Gairah Cinta Kedua

Gairah Cinta Kedua
Berarti dia anak tiri Abang...?


__ADS_3

Stela hanya terdiam, "Kali ini, aku harus siaga satu. Pasti Adrian akan menemukan keberadaan ku."


Stela hanya memandang dari kejauhan pria oriental yang pernah dia nikahi. Berjanji didepan altar, sesuai kepercayaan Stela, yang memilih mengikuti ajaran sang Papa. Dikeluarganya, hanya Stela yang menjadi pengikut keyakinan Leonal Alkhairi Baros, ketiga saudara kembarnya memilih mengikuti keyakinan sang Mama, Parassani.


William memberikan satu gelas wine yang sudah dia racik menjadi lebih soft untuk menemani keheningan mereka berdua. dessahan Stefan bersama Calita, sedikit mengganggu pendengaran kedua insan yang hanya terdiam di sofa kamar hotel.


"Hmm, Stel... Koko minta maaf sama kamu, karena kejadian waktu itu. Bukan maksud Koko ingin menyakiti mu, tapi memang keadaan kita harus berpisah. Bagaimana hubunganmu dengan Pak tua itu?" Will menatap satu titik tanpa menoleh pada wanita yang pernah menjadi istrinya.


Stela hanya diam, wajahnya menekuk, membayangkan kesakitannya saat Will menceraikan, hingga diperkossa oleh Adrian sang komandan.


"Aku bingung harus jawab apa sama Mama, Ko. Apa yang harus aku katakan pada mereka berdua tentang status aku. Ternyata Koko telah menceraikan aku," Stela menunduk.


Wajah cantiknya memerah menahan air mata, yang tidak ingin dia tumpahkan hanya untuk pria seperti Will.


Will tertegun, menelan salivanya, menatap sang mantan istri sangat menarik walau tampak semakin dewasa.


"Pantas saja Adrian menyukai wanita ini. Walau seperti anak-anak, tapi sangat cantik," William bergumam dalam hati.


"Stel...!" William kembali mengalihkan pandangannya.


"Ya!" Stela menatap Will dengan tatapan penuh tanya.


Stela sibuk berbalas pesan dengan Steiner dan beberapa rekannya yang menayangkan keberadaannya melalui whatsApp, tanpa perduli dengan William yang masih sibuk mencuri perhatian.


Terdengar suara pintu terbuka, Stefan keluar dari kamar, mendekati Stela, menggunakan handuk kecil melilit di pinggangnya. Calita menyusul langkah Stefan dari belakang, walau agak sungkan dihadapan Stela.


Stela tengah bersantai di sofa, terperangah menatap Stefan yang tersenyum penuh perasaan bahagia cinta, bahkan kepalanya diterbangi kupu-kupu.


"Kak, aku pulang ke hotel yah, hmmm," Stela menyandarkan tubuhnya merasakan sesuatu yang membuatnya semakin gelisah.

__ADS_1


Stela berdiri, namun William menahan lengan adik Stefan dihadapan sang mantan kakak ipar.


"Kiss me!" William berbisik pelan.


"Are you serius? Bukankah kita sudah bercerai Ko? Aku sudah cukup sakit dengan perbuatan Koko, hingga aku mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan! Sekarang Koko seenaknya minta cium?" Stela menegaskan ketelinga William.


Jantung Will seperti rasa tertampar, karena kebodohannya, merasakan penyesalan yang teramat dalam, "Bagaimana bisa aku menerima uang sebanyak itu memberikan istriku pada Pak Tua Adrian Martadinata?" dia bergumam dalam hati.


"Aku balik!" Stela memberanikan diri mengecup kepala William yang masih diam membisu, berlalu meninggalkan hotel tempat Stefan menginap.


"Stel... Stela...!" William berharap malam ini menjadi malam yang panjang bersama Stela agar dapat melupakan wanita yang pernah mengisi hatinya, namun bukan Will namanya, dia harus menjaga rahasia karena tidak memungkinkan untuk membuka semuanya dihadapan saudara kembar itu.


Stela berlalu, dengan perasaan bimbang, berjalan sendiri menuju lift setelah berpelukan mesra dengan Stefan, namun tidak dengan wanita bernama Calita.


Pintu lift terbuka, mata Stela beradu tatap dengan Adrian, yang ternyata telah mengepung hotel tempat Stefan dan William menginap, tanpa sepengetahuannya.


"Jangan menghubungi Stefan, karena tempat ini telah dikepung. Lebih baik kamu ikut dengan aku, baby...!" Adrian menutup mulut Stela, namun Stela mampu memberikan sinyal pada Stefan dan juga William didalam kamar yang belum diketahui keberadaannya.


"Bang... apa kamu mau menyakiti aku?" Stela mendengus kesal, menyikut perut Adrian yang berada dibelakangnya.


"Bedebah dengan semua pekerjaan! Aku sejak tadi mengkhawatirkan mu, baby!" Adrian berbalik, menyandarkan Stela kedinding lift, mellumat bibir tipis gadis itu dengan sedikit memaksa.


"Hmm...!" Stela meronta, karena saat ini belum waktunya untuk dia bersenang senang, dalam keadaan saudara kembarnya terancam.


Adrian menekan tombol menuju roftop.


"Bisa kita bicara? Agar kamu tidak merasa bimbang dan bingung?" Adrian melepaskan ciuman mereka, mengusap lembut kepala gadis itu.


Stela mengangguk patuh, dia tidak ingin hidup dalam penuh teka teki dan tekanan seperti saat ini, "Apa ada yang mengganjal dihati Bang Adrian? Semenjak kami mengetahui Uncle Kennedy!" dia hanya bergumam dalam hati.

__ADS_1


Stela merapatkan tubuhnya pada Adrian, merogoh handphone miliknya, menekan tombol off agar tidak menggangu kebersamaan mereka malam ini dilantai atas gedung hotel.


Stela kalah, tak bisa menghindar. Bagaimanapun dia harus membicarakan semua, kenapa mereka dipertemukan, dan atas dasar apa.


Stela kaku menatap Adrian. Ada perasaan kesal pada diri sendiri, merasa tak di hargai oleh pria yang telah merebut kehormatannya, bahkan telah berani membuatnya menjadi candu.


Adrian menggandeng tangan Stela sangat erat, agar tetap tenang dan merasa nyaman seperti tadi pagi sebelum mereka berpisah.


"Lepas Bang!" Stela merasa kurang nyaman saat Adrian menggandengnya dengan sangat erat, saat keluar dari lift.


"Kamu diam! Aku tidak akan menyakiti mu, baby!" Adrian berjalan dihadapan Stela tanpa menoleh.


Stela mengikuti langkah Adrian dengan tangan masih bergandengan.


Stela merasa terjebak kali ini, "Aku harus bagaimana? Mengatakan pada Stefan, semoga dia sudah melihat sinyal yang aku kirim barusan!"


Adrian mengehentikan langkahnya, berdiri ditepian gedung, dengan pemandangan malam, yang hanya memberikan cahaya lampu kota yang sangat indah.


Stela tersenyum tipis, melihat pemandangan indah, dengan cuaca yang semakin dingin, "Apa yang ingin Abang katakan? Apakah tentang hubungan Abang yang mengkhianati aku dengan pertemuan diam-diam itu? Kenapa Abang justru tega membohongi aku? Atau jangan-jangan Abang dan Will saling mengenal? Kerena dia tidak seperti biasanya. Jika iya, tinggalkan aku!"


Adrian tersenyum tipis, mendengar kalimat yang dilontarkan Stela padanya, "Kenapa kamu begitu cerdas? Apakah Wiil sudah mengatakan padamu? Siapa dia sebenarnya? Bagaimana dia bisa datang malam itu ke apartemen mu? Dan bagaimana dia ingin memelukmu!"


Stela menoleh kearah Adrian tidak mengerti, "Apa maksudmu? Apakah kalian sengaja menjebak aku dan keluargaku? Apa salah keluargaku pada kalian! Siapa William? Apakah dia anak dari Aunty Lauren Bennett dan Uncle Fredy? Setahu ku Uncle Fredy memiliki darah campuran. Cina dan Jerman, tolong jelaskan pada ku, Bang!"


Adrian bertepuk tangan, saat Stela mengetahui siapa sebenarnya William, "Ternyata kamu selain cantik, kamu juga pintar dalam menyelidiki suatu masalah. Ya, William Danu Barata adalah nama samaran yang dia buat setelah memutuskan untuk meninggalkan Jerman. Aku yang membantunya, dalam pelariannya meninggalkan Aunty Lauren, dan aku juga yang telah membayarnya mahal untuk mendapatkan mu, baby."


Kedua bola mata Stela membulat, tidak percaya atas pernyataan yang dia dengar malam ini tentang siapa William sesungguhnya, "Tidak-tidak-tidak, ini tidak mungkin, jika Will adalah anak Uncle Fredy, berarti dia anak tiri Abang?"


"What....?!"

__ADS_1


__ADS_2