
Sudah lebih Stela dan Will berada di Napoli tanpa memberi kabar pada keluarga wanita yang masih dalam kekhawatiran keluarganya.
Bagaimana mungkin Stefan dan Stevie tidak mendapatkan kabar apapun dari Stela. Sehingga mereka memutuskan untuk meninggalkan Jerman untuk melanjutkan bisnis kedua-nya.
Setelah pertikaian mereka dengan Leonal saat di apartemen Steiner, yang tidak menyangka bahwa Stefan tidak dapat membawa Stela kembali pada mereka.
"Jika terjadi sesuatu pada Stela, aku akan membenamkan mu, Stef!" tegas Leonal di hadapan anak dan istrinya.
Wajah Stefan memerah, karena tidak menyangka Papa-nya masih suka mengancam, menjadikan dia seperti baby boy yang harus mengikuti semua aturan rumah.
Paras hanya duduk terdiam menatap lekat wajah Leo yang sangat garang memperlakukan Stefan.
"Sudah Pa! Cukup! Bagaimanapun kita harus bisa menemukan keberadaan Stela. Mama khawatir dengan keselamatannya. Dia telah merusak rumah tangga Lauren, dan itu mengancam keselamatannya ..." isak tangis Paras dihadapan suami dan ketiga putra kesayangannya.
Ketika mereka masih terus berdebat, handphone Paras berdering.
"Fredy ..."
Paras menjawab panggilan telepon dari Fredy di seberang sana.
["Ya Fred ..."]
["Apa kabar Paras? Eeeh, Mba Paras!"]
Mereka tertawa terbahak-bahak, mendengar permintaan maaf dari Fredy yang sangat menggelitik lucu.
["Biasa saja, Fred. Bagaimana kabar mu? Apakah kamu sudah dapat menjalin komunikasi dengan Lauren?"]
["Hmm, Stela dan Will ada di Napoli. Jika kalian ada waktu, bisa datang langsung ke sini. Karena anak-anak kita harus di selamatkan. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada mereka berdua, Paras."]
Paras terdiam, air matanya seketika lolos dari pelupuk matanya.
["Terimakasih, Fred. Aku tidak tahu anak-anak akan membuat kita pusing begini! Syukurlah jika mereka ada dengan mu! Karena aku takut, Stela akan terancam oleh Lauren karena merebutkan Adrian ..."]
Fredy menghela nafas berat ...
["Hmm itu yang aku khawatirkan pada anak-anak kita, Paras. Aku tahu betul bagaimana Lauren, dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan sesuatu. Begitu juga Adrian. Kamu tenang, yah! Aku tengah membujuk Will untuk bertemu dengan Albert di Swiss. Lagian Pedro dan Stela berteman baik, kan? Lebih baik mereka di sana dulu, sebelum Lauren menemukan Stela."]
Paras menghela nafas panjang.
__ADS_1
["Baiklah Fred, aku serahkan padamu saja. Karena beberapa waktu lalu, Leonal sangat keras pada Stela. Kamu tahu sendiri bagaimana suami ku ..."]
["Ya-ya-ya, aku sangat memahami bagaimana perasaan kamu, dan kondisi Stela saat ini baik-baik saja. Mungkin ada sedikit kecemasan padanya. Tapi aku mencoba untuk mengalihkan pikirannya tentang hal itu ..."]
["Hmm apakah Stela hamil Fred?"]
["Belum tahu, Paras. Semoga saja itu tidak terjadi. Karena harapan ku, dia tetap melanjutkan pernikahannya dengan Will, dan hidup tenang bersama Opung Maride di Melbourne. Karena aku dengar Opung sudah tidak kuat untuk jalan jauh menyusul kalian. Oya, bagaimana kabar Berlin? Apakah dia masih di Netherland?"]
["Sepertinya Fred. Karena Luqman masih ingin di sana semenjak kepergian Mamanya ..."]
Mereka berbincang-bincang, layaknya sahabat lama tidak bertemu hingga sambungan telepon itu terputus.
Leonal menatap kearah Paras yang dapat bernafas lega, setelah mendengar kabar mengenai putri kesayangannya.
Sehingga Stefan dan Stevie melanjutkan misinya untuk menghabisi Adrian Martadinata Panjaitan dengan cara mereka berdua.
.
Adrian yang belum mendapatkan kabar dari Stela, sedikit khawatir. Pertikaiannya dengan Lauren tak pernah berakhir karena keegoisan keduanya. Mereka benar-benar diam membisu dengan pikiran masing-masing.
"Bennett, aku akan melanjutkan pekerjaan ku! Mau tidak mau kamu harus menyetujui keberangkatan ku untuk melakukan tugas ku!" tegasnya.
"Terserah! Aku tidak peduli dengan pekerjaan mu! Yang pasti aku akan mengirim seseorang untuk mengawasi mu! Sengaja kamu lumpuhkan orang-orang ku, agar kau bisa bersenang-senang dengan anak kecil itu. Apa mau mu? Bukankah dengan kau menggagalkan pernikahan Will dan menghancurkan kehidupan gadis itu sudah cukup untuk membalaskan dendam mu atas kematian Papa mu?" ucapnya tegas.
Adrian terdiam, wajahnya seketika memerah, merasa tidak nyaman atas ucapan wanita yang masih berstatuskan istrinya.
"Sudah lah! Aku pergi!" ucapnya berlalu meninggalkan ruangan Lauren.
Benar saja, saat Adrian meninggalkan rumah sakit Munich, dua orang kepercayaannya mengikuti suaminya. Kali ini dia sudah tidak peduli dengan apa yang akan terjadi, yang penting dia ingin mempertahankan rumah tangganya bersama Adrian Martadinata.
Adrian melirik kearah spion, karena tujuannya sama dengan Stefan dan Stevie saat ini, Napoli Italia.
.
Stefan membawa mobil dengan kecepatan tinggi, sementara Leonal dan Paras, menggunakan jet pribadi keluarga kaya raya itu.
Mobil sport, yang memiliki kecepatan tinggi, menjadikan mereka tampak lebih sempurna, tanpa menghiraukan kesedihan sang Mama sebelum berangkat.
Stevie masih terus menggenggam stir kemudi, sementara Stefan sibuk melacak semua barang haram nya yang akan tiba di Italia beberapa jam lagi.
__ADS_1
"Aku harap, kita akan mendapatkan keuntungan lebih besar dari biasanya!" jelas Stefan.
Stevie hanya bisa mendehem, mendengar celotehan kembarannya.
Stevie menyela celotehan saudara kembarnya, agar berhati-hati, "Aku khawatir dengan keselamatan mu saat ini. Karena kita sudah menjadi incaran bagi pihak internasional. Aku baru mengetahui informasi itu sejak dua hari lalu."
Stefan terdiam, wajahnya memerah karena tidak ingin mendengar hal-hal yang tidak mengenakkan.
"Aku akan menghubungi Will, agar segera membawa Stela ke Swiss. Aku takut terjadi sesuatu padanya. Perasaan was-was ku biasanya akan terjadi sesuatu yang menghancurkan Keluarga Leonal, Bro!" jelasnya, saat melihat ruas jalan tol yang melihat mobil sport melaju kencang menerobos kendaraan mereka.
Namun, dari sisi belakang ada pihak lain yang mengikuti mereka berdua.
"Stef, tolong persiapkan senjata mu! Karena kita dalam bahaya. Ini akan menjadi bomerang untuk kita berdua!" perintahnya.
Stefan mengambil sempi yang dia miliki, memeriksa peluru kemudian menekan tombol on. Namun gerakan mereka sangat lambat sehingga mengancam Stevie yang berada di kanan kemudi.
Seketika ...
Dor ... Dor ... Dor ...
Stevie menekan tombol rem tangan seketika mobil berhenti mendadak, membuat roda mengalami pemberhentian secara mendadak dan memposisikan kendaraan mereka berada di ruas tengah jalan.
BRAAAK ...
Akan tetapi, mobil mereka berdua di tabrak menggunakan mercy yang menyeret kendaraan mereka terpental jauh.
BRAAAK ...
BRAAAK ...
PRAAAAK ...
Mobil yang di kendarai Stevie terbalik, sehingga menerobos bahu jalan.
Gigi emas menyeringai lebar, melihat kondisi mobil sport itu dalam keadaan hancur, bahkan mereka menunggu ledakan dari arah mobil tersebut.
["Sudah kami lakukan sesuai rencana kita, Tuan! Tinggal menunggu ledakan dahsyat saja ..."]
Sambungan telepon tertutup dari arah seberang. Tertawa bahagia karena akan menyaksikan kehancuran empat anak kembar Leonal, dan membuat mereka sengsara seumur hidup hingga ajal menjemput.
__ADS_1
"Jangan pernah mengganggu putri kesayangan ku, bodoh ...!!" gumamnya saat melihat Stevie dan Stefan bersimbah darah dari foto yang dia terima dari orang-orangnya.