GADIS KECIL KESAYANGAN CEO 2

GADIS KECIL KESAYANGAN CEO 2
CHAPTER 28


__ADS_3

"Apa-apaan! Sudah dibelikan malah dibuang, tidak tahu berterima kasih!" Gerutu Jarvis ketika selesai membeli es krim stroberry.


Jarvis berjalan menuju dapur perusahaan, Jarvis meletakan ketak telor yang dibelinya keataa meja. Jarvis melihat Yunda yang terdiam dengan tatapan kosong.


"Yunda, apa kau baik-baik saja?" Jarvis bertanya, menepuk bahu Yunda.


Yunda terkejut, membalikan badan sambil mengatur nafasnya.


"Tuan Jarvis, anda mengagetkan saya saja!" Ucap Yunda kesal.


"Kau melamun? Ada apa?" Tanya Jarvis lagi.


Yunda menundukan kepalanya, haruskah ia bercerita kepada Jarvis mengenai masalahnya atau merahasiakannya? Yunda membutuhkan waktu lama untuk memikirkannya.


Jarvis mengangkat sebelah alisnya menunggu jawaban dari Yunda.


"Tidak apa, saya baik-baik saja!" Jawab Yunda.


Jarvis mengangguk paham, Jarvis mengerti jika saat ini Yunda tidak ingin menceritakan masalah yang tengah dihadapinya kepada dirinya.


"Baiklah, ambil ini!" Ujar Jarvis, memberikan kerak telor kepada Yunda.


"Eh? Untuk saya?" Tanya Yunda bingung.


"Yah... daripada dibuang lebih baik kau saja yang makan!" Sahut Jarvis.


Yunda menerimanya lantas sedikit mengintip kantong plastik tersebut, "Jika anda tidak memakannya, kenapa anda membelinya?" Tanya Yunda.


"Bukan keinginanku, itu pesanan Angga. Pagi ini dia bertingkah aneh, tiba-tiba merasa mual." Jarvis menjawab.


"Direktur Angga tengah sakit?" Tanya Yunda lagi sedikit khawatir.


"Entahlah, aku tidak memeriksanya." Jawab Jarvis.


"Oh ya! Dia juga menyuruhku membeli ini dan itu tetapi tidak dimakannya. Bukankah itu menyebalkan? Seperti kerak telor itu dan juga es krim stoberry yang dipesannya." Lanjut Jarvis meluapkan segala emosinya.


Yunda tertawa kecil mendengar keluhan Jarvis.


Setelah Angga menyuruhnya membeli es krim, Jarvis bergegas berjalan menuju minimarket depan perusahaan. Meski tidak terlalu jauh, namun Jarvis harus mengantri saat ingin membayar es krim Angga. Setibanya di ruang kerja Angga, es krim tersebut meleleh. Angga tidak mau memakannya lagi, Angga mengatakan bahwa es krim itu sudah tidak layak dimakan. Angga juga bilang bahwa Jarvis sangat lambat dalam menjalankan perintahnya.


"Apa kau tahu apa yang dialaminya sekarang?" Tanya Jarvis kepada Yunda.


Yunda terdiam, ia sangat tahu apa yang dialami Angga kini. Karena pagi tadi Yunda juga merasa mual dan sedikit pusing, Yunda heran mengapa ia bisa tiba-tiba merasa mual dan pusing. Yunda berpikir bahwa selama 1 bulan ini ia tidak mengalami menstruasi, maka yang dialami Yunda merupakan ciri-ciri perempuan yang tengah mengandung.


Yunda mengeceknya dengan menggunakan testpack, Yunda sangat terkejut ketika melihat hasil yang ditunjukan alat itu. POSITIF!!


Yunda ingat jika pada hari dimana ia mabuk, Yunda tidur bersama Angga dan melakukan sebuah hubungan terlarang. Yunda tahu itu kesalahannya, jika saja ia tidak meminum minuman itu maka Yunda tidak akan mengalami hal ini.


Kejadian yang menimpa Angga disebut 'Morning Sickness' hal yang sama terjadi pada ibu hamil.


Jarvis menatap Yunda heran, sedari tadi Yunda terdiam seperti tengah memikirkan sesuatu. Jarvis menepuk bahu Yunda untuk menyadarkannya kembali.

__ADS_1


"Kau ini kenapa? Katakan padaku jika kau mempunyai masalah!" Ujar Jarvis penuh perhatian.


"Tidak ada, anda tenang saja." Yunda menjawab.


Jarvis mengangguk, "Baiklah, aku pergi. Kau juga lekas kembali bekerja!" Pamit Jarvis kemudian pergi meninggalkan dapur setelah Yunda mengangguk.


Yunda menyandarkan punggungnya pada meja pantry.


"Bagaimana ini? Haruskah aku mengatakan yang sebenarnya?" Gumam Yunda.


Yunda menggigit kuku jari telunjuknya, berpikir keras.


Yunda membuang nafas panjang, "Tapi, bagaimana jika dia tidak mau menerima anak ini? Apa yang harus aku lakukan?" Pikir Yunda.


Yunda melangkahkan kakinya, berjalan menuju ruang kerjanya dengan perasaan sedih. Ia bisa saja menggugurkan kandungannya, tetapi Yunda tidak ingin membuat dosa kepada janin yang tidak bersalah. Bagaimana pun bayi yang dikandungnya adalah anaknya sendiri, Yunda akan mempertahankan bayinya meski ia harus menjadi single parents sekalipun.


...


"Angga, besok kau mempunyai perjalanan bisnis ke Bali. Kau harus menghadiri acara pembukaan syuting iklan yang dibintangi Starla!" Jelas Jarvis sambil memeriksa schedule Angga.


"Bali? Berapa lama?" Tanya Angga, dengan pandangan berfokus pada layar laptopnya.


"Hanya sekitar 3 hari saja, setelah itu kau bisa berlibur." Jarvis menjawab.


Angga mendongakan kepalanya menatap Jarvis dengan mata coklat almondnya yang tajam.


"Jika begitu, kau siapkan acara liburan ke Bali. Undang Fira dan temannya, juga Yunda!" Ucap Angga sembari menopang dagunya diatas meja.


"Kau tidak mau pergi berlibur? Kalau tidak kau tidak perlu ikut!" Tegas Angga.


"Eh tidak, tidak! Tentu aku ikut, aku akan memberitahu Fira dan Yunda juga menyiapkan segalanya!" Sahut Jarvis.


Jarvis bergegas keluar menemui Fira kemudian menyuruhnya dan teman Fira mendatangi ruang kerja Angga. Begitupun dengan Yunda, Jarvis menyuruh hal yang sama kepadanya.


Fira, Lia, Nisa, Andri, dan Yunda tiba diruang kerja Angga. Angga duduk dikursinya sementara yang lain berdiri didepan meja kerja Angga.


"Persiapkan diri kalian, besok akan ada acara berlibur ke Bali!" Ucap Angga tegas.


Semua mengangguk dengan hati senang.


"Maaf tuan, saya tidak ikut berlibur apakah boleh?" Tanya Andri.


"Berikan alasanmu!" Suruh Angga.


"Jika memang besok lusa akan ada acara berlibur, saya ingin berlibur dirumah saya bersama istri saya. Saya tidak menginginkan liburan ke Bali!" Jawab Andri.


"Baiklah, kau boleh tidak ikut."


"Kalian boleh kembali bekerja, kecuali kau!" Angga menunjuk Yunda.


Fira, Lia, Nisa dan Andri keluar dari ruangan Angga. Sementara Yunda tetap berdiri didepan meja Angga, Angga bangkit dari duduknya berjalan menghampiri Yunda.

__ADS_1


"Aku merindukanmu, bagaimana kabarmu?" Tanya Angga dengan lembut sambil memeluk erat Yunda.


"Saya baik-baik saja," jawab Yunda.


Angga menghirup dalam-dalam aroma tubuh Yunda.


"Persiapkan dirimu untuk acara berlibur nanti, aku menyukaimu!" Bisik Angga, mencium pipi Yunda. Angga melepaskan pelukannya, wajah Yunda merah merona. Yunda bergegas pamit keluar.


"Apakah Angga menciummu?" Tanya Jarvis ketika Yunda berada diluar.


"Apa?! Mana ada!" Yunda kembali tersipu malu setelah Jarvis meledeknya.


"Oh cinta... engkau telah membuat Yunda tersipu...," ucap Jarvis dengan nada yang dilebih-lebihkan.


Yunda memukul pelan lengan Jarvis, Jarvis tertawa puas melihat wajah Yunda yang semakin memerah. Jarvis berlari menghindari pukulan Yunda yang semakin lama semakin keras. Yunda ikut berlari mengejar Jarvis.


"Hey tunggu! Jarvis kamu sangat jahat!" Teriak Yunda kesal.


Yunda menghentikan langkahnya sambil memegangi perutnya, perlahan Yunda mengontrol nafasnya.


"Huuff... aku lupa," gumam Yunda.


Jarvis mengintip keadaan Yunda dari balik dinding lorong, Jarvis melihat Yunda memegangi perutnya.


"Kenapa Yunda bertingkah aneh?" Pikir Jarvis.


"Maafkan Mama ya, nak. Mama tidak akan berlari lagi," ucap Yunda pelan sambil mengelus perutnya dengan tersenyum kecil.


Jarvis terkejut, "Apa jangan-jangan Yunda hamil?" Pikirnya lagi.


"Sebelum aku beragumen, lebih baik memastikannya!" Gumam Jarvis.


Jarvis pergi setelah melihat Yunda tak lagi berdiri ditempatnya.


Sore harinya, beberapa karyawan perusahaan Angga berhamburan keluar. Mereka bersemangat untuk pulang menemui keluarga tercintanya, begitupun dengan Fira. Fira berdiri ditepi jalan menunggu taksi lewat. Angga melihat Fira yang berdiri sendirian lantas menghampirinya.


"Fira!" Panggil Angga.


Fira menoleh kearah sumber suara, "Tuan Angga!" Sapa balik Fira dengan tersenyum.


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Angga.


"Saya tengah menunggu taksi, tuan." Fira menjawab.


Angga mengambil ponselnya dari dalam saku jasnya, kemudian jari jemarinya dengan lihai mengutak-atik ponselnya.


Ting...


Sebuah pesan singkat masuk keponsel Jarvis, Jarvis tengah menunggu Lia keluar untuk membawanya pulang bersama. Jarvis membaca pesan tersebut.


"Bawa calon istriku pulang, aku harus mengantar adikku pulang!" tulis pesan Angga.

__ADS_1


__ADS_2