
Dor ... Dor ... Dor ...!
"Cepat!" teriak Stefan masih mengarahkan senjatanya pada pengawal Lauren yang memergoki keberadaan mereka saat akan menuruni anak tangga, di tangga darurat.
Calita berlari kencang, menuju kendaraannya dengan nafas tersengal-sengal.
"Brengsek! Aku yakin Stela berada dalam pengawasan Lauren!" geram Stefan saat memasuki mobil dan berlalu kencang meninggalkan rumah sakit.
Dor ... Dor ... Dor ...!
"Sial!!" umpat pengawal Lauren melihat mobil Calita berlalu kencang.
Sementara Stefan dapat terlepas dari pengejaran mereka, dan bernafas lega karena berhasil lolos dari serangan para hewan peliharaan Lauren Bennett.
"Dimana Stela? Kenapa nomor telepon pribadinya juga tidak aktif? Apakah dia sedang di habisi oleh Lauren?" tanya Stefan menggeram.
.
Disisi lain, Adrian tengah berada dalam ketakutan luar biasa, setelah mendengar beberapa tembakan yang sangat mengejutkan.
"Bagaimana jika tejadi sesuatu pada anak Leonal, Lauren? Apa yang akan aku katakan pada keluarga mereka!?" bentak Adrian pada Lauren tanpa perasaan bersalah.
Lauren yang terus menerus menutup telinganya dari bentak kan suaminya, seketika mengambil senjata yang dia miliki dari dalam laci.
"Kau bunuh saja aku! Atau aku yang bunuh diri demi kau!" ancam Lauren menatap kearah Adrian.
Lauren meletakkan sempi kecil itu tepat di kepala sebelah kanan.
Adrian yang melihat kejadian tersebut, bergidik ngeri, menelan ludah sendiri memohon pada Lauren.
"Please Bennett! Jangan lakukan ini! Ingat Antoni, aku minta maaf padamu ..." bisik Adrian pelan.
Adrian mendekati Lauren agar senjata api yang ada di tangan istrinya terlepas.
__ADS_1
Lauren menangis sejadi-jadinya, sehingga bahunya bergetar hebat, bahkan menutup wajah sembabnya yang tak kuasa membayangkan kemesraan Stela dan Adrian yang masih terngiang di telinganya.
"Dia mencintai mu, Adrian! Bahkan, dia benar-benar ingin memiliki mu utuh! Kau menyakiti aku, Adrian! Kau menyakiti aku," tangis Lauren dengan bahu bergetar.
Adrian terdiam, wajah mengeras itu seketika melunak, bagaimana mungkin Lauren menjadi selemah ini hanya karena seorang anak kecil ...
Perlahan Adrian memeluk tubuh Lauren, mendekap erat bahu yang masih terasa nyeri pasca operasi.
"Bisakah kita propesional? Aku bekerja Bennett. Aku hanya menjadikan dia sebagai team inti untuk menangkap Stefan. Please ... Mengertilah, sayang ... Aku tidak pernah ingin menyakiti mu sejak awal. Hanya saja, aku mencari cara agar karir ku tidak terancam," jelas Adrian dengan nada pelan.
Lauren masih menangis keras, "Tapi kalian tidur bersama, Adrian ... Kau menyentuhnya!"
Adrian menghela nafas panjang, mengusap lembut punggung istrinya, "Terkadang kita harus mengorbankan kepentingan pribadi dan perasaan hanya untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Bukankah hal itu pernah kamu ungkap kan saat kita akan menghabiskan waktu bersama? Aku hanya menjalankan tugas sebagai seorang komandan Stela. Jangan pernah kamu menangisi aku hanya untuk bocah ingusan seperti dia, Bennett. Sampai kapanpun aku masih tetap mencintai mu! Hanya kamu yang diselingi wanita itu. Kamu tahu, Will juga terancam, sayang. Kita harus berpikir keras untuk menyelamatkan Will, dan hanya mengorbankan Stefan. Ini yang di anjurkan Kennedy. Makanya, tolong pahami aku, Bennett ..."
Lauren mengehentikan tangisnya, kembali bertanya untuk meyakinkan, "Benarkah kau mencintaiku? Kau bersumpah?"
Adrian mengangguk untuk mendapatkan keuntungan semata, dan tidak ingin berdebat dengan Lauren hanya untuk Stela. Sesungguhnya, di lubuk hati terdalamnya hanya bingung untuk memilih. Dia tak kuasa pergi meninggalkan Stela, tapi harus mengorbankan gadis muda itu demi mendapatkan satu keuntungan besar dari istrinya sendiri ...
Dengan membebaskan Will, itu merupakan satu kesempatan untuk memiliki aset besar di perusahaan ...
Betapa besar pengorbanan Stela untuk memperjuangkan seorang Adrian, namun pria Batak itu hanyalah laki-laki yang tak bisa menentukan sikap jika berada di persimpangan untuk menentukan satu pilihan.
Adrian terdiam, wajahnya memerah saat melihat layar handphone miliknya kembali menyala, memberi sinyal dimana keberadaan Stela.
Tentu dihadapan Lauren yang juga melihat layar handphone tersebut. Dia melirik kearah Adrian, menatap tajam kearah pria yang masih memeluk nya.
"Kenapa wajah mu begitu takut, Adrian? Apa kau masih menyembunyikan sesuatu dari ku?" tanya Lauren garang.
Adrian mengusap lembut punggung istrinya, mengecup lembut bibir Lauren, "Aku hanya melacak keberadaan anggota ku, sayang. Bukankah aku ini komandan nya? Dan harus tahu dimana keberadaan anggota ku. Mungkin besok aku akan mencari keberadaan Stefan, karena aku tidak bisa lama berada di sini. Karena keadaan ku, tidak bisa tinggal lama di suatu negara," jelasnya.
Lauren mengangguk mengerti, "Bekerjalah ... Tapi aku tidak ingin ada rahasia lagi antara kita. Aku tidak ingin kau menyembunyikan apapun dari ku," tegasnya.
Adrian mengangguk, beberapa kali jantungnya hampir berhenti berdetak karena ancaman istrinya yang sangat menakutkan.
__ADS_1
'Dimana gadis itu? Kenapa dia menghentikan lagi akses komunikasi nya. Bukankah aku ini komandannya? Syukurlah ... Besok aku akan melakukan perjalanan untuk menjemput Stela ...' gumamnya dalam hati.
.
Sementara Stela kini berada di perjalanan melalui darat menuju Italia. Tentu menggunakan identitas palsu, saat menghadapi pemeriksaan pada paspornya sebagai orang sipil biasa.
Will menghentikan kendaraannya di salah satu tempat peristirahatan sebuah supermarket, setelah menghabiskan makanan selama perjalanan.
"Apa kamu ingin membeli beberapa roti atau kopi, Stel?" tanya Will saat akan keluar dari kendaraannya.
Stela menarik nafas panjang, cuaca yang dingin membuat dia mempertebal jaket yang dia kenakan.
Stela menjawab pertanyaan Will, "Aku ingin kopi latte saja, Ko. Tidak ingin yang lain!"
Will mengangguk, "Kita turun saja. Kamu bisa memilih beberapa makanan. Tapi kita jangan terlalu lama berada di sini. Secepatnya kita harus segera masuk Italia!"
Stela mengangguk patuh, setidaknya niat Will sangat baik kali ini, untuk menyelamatkan nyawanya dari serangan orang-orang Lauren Bennett yang pasti akan melukai Stela, bahkan dengan tega menghabisi nyawa gadis itu.
Tak lama mereka berbelanja, dan Will membayar semua belanjaannya, mereka melaju meninggalkan perbatasan kota tersebut.
Perjalanan panjang Stela dan Will kembali membuka lembaran baru untuk dua insan yang pernah berjanji sehidup semati dalam situasi hati yang berbeda.
"Ko ..."
"Hmm ..."
"Apakah kita akan berkencan?" tanya Stela tanpa sungkan.
Will menoleh, menggelengkan kepalanya, tertawa kecil mendengar celotehan Stela.
"Apa itu masih penting di pertanyakan? Bagaimana dengan hubungan mu dan Adrian? Apakah sudah selesai?" tanya Will karena mengetahui bagaimana perasaan Stela padanya.
Stela menggelengkan kepalanya, "Dia dewasa, tapi terlalu banyak rahasia. Sejujurnya aku tak bisa merebutnya dari Aunty Lauren. Aku sadar, hanya menjadi yang kedua dalam kehidupan seorang komandan yang berpangkat seorang jenderal. Entahlah ..."
__ADS_1
Will mengangguk mengerti, dia menambahkan kecepatan kendaraannya, agar segera tiba dikediaman Fredy yang telah menunggu kehadiran putra kesayangannya.
'I'm going home ...'