GADIS KECIL KESAYANGAN CEO 2

GADIS KECIL KESAYANGAN CEO 2
CHAPTER 27


__ADS_3

Dimas tiba disebuah kafe, Dimas melangkahkan kakinya masuk kedalam kafe. Kedua bola matanya bergerak kekanan dan kekiri mencari keberadaan seseorang.


Seorang pria dengan rambut sedikit beruban yang duduk dipojok kafe adalah sosok yanh dicarinya.


Dimas berjalan kearahnya, pria tua itu tengah menunduk sambil memainkan cangkir kopinya. Dimas berdiri didepannya dengan meja sebagai pembatas. Pria tua itu mendongakkan kepalanya menatap sosok yang tengah ditunggunya. Pria itu berdiri lalu berjalan menghampiri Dimas kemudian memeluknya.


"Dimas putraku... maafkan Papa, selama ini Papa sudah egois dan membiarkanmu pergi!" Ucapnya dengan nada sedih.


Dimas melepaskan pelukan pria itu kemudian menyuruhnya untuk duduk, keduanya duduk keheningan menyeruak diantara keduanya. Sementara disekitar keduanya terdengar bising.


"Apa yang membuat anda meminta saya kemari?" Tanya Dimas tanpa menatap sang ayah.


"Dimas, Papa minta maaf. Papa sadar bahwa selama ini Papa telah bertingkah egois memaksamu ini dan itu. Kau benar, hidup Papa tidak tenang dan selalu memikirkanmu...," jelasnya.


Dimas diam mendengarkan.


"Papa mohon, kembalilah kerumah. Pulanglah nak, kasihan ibumu. Dia selalu bersedih dan memikirkanmu sampai sakit." Lanjut Ayah Dimas.


Dimas mengambil nafas panjang, Dimas memikirkan tawaran ayahnya itu sebelum menjawab dengan gegabah.


"Mama... dia sudah terlalu tua, mungkin aku tidak seharusnya menjadi beban pikirannya." Pikir Dimas.


"Haah... baiklah, aku akan pulang." Jawab Dimas pasrah.


Ayah Dimas tampak senang, ayah Dimas ingin membuka suara tetapi Dimas mendahuluinya "Tetapi sebelum itu, aku ingin menemui ibuku!" Ucapnya tegas.


"Baiklah nak, mari kita temui ibumu!" Jawab ayah Dimas.


...


Hari berlalu, sore hari saatnya bagi Fira untuk pulang kembali ke apartemennya. Fira mencoba menghubungi ponsel Dimas, namun ia tak dapat menghubunginya.


"Duh... kemana sih Dimas? Kenapa dia belum datang menjemputku?" Gerutu Fira kesal.


Fira menatap ponselnya, "Setidaknya dia membalas pesanku jika sibuk." Ucapnya lagi.


Disisi lain, Dimas tengah merawat ibunya hingga lupa menjemput Fira. Ponsel Dimas mati, dan saat ini tengah diisi daya baterai. Dimas mengambil ponselnua dinakas kamar rawat ibunya selesai menyuapi sang ibu.


Dimas menyalakan ponselnya. Ketika layar ponsel Dimas menyala, Dimas terkejut melihat notifikasi telepon tak terjawab memenuhi layar ponselnya.


"Fira? Ya Tuhan, aku lupa memberitahunya!" Gumam Dimas.


"Ada apa, sayang?" Tanya ibu Dimas.


Dimas menoleh kearah ibunya.


"Maaf Ma, aku harus menjemput seseorang!" Sahut Dimas.

__ADS_1


Dimas berlari keluar dari kamar rawat ibunya, membiarkan sang ibu yang terbaring dengan penuh tanda tanya dibenaknya. Dimas berlari sepanjang koridor rumah sakit menuju mobilnya terparkir. Setelah masuk kedalam mobil, Dimas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju perusahaan Angga.


Setibanya dihalaman perusahaan Angga, Dimas turun dan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Fira.


"Dimana dia? Apa dia sudah pulang?" Gumam Dimas sambil mengetik sebuah nama dibilah kontak.


Dimas mencoba menghubungi Fira.


....


Kring...


Dering ponsel berbunyi, Fira mengangkat ponselnya menatap lama layar ponselnya yang menampilkan nama dan foto sipenelepon.


"Dimas?" Gumamnya pelan.


"Huh! Dia baru balas meneleponku, jangan harap aku menjawabnya!" Gumam Fira dalam hati.


Fira mematikan ponselnya dan mengabaikan Dimas yang menghubunginya.


"Siapa?" Tanya Angga.


"Nomor tidak dikenal, saya takut dia penipu." Jawab Fira asal.


Angga mengangguk kecil kemudian kembali fokus menyetir.


Ketika Fira menunggu kedatangan Dimas, Angga menghampirinya dan menawarkan tumpangan pada Fira. Fira sempat menolaknya dan memilih memesan taksi online. Tetapi Angga memaksa, alhasil Fira pulang bersama Angga.


...


Dimas mengacak-acak rambutnya, kesal pada dirinya sendiri karena lupa menjemput Fira.


Dimas membuang nafas gusar, "Haah... maafkan aku Fira," ucapnya


Dimas pulang kembali kerumah sakit menemui ibunya, Dimas menceritakan masalahnya kepada ibunya yang melihat wajah kusut Dimas ketika kembali.


Sementara Fira, kini ia berada didalam kamarnya ditemani Lia dan Nisa. Ketiganya asyik mengobrol membahas film terbaru yang ditayangkan pada salah satu channel televisi. Fira tidak begitu menyukai film drama yang dibincangkan Lia. Fira tidak menyukai film bergenre romantis, ia lebih suka pada film action yang menampilkan adegan pertarungan. Entah itu fantasy ataupun modern.


...


1 bulan kemudian...


"Huek...,"


"Huek...," Angga bolak-balik masuk kedalam kamar mandi.


Tubuhnya terasa begitu lelah, ia juga merasa mual dan nafsu makannya bertambah. Angga berpikir keras mengenai hal aneh yang dialaminya.

__ADS_1


Saat ini, Angga tengah menghadiri meeting pertemuan petinggi perusahaan. Mereka tengah membahas rencana syuting iklan di Bali. Sejak pagi Angga merasa tak bersemangat menghadiri meeting, ia juga terus keluar masuk kamar mandi memuntahkan isi perutnya namun tak ada yang keluar.


Bahkan Jarvis ikut bingung sekaligus panik melihat kondisi majikannya yang tiba-tiba mual-mual. Jarvis membuatkan teh hangat untuk meredakan mual pada diri Angga. Angga meninggalkan ruang meeting digantikan oleh Jarvis yang memimpin.


Angga berjalan menuju ruang kerjanya sambil memegang perutnya, "Apa yang terjadi padaku? Kenapa tiba-tiba merasa mual?" Gumam Angga.


Angga duduk dikursinya, menyandarkan punggung dan kepalanya kesandaran kursi. Angga memejamkan kedua matanya, berusaha menenangkan diri. Jarvis masuk keruangan Angga setelah selesai meeting.


Jarvis membawa laporan hasil meeting tadi, "Semua laporannya ada disini, kau hanya perlu bilang 'Ya' atau 'Tidak' maka aku akan membereskan semuanya!" Ucapnya.


Angga melirik sekilas dokumen yang ada didepannya dengan malas.


"Hmm," jawab Angga.


"Apa ada lagi yang bisa aku kerjakan?" Tanya Jarvis sebelum ia undur diri.


"Belikan kerak telor!" Angga menjawab.


Jarvis tercengang.


"Apa? Kerak telor? Untuk apa kau memesan itu?" Rentetan pertanyaan dikeluarkan oleh Jarvis.


"Sudah jangan banyak tanya, cepat beli!" Suruh Angga kesal.


"His... kau ini, aku kan hanya bertanya." Gerutu Jarvis sembari melangkah pergi keluar.


Angga tak perlu memberi Jarvis uang untuk membelinya, karena dulu Angga memberikan kartu kreditnya kepada Jarvis untuk berjaga-jaga jika ia membutuhkan sesuatu.


Jarvis melajukan mobilnya berkeliling kota Jakarta mencari penjual kerak telor untuk majikan tercintanya, Angga.


"Aneh sekali, siang hari seperti ini apakah tidak ada yang berjualan kerak telor?" Gumam Jarvis sambil menyetir mobil.


Angga menunggu kedatangan Jarvis dengan kerak telor pesanannya, tak lama menunggu Jarvis tiba dan masuk kedalam ruang kerja Angga sambil menenteng kantong plastik berisi kerak telor Pak Joko yang ia temukan dipinggir jalan di kota Jakarta bagian utara. Perjalanan jauh yang ditempuhnya demi mendapatkan kerak telor agar tidak mengecewakan Angga tak sia-sia. Jarvis senang karena akhirnya ia menemukan kerak telor yang dicarinya meski harus berkeliling kota Jakarta dari Jakarta Pusat ke Jakarta Utara.


"Ambil ini, kau tahu betapa lelahnya aku mencari penjual kerak telor disiang hari?" Ucap Jarvis kesal sambil memberikan kantong plastik yang dibawanya.


Angga mencium aroma amis dari kerak telor, Angga menutup mulut serta memegang perutnya menahan mual. Angga berlari masuk kedalam kamar mandi lalu memuntahkan isi perutnya.


"Apa yang kau bawa? Cepat buang!" Teriak Angga dari dalam kamar mandi.


"His kau ini! Tadi kan kau yang menyuruhkan mencari ini?!" Sahut Jarvis kesal.


"Jangan banyak bicara dan buang makanan itu!" Tegas Angga.


Jarvis mengambil kembali kerak telor yang dibelinya, ia membalika badannya.


"Kau belilah es krim stroberry di minimarket!" Suruh Angga ketika ia keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


Sekali lagi Jarvis tercengang dengan permintaan Angga.


MAAF YA BARU UP, SOALNYA AUTHOR LAGI SIBUK. BANYAK TUGAS KERJA KELOMPOK, JDI WAKTU BUAT NASKAHNYA BERKURANG🙏🙏


__ADS_2