GADIS KECIL KESAYANGAN CEO 2

GADIS KECIL KESAYANGAN CEO 2
CHAPTER 19


__ADS_3

Yunda dan Angga duduk dikursi plastik, Angga merasa tidak nyaman dengan kursi tersebut apalagi ia harus makanan diarea tenda yang dekat dengan jalanan.


"Apa makanan ini bersih?" Tanya Angga.


Yunda tertawa kecil.


"Tentu saja tuan, saya tidak mungkin membawa anda makan ditempat yang kotor dengan makanannya yang kotor!" Jawab Yunda.


Beberapa menit kemudian, satu porsi kerak telor telah siap. Yunda menyantapnya dengan lahap, sementara Angga menatap makanan itu dengan tak yakin. Angga mengalihkan pandangannya kedepan, ia melihat Jarvis yang tengah bermain bersama Lia. Jarvis menatap kearah Angga, Jarvis menganggukan kepalanya menyapa Angga.


"Tuan, cobalah ini!" Ucap Yunda sambil menyodorkan kerak telor dengan tangannya sendiri.


Angga menatap Yunda sekilas lalu melirik kearah Jarvis, Angga memberi kode dengan memiringkan kepalanya kearah Yunda. Jarvis mengangguk, ia lantas mengeluarkan ponselnya.


Angga memakan makanan yang berada ditangan Yunda sendiri, sementara itu Jarvis memotret keduanya saat Yunda menyuapi Angga. Jarvis tersenyum, ia mengirimkan foto tersebut keponsel Angga.


"Bagaimana rasanya?" Tanya Yunda dengan mata berbinar.


"Enak!" Jawab Angga singkat.


Yunda tersenyum, ia kembali menyantap kerak telornya.


TING...


Sebuah pesan singkat masuk, Angga membaca pesan tersebut.


"Sesuai perintah anda tuan," tulis Jarvis dengan mengirimkan foto Angga.


Angga tersenyum puas, ia sangat beruntung memiliki Jarvis yang selalu memahami perintahnya.


Angga kembali menatap Yunda.


"Kau menyukainya?" Tanya Angga.


"Tentu, saya menyukainya!" Jawab Yunda.


Angga menyeka bibir Yunda yang berantakan.


"Pelan-pelan saja, tidak ada yang akan merebutnya darimu!" Ucap Angga.


Yunda tersenyum.


Angga memesan 2 porsi kerak telor untuk ia bawa pulang, selesai makan Angga membawa Yunda pulang karena hari sudah larut. Angga memberikan kerak telornya kepada Yunda, Angga belum bisa beradaptasi dengan makanan Indonesia.


Setelah Yunda masuk kedalam mobil, Angga mengeluarkan ponselnya. Ia kemudian mengetik sebuah pesan singkat kepada seseorang.


...


"Dimas, lihat!" Ucap Fira dengan senang sambil memperlihatkan hasil jepretannya.

__ADS_1


"Bagus, tapi apa kau tidak lihat?" Ucap Dimas.


Fira menatap Dimas yang kerepotan membawa boneka, Fira ingin memenangkan boneka tersebut namun ia selalu kalah. Alhasil Dimas yang melakukannya, tapi apa yang dilihatnya kini? Fira sangat asyik memotret keadaan pasar malam tanpa memperdulikan dirinya yang membawa begitu banyak boneka.


Fira menyeringai menunjukan gigi putihnya, ia mengambil beberapa boneka dari Dimas untuk membantunya.


TING...


Suara notifikasi ponsel Dimas berbunyi, Dimas meletakan boneka itu disebuah kursi didekatnya. Dimas mengambil ponselnya lalu membaca pesan yang masuk.


"Angga?" Ucap Dimas dalam hatinya.


"Bawa dia pulang!" tulis Angga.


Dimas terdiam setelah membaca pesan tersebut, ia teringat kejadian tadi pagi saat mengantar Fira bekerja.


-07.30 WIB, AL Grup-


"Fira!" Panggil Dimas ketika Fira berjalan menjauh.


Fira berhenti lalu membalikan badannya, Dimas menghampirinya.


"Malam ini akan ada pasar malam, kamu mau pergi bersamaku tidak?" Tanya Angga.


Fira berpikir sejenak.


"Aku mau! Nanti jemput aku ya, sekarang aku pergi bekerja dulu. Sampai jumpa!" Jawab Fira, setelahnya Fira bergegas masuk kedalam perusahaan.


"Tuan Angga?" Ucapnya terkejut.


"Aku dengar kau akan membawa Fira pergi, benar?" Tanya Angga.


"Benar tuan, malam ini. Apa anda keberatan?" Jawab Dimas sekaligus pertanyaan, Dimas merasa bahwa Angga hendak mendekati Fira sama seperti dirinya.


Dimas tidak akan membiarkan Angga mengganggu rencananya untuk membawa Fira jalan-jalan. Ia juga tidak akan pantang menyerah mendekati Fira walaupun lawannya itu seorang Sunjaya.


"Jangan pulang terlalu malam, aku akan mengubungimu saat waktu pulang tiba!" Ucap Angga mengejutkan Dimas.


"Apa?!" Dimas tak sengaja meninggikan nada bicaranya.


Angga mengusap rambutnya kebelakang.


"Kau boleh membawanya pergi. Tetapi ingat, kau harus membawa dia pulang saat aku menghubungimu. Mengerti?!" Jelas Angga dengan tegas.


Dimas mengangguk paham, kemudian Angga pergi meninggalkan Dimas.


"Apa ini? Bukankah dia menyukai Fira? Kenapa dia membiarkanku membawa Fira pergi?" Pikir Dimas.


"Ah sudahlah! Lihat saja nanti apa yang akan dilakukannya!" Gumam Dimas.

__ADS_1


-22.30 WIB, Pasar malam-


"Jadi dia benar mengizinkanku membawa Fira pergi?" Batin Dimas.


Fira menatap Dimas dengan heran, sedari tadi Dimas menatap layar ponselnya.


"Ada apa?" Tanya Fira mengejutkan Dimas.


"Oh? Tidak apa-apa," jawab Dimas diangguki Fira.


"Ayo kita pulang, hari sudah larut malam!" Lanjutnya.


"Baiklah, aku juga sudah lelah!" Jawab Fira.


....


"Tuan!" Panggil Yunda sambil menatap Angga.


Angga menoleh sambil menaikan sebelah alisnya, kemudian kembali fokus kejalanan.


"Terima kasih untuk malam ini!" Ucap Yunda dengan tulus.


Angga memberhentikan mobilnya, Yunda terkejut sekaligus heran. Angga menatap Yunda, senyum tipis mengembang dibibir Angga. Angga mengangkat tangannya lalu mengusap puncak kepala Yunda.


"Tentu saja!" Jawabnya.


Yunda tersipu, Angga kembali melajukan mobilnya.


"Yunda!" Panggil Angga.


"Ya, tuan?" Jawab Yunda.


"Jika nanti temanmu menanyakan kenapa aku membawamu pergi, katakan saja padanya bahwa kau dan aku hanya membicarakan pekerjaan. Mengerti?" Jelas Angga sambil melirik Yunda sekilas.


Yunda mengangguk "Tentu tuan, saya mengerti!" Yunda menjawab.


Yunda tidak tahu mengapa Angga menyembunyikan kebenarannya, namun Yunda curiga akan satu hal bahwa Angga tidak ingin menyakiti hati Fira apabila tahu dirinya menikmati malam bersama Angga. Yunda tahu Angga tengah mendekati Fira entah karena Angga mencintainya atau karena mempunyai tujuan lain. Yang pasti Yunda merasa bingung dengan Angga, Angga bersikap perhatian dan lembut kepadanya seakan hal itu menunjukan bahwa Angga tulus mencintai dirinya.


Angga tahu apa yang dipikirkan Yunda saat ini, Angga menatap wajah Yunda yang tampak sedang berpikir. Angga tersenyum tipis, wanitanya itu mungkin mengira bahwa dirinya tengah mempermainkan hati Yunda. Namun sebenarnya hal itu tidaklah benar, Angga menyembunyikan kejadian ini hanya agar musuh Angga yaitu Darren mengetahui wanita mana yang dicintai Angga. Maka kelak dengan mudah Darren dapat mencelakainya.


Menjadi seorang pengusaha terkenal tidak semenyenangkan yang dibayangkan, dibalik kesuksesan seseorang tentunya ada orang yang yang ingin menghancurkannya. Tentu dengan alasan ingin merebut kekuasaan atau kepopuleran.


"Aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi kau harus ingat satu hal bahwa aku tidak pernah mempermainkan seorang wanita!" Kata Angga seraya tersenyum dengan penuh keyakinan.


Yunda menatapnya, Angga sangat paham betul dengan perasaan Yunda saat ini dari raut wajahnya. Angga akan terus berusaha meyakinkan Yunda juga membuat ingatan Fira kembali. Maka kedua wanita yang paling berharga setelah ibunya itu akan bersamanya selama-lamanya.


Begitu banyak pertanyaan yang ingin dilontarkan Yunda kepada Angga, namun Yunda mengurungkan niatnya karena saat ini bukan waktu yang tepat.


Malam berlalu, jalanan terlihat mulai sepi. Para pedagang toko pun telah menutup tokonya lalu berpulang kerumahnya. Hanya ada beberapa kendaraan yang lewat, tidak seperti siang hari. Kota Jakarta terlihat sangat ramai dengan banyak kendaraan yang berlalu lalang, kebanyakan dari mereka adalah pekerja kantor.

__ADS_1


Angga menatap kearah Yunda, rupanya gadisnya itu telah tertidur dengan sangat pulas. Angga tersenyum kecil melihatnya, entah sudah berapa kali ia tersenyum. Saat ini Angga merasa sangat senang, namun ia kembali pada kenyataan bahwa masih banyak hal yang harus ia selesaikan.


__ADS_2