gaby tak dapat menahan rasa sedih sekaligus bahagianya, Gaby memeluk Fira. Ia sangat merindukan putrinya yang telah ia anggap meninggal. Ardiaz tersenyum senang melihat Gaby tersenyum.


"Ayah!" Panggil Fira.


"Ya, sayang?" Ardiaz menggenggam tangan Fira.


"Aku merindukan ayah!" Fira menangis, dari dulu ia sangat merindukan keluarga kandungnya. Berulang kali Fira mencoba mengingatnya namun hal itu malah membuat kepalanya sakit.


"Kami merindukanmu juga sayang, sangat!" Sahut Ardiaz.


"Dimana kakak?" Tanya Fira.


"Diluar, kau ingin bertemu dengannya?" Tanya Ardiaz.


Fira mengangguk, Gaby dan Ardiaz keluar dari ruang operasi. Kini Angga tak lagi memeluk Yunda, Angga menggandeng lengan Yunda menuntunnya masuk kedalam.


"Kakak!" Panggil Fira.


"Hey, haruskah aku memanggilmu Fira atau Senna?" Sahut Angga.


"Senna, karena itu namaku!" Jawab Senna.


Angga mencium kening Senna, ia sangat senang Senna dapat mengingatnya. Berbagai cara telah dilakukannya untuk membuat Senna mengingat siapa dirinya.


"Kak Yunda!" Panggil Senna.


"Senna, maafkan aku!" Ucap Yunda merasa bersalah.


"Kenapa kakak minta maaf?" Tanya Senna bingung.


"Aku...," Yunda ragu untuk mengatakannya.


"Kak, aku sudah sadar," ucap Senna.


"Kakak peduli padaku bukan karena dia mencintaiku," Senna menatap Angga.


"Melainkan karena dia sayang padaku, karena aku adiknya yang hilang!"


"Sebaliknya, kakak peduli padamu. Karena dia sangat mencintaimu!" Sambungnya.


"Senna...," lirih Yunda menangis.


....


Tak terasa hari menjelang sore, Dimas menanti kedatangan Senna dari pagi hingga saat ini. Pada akhirnya Dimas menghubungi Lia, kebetulan ia mengenal Lia. Dimas terkejut mendengar kabar bahwa Senna berada dirumah sakit.


Dimas bergegas menemuinya dirumah sakit, Dimas menanyakan keberadaannya pada resepsionis.


"Fira!" Panggil Dimas setelah mengetahui kamar rawat Senna.


"Dimas!" Senna senang melihat kedatangan Dimas.


Dimas memeluk Senna, ia sangat mencemaskan Senna.


"Bagaimana bisa kamu ada disini?" Tanya Dimas cemas.


"Dimas," panggil Senna.


"Kenapa?"


"Apa kamu mencintaiku?" Tanya Senna membuat Dimas terdiam.


Senna mengangkat lengannya, mengelus wajah tampan Dimas.


"Katakanlah!" Ujar Senna.


"Ya, aku mencintaimu!" Jawab Dimas.


Senna mencoba duduk, namun Dimas menghentikannya.


"Lebih baik kamu berbaring!" Ucapnya.


"Dimas, aku sadar bahwa pria yang selama ini mencintaiku dengan tulus itu kamu!"


"Dan... aku menerimamu, itupun jika kamu kasih mencintaiku dan mau bersamaku!" Lanjut Senna.


"Tunggu!" Ucap Dimas, Senna memiringkan kepalanya.


"Kenapa kamu melamarku? Harusnya aku yang melamarmu!" Gerutu Dimas.


Senna terkekeh kecil, Dimas tersenyum senang. Dimas meraih lengan Senna.


"Klasenna Glorya Sunjaya," ucap Dimas.


"Bagaimana bisa kamu tahu?" Tanya Senna.


"Angga yang menceritakannya padaku!" Jawab Dimas diangguki Senna.


"Senna, maukah kamu menjadi ibu dari anak-anak kita?" Ujar Dimas melamar Senna.


"Ya, aku mau!" Jawab Senna tanpa rasa ragu.


Dimas sangat senang, gadis yang dicintainya sejak lama kini menjadi miliknya. Selamanya.


Dimas memperhatikan wajah Senna, menatap dalam bola mata Senna. Perlahan Dimas mendekatkan wajahnya, kedua bibir mereka menyatu.


Dimas mencium bibir Senna, Senna mengalungkan tangannya keleher Dimas. Kini, keduanya bersatu. Senna mulai membuka hati untuk Dimas yang telah mencintainya dengan tulus.


THE END

__ADS_1


__ADS_2