Gairah Cinta Kedua

Gairah Cinta Kedua
Kejadian sangat tidak masuk akal.


__ADS_3

Adrian tidak bergeming, wajahnya semakin memerah, keringat dingin membasahi kepala, seketika tubuhnya bergetar hebat. Ada perasaan khawatir yang menyelimuti relung jiwanya.


BHUUUG...!


Pukulan tepat mengenai urat syarafnya dikepalanya, membuat dia terjatuh laki laki bertubuh tegap itu melemah sesaat.


"Aaaaagh....!" Adrian mengerang kesakitan.


Saat Stefan menarik tangan saudara kembarnya untuk meninggalkan restoran, namun menyurutkan langkahnya meninggalkan Adrian sendiri. Perasaan kasihan, dan semua kenangan kembali teringat walau sangat berbeda dengan pasangan kekasih lainnya.


Semua syarat yang dia ajukan, tidak pernah ada bantahan dari Adrian. Walau dia adalah pria yang telah memiliki istri, namun dia sangat baik.


"Kak....!" teriak Stela saat melihat Stefan dan Stevie akan meninggalkan ruang restoran.


Stevie menoleh, "Cepat, Stel... run....!"


Stelah menggeleng, dia mendekati Adrian, membantu pria tampan nan dewasa dengan bantuan Ajudannya yang sejak tadi menolong Tuannya.


"No, I'm still here, you guys go hurry up...!" teriak Stela menegaskan.


Sontak kejadian itu membuat kedua bola mata kembarannya membesar. Stevie dan Stefan yang tidak memiliki waktu banyak, hanya bisa mendengus kesal, menatap tajam kearah Adrian yang mulai siuman. Mereka benar-benar pergi meninggalkan Stela, dan memberi satu jari tengah kepada adik kesayangannya.


Stela terdiam, wajah cantiknya terlihat murung. Bagaimana tidak, disaat mengancam seperti ini, dia harus menerima kenyataan pahit, bahwa saudara kembarnya benar benar berfikir dia tidak memiliki perasaan dan terlalu plin-plan dalam mengambil keputusan.


Stela menolong Adrian Martadinata, meminta ajudan bodoh itu membantunya, "Tolong panggil beberapa pengawal. Kamu jangan diam saja....!" perintahnya.


"Siap laksanakan Nyonya....!" hormat Ajudan membuat Stela menggeram.


"Nyonya, kepalanya Nyonya.... sejak kapan aku menjadi simpanan Tuannya!" Stelah bergumam dalam hati, membantu Adrian untuk duduk dikursi sofa restoran.


Beberapa pelayan, datang menolong Adrian, namun pria mapan itu menolak.


"Biarkan saya disini. Terimakasih...!"

__ADS_1


Pelayan masih terdiam karena Stela benar benar melarang mereka meninggalkan ruangan VIP.


Adrian menatap Stela yang duduk disampingnya, "Apa yang kamu lakukan? Apakah kamu mau meninggalkan aku, baby? Seperti yang dilakukan Calita putri Kennedy? Dia mengkhianatiku seperti yang diucapkannya saat aku berada diluar sana."


Stela terdiam sejenak, matanya tertuju pada layar handphone yang menyala miliknya, "Steiner...???"


Nama kembarannya tertera disana. Stela enggan untuk mengangkat, merasa tidak nyaman dan sangat sulit untuk lari dari pekerjaannya.


"Maafkan aku kak, aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan yang telah ditata sejak usiaku 17 tahun," rundungnya dalam hati.


"Kita kekamar sekarang, Bang? Aku sedikit lelah," gadis itu mengambil handphone miliknya, memasukkan kedalam tas tangan kecil yang bertuliskan huruf H, sebagai pemberian William saat mereka menikah di Bali.


Stela membawa Adrian yang masih merasakan sakit di bagian tengkuknya, dibantu beberapa pelayan, menuju kamar hotel yang menjadi tempat penginapan para Badan Narkotika Internasional.


Malam semakin larut, Ajudan Adrian memilih meninggalkan kamar Komandan untuk beristirahat.


Sementara Stela masih sibuk merawat Adrian, masih dengan manja merangkul gadis itu ditepi ranjang kingsize berwarna putih bersih.


Jemari lentiknya, masih menggenggam erat tangan Adrian, dengan lembut dia membelai rambut pria yang telah merenggut kesuciannya.


"Abang mau aku ambilkan air hangat lagi?" Stela bertanya sambil mengoleskan minyak zaitun untuk menghilangkan memar di tengkuk pria mapan itu.


Adrian menghela nafas panjang, wajahnya seketika memerah, merasakan keanehan pada gadis yang masih enggan beranjak dari tempat duduknya.


Perlahan Adrian, merangkul pinggul gadis itu, agar lebih dekat, memeluk tubuh ramping Stela tanpa ada penolakan.


"Apa kamu menginginkan aku malam ini baby?" Adrian benar benar mendekap tubuh Stela, karena sangat merindukannya dan ingin menebus semua kesalahan yang telah dia lakukan beberapa waktu lalu.


Stela terdiam, wajah cantiknya terasa kaku, namun tidak menolak sentuhan jemari Adrian diatas tubuh indahnya. Matanya terpejam, menikmati keindahan yang diberikan oleh pria mapan nan tampan.


Nafasnya seketika memburu, saat bibir Adrian, menciumnya dengan lembut.


"Bang...." terdengar suara manja yang keluar dari bibir mungil Stela, sambil mengusap lembut punggung pria yang sudah berada diatas tubuhnya.

__ADS_1


Adrian menatap indah mata Stela, pelan dia menelan salivanya, "Kamu sangat indah, baby. Hanya kamu satu satunya yang sulit untuk aku lupakan. Jangan pernah pergi meninggalkan aku, karena aku akan menemukanmu."


Bibirnya bergerilya menciumi cerug leher Stela, membelai lembut tubuh mulus itu dari balik baju yang sebentar lagi akan terlepas. Perlahan namun pasti, tangannya benar benar membelai lembut bagian kenyal milik Stela, meremas hingga membuka perlahan baju kaos yang gadis cantik itu kenakan.


Stela benar benar terbuai oleh sentuhan jemari Adrian, yang sangat berbeda memperlakukannya malam ini. Dia menggigit bibir bawahnya, sengaja menahan rasa geli yang sangat nikmat dia rasakan, saat Adrian Martadinata melepas seluruh pakaian mereka dan membuangnya ke sembarang arah.


Hati wanita mana yang tidak akan terbuai saat, sentuhan jemari lentik Adrian, benar benar memberikan rasa yang berbeda, bahkan mampu membangkitkan gairah cintanya kembali.


"Aaaaagh... bang...!" rengekan manja itu akhirnya keluar dari bibir mungil Stela.


Adrian yang tengah mengeksplor bagian kenyal, dengan jari membuka perlahan bagian bawah yang masih tertutup sangat rapat.


Perlahan, Adrian menatap Stela meminta izin untuk berkunjung kegoa lembab nan basah karena ulah jemarinya.


"Baby... aku menginginkanmu malam ini," kecup Adrian membuat Stela benar benar tak kuasa untuk menjawab.


Adrian tersenyum tipis, perlahan namun pasti, dia membuka lebar paha mulus itu, melihat keindahan yang sangat sempurna.


"Aaaagh... baby... aku akan membawamu terbang tinggi," Adrian melakukan seperti mendapatkan chemistry paling romantis, saat menyentuh mutiara yang tersembunyi, membuat Stela meremas kuat kepala Adrian dibawah sana.


Suara merdu, kepala yang tak kuasa menahan hasrat yang semakin membara, memohon Adrian agar membawanya kemanapun pria itu pergi.


Stela melepaskan sesuatu yang sejak tadi terasa sangat menyesakkan, namun Adrian enggan berhenti sampai disana. Pria bertubuh atletis itu kembali kepelukan gadis nan menawan itu, sedikit mengangkat kaki wanitanya, untuk melakukan penetrasi yang sejak tadi dia tahan.


"Aaaaagh...!" suara merdu mereka saling bersahutan, saat benda keras, panjang itu berhasil memasuki goa sempit yang sangat menggigit.


Adrian kembali menatap wajah cantik Stela, merasakan sesuatu yang sangat berbeda, saat pelukan wanita yang sudah berada dibawahnya semakin erat.


Tidak ada perasaan menolak, namun kenyamanan dan bahagia yang tampak dari raut wajahnya.


Stela benar benar seperti wanita yang kehausan, bahkan sangat bahagia saat Adrian memompa tubuhnya dengan ritme permainan yang semakin meningkat.


Suara keduanya saling bersahutan, remasan jemari Stela semakin membuat Adrian bersemangat memberikan kenikmatan berkali kali pada wanitanya.

__ADS_1


__ADS_2