Gairah Cinta Kedua

Gairah Cinta Kedua
Kamu mempermainkan aku, baby...


__ADS_3

"Run... you're in danger... five, three, one, seven, three, two..!" Stela melempar handphone miliknya, sambungan terputus.


"No....! Aaaaagh... shiiit, baby...! What are you doing..!!!"


BRAAAK....!!!


Adrian benar benar mendapatkan tubuh gadis kepala batu itu, namun tidak dengan handphone yang sudah berada jauh dari mereka yang terjerembab di lantai kamar Stela.


Stela meringis kesakitan karena tubuhnya berada dibawah kungkungan sang komandan, tengah menatapnya dengan sangat sadis.


"Kamu mempermainkan aku, baby...!" Adrian menggeram, mellumat bibir Stela dengan sangat cepat.


Mata Stela seketika membulat, dia benar benar sesak nafas dibuat oleh pria yang sejak semalam menginginkannya dengan cara yang sangat kasar.


"Hmm, ciiih... lepaskan aku, bang...!" Stela berusaha keluar dari dekapan pria, yang sengaja mendekap tubuhnya dengan sangat kuat.


"Iiiighs... uweeeek..."


Stela berusaha menghindar dari serangan sang komandan yang sangat menjijikkan baginya.


Mendengar Stela ingin muntah, Adrian menghentikan gerakannya, menatap wajah gadis yang masih berada dalam kungkungannya dengan sangat lekat.


"Kenapa kamu lakukan ini, baby? Kita bekerja, bukan main main. Dengan kamu mengangkat telepon mereka, kita akan tahu keberadaannya," Adrian melepaskan tubuhnya, agar gadis itu bisa bernafas dengan lega.


Stela hanya terbaring, wajahnya memerah, "Tidak mungkin aku dengan sengaja menjebak mereka dalam waktu yang sangat cepat, Bang. Stefan kembaran ku, William mantan suamiku, apa dengan cara ini kita bisa menangkap mereka, hingga kita tidak tahu, siapa sebenarnya dibelakangnya?"


Adrian terdiam, mengangguk membenarkan perkataan Stela.


"Tapi aku ingin tahu, dimana keberadaan mereka, baby!" Adrian masih penasaran.


Stela tertawa mendengar celotehan Adrian, "Itu tidak penting, aku hanya ingin kita melacak semua mafia yang ada dilingkungan kedua pria itu."


Adrian mengangguk setuju, "Hmm, baik. Aku ikut caramu. Ingat, waktu kita hanya satu tahun. Selebihnya akan langsung ditangani agent luar, dan itu akan menjadi tawanan internasional, bahkan akan tembak ditempat. Kamu mengerti, baby..?"

__ADS_1


Stela mengangguk patuh.


Peraturan tetap harus dijalankan sesuai perintah para petinggi. Kalimat yang membuat Stela terus berfikir keras, untuk melindungi Stefan sang kembarannya.


Mereka segera bersiap-siap, Stela memberi kabar kepada kedua orang tuanya, tentu dengan beberapa wejangan yang diberikan Paras pada putri kesayangan mereka.


Sementara Adrian hanya sibuk memberi perintah pada orang orangan sawahnya, yang akan ikut bersama mereka, saat melakukan perjalanan dinas ke beberapa negara Asia dan Eropa.


Stela menutup telfonnya, meletakkan handphone miliknya didalam tas ransel kecil, pemberian Steiner beberapa waktu lalu. Wajah cantik alami itu, sedikit menekuk mengingat pesan dari Mama tercinta. Gadis itu menyandarkan kepalanya di jok mobil, mengalihkan pandangannya keluar kaca.


"Harapan hanya tinggal harapan... entahlah," air mata Stela mengalir dengan sendirinya, tanpa diminta.


Perjalanan menuju bandara internasional, hanya menjadi beban bagi gadis berwajah cantik itu.


Adrian menggenggam jemari tangan Stela, dia memiliki pikiran sendiri. Perjalanan dengan seorang gadis yang sangat mandiri, menjadi pengalaman seru dalam hidupnya.


"Kenapa dunia mereka sangat berbeda dari kebanyakan orang kaya diluar sana, dan mereka memiliki passion yang benar-benar aneh. Benar kata Stela, kita harus tahu, siapa dibelakang mereka. Apakah masih orang terdekat atau bahkan orang yang sangat dipercayai keluarga ini," Adrian memiliki pemikiran sendiri.


Tidak menunggu lama velfire hitam terparkir dipintu masuk bandara. Stela dan team lainnya keluar bersamaan, disusul oleh pria tampan yang berdiri tegap dibelakang Stela.


Stela sedikit berbisik ketelinga Adrian, "Ingat Bang, ini hanya propesional kerja. Tidak ada hubungan antara kita," tegasnya.


Adrian mengalihkan pandangannya, hanya menjawab, "Wait and see, baby...! Aku pastikan kamu akan bertekuk lutut dihadapanku!"


Stela menautkan kedua alisnya, "Iiighs," tatapan matanya seketika tampak tidak menyukai ucapan terakhir sang komandan.


"Bisa bengek aku berada dalam genggamannya. Tangannya aja kadang kasar, kadang lembut. Hmm, tapi boleh dicoba untuk pemanasan...!" Stela tertawa dalam hati, mengalihkan pikiran joroknya.


Team Badan informasi internasional terbang menuju Shanghai Cina. Mereka berangkat dengan pengawalan ketat sang ajudan, yang menyamar seperti orang biasa. Dua orang inti pemeran utama dalam operasi penangkapan seorang gembong narkoba terbesar, sekelas internasional saat ini berada didalam genggaman mereka.


.


William Danu Barata, pria tampan yang memiliki sejuta pesona untuk para wanita didaerah ini. Dia menjadi pria patuh saat berada di Jakarta, namun menjadi sang casanova kelas satu saat berada di lingkungan sesungguhnya.

__ADS_1


Semenjak barang haram itu terlepas dari penahanan pihak berwajib yang angkatan laut, atas perintah seseorang dibelakang layar Keluarga Langhai Group, mampu merubah William menjadi pria yang liar, dalam waktu singkat saat berada di Shanghai.


Malam ini dia difasilitasi oleh Yu Jing Zhou seorang mafia kelas kakap, bertaraf internasional melayani seorang William dicasino miliknya, ditemani dua orang wanita yang duduk dipangkuannya.


Wajah tampan Will, sangat mempesona gadis cantik oriental dan blesteran Italia yang meraih keberuntungan disana.


Suasana yang semakin hangat, saat beberapa pengawal meletakkan beberapa botol vodka dan minuman mahal lainnya dihadapan Will.


Will tersenyum puas, dia telah menerima bayaran tertinggi dari Yu Jing Zhou saat dinyatakan barang sampai ditangan rekan mereka dengan selamat.


"Senang berbisnis dengan anda Tuan Will. Saya sedang menunggu Stefan, yang sebentar lagi akan datang menemui kita," Yu Jing menjelaskan pada Will.


Will, mengangguk setuju, mereka saling bercerita bak teman lama yang sudah lama tidak bertemu.


"Aku belum memberikan hadiah untuk pernikahanmu, Will," Yu Jing, menghisap rokok yang berada dikedua sisi jari tangannya.


Will tersenyum tipis, "Jangan pernah membicarakan ini dihadapan Stefan, karena aku telah berpisah dari adik kecilnya."


Yu Jing Zhou tertawa keras, sedikit kaget mendengar ucapan Will, yang menganggap pria dihadapannya seperti laki laki pengecut yang tidak memiliki perasaan.


"Apa kamu sudah siap berhadapan dengan Stefan dan Stevie? Mereka sangat menyayangi adiknya. Kamu laki laki yang tidak memiliki perasaan...!" Yu Jing meremehkan William.


Will mengangguk setuju, "Lebih baik aku kehilangan adik mereka, daripada harus berpura-pura baik saat berada dihadapannya."


Yu Jing membenarkan ucapan Will, "Kamu memang laki laki paling gentle, bagaimana kita berpesta untuk hal ini."


Yu Jing Zhou mengangkat gelas dalam genggaman, "Cheers....!"


Mereka saling tertawa bahagia, menikmati keindahan malam yang sangat sempurna, dengan mencium lembut bibir wanita yang berada dipangkuannya. Will melakukan semua ini, tanpa memikirkan perasaan Stela yang dia pikir masih berada di Jakarta.


"Selamat malam," suara bariton Stefan sedikit mengejutkan Will yang tengah menikmati indahnya bibir lembut kedua wanita itu diatas tubuhnya.


Yu Jing menyambut kedatangan Stefan, memeluk erat tubuh sahabatnya, menjentikkan jari, agar wanita lain ikut menemani mereka yang berada di private room.

__ADS_1


Mata Stefan tertuju pada seorang gadis yang menyamar menjadi wanita malam, dengan menggunakan topeng seksi bak penari telanjang.


"Hmm, mereka sudah berada disini... Brengsek..!!"


__ADS_2