Gairah Cinta Kedua

Gairah Cinta Kedua
Karma


__ADS_3

William mengerenyitkan matanya, "Mami jawab aku! Apa yang Mami lakukan pada Stela!?"


Mendengar bentakan putranya yang dengan sengaja membuat dirinya malu, Lauren membanting meja kerjanya.


BRAAAK....!!!


Nafas Lauren terasa sangat berat, wajahnya merah padam, membayangkan foto-foto kemesraan Adrian dan Stela yang dikirim Kennedy. Mata birunya menatap lekat kearah William Einstein atau William Danu Barata.


"Apa maksudmu, Will? Kenapa kamu bawa-bawa Stela dalam permasalahan kita? Mami sudah merelakan kamu menikahi gadis itu, tapi kamu tidak tahu apa yang dia lakukan pada Daddy Adrian! Dia telah berkencan dengan suamiku, William!"


Lauren membentak keras meja kerjanya, dihadapan para mahasiswa yang masih berada dalam ruangannya.


"What!? Mami menyalahkan Stela? Bukankah itu perlakuan Papi sendiri? Alasan dia tidak mengetahui siapa mantan istri ku! Itu hanya sabotase. Dia tahu, dia yang meminta, dia yang menginginkan putri Leonal! Mami harus tahu itu. Jika Mami masih menyerang Stela, aku yang akan membongkar bagaimana keluarga ini dihadapan keluarga mereka!"


William memilih keluar dari ruangan Lauren, dengan membanting pintu sangat keras.


BRAAAK....!


Lauren Bennett terdiam, hatinya terasa sangat sakit, bahkan lebih sakit saat kehilangan Fredy, "Apakah benar Adrian yang menginginkan gadis itu? Tapi kenapa? Apa dia ingin bermain-main dengan ku? Bukankah dia sudah memiliki Antoni? Apa yang dia harapkan dari Stela? Apa cantiknya dia?"


Wajah bulenya memerah, bahkan tampak semakin tak menggairahkan, hanya karena sebuah pikiran, "Apakah ini karma dalam hidupku?"


Perlahan Lauren mendudukkan tubuhnya ke kursi yang ada dibelakang, menutup wajah dengan telapak kedua telapak tangannya.


"Apa benar Adrian yang telah mengkhianati aku? Apakah dia menyesal telah menjadi suamiku? Kenapa Adrian tega mengkhianati aku? Bukankah dia yang berjanji akan selalu setia pada ku, untuk selalu bersama? Kenapa saat ini dia justru ingin menghancurkan semua harapan keluarga kami?"


Lauren masih terus berbicara sendiri, tanpa dia sadari ketiga mahasiswanya, masih tampak kebingungan dengan kondisi dosen pembimbing mereka.


"Bu, kami permisi dulu. Jika ibu sudah tenang, kita akan melanjutkannya lagi."


Ketiga mahasiswa Lauren mohon undur diri, dari ruangan yang tampak panas karena pertikaian sang dosen dan putra kesayangannya.


Lauren mengambil handphone miliknya yang berada di laci meja, mencari nomor telepon pribadi Fredy, ingin bertemu dengannya.

__ADS_1


"Kemana Fredy? Kenapa dia tidak pernah menjawab panggilan telepon dariku?"


.


Sementara di parkiran mobil rumah sakit, Will tengah menghubungi Fredy selaku Ayah kandungnya.


"Aku akan segera ke Napoli, karena aku tidak ingin Mami selalu menyalahkan orang lain, hanya karena Daddy Adrian. Sejak dulu aku tidak pernah menyukai laki-laki itu, Pi! Mami yang salah telah mengkhianati mu! Tanpa memikirkan perasaanku, dan kamu selaku Ayah kandungku! Tua banka itu telah menjebak ku!"-Will.


Fredy hanya tertawa kecil, "Sudahlah, Papi sudah mengetahui sepak terjang Adrian Martadinata. Dulu dia merebut Lauren Bennett dari tangan ku hanya karena janji manis seorang komandan yang tidak berakhlak!"


"Saat ini bagaimana aku harus menjelaskan pada Stela, apa yang telah aku lakukan telah menyakiti perasaannya, Pi!"-Will.


"Hmm, sudahlah. Kembali ke Napoli, jangan terlalu lama disana. Karena akan membahayakan keadaan mu sebagai mantan suami Stela."-Fredy.


"Hmm...!" Will, menutup teleponnya, memasuki mobil, berlalu meninggalkan rumah sakit menuju Napoli.


.


Sangat berbeda dengan Adrian yang tengah bersantai menikmati sebotol sampanye, bersama putra kesayangannya yang berusia lima tahun. Antoni panggilannya, Adrian tengah menikmati keindahan taman bersama putra kesayangannya.


"Baik Daddy... Daddy kapan akan kembali ke Jakarta? Aku sangat merindukanmu, Mami bilang kamu terlalu sibuk dengan dunia pekerjaan yang tidak memiliki waktu banyak untuk ku!"


Putra tampan berwajah blesteran Batak itu, tampak sangat merindukan sosok seorang Ayah.


"Hmm aku terlalu sibuk, hingga melupakanmu, boy. Tapi jujur aku katakan, aku sangat merindukanmu."


Adrian mendekati putranya, memeluk tubuh mungil yang tumbuh dengan sangat sehat dan cerdas. Kepintaran seorang putra yang kurang dalam perhatiannya, menjadi satu kesalahan terbesar yang dilakukan Adrian dan Lauren saat ini, dan akan menjadi bumerang suatu saat nanti.


Bom waktu yang akan meledak sewaktu-waktu, seperti halnya seorang William yang tumbuh dewasa tanpa pengawasan kedua orang tua.


Adrian menggendong putra kesayangan, membawa duduk dipangkuannya. Seketika terlintas bayangan seorang gadis cantik Stela Chaniago Leonal Alkhairi.


"Maafkan aku, Stel! Aku akan menjemputmu, melanjutkan misi kita sebagai team Badan Narkotika Internasional yang akan membawa Stefan dan Will dalam keadaan hidup. Ini merupakan pencapaian karir ku, dan aku harus super tega dalam mewujudkan semua impian ku untuk menjadi seorang Jenderal bintang empat."

__ADS_1


Adrian hanya memikirkan diri sendiri, sebagai seorang Bapak, Adrian bukanlah sosok yang baik, begitu juga halnya dengan Leonal dan juga Kennedy.


Mereka terlalu berlarut dalam dunia bisnis dan pekerjaan, tanpa memikirkan perasaan anak-anak demi sebuah ambisi.


Adrian menghabiskan waktu bersama putra kesayangan. Namun kebahagiaannya harus pupus karena kehadiran Lauren yang hadir seperti serigala betina yang siap menerkam Adrian saat melihat suami dan anaknya tercinta tengah menghabiskan waktu.


"Apa maksud mu meminta Will untuk meninggalkan Stela dua hari stelah pernikahannya Adrian! Jawab aku!"


Adrian dan Antoni tampak kaget, wajah mereka saling menatap kebingungan.


"Boy, silahkan kamu tinggalkan Mami dan Daddy. Sepertinya Mami sedang memakan bara api hingga membuat tubuhnya terasa panas!"


Adrian menggoda puncak hidung Antoni, agar berlalu meninggalkan mereka berdua.


Antoni berlari tampak ketakutan, saat matanya menatap Lauren yang tengah berkacak pinggang dihadapan Adrian tanpa mau berbasa-basi. Langkah kecilnya mencari keberadaan baby sitter agar membawanya kedalam kamar, karena tidak ingin mendengarkan pertikaian kedua orangtuanya.


"Jawab aku, Adrian....!!!"


Adrian tersenyum tipis, menatap wajah cantik Lauren yang masih tampak seperti serigala betina pemakan segalanya.


"Apa yang dikatakan putramu? Aku tidak melakukan apapun Bennett!"


Adrian tersenyum, membuang pandangannya dari Lauren, mengambil sebatang rokok, dan mematiknya dihadapan istrinya yang tidak menyukai dengan asap rokok.


"Aku sudah dapat memastikan, kau telah menjebak putraku untuk mengambil satu keuntungan demi karirmu! Kau keterlaluan Adrian! Ternyata kau Daddy tiri yang kejam untuk Will!"


Lauren tampak semakin emosi melihat tingkah laku Adrian yang tampak tenang, bahkan sangat santai menghisap rokoknya dalam.


"Oya? Aku menjebak Will? Bukankah yang dia butuhkan uang untuk bisnis haramnya? Apa kau tidak mengetahui bagaimana Will di luar sana? Apa yang dia lakukan sangat memalukan! Kau tahu Bennett?"


Adrian masih tampak seperti meremehkan seorang Lauren yang berhasil dalam karir, namun telah gagal mendidik putra kesayangan William Einstein.


Bola mata Lauren membulat seketika, wajah cantiknya memerah tidak terima disalahkan atas kegagalannya dalam mendidik William.

__ADS_1


"Hoh... berarti kau telah menertawakan aku sebagai orang tua gagal? Bukankah itu juga karena ketidakpedulianmu pada Will? Kini kau menyalahkan aku?"


Lauren mendekati Adrian semakin menggeram, bahkan ingin sekali membenamkan kepala sang jenderal yang benar-benar bodoh, bahkan tidak mampu mengakui kegagalannya dalam mendidik putra sambungnya dengan baik.


__ADS_2