
♡Chapter ini bercerita tentang asal-usul Dimas Edwindra♡
"Ada apa?" Tanya Dimas setelah ia mengangkat panggilan telepon.
"Tuan muda, anda diminta menemui Tuan besar hari ini," jawab seorang pria diseberang telepon.
"Kenapa dia memintaku menemuinya? Kenapa dia tidak secara langsung menemuiku saja?" Tanya Dimas dengan nada kesal.
Saat ini Dimas berada didepan rumahnya, Dimas hendak menjemput Fira untuk berjalan-jalan bersamanya. Tetapi, sebuah panggilan telepon mengganggu rencananya
"Nonya besar tengah berada dirumah sakit, tuan besar meminta anda untuk menemuinya di Lavender Cafe tepatnya disamping rumah sakit Kasih Bunda!" Jawabnya
"Apa?! Mama sakit?" Tanya Dimas terkejut.
"Benar tuan muda, saya mohon anda datang ke Lavender Cafe untuk menemui tuan besar," jawab pria itu lagi.
Dimas membuang nafasnya secara kasar.
"Baiklah, aku pergi!" Sahut Dimas kemudian menetup panggilan telepon.
Dimas harus menunda acara jalan-jalannya bersama pria dan memilih menemui ayahnya.
"Kenapa dia memintaku menemuinya? Jika hanya karena ibu sakit dia tidak perlu menyuruhku untuk menemuinya!" Pikir Dimas saat ia berada didalam mobilnya.
Namaku Dimas Edwindra, sebagian orang mungkin mengenal keluarga Edwindra. Tetapi, sebagian lagi tidak. Mereka menganggap aku ini hanya seorang pria rendah yang tidak mempunyai orang tua.
Aku berusia 22 tahun, cukup dewasa memang dan aku memiliki seorang wanita yang kucintai. Kau tahu siapa dia? Oke, biarkan aku menjelaskannya.
2 tahun yang lalu, tepat saat aku berusia 20 tahun ayahku Jaya Edwindra menjodohkanku dengan putri temannya. Perjodohan... siapa yang akan menerimanya? Dia selalu bertingkah egois, menyuruhku ini dan itu tanpa memperdulikan tanggapanku.
Kala itu aku, ibu dan juga ayah tengah menyantap sarapan pagi yang biasa kita lakukan bersama dipagi hari. Suasana begitu hening seperti biasa, ayah membuka suaranya untuk menghilangkan keheningan.
"Dimas, besok malam kita pergi ke resto Mawar untuk menemui Putri!" Ucapnya dengan angkuh dan sorot mata tegas.
"Putri? Untuk apa?" Tanyaku.
"Papa akan menjodohkanmu dengannya," jawabnya.
Aku tersedak, ibu memberiku segelas air seraya menepuk-nepuk punggungku. Namun, ayah sama sekali tidak memperhatikanku dia tetap fokus menyantap makanannya.
"Aku menolak!" Tegasku.
Aku lihat ayah menaruh peralatan makannya lalu menatapku dengan tajam.
"Tidak ada penolakan! Semua sudah ditentukan jangan membantah seperti anak kecil!" Jelasnya dengan tegas.
Aku menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Kenapa? Aku sendiri yang akan menentukan pernikahanku, bukan Papa!" Bantahku.
Ayah menggebrak meja dengan keras mengejutkan aku dan juga ibu, tak hanya itu para pelayan didapur pun terkejut lalu mengintip ke ruang makan.
"Sudah ku bilang jangan membantah! Mau tidak mau, terima tidak terima kau harus melakukannya!" Tegasnya lagi dengan nada tinggi sambil beranjak berdiri.
Aku ikut berdiri, kulihat ibu menggenggam erat lenganku. Maaf ibu, aku tidak bermaksud melawan ayah. Tapi sifatnya ini sudah melewati batas.
Kutatap kedua bola mata ibuku, ia menatapku seolah memohon agar aku menurut. Namun, aku tetap bertekad menolak perjodohan ini.
"Anda memang ayah saya, tapi saya rasa anda tidak berhak mengatur soal pernikahan saya," ucapku sambil melepaskan genggaman tangan ibu.
"Berani sekali kau melawanku hah!" Ucapnya dengan marah.
Ibu menatap ayah lalu membujuknya.
"Pa, biarkan Dimas memilih pasangannya sendiri. Jangan memaksanya!" Bujuk ibu dengan nada memohon.
"Kamu diam saja, jangan ikut campur!" Sahut ayahku.
"Pa... kamu sudah memaksa Dimas untuk menuruti keinginanmu, Dimas merelakan mimpinya demi dirimu, Dimas bersekolah disekolah pilihanmu padahal Dimas memeliki sekolah impiannya. Kamu sudah memaksanya melakukan kehendakmu, kali ini aku mohon biarkan Dimas memilih pasangannya sendiri...," jelas ibuku, aku dengar suaranya begitu lirih seolah menahan tangisannya.
Ibu memang selalu mengerti akan perasaanku.
"Jangan menasihatiku! Aku tidak butuh nasihat darimu!" Bentak ayahku.
Kulihat ibu terkejut, wajahnya memerah menahan tangis. Dari dulu aku sangat tidak menyukai ayahku jika dia membentak ibu.
"Ho... ternyata kau sudah mulai berani membentakku ya...," sahut ayahku.
"Keluar kau dari sini!" Lanjutnya kali ini lebih tegas sambil menunjuk pintu keluar.
Ibu mengangkat wajahnya terkejut lalu berdiri sambil memeluk lenganku.
"Tidak! Aku mohon jangan usir Dimas... jangan... jangan hukum dia, hukum saja aku... hukum aku...," ujar ibu dengan menangis.
"Kemari kau!" Ayah menarik paksa lengan ibu menjauhkannya dariku.
"Tidak, kumohon jangan usir Dimas... aku mohon...," pinta ibu dengan semakin mengeratkan pelukannya.
Perlahan aku melepaskan lengannya yang memelukku, aku lihat ibu tampak terkejut. Aku menatap ibuku dengan dalam seraya tersenyum.
"Tidak apa-apa, ibu jagalah kesehatanmu!" Ucapku.
Perlahan aku berjalan menjauh dari ibuku, tanpa melihatpun aku tahu saat ini ayah memegang lengan ibu agar tidak mengejarku. Aku mendengar teriakan ibu yang memanggilku.
Aku berhenti melangkah lalu berbalik.
__ADS_1
"Jika anda ingin hidup anda tenang, maka perbaikilah sifat anda. Sampai jumpa...," kataku menggantung.
"Ayah!" Lanjutku kemudian pergi meninggalkan rumah besar yang dulu aku tinggali sejak lahir.
Aku pergi dari rumah tanpa membawa apapun, hanya ada sebuah jam tangan yang melingkar dipergelangan tanganku dan sebuah ponsel. Aku menjualnya untuk mengontrak rumah serta makan, lalu aku melamar pekerjaanku. Aku menyuruh tukang kebun untuk membawakan berkas-berkas yang aku minta dari rumah.
Aku sangat merindukan ibuku, sesekali aku pergi ketoko bunga Anggrek. Ibu sangat menyukai bunga anggrek, aku membeli salah satu bunga lalu diam-diam memasukannya kedalam bagasi mobil dengan sepucuk surat.
Aku bersembunyi menatap ibuku yang tengah membaca surat dariku, kulihat dia mengedarkan pandangannya. Aku tebak, pasti dia mencariku setelah membaca suratnya.
Beberapa bulan kemudian, aku mendengar bahwa aku akan mendapat seorang rekan kerja. Hal itu tidak membuatku senang apalagi ketika mendengar bahwa rekan kerjaku itu seorang perempuan.
Banyak perempuan yang bekerja di HSE, mereka selalu mencari perhatianku. Yah, aku memang tampan tetapi tidak tertarik pada wanita-wanita itu. Aku melihatnya, rekan kerjaku.
Gadis cantik nan manis berdiri didepanku dengan senyum cantiknya, aku terpana menatap pesonanya yang indah. Rambut panjang sedikit bergelombang, bola mata berwarna coklat terang, kulitnya yang putih, bibir kercilnya, serta hidung mungilnya. Aku menyukainya, aku tak pernah bosan memandangnya.
Dia selalu mengobrol denganku namun tak pernah aku lihat dia mencari perhatianku dengan banyak bertingkah aneh. Dia cukup pendiam dan tidak banyak berbicara.
Aku menyukainya, Alfira Sheria Bagaskara. Gadisku yang cantik.
Namun, tak lama setelahnya Fira bertemu dengan Angga. Aku lihat Angga seperti menyukai Fira, dia selalu memperhatikan Fira.
Suatau hari dia menghilang dari HSE, Aku dengar dia mengundurkan diri dan bekerja di AL Grup. Aku pernah pergi kesana untuk mewawancarai direktur AL Grup, namanya Alsangga Gardiaz Sunjaya.
Malam harinya aku mengajak Fira makan malam bersama.
"Kenapa kamu bisa bekerja di AL Grup?" Tanyaku.
"Itu karena tuan Angga sendiri yang menawariku, kamu tahu tidak? Waktu itu aku salah memasuki mobil, aku pikir itu taksi ternyata mobil tuan Angga. Jadi, aku pergi bersamanya ke AL Grup dan dia menawariku pekerjaan!" Jelas Fira dengan ekspresi wajah senang.
Aku mengangguk "Apa dia suka memarahimu?" Tanyaku lagi.
"Tidak, justru dia sangat baik. Dia selalu memperhatikan ku, pokoknya dia pria yang baik!" Jawabnya.
Aku melihat senyumannya, senyuman itu berbeda saat aku pertama kali bertemu dengannya. Aku rasa Fira menyukai Angga dan menaruh perasaan padanya.
Fira pergi ketoilet kemudian tibalah Angga kemeja makan aku dan Fira. Kami berbincang sebentar. Aku heran, mengapa dia menyuruhku menjaga Fira. Apakah dia mempunyai sebuah rencana? Tapi, rencana apa itu?
Setelahnya Fira tiba, dan Angga beralasan datang ke restoran bersama dengan seorang wanita. Fira bilang namanya Yunda, aku menatap Fira sepertinya dia terluka melihat Angga menggenggam tangan Yunda.
Keterlaluan! Kenapa dia melakukannya didepan Fira? Apakah dia sengaja ingin menyakiti hati Fira?
Beberapa hari kemudian, ketika aku berada dihalaman parkir AL Grup sehabis mengantar Fira bekerja. Ponselku berdering menampilkan sebuah nama yang tak asing bagiku.
"Arif?" Pikirku.
Arif adalah asisten kepercayaan ayahku, aku penasaran apa yang membuatnya meneleponku setelah sekian lama. Dan ternyata dia bilang bahwa ayahku memintaku untuk pulang.
__ADS_1
Setelah apa yang dia lakukan dulu sekarang malah menyuruh asistennya yang menyampaikan hal itu? Konyol sekali!
Dan saat ini dia kembali meneleponku dan memintaku untuk menemuinya di Lavender Cafe