Gairah Cinta Kedua

Gairah Cinta Kedua
Terjun bebas


__ADS_3

Mereka tiba di pedok area balab motor cross, yang di dalamnya memiliki ritual seperti biasa dilakukan Steiner saat akan melakukan sesi latihan dan kualifikasi, dalam waktu bersamaan sebelum pertandingan.


Stela tengah duduk bersama Stefan dan Stevie dikursi lipat yang telah dipersiapkan oleh pihak manajemen Steiner.


Steiner memakai pakaian balap lengkap, yang memiliki safety luar biasa bagi seorang pembalap profesional.


Mata mereka dikejutkan dengan kehadiran seorang gadis cantik, seusia dengan mereka. Kehadirannya membuat bola mata saudara kembar itu membulat seketika.


"Alea....!?"


"Al-lea...!?"


"Alea...!?"


"Aleeee....aaa!?"


Nama itu yang keluar dari empat saudara kembar itu didepan para team leader pabrikan yang tampak kebingungan saat wanita asing menghampiri pedok mereka.


Petter, management Steiner menghalangi langkah gadis itu untuk masuk kedalam, karena tidak mengenalnya.


"Maaf Nona, ini pedok pembalap. Anda salah masuk ruangan!" usir Petter membalikkan tubuh Alea agar meninggalkan pembalap sekelas Steiner.


Alea yang terkejut mendengar penuturan asisten pribadi Steiner saat dipedok area balap, melirik salah tingkah meminta kepada salah seorang saudara kembar itu untuk memberinya ruang.


Stefan yang melihat kejadian tersebut, berdiri dengan cepat, menghampiri Petter yang meminta Alea untuk segera meninggalkan pedok mereka.


"Silahkan, Nona! Pembalap kami tidak mengenal anda!" Petter terus mendorong tubuh Alea yang ramping tinggi semampai.


"Steiner...!!!" teriak Alea.


"Tunggu!! Masuklah!" Stefan menepuk pundak Petter, menarik tangan Alea untuk masuk kedalam pedok pembalap.


Petter hanya melirik kearah Steiner, menaikkan kedua bahunya, memberi kode bahwa dia tidak bisa berbuat apa-apa dengan keputusan Stefan.


Steiner menggelengkan kepalanya, menyambut Alea sangat dingin yang telah berdiri dihadapannya.


"Hai...!!!" Alea memberi tangan halusnya pada Steiner.


Steiner menepis tangan Alea, tidak memandang kearah gadis itu. Dia terus melakukan pemanasan, untuk mengumpulkan semua energi dan semangatnya menghadapi tantangan diarea balap hari ini.


Stela yang melihat Alea diperlakukan seperti itu oleh Steiner, hanya tersenyum tipis, bergumam dalam hati, "Mana mau Steiner menyambut tanganmu gadis bodoh...!!! Dia sudah membencimu, baby!"

__ADS_1


Stevie justru menarik tangan Alea menyediakan sebuah kursi untuk gadis yang pernah menjadi bala petaka bagi Stefan dan Steiner.


"Kenapa kamu malah berada disini? Bukankah kamu akan kembali ke Swiss?" Stevie mencoba memberi penghiburan pada Alea.


Alea masih memandang Steiner yang sedang mengenakan helm, dan gogle untuk melindungi matanya, hanya tersenyum garing.


Alea kembali menoleh kearah Stevie dan Stefan, terakhir menatap Stela, menelan salivanya berharap akan didekati oleh Steiner yang akan memulai race, "Aku ingin menyelesaikan masalahku dengan Steiner...."


Mendengar penuturan Alea sontak Steiner yang akan menaiki motor balapnya tersedak, sehingga harus melepaskan kembali helm yang menutup mulutnya.


Kreek...!


Steiner melepas penaut helm yang sangat ketat dikepalanya.


"Uhuug-uhuug-uhuug....!!!"


Petter menepuk punggung Steiner berkali-kali, membuat Stela menghampiri saudara kembarnya sedikit merasa panik.


"Are you oke, dear?" Stela memberikan satu kaleng minuman segar yang sejak tadi ada ditangannya.


Steiner melirik kearah Alea yang duduk berhadapan dengan Stevie, sementara Stefan sedikit berselengah karena tidak ingin memperkeruh suasana cinta segitiga antara mereka.


Mengalah... itu yang dilakukan Stefan untuk Steiner, namun di hindari oleh pembalap motor cross terbaik Deutschland tersebut.


"Kak, kamu hati-hati. Fokus, nanti jatuh, patah tulang lagi!" Stela sedikit berbisik, karena perasaan khawatirnya.


Steiner melirik kearah Stela, "Hmm, aku baik-baik saja!"


Steiner kembali mengenakan helmnya, fokus untuk melakukan latihan yang lima menit lagi akan menjalani kualifikasi.


Stela dan Stefan, fokus menatap layar televisi yang menggantung di pedok, menyaksikan atraksi Stefan yang melakukan cased, karena gagalnya dia membawa motor kesayangannya untuk doble jumping tertinggi.


"Ooogh... aku khawatir sama Steiner kak!" Stela menatap Stefan, melirik kearah Petter selaku asisten.


Seorang umbrella girl menghampiri pedok Steiner menanti sang pembalap yang sedang melakukan sesi latihan.


"Berapa menit lagi untuk kualifikasi?" Umbrella girl menoleh kearah Petter, melirik menggoda kepada Stefan yang tengah serius menyaksikan adegan Steiner yang berkali-kali melakukan cased.


"Ooogh no... ada apa dengan Steiner, Pett!?" Stefan berteriak karena suaranya terhambat karena bunyi knalpot pembalap yang sangat memekakkan telinga.


Petter hanya menaikkan kedua alisnya, melirik kearah Alea yang tampak panik, karena merasa tersindir dengan lirikan sinis mata asisten Steiner.

__ADS_1


Burm... burm... preeeenk.... preeeenk...!!!


Steiner kembali kepedok dengan penuh perasaan kacau, merasa tidak maksimal saat akan memasuki sesi kualifikasi.


Petter yang menyambut Steiner, dan team manajemen lainnya, sedikit khawatir karena rider mereka kurang konsentrasi.


"Ada apa denganmu!? Bukankah tadi baik-baik saja!?" teriak Petter saat menyentuh wajah pembalapnya.


Steiner menggelengkan kepalanya, tidak mengerti apa yang dipikirkan, yang penting kehadiran Alea kembali membuat konsentrasi semakin berantakan.


"Lakukan kualifikasi seperti biasa, Stei... nomer one, only one, just it...!" Petter menegaskan pada Steiner.


Steiner mengangguk mengerti, kembali matanya menatap Alea, gadis cantik yang sejak beberapa tahun lalu menghiasi pikirannya.


Steiner jatuh cinta pada Alea? Ya, dia jatuh cinta pada cucu Silutak Panjaitan, yang merupakan putri dari Kennedy dan Sintya.


Sesi kualifikasi MXGP empat stroke, empat tak, 450 cc, kembali diumumkan. Waktu yang diberikan untuk para rider adalah 30 menit untuk mengambil waktu tercepat diarea balap.


Membuat pembalap berdarah Padang blesteran Australia itu, kembali fokus pada area balap.


Lapangan yang basah, membuat dia kembali menggeber motornya semakin kencang, bahkan seperti akan melakukan pertarungan yang sangat besar dalam hidupnya.


Juara... harus juara... hanya itu yang ada dikepala Steiner saat ini. Karena dia tidak ingin tampak lemah, karena memikirkan perkataan Alea yang sengaja ingin bertemu dengannya.


Burm... burm... preeeenk.... preeeenk...!!!


Kembali terdengar suara knalpot racing empat tak, yang memiliki engine 450 cc, membawa tubuh gagah itu kembali melakukan step up indah melayang terbang ke udara dengan penuh percaya diri.


Sesuai harapannya untuk merebut star nomer satu, disesi pertandingan yang akan memacu adrenalin dan menegangkan bagi penonton diarea balap.


"Yeeeesss...!!" terdengar teriakan team leader pabrikan di pedok yang menerima waktu Steiner lebih cepat dibandingkan pembalap lainnya.


Saat step up kedua kali yang dilakukan Steiner, melayang diudara dengan triple jumping, ternyata pria muda berusia 22 tahun yang sudah merebut posisi dua untuk memulai star beberapa jam lagi, ternyata harus menerima kenyataan pahit yang sangat menegangkan.


Genggaman tangannya terlepas dari stang motor, membuat Steiner salto untuk meraih salah satu badan motor yang akan mendarat di tanah.


Namun seketika....


BHUUUUG....!!!


Steiner lebih dulu terjun bebas dari udara ke tanah, ditimpa oleh motor diatas tubuhnya.

__ADS_1


PRAAAAK....!!!


__ADS_2