
Tatapan mata Stela semakin memerah, memandang sinis kearah Adrian dan Lauren secara bergantian.
"Propesional komandan!"
Stela menatap lekat wajah Adrian, tatapan penuh dendam bahkan penuh kebencian pada pria berparas tegas nan mampu membius mata hatinya selama beberapa waktu menghabiskan hari bersama.
Dadanya bergemuruh, bahkan sangat sakit, mendengar kata-kata jallang dari Lauren Bennett. Seumur hidupnya, tidak pernah dia dikatakan seperti itu, apalagi dibentak oleh wanita lain hanya karena seorang pria rendah sekelas Adrian Martadinata.
Stela benar-benar menahan rasa sakit dari hinaan yang dia terima hari itu, "Pergi kalian, jangan pernah menampakkan wajah kalian dihadapan ku!"
Stela membalikkan tubuhnya, dihadang oleh Stefan, sang kembaran yang mendengar pertikaian mereka.
"Kak...!"
Mata Stela masih membendung rasa sakit hatinya, wajah cantik masih memerah dengan rahang menggeram tegas.
"Hei... tua bangka! Aku sudah tahu siapa anda. Dengar, jika anda ingin menangkap saya, silahkan. Namun, jangan sakiti adikku Stela Chaniago Leonal Alkhairi," Stefan menantang orang nomor tiga di Hamburg itu.
Lauren mendengus kesal, bahkan mengejek kearah Stela, "Dengar Stela, kalian anak dari Leonal. Seharusnya kalian pahami bagaimana bisnis itu bekerja. Aku tidak membencimu! Namun aku membenci tingkah mu karena telah berani menggoda suamiku!"
Stefan yang mendengar ucapan Lauren tentu tertawa lucu, mendengar celotehan dari bibir wanita cantik dan mapan, bahkan berpendidikan tinggi sebagai seorang dokter, "Dengar Nyonya Lauren Bennett, jika aku tahu apa yang kalian lakukan pada adikku, mungkin aku yang akan memenggal kepala suamimu, Nyonya!"
Stefan merangkul bahu Stela yang akhirnya menangis didada sang kembaran.
Perlahan Stefan membawa Stela, memasuki mobil, untuk kembali ke Italia, sebelum pria berdarah Batak blesteran Australia itu memasuki kendaraannya, dia mengingatkan kembali dengan tegas seorang Adrian.
__ADS_1
"Dengar Bung... jika anda masih mencintai Nyonya Lauren Bennett, setidaknya harus pintar-pintar bermain api!" Stefan mengejek Adrian sambil tertawa terbahak-bahak, memasuki kendaraannya.
"Damn it....!"
Stefan menggenggam erat stir kemudi, meminta orang suruhannya agar mengambil mobil milik Steiner di bandara.
Stela masih terdiam, dia tidak ingin menceritakan semua masalah pribadinya pada sang kembaran. Dia hanya sibuk, mendengarkan ocehan Stefan, sehingga membuatnya terlelap.
.
Disudut negara yang berbeda, Leonal dan Paras tengah menikmati secangkir teh manis hangat. Mereka hanya menghabiskan waktu bersama selama keempat anak mereka memutuskan meninggalkan rumah, untuk merintis karir dengan hobi mereka masing-masing.
Leo masih disibukkan dengan kegiatannya, dimeja kerja, sesekali matanya melirik kearah Paras yang tengah sibuk membaca buku.
"Ndut, apakah Stela sudah menghubungi mu?"
"Hmm, belum ada siih Bowl! Mungkin nanti malam, atau besok. Aku juga nggak tahu dimana keberadaannya sekarang, tapi kenapa dia tidak pernah memberitahukan kita tentang kebahagiaannya selama menikah?"
Paras mendekati Leonal, yang masih duduk dikursi kerjanya, "Bowl, aku rasa Stela sedang menyembunyikan sesuatu dari kita, tapi aku tidak tahu dan sedikit curiga. Kamu tahu sendiri, anak-anak kurang terbuka dengan kita, karena kamu terlalu keras sama mereka. Aku rasa, aku sedikit khawatir dengan keadaannya saat ini."
Leo menghela nafas panjang, mengusap pelan wajah berbulunya, "Gini yah, Ndut! Aku bukan keras dengan mereka. Aku hanya tidak ingin mereka terjerumus ke hal yang sangat mengerikan diluar sana. Kamu tahu kerasnya Stefan dan Stevie? Bahkan pernah ketahuan sama kita dia menggunakan barang haram. Apa hal seperti itu kita harus diam?"
Paras mengusap lembut punggung Leo, berbisik lembut ditelinga suaminya, "Kamu tahu, Bowl! Anak-anak itu kurang perhatian dari kita. Kamu ngerasain nggak? Kesibukan kamu hanya kerja-kerja-kerja dan kerja. Tanpa kamu tahu apa yang mereka butuhkan! Bukan uang saja Bowl! Tapi mereka juga butuh kita...! Kita! Kamu lihat bagaimana Alea tidak bisa lepas dari Berlin saat akan diambil Sintya? Hmm, kita yang salah. Bukan anak-anak!"
Leonal memijat pelipisnya, menatap kearah istri tercinta, "Dengar Ndut, jika kita tidak seperti ini, mungkin kita akan hilang segalanya, bahkan disaat krisis Langhai Group saat Lauren mengambil keputusan memutuskan kontrak kerja sama dengan kita, bahkan kita harus mengganti uang yang bernilai fantastik, kepada semua rekan kita termasuk Kennedy, bagaimana? Kamu tahu waktu itu kita goyang? Sekarang anak-anak sama sekali tidak mau meneruskan perjalanan kita, bahkan dia memilih dunia yang berbeda, sakit sekali Ndut. Bahkan aku rasanya tidak sanggup melihat Stefan mati karena benda haram itu!"
__ADS_1
Paras hanya terdiam, "Setidaknya meminta mereka kembali, kita berbicara dari hati kehati itu sangat luar biasa Bowl! Jangan seperti ini! Sudah berapa tahun kita tidak menghabiskan waktu bersama mereka. Aku sangat merindukan anak-anak. Aku yakin anak-anak juga merasakan hal yang sama."
Leo menggelengkan kepalanya, menutup laptop, menyeruput teh yang tersedia dimeja kerjanya.
"Bagaimana jika kita ke Jerman? Kebetulan Steiner lusa akan bertanding, mungkin kita bisa berkumpul disana, bersama anak-anak. Kebetulan Stela di Shanghai, dia bisa mengajak Will dan Stefan. Bagaimana? Kamu setuju, Ndut?"
Paras mengangguk setuju, memeluk tubuh suaminya dengan penuh perasaan bahagia, "Kamu tuh bisa aja buat aku merasa senang. Aku telpon Amak sama Apak dulu. Mana tahu mereka mau mengirimkan sesuatu buat Uni Luna?"
Leo mengangguk senang, mengusap lengan Paras yang masih terasa padat dan berlemak.
Apalah arti keluarga yang kaya raya, memiliki empat anak kembar, namun selalu tampak kesepian?
Ya, keegoisan seorang Leonal dalam mendidik ketiga putra dan satu putrinya, sangat menyiksa Paras sebagai seorang istri. Leo yang memiliki pemikiran keras, bahkan sangat menyesakkan, saat dia pertama kali menampar Stefan dihadapan Paras.
Paras yang tidak bisa berbuat apa-apa, hanya diam membisu menyaksikan Leo benar-benar murka pada putra kesayangannya.
Semenjak saat itu Stefan dan Stevie selalu merahasiakan semua kegiatan yang mereka lakukan.
Sangat berbeda dengan Steiner, yang selalu disibukkan dengan kegiatan olahraga sebagai seorang pembalap motor cross sejak usianya tiga tahun.
Steiner yang tumbuh dalam didikan Willion dan Laura, dibantu oleh Loide saat merintis dunianya dengan serius di negara panser itu.
Loide membawa ketiga putra kesayangan Leo, untuk mendidik mereka, walaupun didikannya lebih parah dibandingkan dengan didikan Leonal. Rasa percaya yang dia tanamkan pada Loide, ternyata berdampak buruk pada perkembangan Stefan dan Stevie kala itu.
Berbagai bisnis yang dijalani kedua anak muda itu, sehingga menjadi seperti sekarang, merupakan dari kebebasan yang diberi Loide pada mereka.
__ADS_1
Apakah Loide bersalah? Tentu tidak... Leonal lah yang salah dalam mendidik kedua putranya hanya karena sebuah tamparan yang memberikan luka yang membekas dalam dihati Stefan dan Stevie.