
"Bola? Itu Pasti punya bayi kecil diseberang sana, aku harus mengambilnya!" Ucap seorang anak perempuan.
Anak tersebut berjalan ketengah jalan untuk mengambil bola yang dilihatnya, namun tanpa ia sadari sebuah mobil menabraknya hingga ia terlempar dari tempat semula.
"Kepalaku... pusing, a-aku mengantuk..... i-ibu kenapa berlari?" Batin anak kecil tersebut dengan tatapan sayu, perlahan kedua matanya terpejam. Ia hanya dapat mendengar suara riuh orang-orang disekitarnya namun tak dapat menjawab panggilan dari sang ibu.
"Senna... Senna bangun!"
"SENNAAA!!"
"Hah!" Fira terbangun dari tidurnya dengan nafas yang menggebu.
Fira berusaha mengontrol nafasnya seperti semula, tampak keringat mengalir dari dahi hingga kepipi. Fira terduduk sambil memegang dadanya.
"Mimpi... mimpi buruk?" Ucapnya dengan nafas tersendat.
"Fira?" Bagas masuk kedalam kamar Fira untuk membangunkannya.
"A-ayah?" Fira menatap ayahnya dengan berurai air mata.
Bagas berjalan mendekat kearah Fira, ia terkejut melihat Fira menangis.
"Kenapa kamu menangis?" Tanya Bagas setelah ia duduk disebelah Fira.
"Ayah...," Fira memeluk Bagas dengab erat, ia sangat takut mengingat mimpinya semalam. Kejadian itu terasa sangat nyata.
"Siapa wanita itu? Kenapa dia menyebutkan nama Senna?" Batin Fira dengan mata terpejam.
"Ada apa? Apa kamu ada masalah?" Tanya Bagas sambil membelai lembut rambut Fira.
"Tidak ayah... aku hanya bermimpi buruk saja," jawab Fira.
Fira pergi bekerja dengan raut wajah kusam, sedari tadi ia terus memikirkan mengenai arti dari mimpinya. Siapa wanita yang memanggil Senna? Dan siapa itu Senna? Kenapa dia menjadi Senna? Itulah pikirannya.
Fira sampai tidak fokus bekerja karena terus melamun. Sementara itu, Yunda bekerja dengan perasaan bimbang. Bagaimana bisa Angga mencium tangannya? Apakah dia mencintainya? Ataukah Angga hanya mempermainkannya?
Sepertinya kedua gadis itu tengah dilanda kebingungan, berbeda dengan Angga. Saat ini ia tengah terganggu oleh serangga kecil menyebalkan, padahal sebelumnya Angga sedang fokus bekerja memeriksa dokumen penting namun tiba-tiba Starla masuk kedalam ruangannya dan mengganggunya.
"Tuan Angga, apakah aku memanggumu?" Ucapnya dengan manja.
Starla memberanikan diri mendekat kearah Angga, Starla membelai lengan Angga dengan lembut sambil bergelayut manja. Angga sama sekali tidak menghiraukannya, pandangannya hanya terfokus pada dokumen yang ada ditangannya.
"Tuan Angga, bolehkan aku memanggilmu Al?" Tanya Starla yang masih mencoba merayu Angga.
"Al?" Ulang Angga.
"Benar! Apa anda menyukainya?" Jawab Starla dengan wajah berbinar.
"Tidak!" Jawab Angga datar.
Starla cemberut, bagaimana bisa Angga tidak terpangaruh dengan semua rayuannya. Bahkan Angga sama sekali tidak melihatnya. Yunda masuk kedalam ruangan Angga dan melihat Starla yang tengah bermanja dengan Angga.
Perasaan Yunda kembali terusik setelah ia merasa tenang.
__ADS_1
"Tuan, ini laporan yang anda minta!" Ucap Yunda sambil menyerahkan dokumen tersebut kehadapan Angga.
"Kemarilah!" Panggil Angga sambil melambaikan tangannya.
Yunda menurut, ia berjalan mendekat lalu berdiri disamping Angga. Angga melepaskan tangan Starla dari lengannya, pandangannya menatap Yunda dengan lembut. Angga menggenggam tangan Yunda, sambil terus menatapnya.
"Apa kau baik-baik saja? Raut wajahmu tampak tidak baik," tanya Angga dengan kening berkerut.
"Saya baik-baik saja!" Jawab Yunda dengan jantung berdebar.
Angga kembali mencium punggung tangan Yunda dan membuat Starla terkejut.
"Tuan, apa yang anda lakukan?" Tanya Starla dengan nada marah.
"Apa yang kulakukan buka urusanmu, bukan?" Balas Angga.
Starla berdecak kesal, Starla berjalan kearah Yunda lalu mendorong tubuhnya. Angga terkejut, ia bangun berdiri mencengkram kuat pergelangan tangan Starla.
"Apa yang kau lakukan pada wanitaku?!" Ucap Angga dengan marah.
Starla meringis menahan rasa sakit.
"Ma-maafkan saya tuan, saya tidak tahu." Jawab Starla.
Fira mengetuk pintu ruangan Angga, lalu masuk kedalamnya. Ia terkejut ketika melihat saudarinya tengah menghadapi amarah dari Angga, sementara dibelakangnya berdiri Yunda dengan raut wajah takut.
Angga menoleh kearah pintu, ia melihat sosok adik kesayangannya masuk dengan cepat Angga melepaskan cengkramannya pada lengan Starla.
"Jangan kau ulangi lagi!" Tegasnya.
Angga melirik Yunda sekilas lalu ia berjalan kearah Fira.
"Kenapa kau disini?" Tanya Angga.
"Apa benar dia hanya mempermainkan aku? Baru saja aku melihat dia membelaku, tapi kenapa sekarang dia tidak memperhatikanku?" Batin Yunda dengan sedih.
"Saya kesini untuk memberikan laporan kerja kami!" Jawab Fira.
Angga mengambil dokumen yang diserahkan Fira, ia membacanya dengan seksama lalu kembali menyerahkannya kepada Fira.
"Kerja kalian bagus, kau boleh kembali!" Ucapnya.
Fira mengangguk lantas ia berjalan keluar dari ruangan Angga.
"Kenapa kak Yunda ada disana?" Batin Fira merasa penasaran.
Angga berbalik menghampiri Yunda.
"Apa kau tidak apa-apa?" Tanya Angga dengan sedikit khawatir.
"A-apa yang anda inginkan dari saya?" Yunda bertanya hal yang seharusnya tidak ia katakan. Ekspresi wajah Angga berubah datar setelah mendengar pertanyaan Yunda.
"Yang kuinginkan?" Ulangnya.
__ADS_1
Yunda mengangguk.
"Aku hanya ingin kau menjadi milikku!" Jawabnya.
Yunda terkejut, setelah pengakuan Angga itu Yunda pamit untuk kembali bekerja. Ia sangat bingung dengan perasaan Angga yang sebenarnya. Yunda juga bingung dengan perasaannya sendiri.
"Apa yang harus aku lakukan?" Gumamnya.
"Hari ini sangat kacau, wanita itu kenapa datang menggodaku?" Ucap Angga sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Angga, waktunya kau bertemu Darren!" Ucap Jarvis tanpa basa-basi langsung masuk kedalam ruangan Angga.
Hawa dingin menerpanya hingga ketulang-tulangnya ketika ia masuk.
"Oow... ada apa ini? Tidak mungkin kan turun salju di Indonesia?" Gumamnya.
Angga dan Jarvis pergi menemui Darren, sesampainya disana Angga melihat Darren telah tiba dan duduk disebuah kursi mewah. Sepertinya itu kursi VIP yang hanya bisa dipakai oleh orang kaya.
"Oh? Akhirnya kau datang juga!" Ucap Darren ketika ia melihat kedatangan Angga.
Angga duduk didepan Darren sementara Jarvis berdiri disamping Angga.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Angga langsung pada intinya.
"Tidak perlu terburu-buru, kita mengobrol hal lain dulu bisa kan?" Sahut Darren.
"Cih! Kau sangat tidak punya pekerjaan sama sekali!" Ucap Angga dengan senyum meremehkan.
"Oh ayolah, kita mengobrol mengenai masa lalu. Sepertinya itu menyenangkan!" Sahut Darren.
Angga terdiam, ia diam bukan karena takut ataupun malu. Angga hanya lelah menghadapi Darren yang selalu memaksakan kehendaknya.
"Katakan!" Jawab Angga.
"Wah! Kau benar-benar sulit diajak bercanda, ya?" Gurau Darren.
"Apa kau yang membuat perusahaanku kerugian besar?" Tanya Darren merubah ekspresi wajahnya dari ramah ke marah.
Angga tersenyum meremehkan "Apa buktimu jika aku pelakunya?" Tanyanya.
"Aku memang tidak punya bukti, tapi aku yakin jika kau yang melakukannya!" Jawab Darren.
"Atas dasar apa aku melakukannya? Buang-buang waktuku saja!" Sarkas Angga.
"Sebelum kau mencurigai orang luar, kau curigai dulu orang-orang didalam!" Lanjut Angga yang kemudian berdiri berjalan mendekat kearah Darren.
Angga mencondongkan tubuhnya sambil menopang pada sandaran kursi Darren.
Angga berbisik "Curigailah sekertarismu!"
Setelahnya Angga berjalan keluar dari kafe diikuti Jarvis, Darren terdiam setelah mendengar ucapan Angga.
"Alex!" Gumamnya menyebutkan nama sekertarisnya.
__ADS_1
"Per*etan kau Alex!!" Batinnya dengan tangan mengepal.