GADIS KECIL KESAYANGAN CEO 2

GADIS KECIL KESAYANGAN CEO 2
CHAPTER 34


__ADS_3

Dikamar Lia...


"Keterlaluan sekali Starla! Kenapa dia bisa melakukan hal ini padamu?" Gerutu Lia kesal sambil mengolesi salep kepipi Fira.


"Sudahlah, aku tidak mempermasalahkan itu." Sahut Fira.


"Ck! Tidak bisa seperti itu, kamu harus membalasnya!" Ujar Lia.


"Balas dendam juga tidak akan menyelesaikan semuanya!" Jawab Fira.


"Tapi tetap saja, tindakan Starla sudah sangat keterlaluan!" Ucap Lia bersikeras.


Fira tertawa kecil melihat temannya antusias menghancurkan Starla.


"Apa kau sudah lebih baik?" Tanya Angga yang masuk kedalam kamar Lia untuk menemui Fira.


Fira menoleh kearah sumber suara, "Saya sudah lebih baik," jawabnya.


"Syukurlah!" Angga mengelus lembut kepala Fira.


"Wah! Tuan, apakah anda menyukai Fira dan kak Yunda?" Tanya Lia.


Sontak Angga menatapnya dengan tajam.


"A-ahaha... saya hanya bercanda," ucap Lia takut.


"Seram sekali!" Pikirnya.


"Istirahatlah, perbanyak makan. Kau harus mengisi tenagamu agar kelak dapat melawan wanita itu!" Pesan Angga penuh perhatian.


"Terima kasih anda sudah memperhatikan saya," ucap Fira tulus.


Angga tersenyum kecil, "Aku akan selalu memperhatikanmu. Karena kau berharga bagiku." Sahut Angga.


Fira dan Lia terkejut mendengar ucapan Angga.


"Istirhatlah, dan kau jaga dia baik-baik. Aku akan menemui lagi nanti!" Angga pergi dari kamar Lia.


Lia dan Fira melongo tak percaya, keduanya terus menatap Angga hingga keluar dari kamar.


"Apa kamu dengar yang dikatakannya?" Tanya Lia.


"Berharga?" Sahut Fira.


Lia mengangguk, "Ya! Berharga!"


Diluar kamar Lia, Jarvis telah menunggu Angga.


"Aku sudah membereskannya, apa yang akan kau lakukan padanya?" Tanya Jarvis.


"Entahlah, mungkin mematahkan salah satu kakinya?" Sahut Angga berjalan menyusuri koridor hotel.


"Atau lehernya?" Ucap Jarvis ikut antusias.


"Bagaimana jika aku memotong seluruh tubuhnya?" Tanya Angga menoleh kearah Jarvis.

__ADS_1


"Ide yang bagus! Aku akan menyiapkan alatnya, kau hanya perlu memotongnya saja dengan tenang!" Sahut Jarvis.


...


"Lepaskan aku! Kenapa kalian tidak melepasku?!" Teriak Shany sambil memukul pintu dengan keras.


"Berisik! Diamlah!" Sahut seorang pria diluar kamarnya.


Shany memukul pintu kamarnya lagi dengan kesal, Shany duduk dilantai meratapi nasibnya yang malang.


Padahal beberapa bulan yang lalu ia tengah asyik berlibur di Australia, tetapi kemudian sekelompok orang mengejarnya dan menangkapnya hingga saat ini. Ia tak tahu harus berbuat apa, segala cara telah dilakukannya agar terbebas dari kamarnya. Namun, tetap tak berbasil, tak ada jendela dikamarnya hal itu membuat Shany sulit untuk kabur. Hanya ada ventilasi udara kecil, itupun hanya satu buah.


Shany sangat menderita tinggal dikamarnya, sangat sesak dan sempit. Apalagi ia harus makan makanan yang tak disukainya, Shany sangat ingin keluar dari kamarnya saat ini.


"Kakak... tolong aku...," ucap Shany dengan berurai air mata.


....


"Apa masalahmu dengan Fira?" Tanya Angga ketika ia menemui Starla digudang hotel.


"Saya sudah bilang, saya tidak memiliki masalah apapun dengannya!" Jawab Starla.


"Tolong lepaskan saya, tangan saya sakit bila terus diikat seperti ini!" Ucapnya lagi.


"Jika kau ingin aku melepaskannya, maka berhentilah berbohong!" Tegas Angga.


"Kenapa anda sangat ingin tahu tentang Fira?" Tanya Starla.


"Kau tidak perlu tahu alasanku!" Jawab Angga.


"Baiklah... saya mengaku," jawab Starla.


"14 tahun yang lalu, ayah membawa Fira kerumah. Ayah selalu memperhatikannya, dia seakan-akan lupa kepadaku. Ayah selalu memberinya sesuatu yang terbaik, sementara ayah selalu mengabaikanku. Bahkan dia juga mengabaikan ibuku, dia hanya peduli pada Fira. Dia tak pernah peduli lagi pada kami,"


"Ketika aku beranjak dewasa, aku sangat membenci Fira. Dia selalu merebut segalanya dariku, dia selalu menjadi nomor satu dihati ayahku. Aku dan ibu hanya bisa menyaksikannya dengan rasa sakit dihati. Dulu sebelum dia ada, ayah sangat peduli pada kami. Ayah selalu memberiku yang terbaik, ayah selalu memperhatikanku. Kini berbeda, bahkan sampai saat ini ayah tidak peduli denganku. Ayah tidak pernah peduli dengan apa yang aku lakukan dan hanya peduli pada Fira." Jelas Starla menceritakan masa lalunya.


"Apa kau tahu dari mana ayahmu mendapatkan Fira?" Tanya Angga.


Starla menggeleng, "Saya tidak tahu, ayah tidak pernah menceritakannya." Jawabnya.


Angga berdiri dari duduknya berjalan kearah Jarvis.


"Bagaimana dengan Bagaskara?" Tanya Angga kepada Jarvis.


"Menurut hasil pengamatanku, dia masih berusaha mencari keberadaan Shany. Dia juga sering mengunjungi apartemen Fira," Jarvis menjawab.


Angga tampak berpikir sejenak, "Baiklah, kau lepaskan saja dia." Ujar Angga.


"Kenapa dilepas? Apa kau tidak ingin mencincangnya?" Tanya Jarvis heran.


"Aku tidak mungkin membunuh orang dinegara ini," jawab Angga.


"Yaah... apa boleh buat...," pasrah Jarvis.


"Aku akan melepaskannya," Jarvis berjalan kearah Starla lalu membuka ikatan tali yang mengikat kedua lengannya kebelakang kursi.

__ADS_1


Angga berjalan keluar dari gudang.


"Hey nona, lain kali kau jangan pernah menindas nona Fira!" Ujar Jarvis dengan tatapan kesalnya.


"Sial! Gara-gara wanita itu, aku jadi seperti ini! Lihat saja nanti, akan ku balas kamu!" Gumam Starla setelah Jarvis pergi menyusul Angga.


"Fira, kenapa kamu keluar kamar?" Tanya Nisa saat berpapasan dengan Fira dilokasi syuting.


"Aku hanya ingin melihat-lihat keadaan disini," Fira menjawab.


"Oh ayolah! Kamu harus istirahat, lihat wajahmu itu!" Ucap Nisa khawatir.


Fira meraba wajahnya, memang masih terasa perih namun Fira ingin keluar dari kamarnya dan melihat situasi diluar.


"Dimana kak Yunda? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Fira sambil melihat sekitarnya.


"Umm... aku tidak tahu..." Nisa ikut melihat-lihat sekitar.


"Itu disana!" Ujar Lia menunjuk kearah Yunda yang tengah berjalan menuju lokasi syuting.


Nisa dan Fira menatap kearah yang ditunjukan Lia. Yunda memberi senyuman untuk menyapa ketiganya.


"Kak Yunda, bagaimana keadaanmu?" Tanya Fira mendekati Yunda.


"Aku baik-baik saja, kamu sendiri bagaimana? Aku lihat wajahmu masih merah," sahut Yunda.


"Aiya... sudah lebih baik," jawab Fira.


Jauh dari tempat mereka berdiri, terlihat sosok wanita bersembunyi dibalik dinding cafe, sosok itu adalah Starla.


"Mungkin sekarang kamu bisa tersenyum, tapi setelah ini akan aku pastikan tidak ada lagi senyum diwajahmu!" Ucap Starla sambil menatap gelas yang berisi air panas.


Starla berlari kearah Fira, Yunda yang merasakan kehadiran Starla berbalik menutupi tubuh Fira. Starla tidak memiliki waktu untuk berhenti, Starla menyiramkan air panas tersebut kearah Yunda.


Yunda memejamkan matanya bersiap merasakan panasnya air yang dibawa Starla.


"Kak Yunda, menjauhlah!" Ucap Lia setengah berteriak.


Byurr...


"Aaahh...," Yunda tak merasakan air panas menyentuh tubuhnya, ia malah merasakan seseorang memeluknya.


Yunda membuka matanya, ia melihat Fira berdiri dengan kedua bola mata terkejut. Yunda bersyukur Fira baik-baik saja, dan ia juga merasa aneh mengapa dirinya tidak merasakan panas sama sekali.


Yunda menoleh kebelakang, ia terkejut melihat Angga memeluknya untuk melindungi tubuhnya dari siraman air panas.


"Tuan Angga!" Jerit semua orang yang melihat kejadian tersebut.


Yunda sangat cemas dengan keadaan Angga, ia melihat Angga tampak tenang. Yunda meraih wajah Angga, membelainya dengan lembut.


"Mengapa anda melindungi saya?" Tanya Yunda dengan suara bergetar.


Angga tersenyum tipis, "Aku tidak akan membiarkan siapapun melukai dirimu dan juga Fira!" Jawab Angga.


"Kenapa... kenapa malah seperti ini?" Gumam Starla yang diam terpaku setelah menyiramkan air panas tersebut.

__ADS_1


"Kenapa hatiku terasa sakit bila melihat mereka bersama?" Pikir Fira menatap Angga yang memeluk Yunda, dan Yunda yang tampak sangat cemas dengan keadaan Angga.


__ADS_2