
Sama halnya dengan wajah Stefan dan Stevie. Bagaimana mungkin mereka harus menjelaskan dalam kondisi seperti ini. Mereka benar-benar bingung, karena saat ini yang ada di benak kedua anak kembar itu adalah menghancurkan Adrian.
Leo mendekati Stela, merangkul bahu putri kesayangan dia dan Paras, yang menjadi wanita satu-satunya selain istri tercinta di keluarga.
"Dimana Will sayang?" tanya Leo menoleh kearah Paras dan dua putra kembarnya.
Stela menggigit bibir bawahnya, dia tampak salah tingkah, satu-satunya jalan adalah menunggu kehadiran dokter untuk mengalihkan pertanyaan kedua orang tuanya.
Namun, saat mereka tenga menunggu jawaban dari bibir Stela, mereka dikejutkan dengan kehadiran seorang wanita yang seumuran dengan Paras.
Lauren Bennett, ya.... wanita itu hadir diantara mereka dengan kegugupan Stela yang masih terlihat sangat jelas.
"Leonal.... how are you...!?" teriak Lauren dari kejauhan sambil berlari kecil mendekati mereka.
Sontak saja, kehadiran wanita itu membuat ketiga anak kembar Leonal ternganga.
Mereka menggeram bersama, rahang tegas kedua pria itu tampak seperti akan menghabisi Lauren yang sengaja mengikuti mereka.
Stefan mengepalkan kedua tangannya, "Brengsek.... ini akan menjadi hal yang sangat menarik perhatian semua orang di rumah sakit."
Berbeda dengan Stevie, dia justru tampak tenang berdiri tegap menyambut Lauren yang akan menghampiri Leonal, sambil menyambut ramah kedatangan orang penting Marsedez Benz tersebut.
Stevie memeluk picik tubuh Lauren, seraya berbisik geram, "Jika nyawa mu sudah sembilan, sama halnya dengan seekor kucing, silahkan lakukan yang kau mau, Nyonya! Jangan sampai setelah penghinaan yang telah kau berikan pada adikku, kau sampaikan kepada kedua orang tuaku! Aku pastikan, kau tidak akan bisa keluar dari rumah sakit ini dengan senyuman, melainkan hanya nama tanpa hati Lauren Bennett."
Lauren menghentikan langkahnya, menelan salivanya, dia sangat mengetahui siapa putra kesayangan Leonal, seorang Stevie dari beberapa media yang beredar di negaranya.
Wajahnya tampak memerah, menatap nanar kearah Stela yang masih berada dalam pelukan Leonal.
Leo bergeser, menyambut kedatangan Lauren yang tampak khawatir di hadapannya, "Aku baik, bagaimana kabar mu, Lauren? Sepertinya aku melihat suami mu di lapangan balap. Apa kalian tidak bersama?" tanyanya sebagai orang yang tidak mengetahui apapun.
__ADS_1
Lauren tertawa kecil, mendengar penuturan Leonal yang merupakan musuh dalam bisnisnya, namun dalam pertemanan, mereka masih menjalin hubungan baik tanpa cela.
"Sepertinya suami ku lebih mencintai pekerjaannya di bandingkan berkumpul dengan keluarga!" sindirnya pada ketiga putra putri kesayangan Leonal.
Stevie memberi kode dengan anggukan pada Lauren yang masih menatap tajam kearahnya.
Paras, menyambut tangan Lauren dengan hangat. Pertemuan kali ini sangat berbeda dari biasanya. Mereka tampak tengah memainkan peran yang sangat baik, seperti tenga diatur sutradara.
Saat mereka tenga berbincang-bincang tentang kecelakaan Steiner, tiba-tiba dokter spesialis keluar dari ruangan yang tampak tertutup rapat.
Petter selaku asisten manajemen, mendekati dokter untuk menanyakan keadaan pembalapnya, "Bagaimana Steiner, Dokter?"
Dokter spesialis bernama Kimberly Kane memberi beberapa penjelasan yang dialami oleh Steiner.
Steiner mengalami retak dan patah pada bahu belakang, dan harus dilakukan tindakan operasi pemasangan pen agar dapat menyatukan tulang yang patah.
Tampak kekhawatiran menyelimuti pikiran Paras dan Stela sebagai seorang wanita yang sangat dekat dengan Steiner.
Leo yang sangat memahami bagaimana perasaan putri kesayangannya, mengusap lembut punggung Stela, "Tenanglah. Apakah kamu sudah menghubungi Will? Dimana menantu Papa? Kenapa dia tidak berada disini? Bukankah kalian berada di Shanghai beberapa waktu lalu?"
Pertanyaan Leo semakin membuat Stela tidak dapat menjawab. Dia hanya terdiam dan memandang kearah Stefan dan Stevie bergantian.
Paras tidak ingin menunggu lama, bergegas dia menuju ruangan putranya Steiner yang berada tidak jauh dari tempat mereka berkumpul. Tampak wajahnya yang tidak semuda dulu, menghampiri Steiner dengan langkah pelan.
"Steiner....!!" bibir Paras tersenyum, matanya menangis, betapa merindunya Paras saat menatap wajah tampan Steiner yang masih terlelap.
Bagaimana mungkin, putra yang dia lahirkan kini mesti berjuang keras menahan rasa sakit akibat kerasnya hati seorang Steiner.
Paras duduk disamping Steiner, mengecup lembut punggung tangan putranya, "Wake up, Stein.... kita pulang ke Jakarta! Mama kangen sama Stein. Jangan balap lagi, Nak! Mama nggak kuat melihat kamu begini!"
__ADS_1
Mendengar perkataan Paras membuat Steiner mengeluarkan air mata di sudut wajah tampan yang masih tertutup rapat. Namun dia dapat merasakan hal apa yang dirasakan oleh seorang Mama.
Kecupan-kecupan yang diberikan Paras tentu menunjukkan bentuk kerinduan seorang ibu pada anaknya.
Stefan menghampiri Paras, di ikuti Stela dan Stevie. Mereka hanya berdiri melihat Steiner yang terbaring lemah diatas tempat tidur rumah sakit. Seketika, suasana tampak lebih menyedihkan.
Inilah yang ada dalam benak Stela, harus menangkap saudara kembarnya Stefan, dan membawanya pulang. Apakah yang ada dalam benaknya jika Stefan di hukum mati? Apa yang harus dia lakukan.
Stela tersandar didinding kamar rumah sakit, air matanya mengalir deras, "Apakah aku akan tega membawa Stefan yang akan di jatuhkan hukuman mati? Bagaimana dengan Stevie yang juga merupakan penjahat nomor satu dalam kasusnya! Apa yang harus aku katakan pada Mama dan Papa, Tuhan!"
Stela hanya bisa pasrah, dia melangkah keluar ruangan melihat Leonal masih berbicara dengan Lauren, ditemani Alea dan juga Adrian.
Tentu ini menjadi pemandangan yang sangat mengejutkan bagi gadis cantik tersebut. Apakah dia harus melarikan diri hari itu juga untuk terbang menuju Melbourne menyusul Opung Maride? Tidak-tidak-tidak, dia bertekad tidak akan gugup saat berhadapan langsung dengan Adrian ataupun Alea.
Stela menatap wajah Adrian yang tampak memar namun sangat tenang dihadapan orang tuanya. Wajahnya menunduk, memberi hormat pada sang komandan. Semoga mereka masih lama saat berada didalam kamar. Dia tidak ingin, semua terbuka lebar disini. Karena Stela belum siap untuk menghadapinya.
Setelah mereka berbincang-bincang seputar teknologi saat ini, Leonal memilih masuk kedalam ruang perawatan putra kesayangannya Steiner.
Saat Leo memasuki ruangan putranya, saat itu juga Stevie dan Stefan meninggalkan ruang perawatan Steiner.
Paras yang melihat kejadian itu, mengejar kedua putranya, namun saat dia akan membuka pintu kamar, terdengar suara Stefan yang mengancam Adrian dihadapan Lauren Bennett, "Dengar Tuan!! Semua masih aku tahan, karena aku menghargai kedua orang tuaku! Urusan kita belum selesai, dan aku akan membuat perhitungan denganmu! Dan kau Nyonya, silahkan tinggalkan kami! Karena aku tidak ingin melihat kalian ada disini," ucapannya dapat didengar oleh Paras yang masih mematung.
Stela menahan lengan Stefan, menatap lekat kearah mata kembarannya, "Tolong Kak, jangan mengancam disini! Aku tidak ingin Papa dan Mama mengetahui perceraian ku dan perselingkuhan ku, Kak! Aku mohon...!!!" tangisnya.
Paras tersandar di dinding rumah sakit, tubuhnya nyaris tumbang, bahkan nafasnya serasa sesak. Dia menyentuh dadanya, mencubit pipinya berkali-kali, berharap apa yang dia dengar berupa mimpi. Mimpi buruk, bahkan mimpi yang sangat memalukan.
________
like and coment...
__ADS_1
🔥🔥❤️