
Stela tengah asik berbalas pesan melalui whatsApp dengan Pedro teman sekolahnya, yang merupakan Putra Albert Einstein.
Adrian sejak tadi bolak balik dikamar hotel milik mereka, mencemaskan keselamatan Calita, yang tidak ada kabar sejak mereka berpisah.
Stela menaikkan kedua alisnya, menatap lekat kearah Adrian dengan wajah khawatir, "Abang kenapa? Bukankah Yudas sudah berada disana? Kenapa mesti mencemaskan mereka."
"Yudas tidak menemukan keberadaan Calita, baby...!" Adrian mengalihkan pandangannya kearah jendela.
Tentu menjadi pertanyaan serius bagi Stela didalam benaknya, "Apakah Calita sedang berkencan dengan Will atau Stefan?"
Adrian terdiam, wajahnya seketika berubah merah, "Dia itu wanita polos, baby."
Sontak pernyataan Adrian memancing amarah Stela, "Jadi menurut Abang, aku tidak sepolos dia? Atau jangan jangan Abang sengaja menjeratku disini. Iiiighs, ternyata selain pekerjaan kita ini kotor, otak Abang juga kotor!"
"Bukan begitu maksudnya, Calita itu tidak pernah berada dalam posisi seperti ini. Dia hanya melakukan penyamaran seperti biasa, yang dilakukan kebanyakan orang," Adrian berusaha menjelaskan pada Stela.
Stela mengangguk, "Tadi aku menawarkan diri, Abang tidak beri izin. Sekarang Calita yang melakukannya Abang mencemaskan-nya."
"Wajar aku mencemaskan dia, karena aku komandannya. Jika terjadi sesuatu pada Calita, ini akan menjadi hal paling menyakitkan untuk Kennedy!" Adrian tanpa sengaja menyebutkan nama seseorang yang tidak asing bagi Stela.
"Kennedy....!"
Stela berdiri dihadapan Adrian, memandang kearah komandan dengan wajah sangat garang. Bahkan dia sangat mengenal nama itu.
"Kennedy seorang pengusaha air bus pariwisata, yang tinggal di Singapura?" Stela mencari pembenaran.
Adrian mengangguk, "Aku memiliki kerja sama dengan dia, karena istriku bekerja sama dengan Kennedy untuk air bus Marsedez Benz."
Kejujuran Adrian membuat Stela menggeram, namun dia berhasil menemukan jawabannya.
Stela terdiam, "Aku telah masuk dalam jebakan mereka, ini akan sangat fatal. Aku harus berusaha kabur dari team ini. Jika benar Calita adalah putri Uncle Kennedy, berarti dia mengetahui semua tentang kami, Langhai Group dan pertikaian antara Papa dan mantan istri Kennedy. Ini tidak mungkin, mereka pasti merencanakan sesuatu dalam penangkapan saudara kembarku!"
Stela memilih keluar dari kamar, enggan berdebat dengan Adrian, namun kepalanya sedang memikirkan sesuatu untuk meninggalkan segera meninggalkan team amburadul ini.
"Aku yakin dijebak!"
__ADS_1
Stela menggeram dalam kesendiriannya, mengirim pesan pada Stefan dengan kode.
"Nine, one, one," pesan terkirim kenomor Stefan.
Stela menunggu jawaban dari Stefan.
.
Ditempat yang berbeda, Stefan justru tengah asik menghabiskan waktunya bersama Calita, disalah satu hotel tempat dirinya menginap.
Pesan Stela masuk ke nomor handphone miliknya.
Stefan yang tengah menikmati indahnya syurga dunia, seketika berubah saat membuka pesan dari saudara kembarnya.
Sangat pelan dia mencabut penyatuannya dengan Calita, membuat gadis itu semakin merona malu. Dengan tegas, tangan Stefan berada dileher wanita itu.
"Apakah kalian menjebak adikku? Jujur padaku, siapa Adrian Martadinata?" Stefan benar benar berubah dalam waktu yang singkat.
Calita dengan susah payah melepaskan tangan Stefan dari cengkeraman tangan Stefan, pria yang sangat kejam jika keluarganya merasa terancam.
Stefan tersenyum sinis, merenggangkan cengkraman-nya.
"Cepat katakan...! Siapa Adrian? Apakah dia orang suruhan Kennedy?" Tatapan Stefan penuh dendam.
"Aaagh, ya-ya-ya... Tuan Adrian adalah orang yang diperalat untuk menangkap kamu dan William. Aku tidak pernah sepaham, tapi ini pekerjaan kami, karena kami hanya menjalani perintah petinggi lainnya. Sesuai arahan Tuan Loide!" Calita jujur agar Stefan melunak.
Benar saja, Stefan semakin menggeram, otaknya bekerja dengan sangat baik. Tahu siapa sebenarnya pengkhianat pada bisnis keluarganya.
"Shiiit....! Baik, jika memang ini rencana kalian, tolong lepaskan adikku Stela. Aku tidak ingin adikku terjebak dalam situasi ini. Ini sangat membahayakan bagi keluarga besar ku. Cepat kamu hubungi Adrian, katakan kamu keluar dari team, jika tidak aku akan menghabisi mu disini....!" Tegas Stefan, membuat Calita sedikit takut.
Calita mengangguk setuju, sejak awal dia ingin keluar dari team Adrian Martadinata, apalagi semenjak mengetahui bahwa Stela Chaniago merupakan empat anak kembar pengusaha yang memiliki kuasa.
Stefan duduk disamping Calita, saat gadis itu duduk menghubungi Adrian, sesuai perintah.
Tidak menunggu lama Stefan menghubungi William, untuk membawa Stela kabur meninggalkan Shanghai segera. Tentu ini menjadi kejutan luar biasa bagi mereka, menghadapi musuh dalam selimut selama ini.
__ADS_1
Pengkhianat sesungguhnya seorang yang dipercaya, dan membawa mereka menjadi seperti saat ini.
"Apa niat mereka, sengaja menghancurkan seluruh keluargaku! Apakah Papa mengetahui sepak terjang Uncle Loide? Ooogh my God... ini akan menyakitkan bagi Papa dan Mama. Kini aku terjebak dengan wanita yang berada dihadapanku," Stefan berfikir dalam hati.
.
Disudut kota Shanghai yang sangat berbeda, Stela dan Adrian tengah duduk di restoran hotel, setelah menikmati keindahan malam yang sangat memukau karena keindahan saat berada disana.
Shanghai menawarkan beragam pesona yang begitu menggoda bagi siapa pun yang berkunjung ke sana, mulai budaya tradisional penduduknya hingga kemewahan modernitas masa kini. Shanghai adalah salah satu kota bisnis di Negeri Tirai Bambu. Kemajuan ekonomi Shanghai telah memajukan roda pariwisata kota tersebut.
Hampir semua komunikasi menggunakan bahasa Mandarin. Shanghai memang begitu megah. Banyak sekali gedung pencakar langit dibangun di sana. Shanghai seperti kota-kota di Cina lainnya memang sedang terus menata diri. Perkembangannya begitu pesat.
Cina juga semakin terbuka dan ramah terhadap orang asing. Tak berlebihan bila kemegahan Shanghai sudah bisa disejajarkan dengan kota-kota besar di dunia.
Pesatnya kemajuan ekonomi maupun teknologi di Shanghai belum diimbangi dengan sumber daya manusia penduduknya. Salah satunya bisa dilihat dari minimnya jumlah masyarakat di sana yang menguasai bahasa Inggris.
Tegaknya aturan di Shanghai telah membuat iklim investasi di sana begitu maju. Tentu penegakan aturan tersebut juga membuat kenyamanan bagi para wisatawan yang berkunjung ke sana.
Banyak sekali tempat yang menarik untuk dikunjungi di Shanghai. Salah satunya adalah The Bund. Kawasan ini berada di jantung kota dan merupakan ikon Kota Shanghai. Sungai Yang Pu yang lebarnya sekitar satu kilometer membagi wilayah Shanghai, yakni Pudong dan Pusi. Di sungai tersebut, wisatawan bisa menaiki kapal untuk menikmati keindahan Kota Shanghai.
Semua kapal tersebut berputar di kawasan The Bund. Itu juga yang membuat Kota Shanghai begitu hidup. Kawasan The Bund ditandai dengan hadirnya sebuah menara tinggi yang bernama Pearl Tower yang bentuknya unik. Dari menara yang tingginya sekitar delapan puluh tingkat, wisatawan bisa melihat Shanghai dari atas secara lebih luas.
Tak mau menaiki Pearl Tower, wisatawan juga bisa menikmati keindahan Shanghai dengan berdiri di salah satu sisi sungai tersebut. Pemandangannya juga tak kalah indahnya. Di tepi sungai itu kita bisa menikmati The Bund yang begitu memesona.
Pemandangan bertambah indah pada malam hari dengan berbagai lampu yang bersinar dari ratusan gedung yang berjajar di kedua sisi sungai tersebut. Pancaran lampu dari kapal-kapal yang melintas di sana juga menambah hidup kota ini kala malam.
Stela tengah duduk dengan pengawalan ketat dari ajudan sang komandan Adrian Martadinata.
Sementara Adrian, masih disibukkan dengan laporan kegiatan, tanpa menghiraukan gadis yang berada disampingnya
Seperti biasa, gadis cantik itu mencari makanan vegetarian sesuai yang diharuskan bagi tubuhnya sendiri. Menjaga kesehatan lebih baik dari situasi seperti ini.
Matanya tertuju pada salah seorang pemuda, yang diutus oleh Stefan, tentu saja itu bukan Will, ataupun Stefan yang masih mendekap seorang Calita.
"Hmmm, aku akan menjalankan semua perintah yang diarahkan oleh Stefan. Aku harus kabur."
__ADS_1
Stela mendekati pemuda berwajah blesteran, hampir mirip dengannya.