
Fira terus berlari menuju perusahaan Angga, ketika ia hendak sampai Fira bertemu dengan Yunda.
"Fira, kamu kenapa? Kenapa menangis?" Tanya Yunda cemas sambil mengusap air mata Fira.
Fira menepis kasar lengan Yunda, Yunda terkejut.
"Jangan sentuh aku! Jangan menemuiku lagi!" Teriak Fira.
"Fira... kamu kenapa?" Tanya Yunda lirih.
"Menjauhlah! Aku tidak ingin bertemu denganmu!" Fira mendorong bahu Yunda agar menjauh darinya.
Fira kembali berlari, namun seseorang mencegatnya. Pria bertubuh tinggi itu mencengkram erat lengan Fira. Fira memberontak berusaha melepaskan diri, Yunda yang melihatnya lantas mengambil sebuah balok kayu yang ia temukan dipinggiran kafe.
Yunda memukul pria itu menggunakan balok kayu, cengkraman pria itu terlepas. Sementara pria lainnya tiba dan memegangi Yunda.
"Fira! Larilah! Temui tuan Angga maka kamu akan selamat!" Teriak Yunda sambil berusaha melepaskan lengan pria disampingnya yang memeganginya.
Dengan ragu Fira kembali berlari meninggalkan Yunda. Salah seorang pria yang tadi tumbang, bangun mengejar Fira. Sementara Yunda dibawa menuju sebuah mobil.
"Fira, larilah!" Gumam Yunda.
.....
BRAAKK...
"ANGGA!!" Panggil Jarvis mengejutkan Angga.
"Kau ini, bisa tidak membuka pintu secara perlahan?" Gerutu Angga.
"Kenapa?" Angga bertanya.
"Kau...," Jarvis ragu menceritakan kejadian yang dilihatnya pagi ini.
Angga berdehem meminta penjelasan sambil terus fokus pada layar laptopnya. Jarvis berjalan mendekat kemeja kerja Angga.
"Kau... apa yang telah kau lakukan pada Yunda?" Tanya Jarvis.
Sontak Angga terkejut, "Apa maksudmu?" Tanya Angga tak mengerti.
"Apa yang telah kau lakukan pada Yunda?" Ulang Jarvis.
"Apa? Aku melakukan apa? Mana aku tahu!" Jawab Angga bingung.
"Kau...," Jarvis benar-benar kesal dengan jawaban Angga yang begitu tenang seolah-olah memang ia tak melakukan apapun pada Yunda.
"Kau ini kenapa? Ceritakan dengan jelas!" Ucap Angga dengan dingin.
"Yunda hamil," sahut Jarvis.
Angga berhenti mengetik pada keyboard laptopnya dengan kedua bola matanya yang membesar karena terkejut.
Angga menatap Jarvis, "Apa kau serius?" Tanya Angga memastikan.
"Tentu saja aku serius, jika tidak aku tidak akan bercanda dengan mengatakan hal itu bodoh!" Sungut Jarvis kesal.
Angga tersenyum senang, ia menyandarkan tubuhnya.
"Jadi... stroberi ku telah tumbuh dengan baik," ucap Angga dengan tersenyum senang.
"Kenapa kau tampak senang begitu? Aku bilang Yunda hamil, kenapa kau senang?" Ucap Jarvis marah.
"Karena aku yang menghamilinya," sahut Angga.
"Apa?!" Seketika tubuh Jarvis lemas.
....
"Hah... Hah...," Fira terus berlari hingga masuk keperusahaan.
Pria yang mengejarnya mengurungkan niatnya untuk ikut masuk, ia kemudian berbalik dan kembali menemui temannya.
__ADS_1
"Tuan!" Fira membuka pintu ruangan Angga.
"Fira, ada apa? Kenapa kau tampak kelelahan?" Tanya Angga mulai khawatir.
Ia berjalan mendekat kearah Fira, membantunya untuk duduk disofa.
"Katakanlah, apa yang terjadi?" Tanya Angga sambil memberikan segelas air kepada Fira.
Fira meneguk air tersebut hingga habis, ia melihat Jarvis yang tampak syok berat. Fira meletakan gelas tersebut kembali diatas meja.
"Tuan..., kak Yunda...," ucap Fira sembari mengatur nafasnya.
"Apa apa? Apa yang terjadi padanya?" Tanya Angga cemas.
"Dia... beberapa orang membawanya pergi!" Ucap Fira.
"Apa?!" Ujar Angga dan Jarvis bersamaan, Jarvis terjatuh lemas dilantai.
Ia mendapat serangan bertubi-tubi hingga tubuhnya tak mampu lagi berdiri.
"Jarvis! Hubungi beberapa orang pengawal, dan ikuti mobilku!" Titah Angga berdiri mengambil kunci mobilnya kemudian pergi keluar dari ruangannya.
"Baiklah...," jawab Jarvis lemas.
Angga melajukan mobilnya menuju tempat Yunda disekap. Angga memasang GPS diponsel Yunda.
...
"Lepaskan aku!" Yunda memberontak saat dirinya didudukan disebuah kursi.
Seorang pria mengikat tubuhnya, lengan dan kakinya.
"Yah, meski bukan gadis itu setidaknya aku mendapatkan wanita kesayangan Angga ini!" Ujar Shany keluar dari tempat persembunyiannya.
"Siapa kamu?" Tanya Yunda menyipitkan matanya untuk melihat dengan jelas sosok yang kini berdiri dihadapannya.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku, gadis baik!" Ujar Shany.
"Aku pikir dia wanita yang masih muda," lanjutnya.
"Aduh, dimana kekasihmu itu? Mengapa dia sangat lambat? Aku sudah tak sabar melihatnya mati bersamamu!" Ujar Shany.
Yunda terkejut, "Tidak, dia tidak boleh mati," gumam Yunda pelan.
Yunda menunduk menatap perutnya, "Mama rasa, kamu tidak akan melihat Papa." Batin Yunda.
BRAKK...
Pintu gudang terbuka, terlihat Angga yang dengan terengah-engah sambil membawa sebilah belati.
"Angga," lirih Yunda.
"Aiihh... kau datang juga rupanya," ucap Shany.
Shany memperhatikan kondisi Angga yang tampak kelelahan, Shany mengatur penjaga diluar gudang. Mungkin Angga berhasil mengalahkan mereka semua.
"Lepaskan dia!" Tegas Angga.
"Hee? Kenapa begitu? Aku baru saja mau bermain dengannya," Shany mengeluarkan pisau kecil kemudian menodongkannya kearah Yunda.
"Jangan sentuh dia!" Angga berjalan maju, Shany menyuruh penjaga lainnya untuk menyerang Angga. Angga membantai semua lawannya yang bahkan lebih besar darinya.
Shany melongo tak percaya, Shany berjalan kebelakang Yunda menodongkan pisaunya keleher Yunda.
"Jangan mendekat! Atau dia tak akan selamat!" Ujar Shany ketakutan.
"Kau ini sudah tua, apa kau tidak ingin menikmati hari tuamu dengan bahagia?" Ujar Angga perlahan maju mendekat.
"Sudah kukatakan jangan mendekat!"
"Aku bisa saja membuatmu menikmati hari tuamu dengan tenang!"
__ADS_1
"Cih! Aku tidak membutuhkannya, hidupku tenang jika kalian mati!" Sahut Shany.
"Ugh!" Yunda menatap pisau yang semakin dekat dengan lehernya.
"Benarkah?" Angga terus melangkah maju.
Shany menekan pisau tersebut keleher Yunda, leher Yunda sedikit tergores.
"Kau!" Angga berlari hendak menggapai pisau yang ada ditangan Shany.
Pisau tersebut melayang keudara, perlahan mendekat keleher Yunda.
DOORR
"Aakhh!" Shany jatuh duduk dilantai, lengannya terluka.
Angga menoleh kebelakang, tampak sosok Jarvis yang menodongkan senjata api itu kearah Shany.
Angga bergegas berjalan menuju Yunda, Angga membuka ikatan tali Yunda.
Shany berdiri sempoyongan sambil memegang lengannya yang terluka.
"Kalian! Aku akan membunuh kalian!" Shany kembali melayangkan pisaunya.
Angga memeluk Yunda, membelakangi Shany, Jarvis menembak lengan Shany lagi hingga pisau itu hanya menimbulkan luka yang cukup dalam dibagian lengan Angga.
Shany kembali terjatuh, Shany mendengar sirine mobil polisi. Shany ketakutan, Angga memegangi lengannya. Yunda yang melihatnya panik, tak tahu harus apa. Yunda merobek roknya, lalu mengikatkannya pada lengan Angga.
Shany berlari keluar, Jarvis mengejarnya. Beberapa bodyguard Angga juga ikut mengejarnya.
"Tuan, anda terluka!" Ucap Yunda dengan suara gemetar.
"Dan itu karena saya," sambungnya dengan berurai air mata.
"Jangan salahkan dirimu," ucap Angga.
Angga menggendong Yunda, "Akhh... tuan, lengan anda kan terluka."
"Kita harus pergi dari sini, tempat ini akan meledak!" Angga bergegas keluar dari gudang yang telah terpasang bom.
Shany memasangnya, Angga sempat melihatnya dibelakang kursi Yunda. Sesaat setelah Angga keluar, gudang tersebut meledak.
"Bagaimana anda bisa tahu?" Tanya Yunda, melihat puing-puing gudang.
Jarvis berlari menghampiri keduanya, "Tuan, Shany telah tertabrak. Kami telah membawanya kerumah sakit, namun dalam perjalanan dia meninggal!" Lapor Jarvis.
Angga menghela nafas, Angga menatap sepasang bola mata Yunda.
"Sudah berakhir," ucapnya.
Jarvis membuka pintu mobil, Angga memasukan Yunda kedalam mobil. Jarvis mengemudi mobil Angga, mengingat lengan Angga terluka.
"Tuan, bagaimana anda bisa tahu saya disekap didalam gudang?" Tanya Yunda.
"Aku telah memasang alat pelacak," jawab Angga.
"Apa?" Yunda menutup bagian dadanya.
"Kapan anda melakukannya?" Tanya Yunda lagi dengan jantung berdegup kencang.
"Apa kau pikir aku memasangnya didalam tubuhmu? Tentu saja tidak!" Ucap Angga sambil terkekeh kecil.
"Ugh, aku rasa terlalu banyak menonton drama laga jadi salah paham," gumam Yunda.
"Aku tidak akan membiarkan calon istri dan anakku terluka, aku harus melihat bayi kecil kita!" Ujar Angga tersenyum tulus.
"B-bagaimana bisa anda tahu?" Tanya Yunda terkejut.
Angga mengelus perut Yunda dengan lembut, "Ikatan kita sangat kuat setelah kejadian itu, aku mengalami 'Morning Sickness' kala itu." Jelas Angga.
Yunda tersenyum, "Terima kasih,"
__ADS_1