GADIS KECIL KESAYANGAN CEO 2

GADIS KECIL KESAYANGAN CEO 2
CHAPTER 2


__ADS_3

Pagi harinya.


"Apa kau yakin tidak ingin berpamitan pada Senna?" Tanya Ardiaz pada Angga yang hendak pergi sekolah keluar negeri.


"Aku tidak sanggup melihat dia menangis!" Jawab Angga.


"Tapi, jika kamu tidak berpamitan hal itu akan semakin membuat Senna menangis!" Balas Gaby.


Senna berlari dan berteriak memanggil kakaknya.


"Senna hati-hati!" Ucap Ardiaz dan Gaby secara bersamaan.


"Kakak! Kakak jangan pergi!" Teriak Senna berlari menuruni anak tangga.


Setibanya ia dianak tangga terakhir, Senna terpeleset dan hampir jatuh. Beruntung ia dapat menahan tubuhnya dan mengembalikan keseimbangan tubuhnya. Senna berhasil turun dari tangga tanpa terjatuh. Senna kembali berlari kearah Angga, kemudian Senna hendak memeluk Angga namun Angga justru menyentil dahi Senna.


"Kakak! Sakit!" Tegas Senna marah.


"Sudah dibilang jangan lari-lari, kenapa masih membantah?" Ucap Angga.


Senna mengerucutkan bibirnya, kemudian ia memeluk Angga dengan erat.


"Bukankah kakak sudah berjanji tidak akan pergi? Kenapa sekarang kakak akan pergi?" Tanya Senna dengan nada sedih.


"Hmm... aku harus pergi sekolah menggapai mimpiku, jika kau sudah besar nanti kau juga dapat memilih sekolah yang kau suka!" Jawab Angga mengusap lembut kepala adiknya tersebut.


"Lalu, aku pergi meninggalkan ibu dan ayah?" Tanya Senna dengan tak suka.


Gaby serta Ardiaz terdiam melihat kedua buah hatinya yang tengah bersedih melepas kepergian Angga.


"Angga, pikirkanlah lagi. Tidak perlu pergi kesekolah luar negeri untuk menjadi pintar!" Ucap Gaby.


"Ibu benar, sekolah disini juga pasti membuat kakak pintar!" Sahut Senna.


Angga tersenyum kecil, kemudian ia menggendong tubuh mungil Senna. Meskipun keduanya hanya selisih 4 tahun, tetapi postur tubuh Angga jauh lebih tinggi dari Senna. Ia dapat dengan mudah menggendong Senna seperti hal-nya yang sering dilakukan oleh Ardiaz.


"Jadi aku harus meninggalkan mimpiku yang lama?" Tanya Angga bersikeras ingin pergi.

__ADS_1


"Angga, tidak seperti itu juga!" Ucap Ardiaz.


"Ayah, ibu tenang saja aku pasti baik-baik saja. Semua ini aku lakukan demi kalian, dan juga Senna jangan sering-sering membuat Berta kesal. Jangan jadi anak yang nakal, kakak akan pulang menemuimu jika libur musim!" Tegas Angga.


"Kakak, cepat pulang ya!" Ucap Senna menatap sendu Angga.


"Iya, aku akan pulang!" Jawab Angga.


Angga menurunkan Senna, kemudian ia berpamitan pada kedua orang tuanya.


"Angga, apa kau tidak ingin mencium ibu?" Tanya Gaby sambil berjongkok.


Dengan wajah malas, Angga mencium ibunya. Dalam hati ia merasa senang, namun Angga selalu menyembunyikan perasaannya. Senna menatap sendu saudara laki-lakinya tersebut.


"Jaga kesehatanmu, aku pergi ya!" Pamit Angga sambil mengusap lembut puncak kepala Senna.


Senna kembali memeluk Angga, ia tak ingin Angga pergi. Senna selalu bersama Angga, setiap hari mereka bermain bersama.


"Kakak cepat pulang!" Ucap Senna dengan berurai air mata.


Angga mencium lembut kepala Senna, kemudian ia melepaskan pelukan Senna.


Angga berjalan keluar dari rumah bersama dengan supir pribadinya. Senna menatap punggung Angga yang semakin jauh dari pandangannya lalu hilang dari balik pintu.


Senna menutup kedua matanya.


"Satu... dua... tiga!" Batinnya menghitung, Senna kembali membuka matanya berharap Angga berada didepannya.


"Kakak selalu bilang jika kakak tidak ada aku harus menghitung sampai tiga lalu kakak akan muncul, tapi kenapa sekarang kakak tidak ada?" Batin Senna sedih.


Ardiaz tak tega melihat Senna yang terus menunduk sedih melepas kepergian Angga.


"Senna, bagaimana jika kita pergi jalan-jalan?" Usul Ardiaz sembari berjongkok menatap Senna.


"Bagaimana dengan pekerjaan ayah?" Senna balik bertanya, ia mengangkat kepalanya membalas tatapan Ardiaz.


"Khusus hari ini ayah tidak bekerja, demi membuat Senna senang!" Jawab Ardiaz.

__ADS_1


Perlahan senyum ceria timbul diwajah Senna, dengan hati senang Senna memgangkat kedua tangannya meminta Ardiaz menggendongnya. Ardiaz menuruti permintaan Senna, Gaby ikut senang melihat putrinya kembali ceria.


Ardiaz, Gaby beserta Senna pergi keluar. Ardiaz membawa istri dan anaknya pergi kesebuah taman hiburan. Senna sangat senang dapat pergi walaupun sering ia datangi. Namun kali ini ia pergi bersama ayah yang disayanginya.


Ardiaz menurunkan Senna, lantas ia menggenggam erat tangan Senna agar tidak hilang ditengah kerumunan. Selesai menikmati wahana permainan, Senna pergi kesebuah penjual es krim. Ardiaz dan Gaby sibuk memesan es krim, sementara Senna melihat sebuah bola ditengah jalan. Ia berlari berniat mengambil bola tersebut yang ia tahu milik seorang bayi. Senna memgambil bola tersebut, tanpa sadar sebuah mobil menghampirinya.


Mobil tersebut melaju dengan kencang, Gaby yang selesai memesan melirik kearah Senna. Namun Senna tidak ada ditempatnya, Gaby melihat kesekeliling dengan panik. Gaby menemukan Senna tengah mengambil bola ditengah jalan. Kedua bola mata Gaby membulat lebar melihat sebuah mobil berjalan kearah Senna.


Gaby bergegas berlari, sementara Senna berdiri sambil memegang bola ia hendak berjalan ketepi jalan. Akan tetapi...


"Sennaaa!!"


BBRAAKK...


Senna terpental jauh dari posisinya semula, Gaby menangis histeris ia berlari menghampiri Senna sampai es krim yang dibawanya terbuang begitu saja. Sementara Ardiaz yang mendengar suara benturan keras melihat kebelakang dan terkejut melihat Senna terkapar dijalan.


Pengendara mobil yang menabrak Senna kabur dari tempat kejadian. Ardiaz berlari menghampiri Gaby dan Senna, kemudian ia membawa Senna kerumah sakit.


Setibanya dirumah sakit, Senna bergegas dibawa keruang gawat darurat. Senna melakukan operasi yang memakan waktu sangat lama, Gaby begitu menyesal telah ceroboh meninggalkan Senna sendiri dan membiarkan ia berada ditengah jalan mengambil bola.


Gaby menangis, Ardiaz berusaha menenangkan Gaby yang tengah terpuruk. Ia juga menghubungi Kangjian untuk mencari dan menangkap pelaku tabrak lari.


Malam tiba, Senna berhasil diselamatkan walau masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Gaby menatap putri kesayangannya dari jendela.


"Senna, cepat sembuh ya!" Ucap Gaby lirih.


"Sayang, kau lebih baik istirahat dirumah. Aku akan berjaga disini menunggu Senna," sahut Ardiaz menepuk pelan punggung Gaby.


"Tidak, aku akan tetap disini menunggu Senna!" Tolak Gaby.


Ardiaz menarik pelan tangan Gaby, membawanya duduk dikursi. Gaby menyandarkan tubuhnya, ia begitu sedih dan menyesal atas keteledorannya. Gaby tak henti-hentinya menyalahkan dirinya atas kejadian tersebut.


Gaby pergi kekamar mandi untuk berganti pakaian, sementara Ardiaz mengobrol bersama dokter ruangannya. Kepergian mereka memberikan kesempatan bagi seorang sosok misterius yang sedari tadi memperhatikan keduanya.


Sosok tersebut masuk kedalam kamar Senna, ia menumpahkan cairan berupa minyak bensin. Kemudian ia membakar kamar rawat Senna, setelah selesai sosok tersebut melarikan diri.


Suara bel dari kamar rawat Senna mengejutkan semua orang, air mengalir dari atap kamar rawat Senna membantu memadamkan api. Gaby berlari dengan cepat menuju kamar rawat Senna, begitu pun dengan Ardiaz beserta dokter.

__ADS_1


Setibanya didepan kamar Senna, Gaby kembali memangis melihat asap tebal keluar dari sela-sela jendela. Asap tersebut memenuhi ruangan, ia tak dapat melihat Senna karena terhalang asap dari api.


"Senna, Sennaaa!" Teriak Gaby dengan berderai air mata.


__ADS_2