
Matanya tertuju pada salah seorang pemuda, yang diutus oleh Stefan, tentu saja itu bukan Will, ataupun Stefan yang masih mendekap seorang Calita.
"Hmmm, aku akan menjalankan semua perintah yang diarahkan oleh Stefan. Aku harus kabur."
Stela mendekati pemuda berwajah blesteran, hampir mirip dengannya.
Tentu ajudan Adrian menyusul gadis itu saat berdiri diloby hotel.
"Kak Stev... Kak Stevie... Kak Stev....!!!" Stela berteriak penuh perasaan bahagia, dia memeluk mencium bahkan terlihat bahagia saat bertemu dengan kembarannya Stevie Leonal Alkhairi.
Stevie memeluk adik tersayang, mendekap erat tubuh ramping Stela.
"Kakak tahu dari mana aku disini?" Stela menautkan kedua alisnya.
Stevie menggelengkan kepalanya, mereka berbicara menggunakan isyarat seperti biasa. Dua jari telunjuk kanan dikening, telunjuk kiri letak diujung bibir Stela.
Stela kembali memeluk erat Stevie, "Kita gabung disana?" tunjuknya pada sebuah meja diruangan restoran lebih privat.
Stevie mengangguk setuju, merangkul bahu Stela, tentu melirik sinis kearah ajudan Adrian yang mengekori mereka berdua.
Saat akan memasuki private room, Stela menoleh kebelakang, "Stop... kamu diluar saja. Ini privasi, tidak boleh ada pihak ketiga. Dia saudara kembarku, Stevie. Kamu mengerti helder...!"
Ajudan mengangguk patuh, dia berdiri didepan pintu masuk private room, melirik dari arah kejauhan pada Adrian dan memberi kode aman pada sang komandan.
Stela merutuki semua informasi yang dia dengar dari mulut Adrian, yang menyatakan bahwa Calita putri dari Kennedy.
Stevie berfikir sejenak, "Dimana Alea? Bukankah Aunty Sintya memiliki putri bernama Alea dan seumuran dengan kita? Aku yakin dia akan muncul stelah Calita."
"Hmmm," Stela membenarkan ucapan Stevie.
Beberapa pelayan masuk, membawa buku menu, dan sepucuk serat dari seseorang yang bertuliskan inisial W.
__ADS_1
Mata Stevie melihat ke arah memo yang ada digenggaman Stela, "Who?"
Stela mencari keberadaan inisial W, "Aku yakin dia adalah William."
Stevie tertawa, "Apa kamu masih mengharapkannya?"
Stela masuk kepelukan saudara kembarnya sedikit manja, "Aku masih berharap, tapi sepertinya dia tidak berharap."
Stela membuka perlahan kertas putih yang bertuliskan.
"Aku menunggumu di bandara, ikut aku agar kita sama sama pergi meninggalkan Shanghai. By. W."
Kedua mata Stela dan Stevie saling menatap, sama sama menelan salivanya.
"Bagaimana jika situa bangka yang disudut itu mengikuti ku terus?" Stela menunjuk kearah luar.
Stevie tersenyum tipis, "Stefan memintaku untuk mengawasi mu. Ingat Stel, yang kalian incar adalah Will, bukan Stefan. Jika Stefan menjadi incaran kalian, aku akan melawan mu. Bagaimanapun ini tidak adil!"
Stevie mengangguk, "Pengiriman wanita cantik sudah sampai di tempat ku. Mungkin dua tiga hari lagi aku akan disibukan seperti biasa. Menjadi team seleksi sebelum aku kirim ke beberapa bar dan kasino. Steiner juga akan bertanding musim akhir," ceritanya dengan antusias.
Saat kehangatan dua insan saudara kembar itu tengah asik bercerita, sambil menikmati wine sesuai permintaan Stela. Adrian masuk dengan wajah tidak berdosa.
"Siapa dia Stel?" Adrian menelan salivanya, melihat Stela masih berpelukan mesra.
Stela manfaatkan pertanyaan Adrian, "Dia Stevie, Bang. Kami akan menginap bersama, mungkin aku akan kembali besok pagi kesini. Karena dia baru datang dari Jerman, hanya untuk menemui ku."
Adrian mengangguk mengerti, selama ini yang dia lihat adalah wajah Stefan, tidak begitu memiliki kemiripan dengan Stevie. Berbeda dengan Steiner, lebih mirip pada wajah Stefan yang tampan dan sangat berbeda.
Adrian memilih meninggalkan Stela, sedikit berbisik ketelinga ajudannya, "Awasi mereka, aku yakin pria itu akan membawa gadisku pergi. Aku tidak mendapatkan kabar dari Calita, aku rasa komplotan mereka telah membawa dan mencuci otak orang-orang ku."
Ajudan Adrian hanya mengangguk hormat tanda mengerti.
__ADS_1
Tanpa disangka-sangka, Adrian kembali masuk keruangan private room, menarik tangan Stela dengan sangat kasar, membuat Stevie berdiri menarik lengan adiknya.
"Heeeeiii... Jika anda sopan, saya akan sopan Tuan...!" Stevie masih menahan lengan Stela.
Adrian tersenyum tipis, menatap lekat kearah Stela dan Stevie bergantian.
"Lepaskan..!" Perintah Adrian pada Stevie.
Tentu Stevie tidak gentar hadapi Adrian, "Siapa anda! Apakah pukul 21.30 masih jam kerja Tuan?"
Kreeek, kreek,
Adrian mengeluarkan senjatanya menghujamkan tepat diwajah Stevie, "Apa anda sudah bosan hidup anak muda?"
Stela tersenyum melihat Komandannya mengancam Stevie, dengan hitungan detik, kecepatan tangan Stela mengambil sempi yang terletak tepat dipinggang saudara kembarnya, kemudian mengarahkan kekepala Adrian dari jarak dekat.
"Apa anda sudah bosan hidup Komandan Adrian Martadinata?"
Ajudan Adrian mendekati gadis yang terlihat arogan, agar glock 20 yang memuat 16 peluru 10 mm, masing-masing mampu dilontarkan hingga kecepatan 1600 kaki per detik, satu peluru siap menembus kepala sang komandan dari tangan halus Stela, menahan lengannya dengan cara halus.
Stevie tertawa, "See... siapa yang akan mati lebih dulu diantara kita?"
Tangan halus Stela, tidak bergetar sedikitpun, walau ada perasaan aneh didalam hatinya, "Aaaagh... jangan sampai aku jatuh hati pada tua bangka ini."
Adrian terdiam, nafasnya memburu, menahan rasa panas didada, perasaan emosi seketika berkecamuk, melihat Stela berpelukan dengan pria lain, walau itu saudaranya.
"Cepat bawa Stela kekamar...!" Teriak Adrian masih menantang Stevie.
Ajudan menenangkan Stela, agar mau bersahabat dengannya saat ini.
Stela tidak bergeming, "Lakukan apa yang akan anda lakukan Tuan Adrian... jika itu membuat anda mendapatkan make money dari menyakiti kami."
__ADS_1
Tentu Adrian terdiam, wajahnya memerah, "Apa maksudnya? pria tampan itu terlihat sangat bingung bergumam dalam hati.