
Harapan yang terencana terasa sempurna, namun ada saja cara lain untuk merubah keindahan itu menjadi tamparan keras dan sangat memilukan.
Stela masih terdiam, dia tidak ingin menceritakan semua masalah pribadinya pada sang kembaran. Dia hanya sibuk, mendengarkan ocehan Stefan, sehingga membuatnya terlelap.
Mereka tiba di bandara internasional Frankfurt Deutschland. Baru empat jam berada Jerman, kini harus menelan pil pahit setelah mendengar penghinaan dari wanita sekelas Lauren Bennett.
Cemburu? Ya, Lauren Bennett sangat cemburu, saat Kennedy memberikan bukti perselingkuhan Adrian Martadinata selama di Shanghai bersama Stela Chaniago Leonal Alkhairi.
Hati siapa yang tidak akan pilu? Syarat yang terucap sebagai janda muda, harus menerima cacian dan hinaan dari wanita yang tidak mengetahui tentang gadis keturunan Padang itu.
Stela Ten duduk meringkuk dilengan kekar sang kembaran yang selalu setia menemaninya, walau ada sedikit kepiluan hati yang masih terasa sakit, karena perdebatan mereka karena seorang Adrian Martadinata.
Cinta buta yang bersemayam didalam hati seorang Stela, membuat gadis itu kembali tidak bergairah untuk melanjutkan cinta keduanya yang terlarang.
Stefan mengusap lembut kepala Stela, mengecup kening adiknya, "Kamu mau makan apa? Aku pesankan."
Stela menggelengkan kepalanya, "Aku nggak lapar. Aku pengen pulang ke rumah. Aku pengen di Melbourne saja sama Oma Maride dan Mami Lauren. Aku tidak akan melanjutkan kontrak kerjaku. Aku ingin menjadi orang yang bebas melakukan apa saja Kak!"
Stefan yang mendengar keluh kesah adiknya hanya menghela nafas panjang, "Kamu di Napoli saja. Kita akan bertemu dengan Uncle Fredy. Bagaimanapun kita harus mendengar penjelasan dari Uncle untuk William dan Adrian. Dia pasti akan menceritakan semua kisah mereka secara gamblang, tanpa ditutupi oleh kepalsuan untuk pencitraan. Aku minta maaf padamu, karena terlalu percaya sama Will, hingga melukai perasaanmu, Stel!"
Stela terdiam, wajah cantiknya hanya bisa tersenyum pasrah, "Aku tidak pernah membenci Bang Adrian, Kak. Aku cinta sama dia, bahkan aku terjebak dengan syarat ku sendiri. Kalian tahu, padahal aku sudah menutupi hubungan ku dari kalian semua, tapi bisa diketahui oleh Lauren Bennett. Hingga tega dia menghinaku! Dia pikir, pemaksaan awal oleh suaminya, tidak bisa aku kasus kan apa? Aku bisa saja bertindak kejam, bahkan seperti wanita jahat diluar sana, tapi aku tidak ingin hidupku, dirusak oleh pihak ketiga, Kak!"
Tangis Stela pecah dibahu kekar Stefan, menangis tersedu-sedu hingga membuat bahunya bergetar.
"Stel... Stela... kamu nangis?"
Stela masih terus menangis, tidak menghiraukan pertanyaan Stefan.
"Gini... gini... gini...! Kita ke Italia, terus jalan-jalan bersama Stevie dan kekasih ku Abigel."
Stela menautkan kedua alisnya, mendengar penuturan gadis baru lagi, dari bibir Stefan, "Who?"
__ADS_1
Stefan tertawa, "Dia selir hati ku saat di Napoli, tapi aku belum bisa sepenuhnya untuk bermain dengannya. Karena dia seorang pecandu, aku sangat hati-hati untuk melakukan hal itu."
Stela terdiam sejenak, berfikir bahwa akan ada wanita lain yang dikenalkan Stefan padanya suatu saat nanti.
"Bagaimana dengan Calita?"
Stefan tertawa, "Ck, dia terlalu penakut. Tidak seperti Alea cintaku!"
"What...!? Kak, kamu pernah berkencan dengan Alea? Anak angkat Aunty Berlin? Itukan anak Uncle Kennedy dan Sintya? Apa kamu yakin, kamu tidur dengan dia?"
Stefan mengangguk, "Steiner mencintainya, aku memilih mundur, karena dia juga mencintai Steiner. Bukan aku!"
Stela menggelengkan kepalanya, tidak menyangka bahwa saudara kembarnya mengalami cinta segitiga.
"Apa karena pertikaian itu, kalian jadi tidak baik? Hanya karena wanita kalian jadi seperti ini? Kak come on, Kak Steiner seorang pembalap, dia butuh suport. Bagaimana kita menghadiri acara motor cross, dan kita pending kembali ke Napoli, kita tetap disini, bagaimana!?"
Stela menatap manja kearah Stefan yang masih berfikir, "Stevie kapan kembali? Aku hubungi dia dulu. Ide mu boleh juga, kita menginap di hotel saja. Aku rasa balap Steiner juga di lapangan motor cross Sachsenring."
Stela memberi ruang pada Stefan, menghubungi Stevie, sambil menikmati segelas chocolate panas yang dipersiapkan diruang tunggu Bandara.
Stela tertawa lepas, sejenak kepiluan hatinya terlupakan, karena keberadaan saudara kembarnya yang sangat mengejutkan, memiliki waktu yang banyak untuk menghabiskan waktu bersamanya.
.
Hamburg Deutschland, Lauren masih disibukkan dengan kegiatan pekerjaannya, membantu beberapa mahasiswa kedokterannya. Tanpa dia ketahui, putra pertamanya mendatanginya dirumah sakit tempat dia mengisi jam kuliah.
"Mami...!" William memberanikan diri menyapa Lauren..
Lauren menatap kearah Will sedikit berbisik, "Will, what is he looking for me here? Isn't he with his friends?"
Lauren mendekati William, yang masih berdiri didepan pintu, "Masuklah Will, Mami pikir kamu sudah pergi bersama temanmu! Mami masih ada beberapa pekerjaan. Tapi kamu lanjutkan saja bicara, Mami akan mendengarkan mu!"
__ADS_1
William termenung, melihat Lauren kembali fokus pada mahasiswa, dibandingkan dirinya. Itu yang membuat pria bertubuh tegap itu merasa terasingkan, dari keluarga. Bagaimana tidak, Lauren seorang Dokter spesialis anak, Fredy seorang Dokter spesialis kandungan, Adrian walau Daddy sambung seorang Jenderal bintang dua.
Beban bagi Will, yang hanya merupakan seorang bandar narkoba terbesar, bertaraf internasional, yang masih dalam tahap pencarian Badan Narkotika Internasional.
Sekolah yang gagal, karena pergaulan, walau uang banyak, namun tidak bahagia, sama saja kembali ke ziro. Pikiran-pikiran itu yang selalu menghantui pikiran Will selama ini. Adik tirinya seorang laki-laki berniat menjadi team pasukan elite didunia militer.
Will menghela nafas panjang, perlahan dia mengusap wajahnya, menunggu Lauren yang masih sibuk dengan dunianya.
"Hmm, lama sekali!" Will mulai menggeram kesal.
BRAAAK....!!
William membanting kursi yang dia duduki saat berdiri, agar Lauren sadar, bahwa dirinya membutuhkan sosok lembut seorang wanita.
"Will, apa yang kamu lakukan? Mami hanya meminta kamu menunggu sayang!"
"Haaah? Menunggu? Berapa lama aku harus menunggu Mami? Sejak kecil, hingga sekarang, aku nggak pernah mendapatkan perhatian seperti yang mami berikan kepada adik tiri ku! Siapa namanya? Arrrgh... nama adik sendiri aku tidak mengingatnya! Oya, aku kesini mau menanyakan, apa yang Mami lakukan pada Stela!?"
Mendengar putranya membentak keras, Lauren berusaha meredam emosinya, dihadapan mahasiswa yang masih berada dalam ruangannya.
"Will, tenang... Mami masih ada mahasiswa. Bisa kita bicara nanti dan agak santai, baby?"
William mengerenyitkan matanya, "Mami jawab aku! Apa yang Mami lakukan pada Stela?"
Mendengar bentakan putranya yang dengan sengaja membuat dirinya malu, Lauren membanting meja kerjanya.
BRAAAK....!!!
Nafas Lauren terasa sangat berat, wajahnya merah padam, membayangkan foto-foto kemesraan Adrian dan Stela yang dikirim Kennedy. Mata birunya menatap lekat kearah William Einstein atau William Danu Barata.
_____
__ADS_1
MOHON DUKUNGAN KOMENTAR
Terimakasih...🔥🥰