Gadis Penyembuh Luka

Gadis Penyembuh Luka
Bab 42


__ADS_3

Setelah menempuh jarak yang cukup jauh,akhirnya Varro memasuki desa tempat Flora berada.Mobilnya menyusuri jalanan yang masih berupa bebatuan,rumah-rumah penduduk desa pun dilihatnya masih banyak yang berdinding papan kayu.


Saat melihat sebuah warung yang sederhana,Varro memutuskan untuk beristirahat sekalian bertanya dimana letak sekolah tempat Flora mengajar .


Varro memarkirkan mobilnya dibawah pohon yang rindang dekat warung,hal itu menarik perhatian warga desa yang kebetulan sedang nongkrong didepan warung.Mereka memperhatikan penampilan Varro yang baru turun dari mobil,mereka bisa menebak dengan mudah kalau pria yang kini menghampiri mereka pastilah orang kaya.


Dengan mengulas senyum Varro berjalan kearah warung tersebut,dan tak lupa mengucapkan salam begitu sampai di dekat warga yang sedang duduk.


Mereka semua pun membalas sapaan tersebut dengan ramah,salah satu dari mereka menanyakan tujuan Varro kemana.


Varro pun langsung mengatakan tempat yang ingin didatanginya.


Salah seorang dari mereka pun mengatakan jika letak sekolah itu di seberang sungai,jadi jika ingin kesana Varro harus melewati jembatan bambu.


Setelah beristirahat sejenak dan membeli sebotol air mineral serta dua potong roti,Varro pun langsung melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki.Tapi sebelum itu dia menitipkan mobilnya pada pemilik warung.


Salah seorang dari mereka lalu menawarkan diri untuk mengantar Varro,katanya sekalian dia mau pulang ke rumahnya.


"Mari ikut saya Tuan "


Kata pria tersebut,usianya lebih tua dari Varro.


Dengan senang hati Varro mengiyakan,setidaknya dia bisa dengan mudah sampai di tempat yang ditujunya tanpa khawatir nyasar.


Tepat jam satu siang kurang sepuluh menit ,Varro meninggalkan warung tersebut dan mengikuti langkah pria yang memperkenalkan diri dengan nama Pak Iswan.


Sepanjang jalan Varro banyak bertanya tentang desa tersebut dan Pak Iswan pun dengan senang hati menjawabnya.


"Sebenarnya apa tujuan Tuan kesini?"Tanya Pak Iswan yang sedari tadi penasaran.


"Sebenarnya saya sedang mencari seorang gadis Pak,katanya dia kesini untuk mengabdi di sekolah dasar "Jawab Varro.


Terlihat Pak Iswan seperti memikirkan sesuatu.


"Apa yang Tuan maksud Bu guru Flora?"Tanya Pak Iswan ragu-ragu.


"Nahh,,,dia yang saya cari,kok Bapak bisa tahu?"Tanya Varro,dia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.


Lalu Pak Iswan pun kembali bercerita sambil terus melangkah menuju jembatan.


...****************...


Flora sedang duduk santai di depan rumah,tidak terasa kurang dari lima bulan lagi dia mengabdi disini.Dia tidak menyangka jika mengajar adalah hal yang sangat menyenangkan,jadi tidak salah jika dia bercita-cita ingin jadi dosen.


Flora mengutak-atik ponselnya yang tidak dapat sinyal,didesa tempat Flora tinggal sinyal ponsel sangat sulit di dapat.


Sehingga selama Flora tinggal disini dia tidak bisa menghubungi siapapun,dia hanya bisa menahan rasa rindunya terhadap orang-orang yang dekat dengan dirinya.


Sambil menghela napas pelan Flora masuk kedalam rumah,dia berniat untuk makan siang karena perutnya juga sudah merasa lapar.


Selama tinggal disini Flora selalu memasak,walaupun yang dia masak adalah makanan yang sederhana.Beruntung juga peralatan masak dirumah ini lumayan lengkap,kata Pak Lurah rumah ini memang sering tempati oleh orang-orang seperti Flora,yaitu mereka yang ingin mengabdi untuk masyarakat di desa tersebut.Jadi Flora bukanlah orang pertama yang mengabdi didesa ini,sebelumnya sudah ada beberapa mahasiswa yang datang kesana dengan tujuan yang sama seperti Flora.


Hari ini makan siang Flora berupa sayur buncis yang diberikan oleh warga yang baru habis panen kemarin sore,sedangkan lauknya berupa ikan asin yang dia beli diwarung .


Selesai makan siang Flora masuk kedalam kamar ,lalu berbaring diatas kasur kapuk sambil melamun.


Dia kembali memikirkan Varro,ternyata jarak jauh dan tidak bertemu dalam jangka waktu yang lumayan lama tidak bisa membuatnya lupa begitu saja.


Malah rasa rindu itu menyiksa dirinya,namun disaat bersamaan dia merasa marah dengan sikap Varro yang cuek dan dingin pada dirinya.


"Tidak,,bagaimana pun juga Tuan Varro sudah jadi milik Nona Clara.Aku harus bisa melupakan pria itu,,harus "Gumam Flora.


Tiba-tiba Flora mendengar seseorang memanggil namanya,namun suaranya tidak asing ditelinga Flora.


"Apa aku begitu sangat merindukannya,sampai-sampai aku mendengar suara Tuan Varro memanggil namaku"Gumam Flora sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


"Flo,,,Flora,,,apa kamu ada didalam ?"


Flora terlonjak bangun dan langsung duduk ditepi kasur.


"Tunggu,,tunggu,,kayaknya aku gak salah dengar?tapi bagaimana mungkin?"Flora masih bermonolog.


Dengan perasaan campur aduk Flora melangkah pelan keluar dari kamarnya,kemudian perlahan meraih gagang pintu.


Begitu pintu terbuka Flora langsung terpaku,ternyata suara Varro bukanlah halusinasi semata.


Kini Varro berdiri dihadapannya sambil menatap dirinya dengan lekat,tampak kerinduan terpancar dari sorot matanya.


"Flo,,,,"


"Ngapain Tuan kesini?"Tanya Flora datar sambil melangkah keluar dan berdiri dengan jarak sekitar empat langkah.


Varro tampak gugup dan juga salah tingkah.Ingin berucap namun lidahnya terasa kelu saat melihat sikap Flora yang terkesan dingin.


Flora melihat kondisi Varro yang sepertinya kelelahan sedikit merasa kasihan,lalu dia pun menyuruh pria tersebut duduk dikursi yang ada diteras rumah.


Kemudian Flora masuk kedalam rumah,sedangkan Varro langsung duduk dikursi sambil memijit betisnya yang terasa pegal.


Varro mengedarkan pandangannya,dia tidak menyangka jika selama ini Flora tinggal ditempat seperti ini.Dipelosok desa dan jauh dari keramaian,namun yang Varro suka adalah udaranya yang sejuk dan suasana alamnya yang masih asri.


Sepuluh menit kemudian Flora keluar sambil membawa segelas teh hangat.Tanpa berkata sepatahpun dia meletakkan teh diatas meja kayu,kemudian dia duduk dikursi yang lagi satunya.Kini mereka duduk berdampingan dengan diselingi sebuah meja kayu.


"Diminum Tuan "Ucap Flora singkat.


Lagi-lagi Varro hanya mengangguk dan langsung meminum teh tersebut,setidaknya rasa hausnya terobati.


Suasana hening kembali menyelimuti mereka berdua,walaupun puluhan pertanyaan berputar-putar dibenak mereka masing-masing.


"Em,,Flo,saya kesini mau minta maaf sama kamu"Ujar Varro memecah keheningan.


"Minta maaf untuk apa?lagipula untuk apa Tuan menyusul saya kesini?bukankah Tuan sudah melamar Nona Clara dan akan segera menikah dengan dia?sepertinya kedatangan Tuan kesini hanya buang-buang waktu saja "Flora berucap dengan nada dingin.


Gadis itu tidak menjawab pertanyaan Varro,dan tatapannya masih lurus kedepan.


Melihat Flora tidak menjawab,Varro pun perlahan mulai menjelaskan pada gadis tersebut.Semua Varro ceritakan tanpa ada yang dia sembunyikan.


"Jadi saya minta maaf untuk itu semua Flo,saya tahu,saya yang salah dan juga bodoh karena tidak menyadari perasaan saya yang sebenarnya dari awal.Jadi saya mohon sama kamu Flo,mulai sekarang biarkan aku yang mengisi hatimu,biarkan aku menyayangi dan juga mencintaimu selama sisa hidupku ini "Ternyata Varro langsung mengungkapkan perasaannya.


Sedangkan Flora yang mendengar semua itu hanya bisa menundukkan kepala sambil meremas jari-jari tangannya,dia merasa gugup dan tidak tahu harus menjawab apa.


Tapi akhirnya dia memutuskan untuk menghilangkan rasa penasarannya terlebih dahulu.


"Terus selama Nona Clara diluar negeri dia tinggal dimana?"Tanya Flora.


"Dia tinggal dihotel yang sama dengan saya,,,"


"Jadi benar dia tidur sekamar dengan Tuan?"Potong Flora sambil cemberut.


"Eh,,ya enggaklah,,saya sama dia emang satu hotel,tapi bukan berarti satu kamar,emangnya saya cowok apaan main tidur sembarangan bareng cewek,memangnya siapa yang bilang kayak gitu?"Tanya Varro tanpa menyembunyikan rasa kesalnya.


"Ya Nona Clara yang bilang kayak gitu,dia bilang akan tidur sekamar dengan Tuan "Jawab Flora sambil menundukkan kepalanya.


"Itu gak bener Flo,kalau kamu gak percaya kamu boleh minta CCTV yang ada di hotel itu "Ucap Varro berusaha meyakinkan.


"Gak perlu,lagian apapun yang terjadi disana bukan urusan saya.Semua itu bisa dianggap sebagai masalalu "Kata Flora datar.


Varro hanya bisa menghembuskan napas pelan,dia sadar jika Flora pasti merasa sakit hati dengan sikap dia selama ini.


"Jadi gimana Flo?kamu mau memaafkan saya?"Tanya Varro lagi.


Flora pun menganggukkan kepalanya "Iya,saya maafkan Tuan "Ucapnya.

__ADS_1


Varro tersenyum lega,kini tinggal satu lagi yaitu masalah perasaannya.


"Terus tentang perasaan saya ke kamu gimana?apa kamu mau menerima perasaan saya?"Tanya Varro sambil menatap Flora penuh harap.


Sejenak Flora terdiam,sejujurnya perasaan Flora tidak pernah berubah sedikitpun pada Varro.Aneh memang,padahal sudah merasa kecewa berkali-kali tapi rasa itu tidak pernah pudar sedikitpun.


Varro menanti dengan harap-harap cemas.


Kemudian Flora menoleh,pandangan mereka berdua pun bertemu dengan jarak yang begitu dekat.


"Jika Tuan benar-benar tulus mencintai dan menyayangi saya,buktikanlan semua ucapan Tuan itu "Jawab Flora datar.


"Baiklah saya akan membuktikan jika perasaan saya tulus untuk kamu "Ucap Varro sambil tersenyum.


Melihat Varro tersenyum dengan segera Flora memalingkan wajahnya,perasaannya pun berdebar-debar tidak karuan.


"Tuan kenapa bisa sampai disini?"Tanya Flora mengalihkan pembicaraan.


Lalu Varro pun menceritakan dari awal sampai akhir,namun dia tidak menceritakan bagaimana usaha dia membujuk sang mama.


Selesai bercerita tiba-tiba Varro meringis sambil memegangi perutnya.


"Tuan,,Tuan kenapa?"Tanya Flora dengan panik,bahkan dia sampai berdiri dan menghampiri Varro "Kenapa Tuan tiba-tiba kesakitan?"Tanyanya sambil memegang bahu Varro.


Lalu Varro pun menatap Flora dengan wajah memelas "Flora,,,saya lapar"Ucapnya sambil meringis malu.


Seketika Flora melongo namun sedetik kemudian diapun tertawa.


Varro yang melihat Flora tertawa hanya menatapnya sambil tersenyum.Perlahan ketegangan diantara mereka berduapun mencair.


Kemudian Flora pun mengambilkan lauk beserta nasi dengan lauk seadanya itu.


"Maaf Tuan,disini saya hanya punya lauk seperti ini"Ujar Flora sambil menyodorkan sepiring nasi dengan lauk ikan asin tersebut.


"Gak apa-apa kok Flo,saya gak pilih-pilih makanan"Kata Varro sambil menerima piring dari tangan Flora.


Lalu Varro pun makan dengan lahap,sedangkan Flora hanya menyaksikan dengan tersenyum.


Kerena hari beranjak semakin sore,Varro pun berpamit pulang walaupun sebenarnya dia masih ingin berlama-lama dengan Flora.


"Apa kamu tidak bisa ikut pulang dengan saya sekarang?"Tanya Varro.


Flora tersenyum sambil menggeleng "Tidak bisa Tuan,saya harus disini sampai batas waktu yang sudah ditentukan "Jawabnya.


"Tapi saya masih merindukanmu Flo "Kata Varro dengan wajah memelas.


"Nantikan Tuan Varro bisa main kesini lagi "


Karena memang Flora belum bisa kembali,akhirnya Varro hanya bisa memakluminya.


To be continue...


🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤


Terimakasih sudah mampir,,,,💞💞


Jangan Lupa :


Like


Comment


Favorit


Vote

__ADS_1


💞💞💞💞


__ADS_2