
Jim menghentikan mobilnya disebuah hotel bintang lima.
"Kita sudah sampai bos ".Kata Jim.
Varro pun menganggukkan kepalanya lalu turun diikuti oleh asistennya itu.Setelah merapikan jasnya dan yakin bahwa tidak ada yang kurang dari penampilannya,Varro pun melangkah menuju ballroom yang ada dihotel tersebut.
Varro dan Jim memenuhi undangan dari perusahaan Grand Maxi.
Varro dan Jim menaiki lift khusus untuk tamu undangan,begitu sampai didepan pintu ballroom Jim menunjukkan kartu undangan yang berlapis beludru,petugas disanapun lalu mempersilahkan mereka masuk kedalam.
Ruangan yang bisa menampung sampai 1500 orang tersebut telah dihias dengan di dominasi warna gold,sehingga tampak terkesan mewah.Karena memang Grand Maxi merupakan perusahaan besar yang telah berdiri selama 50tahun.
Varro melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam,pantas saja sudah banyak tamu undangan yang hadir.
Varro mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Philip selaku pemilik acara,sedangkan Jim matanya sudah jelalatan saat melihat banyak gadis-gadis cantik yang hadir dipesta tersebut.
Selain para pembisnis,ternyata para undangan ada juga yang berasal dari kalangan model dan penyanyi.
Sejauh ini Varro belum bertemu dengan orang yang benar-benar dikenalnya,sampai kemudian seorang pria berusia kisaran limapuluh tahun dengan rambut yang sebagian sudah memutih,tapi wajahnya masih menunjukkan wibawa yang besar menghampiri Varro dan juga Jim.
"Selamat malam Tuan Varro,terimakasih karena sudah datang diacara saya ini ".Ujar pria tersebut.
"Sama-sama Tuan Philip,saya doakan semoga perusahaan Tuan semakin maju dan bisa mensejahterakan kehidupan banyak orang ".Ucap Varro ,lalu mereka berdua pun berjabat tangan.Kemudian Philip juga menyapa Jim yang berdiri disebelah Varro.
Sejenak mereka berbincang dengan topik seputaran bisnis.Sampai kemudian Philip pun pamit untuk menyambut tamu penting lainnya yang terus berdatangan.
Jim yang sedari tadi ingin berkeliling untuk mencuci mata,akhirnya meminta ijin pada Varro.
"Bos boleh saya berkeliling sebentar?".Tanya Jim penuh harap.
"Pergilah" Jawab Varro singkat sambil mengibaskan tangannya.
Dengan senyum mengembang Jim pun mulai melancarkan aksinya,siapa tahu disini dia bisa menemukan jodohnya.
Sedangkan Varro lebih memilih untuk duduk sendirian disebuah meja bundar yang terletak dipojok.
Matanya terus mengamati keramaian yang ada diruangan tersebut,walaupun sudah disediakan meja dan kursi,tapi entah kenapa sebagian tamu lebih memilih untuk mengobrol sambil berdiri.
Seorang pelayan menghampiri Varro dan menawarkan minuman.Akhirnya Varro pun memilih minuman jenis cocktail.
Sambil menikmati minumannya,Varro kembali mengedarkan pandangannya.
Kemudian seorang wanita dengan memakai gaun yang begitu ketat,hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan jelas datang menghampiri Varro.
"Hay,boleh saya duduk disini?".Tanya Wanita tersebut dengan sopan.
Sejenak Varro tertegun karena wanita tersebut mengingatkan dia pada Clara,mungkin karena postur tubuh dan gaya berpakaiannya hampir sama dengan mantannya itu.Dan Varro pun langsung tahu jika wanita dihadapannya ini adalah seorang model.
"Silahkan ".Kata Varro singkat.
Wanita itupun langsung duduk dihadapan Varro sambil tersenyum.
"Kenalkan nama saya Velyn,dan kalau tidak salah anda ini adalah Tuan Varro Nazareth mantannya Clara Bellova kan?".Tanya Velyn sambil tersenyum.
"Iya,darimana anda tahu?karena saya merasa belum pernah bertemu dengan anda ".Tanya Varro dengan datar,entah kenapa hatinya merasa terganggu saat dia mendengar nama mantan kekasihnya itu.
"Saya berteman dekat dengan Clara,dan kita memang belum pernah bertemu,tapi Clara sering bercerita tentang Tuan dan pernah menunjukkan foto Tuan pada saya ".Jawab Velyn.
"Kamu seorang model?".Tanya Varro.
"Iya saya model sama seperti Clara ".Jawab Velyn "Saya mau bilang sesuatu sama Tuan "Lanjutnya lagi.
"Tentang?".
"Mantan kekasih Tuan "
Varro pun terdiam menunggu perkataan Velyn selanjutnya.
"Dia pergi keluar negeri bersama seorang pria,dan setau saya pria itu bukan berasal dari sini.Saya sudah sempat mencegahnya,saya menyuruh dia untuk mempertimbangkan kembali niatnya itu,setidaknya memikirkan perasaan Tuan,tapi dia tidak mempedulikan saran saya,dia berkata bahwa pria tersebut bisa membuat karirnya diluar negeri menjadi cemerlang,sedangkan jika dia tetap bersama Tuan kemungkinan karirnya di dunia model akan terhenti ".Ujar Velyn memaparkan.
"Jadi pria itu?".Tanya Varro tercekat.
"Mereka sudah saling kenal selama dua tahun,perkenalan itu terjadi saat ada acara fashion show diparis,sebenarnya perkenalan yang tidak disengaja sih,tapi entah apa yang terjadi sejak saat itu mereka menjadi dekat,dan kebetulan saat pertemuan itu terjadi saya juga ada disana karena ikut berpartisipasi dalam acara tersebut ".Jawab Velyn.
Dari cerita Velyn,Varro dapat menebak apa yang sebenarnya terjadi. Pikiran Varro mendadak kacau,tapi sebisa mungkin dia berusaha untuk tetap tenang.
"Maaf saya membuat Tuan mengingat hal yang menyakitkan,tapi saya hanya ingin agar Tuan tahu yang sebenarnya,dan tidak ada maksud lain".Ucap Velyn.
"Tidak apa-apa,tapi sebaliknya saya yang berterimakasih karena sudah memberitahu saya kebenarannya ".Kata Varro.
Velyn pun menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi mau menemui teman yang lain,saya harap setelah ini Tuan bisa menemukan wanita yang tulus mencintai Tuan ".Ujar Velyn seraya bangkit dan berlalu pergi.
Setelah kepergian Velyn,Varro tampak tercenung seorang diri,mendadak dirinya kehilangan selera untuk menikmati acara pesta.
"Hallo bro,lama kita tidak berjumpa ".
Kini dihadapan Varro berdiri Ryder Mark dengan tampang angkuh, sambil menggandeng seorang wanita sexy dengan dandanan glamour.
Tanpa dipersilahkan dia duduk dihadapan Varro,dan diikuti oleh wanita sebelahnya.
"Mau apa kamu?".Tanya Varro dengan tatapan dingin,disaat hatinya sedang berkecamuk malah ada gangguan lain datang.
"Woyy,,,santai bro,bisakan kita berbicara baik-baik layaknya sahabat yang lama tidak bertemu".Kata Ryder sambil terkekeh,sedangkan wanita disebelahnya menatap Varro dengan lekat.
"Sahabat?rasanya aku tidak pernah punya sahabat pecundang seperti kamu ".Ucap Varro sambil menyunggingkan senyum sinis.
Mendengar dirinya dikatakan pecundang,Ryder Mark mengepalkan tangannya,tapi dia berusaha untuk tetap tenang dan masih memasang raut wajah angkuh.
"Hahaha,,,,ternyata kamu pintar melucu juga Var".Ryder menutupi kekesalannya dengan tertawa.
"Aku tidak sedang becanda,sebaiknya kamu pergi semasih aku bersikap baik,dan aku benar-benar tidak butuh teman seperti kamu.Dan ya,aku mau nitip salam buat papa kamu,katakan padanya,cara kotor yang dia lakukan pada perusahaanku tidak akan membuat aku jatuh begitu saja ".Ujar Varro dengan tajam.
Mendengar perkataan Varro membuat Ryder kehilangan kata-kata,lalu tanpa berucap sepatah katapun dia beranjak pergi sambil menarik tangan wanitanya.
Tapi sebelum pergi, wanita yang datang bersama Ryder itu sempat mengedipkan matanya pada Varro,sepertinya wanita tersebut menaruh hati pada sosok Varro yang menawan,tapi Varro malah melengos menghindari tatapannya.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat seperempat dan acara pun dimulai dengan diawali sambutan dari pemilik acara yaitu Philip selaku CEO dari Grand Maxi.
Jim yang telah selesai berkeliling kini kembali menghampiri Varro dengan wajah yang tampak lesu,Varro pun menjadi keheranan.
"Apa yang terjadi Jim?bukankah kamu habis cuci mata?".Tanya Varro begitu Jim duduk didekatnya.
"Parah bos,tidak ada yang mau kenalan sama saya".Jawab Jim sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.
Varro pun hanya terkekeh melihat wajah Jim yang putus asa.
Tidak lama kemudian,makanan pun dihidangkan oleh pelayan.Mereka pun makan sambil mendengarkan lagu yang dibawakan oleh beberapa penyanyi.
Selesai makan Varro mengajak Jim pulang walaupun acara belum selesai.
Jim yang memang sedang galau pun langsung mengiyakan,akhirnya pukul setengah sembilan malam mereka meninggalkan hotel tersebut.
...****************...
"Bos saya langsung pulang ya ".Ujar Jim saat Varro mau turun.
"Ya sudah,hati-hati Jim ".Kata Varro sebelum menutup pintu mobil.
"Baik bos " Sahut Jim kemudian mobil pun muncur meninggalkan kediaman bosnya.
Varro menekan bel yang ada didekat pintu,sampai sesaat kemudian pintu pun terbuka.
"Selamat malam Tuan Varro ".Ucap Flora sambil tersenyum.Gadis itu tampak mengenakan piyama dengan gambar kucing.
"Mama mana?".Tanya Varro sambil masuk kedalam diikuti oleh Flora.
"Sudah tidur Tuan,tadi saya disuruh nunggu Tuan pulang ".Jawab Flora.
Tanpa menjawab Varro berjalan menuju kamarnya,dia berniat untuk berganti pakaian.
Sedangkan Flora melanjutkan kegiatannya menonton TV diruang keluarga.
Tidak lama kemudian,Varro kembali turun dari kamarnya dengan mengenakan pakaian santai.
"Kamu gak tidur?".Tanya Varro saat melihat Flora masih anteng di depan TV.
"Belum mengantuk Tuan,lagipula besok hari minggu,kan saya gak kuliah ".Jawab Flora.
Varro melanjutkan langkahnya menuju dapur,dia berniat untuk minum karena merasa haus.
Setelah mengambil minuman kaleng dari kulkas,dia berjalan menuju ruang makan lalu duduk dikursi.
Pikirannya tertuju kembali pada perkataan Velyn beberapa jam lalu.
Jika memang seperti itu,berarti kemungkinan besar selama dua tahun belakangan ini Clara telah menduakan dirinya.
Tapi kenapa di saat dia mengajak bertunangan wanita itu mengiyakan?.
Varro menenggak minuman yang dia pegang dan kembali dia termenung.
Dia samasekali tidak menyadari kalau dirinya telah diduakan,mungkin selama ini dia terlalu percaya sehingga tidak pernah menaruh curiga pada kekasihnya.
__ADS_1
Varro menepuk-nepuk dadanya yang tiba-tiba terasa sesak,rasa sakit hati karena ulah mantan kekasihnya itu kembali dia rasakan.
Karena fakta yang baru dia ketahui itu membuat luka hatinya bertambah lebar.
Varro larut dalam pikirannya sampai sebuah suara mengejutkannya.
"Tuan Varro kenapa?"
Suara lembut itu mengembalikan kesadarannya.
Varro melihat Flora telah berdiri disebelahnya dengan raut wajah keheranan.
"Duduk sini ".Ucap Varro sambil menunjuk kursi disebelahnya.
Flora pun menurut walaupun hatinya masih bertanya-tanya.
"Tuan kenapa diam disini?apa ada yang mengganggu pikiran Tuan?".Tanya Flora pelan.
"Tidak saya hanya kepikiran sesuatu,tapi bukan hal yang penting kok ".Jawab Varro.
Flora tahu jika Varro menyembunyikan sesuatu,tapi dia tidak mau mendesak Varro untuk menceritakan masalah yang dia alami pada dirinya.
Kembali mereka berdua terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Fauna,apa yang akan kamu lakukan jika ada orang yang mempercayaimu sepenuh hati?".Tanya Varro tiba-tiba.
Flora tampak berfikir sejenak,
"Saya akan menjaga kepercayaan itu Tuan".Jawab Flora dengan yakin.
Varro kembali diam setelah mendengar jawaban Flora.
"Saya tidak tahu masalah apa yang Tuan pikirkan,tapi menurut saya,jika masalah itu membebani hati Tuan maka bagilah beban tersebut pada orang terdekat.Walaupun tidak selalu mendapatkan solusi,tapi setidaknya beban dihati Tuan bisa berkurang ".Ujar Flora dengan lembut.Dan Varro tampak mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari bibir tipis milik Flora dengan penuh perhatian.
"Ternyata saya pernah diduakan ".
Lalu meluncur begitu saja cerita dari bibir Varro tentang mantan kekasihnya,dan Flora mendengarkan dengan seksama tanpa sekalipun menyela.
"Jadi ketulusan saya selama ini tidak ada artinya bagi dia,bahkan dia lebih memilih pria lain dibandingkan saya sendiri yang sudah lama menemaninya".Varro mengakhiri ceritanya dengan nada lirih.
Mata Flora berkaca-kaca saat mendengarkan cerita dari Varro,entah kenapa hatinya seperti ikut merasakan penderitaan yang dirasakan oleh pria didekatnya itu.
"Heyy,,kenapa kamu seperti mau menangis?".Tanya Varro saat menoleh kearah Flora.
"Gak apa-apa Tuan,saya hanya merasa sedih saja mendengar cerita Tuan.Saya tidak habis pikir kenapa kekasih Tuan tega meninggalkan pria sebaik Tuan ".Jawab Flora sambil menunduk.
Lalu mereka kembali terdiam,Varro juga tidak tahu kenapa hal itu terjadi pada dirinya.
"Sudah larut malam,sebaiknya kamu tidur ".Kata Varro saat melihat jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
"Baik Tuan ".Sahut Flora sambil beranjak bangun,tapi sebelum itu dia kembali berucap
"Jika Tuan nanti ingin bercerita lagi,saya siap untuk mendengarkan "
Varro pun menganggukkan kepalanya "Baiklah,saya akan membaginya denganmu "
"Apa sekarang kita berteman Tuan ?".Tanya Flora sambil tersenyum penuh harap.
""Emm,,,mungkin ".Jawab Varro sambil tersenyum tipis.
Senyum Flora pun melebar lalu bergegas meninggalkan meja makan,hatinya berdebar kencang saat melihat senyum tipis dibibir Varro.
Varro melihat kepergian gadis ceria itu sambil mengulum senyum.
"Mungkin tidak ada salahnya aku berteman dengan dia,,ya,,hanya berteman ".Gumam Varro,sesaat kemudian dia pun beranjak menuju kamarnya.
To be continue....
🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤
Terimakasih sudah mampir,,,,💞💞
Jangan Lupa :
Like
Comment
Favorit
Vote
__ADS_1
💞💞💞💞