
Mata Stefan tertuju pada seorang gadis yang menyamar menjadi wanita malam, dengan menggunakan topeng seksi bak penari telanjang.
"Hmm, mereka sudah berada disini... Brengsek..!!"
Stefan tersenyum, menikmati seloki vodka ditemani dua bidadari sesuai seleranya malam ini.
Mata wanita bertopeng, sinis kearah Stefan, sengaja dia merebahkan tubuh pria gagah itu disofa, dengan sangat mudah dia duduk dipangkuan kembaran Stela Chaniago.
Stefan dengan sangat mudah mempermainkan jemari lentiknya, pada bagian yang tersembunyi. Pria blesteran Padang itu melihat dengan jelas wanita dihadapannya semakin bergairah.
"Anda salah sasaran Nona," Stefan berbisik ditelinga gadis yang meliuk-liukan tubuhnya diatas pangkuan pria yang lihai memainkan peran.
"Hmmfh....!"
Nafasnya tersengal, ingin mengakhiri permainan, namun terjebak pada tuntutan pekerjaan yang sangat menjijikkan.
Stefan tersenyum tipis, melihat gadis yang masih menikmati sentuhan jemarinya, berbisik ketelinga Yu Jing Zhou, agar menyediakan kamar special untuknya.
Tentu dengan senang hati, penuh semangat Yu Jing Zhou memberi perintah kepada dua pengawalnya, untuk mengantarkan Stefan ke kamar khusus tamu VIP.
William yang masih belum mengetahui sepak terjang mantan Abang ipar, mengizinkan Stefan mencuri start lebih dulu.
Stefan menggendong tubuh Nona yang berada dipangkuannya dengan gaya bridal, tanpa melepaskan ciuman mereka sepanjang lorong menuju kamar yang telah tersedia.
Wanita mana yang tidak terlena karena sentuhan jemari lentik Stefan. Saat menerima sentuhan diawal, serasa tidak akan mampu melihat dunia sebelum meraih puncak menembus nirwana.
Pintu tertutup dengan sangat cepat, dan terkunci secara otomatis.
BHUUUUG....!!
Stefan menghempaskan tubuh gadis itu diatas ranjang, menarik paksa topeng yang dia pakai.
"Ooogh...!" Calita orang kepercayaan Adrian berada dalam tawanan Stefan.
"Siapa yang memintamu disini! Jawab aku....!!!"
Calita menelan saliva, hanya terdiam tidak mau menjawab, hanya berbisik dalam hati, memuji ketampanan pria yang ada dihadapannya.
"Ooogh My God, pria tampan yang sempurna."
Hanya kalimat itu yang dapat Calita ucapkan, walau hanya dihati saja.
__ADS_1
Stefan menarik kasar tubuh Calita yang semakin mundur kebelakang.
Ranjang kingsize, disinari cahaya ruangan sedikit remang, membuat Stefan berfikiran sedikit penasaran, karena jemarinya saat bermain merasakan sesuatu yang berbeda dari biasanya. Goa lembab, kenyal, semakin basah, membuat pikirannya semakin traveling ke planet yang berbeda.
"Hmm, karena kamu telah berani bermain dalam lingkungan ku, lebih baik kamu melayaniku, baby," Stefan menarik paksa tubuh Calita yang setengah telanjang sejak tadi, memulai aksinya dengan serangan lebih agresif.
Calita wanita tomboi itu tidak mampu melawan, tubuhnya memberi respon yang berbeda dari sentuhan jemari Stefan sejak awal dan menikmatinya.
Entah setan apa yang menari dalam benak keduanya, saat Stefan membuka, memberikan penetrasi luar biasa pada gadis itu untuk pertama kali.
Tangan lembut Calita meremas kuat punggung Stefan, menahan sakitnya diterobos untuk pertama kali dengan senjata yang memporak porandakan benteng kesuciannya.
Stefan terdiam, menatap lekat wajah Calita yang terpejam, saat senjatanya berhasil masuk kedalam goa sempit tanpa penghuni, bahkan ini untuk pertama kali bagi gadis tomboi yang pernah bersitegang dengan kembarannya.
"Apa kamu masih virgin?" Stefan menahan rasa seperti akan ada ledakan didalam sana, karena jepitan goa sangat menggigit, membuat dia enggan melakukannya dengan kasar.
Calita mengangguk, air mata mengalir, membuat Stefan merasa bersalah.
"Maafkan aku," Stefan mengecup kening Calita, namun tidak menghentikan aksinya dibawah sana untuk terus berjuang, membawa wanita itu terbang melayang bersama menuju puncak himalaya, bahkan mampu membangkitkan gaiirah menuju nirwana.
Jeritan manja Calita, membuat Stefan bergerak dengan ritme permainan yang dia rasakan sangat berbeda.
"Hmm."
Keduanya terlarut dalam perasaan, tanpa menghiraukan pekerjaan. Mereka hanya menikmati keindahan malam dengan sentuhan dan senyuman bahagia, menjadi kepuasan yang berbeda bagi Stefan, tentu ini menjadi dilema bagi Calita.
"Apa yang kamu lakukan disini? Dimana Stela kembaranku?" Stefan masih memeluk tubuh Calita.
Calita menarik nafas dalam, "Aku menerima tawaran untuk menjadi wanita malam disini, ternyata aku terjebak dalam penyamaran yang fatal. Untung itu kamu, jika William? Aku bisa dihabisi oleh Stela."
Stefan melepas pelukannya, dia tertawa mendengar celotehan Calita, "Apa kalian bersaing dalam pekerjaan ini? Siapa namamu?"
Sontak membuat Calita menelan ludah dengan sangat kasar, dia meraih sesuatu, kemudian melempar kearah Stefan.
BHUUUUG...!
"Aaaaugh..." sepatu heels yang dia kenakan, melayang mengenai punggung Stefan.
"Sakit...!" Stefan kembali berteriak.
Calita semakin kesal, saat melihat pria dihadapannya, dengan santai memasang boxer dan duduk disofa.
__ADS_1
"Heiii bro...! Kamu sudah berhasil menerobos masuk kedalam sini, tapi kamu tidak tahu namaku!" Calita menatap lekat Stefan.
Stefan semakin tertawa, "Aku tidak mengenal namamu, tapi aku tahu kau kacung dari suami Lauren Bennett."
Calita menautkan kedua alisnya, "Siapa dia? Aku hanya team narkotika, sama seperti kembaran mu."
Stefan hanya mengangguk, dia tidak ingin melanjutkan cerita mereka. Baginya, sudah berhasil membuat satu lawan lumpuh, itu sangat memuaskan untuk pria seperti Stefan.
"Hmm, jawab aku. Siapa namamu?"
Stefan menyalakan rokok dan memesan beberapa makanan pada para pelayan melalui telfon ruangan mereka.
"Calita," kepalanya menunduk setelah menyebutkan nama, enggan membuka selimut yang menutupi tubuh mulusnya.
Stefan mengangguk, "Nama yang bagus. Apa untungnya kamu dijadikan pemancing bahkan mata mata seperti ini? Untung ketemunya sama aku. Jika tidak? Apa yang akan kamu lakukan?"
Calita terdiam, wajahnya memerah.
"Oke, aku akan memberikan semua kebutuhanmu, tapi kamu ikut denganku. Mungkin kita akan ke Italia, Hawaii atau bahkan stay di Barcelona Spanyol," rayu Stefan.
Bola mata Calita membulat, bibirnya tidak mampu berucap, akal dan perasaan mulai menunjukkan tanda-tanda tidak sejalan.
"Apa kamu menjebak ku, Stef?" Calita menelan salivanya.
Stefan kembali tertawa, "Apa untungnya aku menjebak mu? Aku hanya memberikan pilihan, berhenti dari pekerjaan yang membahayakan keselamatan, menjadi partner ku dalam dunia bisnis dan ranjang. Bagaimana? Ini akan menjamin kehidupanmu, bahkan lebih layak. Kamu tidak perlu menyamar seperti ini."
Bibir Calita benar benar terkunci rapat. Enggan menolak, namun hati berkata iya. Walau kepalanya berkata tidak, namun dia berfikir real dalam menjalani kehidupan normal seperti gadis biasa.
Calita tumbuh dari keluarga broken home, bahkan tumbuh lewat tangan seorang ayah yang arogan.
"Dimana keluargamu, dan berapa usiamu, baby?" Stefan kembali mendekati Calita.
Calita kembali menunduk, dia wanita yang tidak menyukai dihujam pertanyaan tentang keluarga.
"Aku putri kedua Kennedy dengan selingkuhannya," Calita menutup bibirnya, kedua telapak tangan gadis itu terasa sangat dingin ketakutan.
Stefan terlonjak kaget, "Kennedy? Uncle Kennedy yang berada di Singapura? Ooogh shiiit...!"
Calita mengangguk.
"Berarti kamu mengetahui keluarga kami? Keluarga Langhai Group?" Stefan menghujam dengan beberapa pertanyaan, membuat gadis itu tidak bisa menjawab dengan mudah.
__ADS_1
Kenapa takdir mempertemukan dengan keadaan yang sangat membingungkan?