
Hanya kalimat itu yang keluar dari bibir mungil Stela, karena tidak menyangka Adrian Martadinata akan memberi kabar perceraian itu padanya.
"Apa maksud laki-laki ini!?"
Stela duduk dihadapan Adrian, memberikan beberapa makanan kecil pada pria Batak blesteran Netherland itu. Matanya melirik kearah sang komandan, menatap penuh tanda tanya.
"Apa maksud Abang menemuiku disini? Oya, Will kenapa menghilang?"
Pertanyaan Stela membuat Adrian menaikkan kedua alisnya, memandang gadis blesteran Padang itu dengan seksama. Memperhatikan dari rambut hingga ujung kaki, berkali-kali dia menelan salivanya, untuk menahan kerinduan yang tertahan beberapa hari ini.
"Jawab...!"
Stela mencubit kecil perut Adrian yang masih terasa padat dengan cubitan manja.
"Aaaaugh baby...!"
Adrian menahan tangan Stela, menarik tubuh langsing gadis itu, membawa kedalam pelukannya.
"Lepas...!!!"
Stela enggan berada dalam pelukan pria itu, karena masih menjaga imagenya sebagai seorang wanita terhormat. Walau hatinya memiliki perasaan rindu yang teramat sangat pada laki-laki Batak itu, namun dia tidak ingin melanjutkan hubungan mereka karena Lauren Bennett sudah sangat menghina dirinya.
Adrian tidak ingin berdebat, dia hanya menahan tubuh Stela untuk tetap berada dalam pelukannya.
"Kamu tahu, aku sangat mencintaimu, baby!"
Deg, terdengar jantung Adrian berdegup kencang, saat telinga Stela berada didada bidang pria gagah nan menawan itu.
Stela terdiam, tubuhnya kaku. Jujur dalam hatinya juga menyukai Adrian. Bahkan sangat bahagia jika berada disisinya, tapi penghinaan Lauren masih terngiang di telinganya.
"Hmm... Abang bisa aku bertanya dan jawab jujur...!"
"Hmm...!"
"Apakah Abang mengenal Alea? Putri dari Kennedy dan Sintya?"
__ADS_1
Adrian terdiam, wajah tampan tampak memerah, dia melepas pelukannya dari tubuh Stela, merasakan sesuatu yang berbeda, saat pertanyaan itu dilontarkan dari bibir mungil gadis yang dia cintai.
"Apa itu penting, baby?"
Adrian menoleh kesembarang arah, tanpa melihat pada Stela yang tampak bingung, menatap pria yang tampak salah tingkah didekatnya.
"Ya pentinglah Bang! Aku tidak ingin menjalin hubungan dengan anak musuh keluarga ku! Apalagi Papa dan Mama sangat membenci keluarga mereka."
Stela menjawab, tanpa dia ketahui siapa sebenarnya Adrian Martadinata yang ternyata seorang pria yang memiliki marga. Marga Panjaitan yang sengaja dia tutupi, dari semua orang hanya karena dirinya anak dari hasil perselingkuhan.
Margaret yang sangat menyayangi Adrian, saat turut mengasuhnya setelah kepergian Silutak dan Ibu kandung Adrian, karena skandal perselingkuhannya dengan Lauren Bennett diusia sangat muda, membuat pria bertubuh tegap itu harus hormat dan patuh pada peraturan keluarganya.
Adrian mengusap lembut kepala Stela, "Bagaimana jika aku memang keluarga mereka, baby?"
Sontak jawaban Adrian itu sangat mengejutkan bagi gadis cantik itu, yang tengah menikmati sepotong cheese cake, yang dibalut selai strawberry. Stela tersedak, menatap wajah laki-laki yang tengah mengusap lembut punggungnya.
"Are you serious? Is it true that you framed me? Ooogh, so what do you mean come to see me?" (Apa kau serius? Apakah benar kau yang menjebak ku? Ooogh, jadi apa maksudmu datang untuk menemui aku?)
Stela bangkit dari duduknya, mengambil senjatanya yang terletak di laci nakas untuk menghabisi Adrian saat itu juga.
Adrian berdiri cepat, mendekati gadis Padang yang sudah tersulut emosi, memohon Stela untuk tenang.
"Ya... aku memang putra Silutak Panjaitan! Tapi aku tidak seperti dia baby, aku mencintaimu... sangat mencintaimu... please...!! Mengertilah... please baby....!!"
Adrian tampak panik, karena Stela sudah menodongkan pistol kecil diwajahnya.
"Cooling down baby...! Aku tidak ingin berdebat, apalagi menyakiti mu. Aku benar-benar terjebak dalam situasi ini. Aku sangat mencintaimu!"
Stela menatap lekat wajah Adrian dengan mata yang membulat lebar, bahkan wajahnya merah padam. Membuat dia tidak mampu berucap, karena sesungguhnya dia juga sudah jatuh cinta pada Adrian.
Perhatian kecil yang diberikan Adrian sangat berbeda dibandingkan Will.
"Apa maksudmu, apa kau ingin menjebak ku!? Apa kau ingin aku bertekuk lutut dihadapan mu!? Maaf Tuan, dendam keluarga ku pada keluarga kalian sudah sangat jelas! Bahkan ini akan berdampak pada kesehatan Opung Maride. Apa salahku padamu? Apakah aku pernah menyakiti hati keluarga kalian, haaaah!?"
Adrian mengambil langkah cepat, meraih senjata api yang ada ditangan gadis itu, membawa Stela kepelukannya.
__ADS_1
"Dengar Stel, awalnya aku ingin menjebak mu masuk dalam perjalanan ku sebagai seorang komandan. Tapi aku terjebak dalam permainan ku sendiri. Aku mohon, jangan tinggalkan aku karena kamu gadis yang sangat berarti dalam hidupku," Adrian mengusap lembut punggung Stela, gadis keras kepala, namun sangat manut saat bersamanya.
Stela menangis sejadi-jadinya, tidak menyangka, dia jatuh cinta pada orang yang salah.
Pertama, Adrian seorang suami sekaligus Daddy untuk putranya bersama Lauren Bennett, hasil buah cinta pernikahan mereka.
Kedua, Adrian putra Silutak Panjaitan yang telah berkali-kali menyakiti keluarganya dimasa lalu.
Ketiga, Stela terjebak dalam syarat tuntutan pekerjaan untuk menangkap saudara kembarnya dan juga mantan suaminya yang merupakan putra tiri dari Adrian Martadinata.
Sangat menyakitkan bagi gadis seusianya, mesti dihadapkan dengan kondisi yang sangat membingungkan, bahkan akan berdampak pada keluarga besarnya.
Cinta yang tumbuh dihati Stela merupakan cinta yang tak biasa. Benih-benih cinta yang tumbuh hanya karena selalu bersama, bahkan dalam menjalankan tugas sesuai perintah negara.
"Apa yang harus aku lakukan?" Stela masih menangis dipelukan Adrian.
Perlahan Stela melepaskan pelukan Adrian, mengusap wajah mulusnya, meminta pria itu untuk meninggalkan kamar hotel, karena tidak ingin melanjutkan hubungan mereka berdua.
"Tinggalkan aku! Jangan pernah temui aku! Aku akan segera meninggalkan Frankfurt. Tidak malam ini, mungkin besok! Hubungan kita berakhir."
Stela berlalu, membuka pintu kamar dengan lebar untuk Adrian, agar pria tampan itu meninggalkannya segera.
Adrian menggelengkan kepalanya, "No... ini tidak adil! Yang bersalah bukan aku, tapi Papi Silutak, not me...! Jangan menghukum aku seperti ini, baby! Tidak mungkin kita akan berpisah! Bagaimana jika kamu hamil? Bagaimana jika kamu benar-benar hamil anakku, baby!?"
Kedua bola mata Stela semakin membesar, rasa kecewanya belum usai, harus mendengar penuturan tentang kehamilan, "Are you crazy Mr. Adrian? Apa maksudnya kau menakut-nakuti aku dengan kehamilan!? Jika memang aku hamil, ini merupakan hal terburuk dalam hidupku! Dan sampai kapanpun aku tidak pernah memaafkan mu! Jangan berharap sesuatu yang mungkin akan aku hindari, karena rasa benciku padamu!"
Adrian tersenyum tipis, menatap wajah cantik Stela, mendekati kembali gadis itu dengan langkah yang pelan, menangkup wajahnya.
Saat tangan kekar Adrian benar-benar berada diwajahnya, dia tidak mampu berucap, apalagi menahan rasa yang berbeda saat pria blesteran itu menyentuh bibirnya lembut.
Stela menyambut ciuman Adrian, kedua tangannya mendekap tubuh kekar yang ada dihadapannya, melepas genggamannya pada pintu yang kembali tertutup rapat.
Adrian mencium bibir Stela layaknya dua insan yang saling merindukan, saling mencintai, saling menikmati, setiap luumatan yang dia berikan untuk membawa gadisnya ke surga dunia yang berbeda.
Cinta yang tumbuh bukan cinta biasa, namun cinta yang penuh perasaan gairah cinta kedua diantara mereka.
__ADS_1