
Paras tersandar di dinding rumah sakit, tubuh nyaris tumbang, bahkan nafas serasa sesak. Dia menyentuh dada, mencubit pipinya berkali-kali, berharap apa yang dia dengar hanya mimpi. Mimpi buruk, bahkan mimpi sangat memalukan untuk keluarga besar mereka.
Leonal, yang melihat kondisi istrinya bergegas berdiri mendekati Paras istri tercinta, "Ndut, kamu kenapa? Aku panggilkan dokter yah? Kebetulan kita berada disini, sekalian saja kita cek kesehatan kamu!" ucapnya tampak panik.
Namun, saat Leo hendak mendorong pintu untuk keluar ruangan kamar Steiner, Paras menahan lengan suaminya. Meletakkan jari telunjuk di bibirnya.
Kembali mereka mendengar pertikaian putrinya dan Lauren Bennett.
Terdengar suara Stela yang tenga memohon pada seorang Lauren, "Aku tidak akan mengganggu keluarga mu, Nyonya! Silahkan pergi tinggalkan rumah sakit ini, karena kami tidak ingin berdebat disini. Kedua orang tua ku masih khawatir dengan keadaan Stein!"
Leonal menautkan kedua alisnya, melirik kearah Paras, "Ada apa ini, Ndut? Apa yang mereka tutupin dari kita?" bisiknya.
Paras menggeleng, dia tidak bisa menyampaikan apa yang dia dengar pada Leonal, karena dia sangat mengetahui siapa suaminya.
Adrian yang masih berada disana memeluk erat tubuh Stela dihadapan semua orang, termasuk Lauren Bennett.
Tentu itu menjadi tamparan luar biasa bagi Leonal dan Paras mesti menyaksikan perbuatan putri kesayangan yang selalu mereka banggakan.
BRAAAK.....!!
Tak pelak Leonal mendobrak pintu ruang rumah sakit, karena tidak ingin anak-anak menyembunyikan sesuatu darinya, karena melihat seorang Adrian yang mengakui bahwa dirinya merupakan komandan putrinya, namun perlakuannya tidak seperti seorang komandan.
"Lepaskan putriku, komandan!" ucap Leo dengan suara lantang dan bergetar.
Kehadiran Leonal, sangat mengejutkan bagi ketiga anak kembarnya, begitu juga Lauren Bennett yang masih berdiri dihadapan mereka.
Pihak manajemen balap mendekati Leonal, agar tidak menjadi gosip murahan yang akan diliput oleh paparazi negara mereka yang tidak pernah di ketahui dimana keberadaannya.
Petter mengingatkan selaku orang kepercayaan team management Steiner, "Silahkan kalian tinggal kan rumah sakit ini, karena kami melindungi pembalap kami, Tuan!"
__ADS_1
Leo menantang mata Adrian juga Stefan dan Stevie yang berada di dekat putrinya Stela. Dia meremas kuat lengan putrinya, menatap lekat iris mata yang tenga menangis karena ketakutan pada sang Papa.
Leonal menggeram kesal, "Katakan pada Papa, apa yang kamu sembunyikan? Dimana Will? Ada hubungan apa kamu dengan pria dewasa ini, Stela? Jawaaaab.....!!!"
Stela menangis sejadi-jadinya, dia tidak ingin perbuatannya di ketahui oleh pihak keluarga.
Namun saat semua tengah sibuk dengan pikirannya sendiri, Adrian justru menarik tangan Stela dengan sangat kencang sehingga terlepas dari genggaman Leonal dan membawanya berlari kencang untuk segera meninggalkan rumah sakit.
Tentu kejadian tersebut membuat Stefan dan Stevie bertindak lebih gila.
Dengan tindakan cepat, Stefan mengeluarkan senjata yang sejak awal dia tahan dihadapan Leo dan Paras.
Kreek.... kreek.... kreek....!!
Stefan mengarahkan senjata apinya kearah Adrian yang sudah berlari kencang menuju pintu koridor.
Dor.... dor.... dor....!!
Suara tembakan beberapa kali meleset, dan berhasil meloloskan dua insan yang tidak bisa berfikir secara sehat. Membuat semua mata tertuju pada mereka yang berada di sana.
Stefan menoleh kearah Lauren, dan berkata dengan lantang, "Aku akan memenggal kepala suamimu, Nyonya! Camkan itu....!!!"
Mendengar penuturan Stefan pada Lauren, Leonal yang sejak tadi tidak mampu menahan rasa kesalnya pada sang putra, karena telah berani berkata tidak sopan pada orang dewasa menyangkal perbuatannya.
PLAAAAK.....!!!
Leonal melayangkan tamparan keras ke wajah Stefan, dihadapan mereka semua, membuat Alea yang berada di sana, mundur perlahan.
"Katakan pada Papa!! Ada apa ini? Kenapa kalian menyembunyikan sesuatu dari kami selaku orang tua! Satu lagi, Stef! Jaga ucapan mu pada orang dewasa. Dia lebih tua darimu! Bahkan, dia merupakan orang penting di Marsedez!!" tegas Leonal.
__ADS_1
Stefan menantang Leonal, "Aku menghargai kalian selaku orang tua! Namun, apa yang telah di perbuat Tuan Adrian pada adik ku!! Dia telah memperkosa Stela, dan menjalin hubungan terlarang, satu lagi adik ku telah di campak kan oleh, Will! Papa dengar, Stela telah bercerai dari William Danu Barata yang ternyata dia adalah anak tiri dari komandan Stela, dan anak kandung Lauren Bennett. Papa tahu.... siapa Adrian Martadinata!? Haaaah....!! Dia adalah putra kesayangan Silutak Panjaitan! Dia laki-laki bermarga yang akan menghancurkan seluruh keluarga kita!!! Aku akan merebut adik ku kembali dari tangan laki-laki itu!" ucapnya lantang bahkan berapi-api.
Leonal yang mendengar perkataan Stefan, merasakan sesuatu yang besar menghantam dirinya juga Paras. Hantaman sangat keras seperti tengah menimpa kepala, membuat dia tak mampu menahan beban di tubuhnya. Pandangannya menghitam, bahkan membuat tubuh tersebut berasa tumbang seketika.
Paras menyambut tubuh Leonal, disambut Stevie yang berdiri disamping sang Papa.
Jantung Leo serasa berhenti berdetak, bagaimana mungkin dia harus menghadapi kenyataan ini? Kenyataan yang sangat mengejutkan baginya dan keluarga besar.
Jika dulu ada kejadian ini, masih ada Mami Maride dan Papi Baros. Tapi, tidak untuk kasus seperti ini. Hukuman apa ini? Kenapa ke-empat anak mereka tidak ada yang tumbuh dengan baik!!!
Stefan yang tidak peduli, karena dia tipe pria yang keras melebihi Steiner, dia menitipkan sang Papa pada Stevie untuk bergerak mengejar Stela dan Adrian yang berhasil lolos meninggalkan rumah sakit.
Secepat kilat Stefan menghubungi semua orang kepercayaannya, untuk mencari keberadaan Adrian Martadinata dan Stela saudara kembarnya, "Cepat bereskan.... pecahkan kepala laki-laki itu, dan bawa saudara kembar ku kembali dengan selamat. Aku tidak peduli dengan pria brengsek itu," tegasnya.
Stefan mengeluarkan satu alat tekhnologi yang dengan mudah melacak keberadaan Stela. Dia pria yang memiliki otak cerdas, dapat dengan mudah menemukan titik dimana saudara kembarnya tersebut kini tenga berada.
Wajah tampan yang sedang berdiri di depan gerbang rumah sakit, menerima sinyal yang menunjukkan bahwa Stela berada sudah sangat jauh mengarah pada bandara yang lumayan jauh dari posisi mereka.
"Brengsek kau tua bangka! Kau anggap adik ku wanita murahan!? Aku yang akan memecahkan kepalamu sebelum hukum bertindak lebih sadis pada ku!" geram Stefan dengan wajah memerah.
Stefan menghubungi seseorang diseberang sana, agar menemukan keberadaan William agar muncul di hadapannya dalam waktu satu kali 24 jam. Dia tidak peduli, Will dibawa dalam keadaan hidup atau mati.
Baginya, Will harus bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan pada Stela, yang tidak dia ketahui selama ini sebagai seorang saudara kembar.
"Kalian pikir dengan mudah akan membawa Stela Chaniago, Tuan! Aku yakin, Stevie akan bergerak lebih sadis di bandingkan aku," senyumnya menyeringai lebar bak pembunuh berantai yang siap memutilasi musuhnya, dan mengirimkan jenazah mereka tanpa memiliki hati didalam peti mati.
Handphone Stefan berbunyi, menandakan pesan masuk melalui whatsApp.
["Mereka di perjalanan menuju bandara internasional Frankfurt! Danger..."]
__ADS_1
Benar saja, Stefan menghubungi orang suruhannya agar menantinya, jika dapat menemukan Adrian Martadinata dan Stela Chaniago di bandara.