
Silva yang hanya tersenyum miring ketika dagu nya di pegang erat oleh pria itu yang tak lain adalah Mahardika , Atau sering di sapa Dika . Sang mantan kekasih Jeny .
" Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan pada saya , saya tidak takut tuan MAHARDIKA Yang terhormat " Ujar Silvi tertawa mengejek
Dika yang geram akan ejekan Silvi langsung mencengkram dagu Silvi lebih kuat .
" Cih , berani sekali kau melawan ku . Dasar wanita berandalan " Satu tangan Dika terangkat untuk menampar pipi Silvi kembali . Silvi hanya memejamkan mata , ia pasrah dengan apa yang akan terjadi .
Namun semua diluar dugaan , Saat Dika ingin menampar Silvi , tiba-tiba suara bariton Dari arah belakang mereka bersuara .
" Hentikan !! " Ujar Suara itu mengagetkan Dika dan Silvi .
Dika kemudian melepaskan cengkraman tangannya pada dagu Silvi , dan menoleh ke belakang .
" Kak Zein " Gumam nya pelan .
Zein dan Jeny berjalan mendekat ke arah Dika dan Silvi .
Kemudian , setelah sudah dekat , Jeny langsung membantu Silvi berdiri .
" Astaga Kak Silvi , bibir kakak berdarah " Ucap Jeny khawatir , Zein pun menatap Silvi , kemudian mata nya beralih menatap Dika Tajam .
" Berani sekali kau memukul seorang wanita Hah ??!! " Bentak Zein dengan Emosi yang meledak .
" Kak Zein , ini tidak seperti yang...." Belum selesai Dika bicara , Zein sudah melayangkan satu bogem mentah di wajah Nya .
Dika hanya meringis memegang Pipi nya yang Panas akibat pukulan dari Zein .
" Jangan pernah sentuh orang-orang yang berada di sekitar ku . Jika kau masih ingin hidup dan melihat dunia ini , Kau belum pernah tau Kemarahan seorang Zein Maheswari bukan ? " Ucap Zein sambil menatap benci ke arah Dika .
" Kak , Tadi dia..." Lagi-lagi ucapan Dika terhenti , karena Zein mengangkat satu jari telunjuk nya .
" Jangan banyak bicara Tuan Mahardika . Adik ku sudah menceritakan semuanya pada ku , adik ku bukan boneka yang bisa sesuka hati mu kau permainkan . Aku hanya diam saja sewaktu adik ku menjelaskan semua kelakuan mu pada ku , tapi kali ini .. Kau menyakiti orang yang tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa " Jelas Zein sambil terus menatap wajah Dika .
Saat ini Zein sangat marah .
" Kak , tapi wanita itu ikut campur dengan urusan ku . Aku tadi sudah memperingatkan nya supaya jangan sok jadi pahlawan kesiangan " Ujar Dika tidak merasa bersalah .
Bugh !!
Satu pukulan mendarat lagi di wajah Dika hingga mengeluarkan sedikit darah dari hidung nya.
Dika menatap tajam ke arah Zein .
" Kenapa ? Anda marah dengan saya ? Ini belum seberapa tuan Dika . Anda tidak merasa bersalah karena sudah menyakiti adik saya dan wanita itu ? " Ujar Zein sambil menunjuk Silvi .
__ADS_1
" Memalukan " Lanjutnya lagi sambil tersenyum Sinis .
Dika hanya diam saja , ia tidak ingin berurusan dengan Zein . Karena Zein terkenal menjadi sosok pria yang tega dan nekat jika melawan musuh nya .
" Pergi dari tempat ini sekarang juga , dan jangan pernah menganggu adik ku atau orang-orang yang berada di sekitar ku jika Anda masih sayang nyawa " Ujar Zein Serius .
Dika langsung membalikkan badan , dan pergi dari parkiran rumah mewah keluarga Wijaya itu . ia tidak ingin masalah menjadi panjang ..
Setelah kepergian Dika , Zein langsung menatap dua wanita yang saat itu tengah menatap Zein takut .
Kala pandangan mata Zein menatap Silvi .. Silvi langsung tertunduk , Entah kenapa ..
Zein berjalan mendekati Silvi dan Jeny .
" Kak Zein , coba lihat sudut bibir kak Silvi berdarah . Kita harus mengobatinya dulu " Ucap Jeny khawatir .
Tanpa menjawab ucapan Jeny , Zein langsung menarik tangan Silvi ke dekat mobil nya untuk segera di obati .
" Hey !! " pekik Silvi hanya kaget ketika tangannya di tarik tanpa izin .
Zein tidak Peduli dengan pekikan Silvi , ia hanya menatap lurus ke depan menuju tempat di mana mobil nya berada .
" Tunggu di sini " Ujar Zein memerintah Silvi , lalu ia masuk ke dalam mobil mengambil sesuatu .
Tanpa bicara apa pun , Zein langsung mengeluarkan Alkohol dan kapas untuk membersihkan darah Yang ada di sudut bibir Silvi ..
" Aw !! " Ringis Silvi karena sedikit perih .
" Kenapa ?Apa sedikit perih ? bukannya Anda seorang preman Nona Silvi ? Anda ingin menghadapi pria itu sendirian bukan ? " Zein akhirnya membuka suara .
" Untung saja tadi Jeny cepat masuk ke dalam mengabari saya , jika tidak .. Entah apa yang pria brengsek itu lakukan pada Anda " Lanjut Zein berbicara.
Silvi hanya diam saja mendengar perkataan Zein , ia tidak ada niatan sedikit pun untuk membalas nya . Entah jika nanti ..
" Tadi juga kalau sampai keluarga Samuel atau Keluarga anda tahu , masalah itu pasti akan panjang " Zein menjeda ucapannya sambil menatap Silvi yang memandang ke arah lain .
" Maaf jika saya berbicara terlalu banyak " Ucap Zein kemudian .
Silvi yang mendengar itu pun menoleh kan kepala nya , hingga ia bisa menatap wajah tampan Zein dari dekat .
'Astaga Jantung ku' Ucap Silvi dalam hati , Karena saat itu jantung nya berdetak lebih kencang di saat ia menatap Zein dari dekat .
" Ehm , Saya sudah terbiasa dulu mengalami hal seperti ini tuan " Silvi berdehem dulu sebelum bicara .
Zein mengerutkan kening nya ..
__ADS_1
'Terbiasa?' Dalam hati Zein heran
" Apa anda dulu memang seorang preman ? " Ujar Zein tiba-tiba .
" Bukan preman tuan Zein , bahkan bisa dibilang lebih dari itu " Jawab Silvi santai
Zein mengangkat sebelah alisnya tanda bertanya , (apa ?)
Silvi yang tahu bahasa isyarat Zein langsung menjelaskan.
" Dulu saya seorang penjahat tuan Zein , ayah angkat saya di fitnah korupsi , dan saya tidak terima dengan tuduhan itu . Para pelaku yang menuduh ayah , menyakiti ayah ketika ia pulang kerja saat terkahir kali " Silvi menjeda ucapan nya , ia mengigit bibir bawah nya , agar air mata tidak tumpah .
Kemudian ia menghela nafas dan memulai bicara lagi ..
" Ayah saya pulang babak belur , Abang angkat saya juga tidak terima dengan semua tuduhan yang mereka berikan pada ayah . Ibu menangis terus ketika mendengar ayah bercerita , Saya dan Abang saya tidak sanggup melihat kedua orang yang kami sayangi bersedih . Lalu kami mencari orang-orang jahat itu , dan .. Saya membunuh nya karena dendam . Bahkan , dulu banyak orang yang menyewa tenaga saya untuk membunuh , sebelum saya bekerja di perusahaan tempat saya bekerja dulu. " Silvi akhirnya menangis , ia tidak sanggup mengingat betapa banyak dosa yg saat itu sudah ia lakukan .
Silvi menghapus air mata nya kasar .
" Sial !! Dia turun ke pipi tanpa permisi " Gumam Silvi kesal , dan gumaman nya itu masih terdengar oleh Zein.
tiba-tiba bibir Zein terangkat ke atas sedikit , hingga membentuk senyum tipis .
Silvi saat mengingat hidup nya dulu 😭😭
Mata **Abang Zein saat menatap Silvi 😍😍
Happy Reading Guys ❤
See you Next part 💃🏻
Jangan Lupa LIKE , VOTE , KOMEN DAN HADIAHNYA 🔥🔥
Follow juga Fb dan Ig Otor
#Facebook @Bundanya Al
#Instagram @Bundanya Al
Thank You so much to All of you ..
Yang udah baca cerita otor dari awal hingga saat ini 😘😘**
__ADS_1