
Wajah cantik seketika berubah menjadi lusuh, bahkan tampak tidak segar karena kelelahan setelah menghabiskan waktu bersama orang di cintai nya. Itu lah yang dialami Stela, harus merasakan sakitnya di tinggalkan saat perasaan cinta mampu mengalahkan akal dan pikiran sehatnya.
Stefan menggendong tubuh adik perempuannya kedalam kamar yang mereka tempati saat ini, meletakkan Stela di atas ranjang kingsize kamar privasi untuk menenangkan adik kembarnya tersebut.
Namun, apa yang kedua pria tampan itu pikirkan, ternyata sangat bertolak belakang akan apa yang Stela layangkan kepada mereka. Saudara kembar yang dia anggap sebagai pelindungnya hingga saat ini, namun mampu menghancurkan seluruh harapan dan keindahannya dalam waktu satu jam.
Stela menatap kedua bola mata Stevie dengan sinis, saat melihat kehadiran saudara kembarnya didalam kamar yang luas, namun hanya dihiasi interior sederhana tersebut.
Dengan lantang Stela benar-benar melawan Stevie dihadapan Stefan tanpa perasaan bersalah dan takut, "Apa mau mu, Stev? Kenapa kamu menghancurkan seluruh harapanku? Apa salahku padamu? Aku mencintai Adrian, aku mencintai Bang Adrian...!! teriaknya sambil menangis meratap.
Stevie yang mendapat teriakan dari Stela, semakin berang, rahangnya menggeram kesal, bahkan mendekati adik kembarnya, meremas kasar pipi saudara perempuan satu-satunya itu.
Kedua mata mereka saling menatap penuh dendam, Stevie berkata tajam, "Dengar Stel, jika Adrian yang kamu cintai itu seorang duda, mungkin aku akan memberi ruang walau dia anak Silutak Panjaitan. Tapi tua bangka itu suami dari Lauren Bennett.... mereka masih sah suami istri! See.... kamu lihat bagaimana khawatirnya dia saat istrinya terluka? Haaaah....!! Come on.... kamu bisa mencari pria lain, jika hanya se*x yang kamu butuhkan....! Aku ingatkan pada mu, jangan pernah menghancurkan nama baik keluarga, jika kamu ingin hidup bahagia sebagai seorang pelakor, 'Perebut suami orang'! Kamu wanita kaya, apa yang kamu harapkan dari laki-laki seperti dia!? Haaah....!!"
Terdengar suara Stevie menggertak Stela dengan sangat keras, karena telah berani berbuat gila dengan suami kerabat bisnis kedua orang tuanya.
Stefan berusaha melerai, namun dia sangat memahami bagaimana Stevie jika tengah berada dalam kondisi emosi seperti saat ini. Dia hanya terdiam, menatap tidak tega apa yang di alami oleh Stela adik perempuan mereka satu-satunya.
Stevie yang memiliki sifat lebih kejam dari Steiner, menjadikan mereka saudara kembar yang sangat kompak untuk saling melindungi dan memahami satu sama yang lainnya, tapi untuk kasus seperti saat ini, Stevie lebih membenci orang yang merebut kebahagiaan orang lain, demi kebahagiaan diri sendiri.
__ADS_1
Stela melepaskan genggaman tangan Stevie dari pipinya yang sudah tampak merah, karena kerasnya tangan kekar saudara laki-lakinya tersebut meremas pipi gadis muda yang tengah patah hati.
"Lepaskan aku.....!! Aku tidak akan pernah memilih kalian lagi! Kalian egois....! Kalian sangat jahat, bahkan tega menyakiti aku! Memisahkan aku...! Pergi kalian! Kalian bukan Papa, kalian hanya orang asing bagiku....!!" tangis Stela kembali terdengar menggema disisi ruangan kamar yang sangat luas.
Stela menangis sejadi-jadinya, melepas rasa sakit hatinya selama ini, bahkan sangat menyesakkan dada saat dia mengatakan, bahwa saudara kembarnya jahat dan menjadi incaran pihak berwajib internasional.
Entah apa yang di sebutkan oleh Stela, sehingga dia tertidur dalam kesedihannya, karena tidak di hiraukan oleh kedua saudara kembarnya yang masih duduk disofa kamar.
Mereka berdua saling diam, sesekali menatap walau berusaha santai dan tenang.
Stevie mematik sebatang rokok, meletakkan kakinya ke atas meja berkata pelan, "Setelah ini, mungkin kita akan berpisah. Aku tidak ingin bertemu denga Stela lagi. Secepatnya kita harus mengirimkan dia ke Melbourne, karena aku tidak ingin berdebat atau membiarkan dia dalam situasi buruk disini. Dia terlalu polos, bahkan tidak tahu apa yang harus dia lakukan jika sudah berhadapan dengan pria yang memiliki istri. Jika dia lemah, maka dia sendiri yang akan hancur. Tapi jika dia kuat, dia akan menerima semua keadaan yang terjadi. Stela sudah memainkan perasaannya disini. Itu yang aku tidak suka, Stef!" jelasnya.
Stefan menggangguk membenarkan ucapan Stevie, hanya bisa menahan diri agar tidak terlihat khawatir dengan kondisi hubungan persaudaraan mereka berempat.
Stefan tersenyum tipis, mendengar ucapan Stevie, "Sepertinya wanita seperti itu, brother....!! Mereka akan terus berharap, sehingga mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan, baru mereka tersandar dalam keterpurukan. Setelah itu mereka bermain menjadi seorang wanita cassanova dan mempermainkan perasaan semua pria, siapa saja...!!!" tawanya tanpa peduli akan didengar oleh Stela yang tengah beristirahat.
Stevie menyandarkan tubuhnya disofa, menarik nafas panjang, mengusap lembut kepalanya memandangi langit-langit kamar yang berwarna putih, membayangkan wajah Marsela. Gadis muda yang berusia 19 tahun, yang pernah dia tiduri untuk pertama kali, lebih memilih meninggalkannya, tanpa mau meminta pertanggung jawaban dari seorang Stevie.
Stevie yang dingin, bahkan kaku seperti robot, mampu tunduk karena pesona gadis belia yang sangat manis di matanya.
__ADS_1
Pertemuan pertama kali di sebuah club', saat ketiga saudara kembar itu menghabiskan waktu setelah mendarat di Singapura.
Pertemuan mendadak antara Stefan dan Alea membuat Steiner tersulut emosi, karena terbakar api cemburu. Tidak menyangka telah di khianati saudara sendiri.
Steiner yang dalam kondisi tidak stabil, membawa Stevie untuk menghabis malam di sebuah pesta anak muda, karena menerima undangan dari salah satu DJ yang live disana.
Mereka berpesta, bahkan sangat mudah bagi seorang Steiner untuk melepas rasa kecewanya dengan seorang gadis cantik yang usianya juga jauh sangat muda dari Alea. Dua insan yang tengah dirundung kesedihan itu hanya bisa menghabiskan malam sebagai anak remaja, tidak menghabiskan malam di ranjang hotel yang di tempati ketiga pria kembar tersebut.
Sangat berbeda dengan Stevie, dia menghabiskan malam bersama Marsela, hingga melewati batas kesadarannya sebagai pria normal yang tidak kuasa membendung hasrat untuk melakukannya walau bukan untuk pertama kali bagi seorang Stevie.
Kehangatan yang diberikan Marsela, mampu memberikan kenyamanan yang sangat berbeda dihati pria berdarah Padang tersebut, namun tidak untuk gadis yang berada di dalam dekapannya.
Gadis itu merelakan kehormatannya direnggut oleh Stevie, hanya untuk menghilangkan rasa penasaran yang selama ini menari-nari dalam benaknya.
Cinta bertepuk sebelah tangan, itu lah kalimat yang tepat untuk Stevie, setelah mereka melewati hari yang panjang dan mendapatkan kenikmatan surga dunia yang tidak pernah berhenti.
Namun, saat Stevie mengungkap kan perasaannya, Marsela justru hanya terdiam dan menghilang, hingga pria sadis tersebut berhasil menemukan identitas gadisnya yang kini sedang berada di Barcelona bersama keluarganya.
Entahlah.... Stevie hanya berharap, sebelum hukuman mati dia terima, suatu saat nanti dia bertemu dengan gadis yang mampu memberikan kebahagiaan padanya.
__ADS_1
"Aaaaagh.... shiiit...!! Apa aku masih menginginkan gadis itu!?" batin Stevie melempar gelas yang ada dalam genggaman kesembarang arah.
PRAAAAK....!!!