Gairah Cinta Kedua

Gairah Cinta Kedua
Aku ingin kita pisah...!


__ADS_3

Stela menatap tidak suka pada pernyataan Adrian, "Anda senang...! Saya musibah, Tuan...!"


Helikopter kepolisian Shanghai, masih berada diatas kepala mereka, untuk mencari jejak Stefan dan Will.


Stela dan Adrian masih bersembunyi dibawah tower, yang dilindungi oleh watter heater berada diatas kepala ke-duanya. Dia melepaskan dekapannya dari pria gagah tersebut, ingin sekali dia berteriak, meminta agar membawanya bersama dengan mereka, tanpa harus memikirkan perasaan sang komandan yang ternyata pria bodoh.


"Pangkat saja tinggi, ternyata otak kosong!" Stela mendengus kesal.


"Baby, kenapa kamu kasar sekali? Bukankah kita sudah sangat dekat? Kok kamu jadi berubah, setelah tadi pagi?"


Adrian hanya menatap satu titik, tidak menyangka gadis yang dia kagumi mampu mengatakan bahwa dirinya bodoh.


"Shiit... baru kali ini aku dikatakan bodoh oleh seorang anak kecil, bagaimana jika dia menjadi istri? Pasti selalu beradu mulut, karena keegoisannya sangat mengerikan."


Helikopter masih berada diatas kepala mereka, beberapa pengumuman terdengar dari atas mereka, seketika dari balik gedung sebelah kanan terdengar suara bisik-bisik seorang pria dan wanita.


Sontak Stela bergegas mendekati suara yang sangat khas ditelinganya, sempi kecil ada dalam genggaman, mengendap-endap bak seorang yang akan menangkap pencuri.


"Siapa disana...?"


Stela menodongkan senjata pada Stefan dan Calita yang tengah meringkuk disudut tembok agar tertutup dan tidak terlihat dari arah atas.


"Stela...!"


Stefan membelalakkan matanya, meletakkan telunjuk kebibir tipisnya agar tidak bersuara keras.


"Ngapain kalian disini? Aku pikir kalian udah mati didalam kamar karena ledakan itu? Koko Will mana? Kenapa kalian berpencar?"


Stela celingak-celinguk mencari keberadaan William, yang tidak diketahui keberadaannya.


Namun keberadaan mereka yang ada diatas gedung dapat terlihat dari atas helikopter, berdampak pada keselamatan kedua pasang insan yang tengah berlindung tersebut.


"Jangan bergerak....! Kalian sudah dikepung...!!"


Terdengar suara peringatan dari arah atas, membuat Stela mengangkat kedua tangannya, tanpa melepas sempi yang masih dalam genggaman. Cahaya merah sniper tepat berada di kepalanya, membuat Adrian berusaha untuk mengalihkan perhatian pihak kepolisian untuk menyelamatkan kekasih hatinya.


Adrian berlari kencang kearah timur atas gedung, agar perhatian kepolisian mengarah padanya.


Tentu itu menjadi kejutan luar biasa bagi Stela dan Stefan, membuat ke-tiganya segera berlari cepat, menuju arah barat.


Stela tidak menyangka kebodohan yang dilakukan Adrian, tapi dia harus menyelamatkan Stefan dan Calita agar segera meninggalkan Shanghai.

__ADS_1


Mereka berhasil menemukan tangga gawat darurat yang terletak disudut kanan gedung, harus menuruni anak tangga dengan langkah cepat. Stela masih memikirkan keadaan Adrian dan juga Will, yang terpencar dari dirinya.


Stefan menunggu Stela yang sengaja memperlambat langkahnya, sedikit khawatir karena takut terjadi sesuatu pada adik kembarnya.


"Stel... hurry up...!"


Terdengar suara Stefan dari tengah tangga sambil menggandeng tangan Calita yang terengah, karena merasa kelelahan. Wajah pucat keduanya, terlihat jelas saat akan melewati anak tangga kembali.


Calita bergerak cepat, meninggalkan Stela, mengajak serta Stefan agar segera meninggalkan gedung hotel yang sangat membahayakan mereka.


Stela terus menuruni anak tangga, berharap melihat Adrian, atau Will dari arah atas.


"Tuhan, selamatkan bapak dan anak itu...! Aku tidak ingin mendengar berita duka dari mereka berdua."


Benar saja, saat Stela masih memikirkan ke-duanya, saat itu juga dia semakin terancam.


Dua orang kepolisian berwajah oriental, mengejarnya, menuruni anak tangga dengan sangat cepat.


"Oooogh... damn it...!"


Bergegas Stela mengarahkan kembali sempi kecil yang berada digenggaman.


Dor... dor... dor...!


Stela menuruni anak tangga, tanpa menghiraukan panggilan dari arah atas, membuat dia dikejutkan dengan suara tembakan yang mendesing ditelinganya.


Entah ada kekuatan darimana, ke-tiganya mampu menuruni anak tangga dengan langkah cepat, keluar dari tangga darurat, mencari perlindungan dibalik mobil yang berjejer diparkiran.


Terdengar suara klakson panjang, dari arah depan, terlihat wajah oriental Will tengah melambai kearah mereka.


"Cepat tinggalkan tempat ini...!"


William berteriak, agar mereka memasuki mobil yang dia kendarai.


Stela memasuki mobil, dengan nafas tersengal-sengal, keringat bercucuran, bahkan tangannya terasa keram, karena masih menggenggam sempi.


Berkali-kali dia mengusap keringatnya yang bercucuran dikepala membasahi wajah blesterannya, membuat Stefan segera memberikan tisyu pada adik kembarnya.


"Kita akan kemana Will?"


Stefan mengeluarkan suaranya dengan terbata-bata.

__ADS_1


Will mengacuhkan pertanyaan Stefan, matanya semakin liar mencari keberadaan seseorang yang dia janjikan akan bertemu diarea persimpangan jalan.


Stefan sedikit curiga, karena merasa mereka akan kembali terjebak, "Kita nunggu siapa disini? Bukankah kita harus segera meninggalkan Shanghai?"


Will menoleh kearah Stefan, "Aku menunggu Papa tiriku, Adrian Martadinata, Pak tua itu...!"


"Apa....!?"


Kalimat yang keluar dari bibir William, sontak membuat Stefan dan Calita terlonjak kaget.


Will mengangguk, "Maaf, aku tidak pernah menceritakan siapa diriku pada kalian."


Matanya mengarah pada Stela melalui kaca spion tengah, yang beradu tatap dengan wajah menekuk diam. Stela enggan berkomentar, karena hatinya semakin merasa iba pada diri sendiri, harus menerima kenyataan pahit tentang kejujuran keluarga Lauren Bennett.


"Aku mau kita pisah, Bang..!" Stela bergumam dalam hati, merasakan kepedihan yang sangat luar biasa.


"Aku harus kembali ke Jakarta, atau ikut dengan Stefan, meninggalkan team gila ini. Jika lama-lama aku ikut komandan gila itu, aku akan ikut gila karena kelakuannya. Ini tidak benar, aku harus pergi sekarang, sebelum semua terlambat!"


Stela merebahkan tubuhnya, dijok belakang penumpang, melirik kearah Calita yang masih sibuk mengatur nafasnya.


"Hei, kenapa kamu tidak cerita bahwa kamu putri tiri dari Kennedy? Kamu tahu, hotel kalian dikepung karena perintah Papi mu! Atau jangan-jangan kamu sengaja menjebak saudara kembar ku? Apa kurang puas kamu menjadi mata-mata kami selama ini!"


Calita terdiam, dia tidak ingin melanjutkan perdebatan, karena semua sudah menjelaskan pada Stefan setelah kebersamaan mereka beberapa waktu lalu.


"Ssst..."


Stefan hanya meminta adik tirinya jangan memperkeruh suasana, karena keadaan belum stabil.


"Aku tidak terima kak...! Dia ini jahat! Selama ini dia selalu memberikan laporan pada Bang Adrian, bahkan dia tidak memiliki perasaan, dan pernah menendang ku!"


Stela merungut, mengejek kearah Calita, tanpa sengaja, dia melihat kedatangan Adrian yang mendekati mereka, memasuki mobil dari arah pintu tempat kekasih baru Stefan duduk.


Adrian masuk dengan cepat, menutup rapat kaca mobil, dengan nafas terengah.


"Selamat malam Tuan Adrian! Anda memiliki hutang nyawa pada saya! Berarti anda tidak bisa menangkap saya, dan kita berlima menjadi team untuk segera meninggalkan Shanghai segera, sebelum semua terlambat!"


Stefan tertawa tipis, menoleh kearah Will dengan wajah kemenangan.


Adrian hanya terdiam, "Saya akan tetap menjalankan tugas, karena kalian sudah masuk dalam daftar penangkapan internasional!"


Stefan hanya tersenyum tipis, tidak merasa takut, ataupun goyah, apapun yang akan terjadi, tetap akan dia hadapi, sebagai bentuk perlawanannya terhadap aturan yang selama ini di ungkapkan oleh Leonal pada keempat anaknya.

__ADS_1


"Semua peraturan itu untuk dilanggar, bukan dipatuhi...!"


__ADS_2