Gairah Cinta Kedua

Gairah Cinta Kedua
Perebut suami orang


__ADS_3

Sniper telah berada didepan jendela kamar kedua pria kembar yang tengah berdebat panjang mengenai Adrian dan Stela.


Jhonson masih mempersiapkan dirinya, untuk segera melakukan tugasnya selaku pembunuh bayaran termahal, yang sengaja di sewa oleh Stevie sebagai orang kepercayaannya.


Terlihat dua insan tengah menikmati malam dengan berbagai keindahan yang mereka lakukan, tanpa mengetahui keberadaan Stefan dan Stevie yang sudah menggeram di seberang sana.


Jemari yang sudah terbungkus sarung tangan berbahan kulit berwarna hitam, di tutup oleh kain hitam untuk menutup keberadaan mereka disana, memberikan kesan bahwa mereka tengah berlibur saat melakukan pekerjaan sebagai seorang pembunuh.


Jhonson telah berhasil mendapatkan titik Adrian Martadinata, sesuai permintaan Stevie, yaitu bagian kepala yang harus pecah berderai, agar tidak dapat diselamatkan.


Stevie tengah asik menikmati segelas wine berada ditangan kanannya. Dia tidak ingin berbasa-basi, apalagi memiliki perasaan kasihan pada siapapun selain keluarga.


Sementara Stefan tengah di sibukkan dengan panggilan telepon dari Calita yang mengajaknya untuk segera bertemu dengan pria yang sangat dia cintai saat ini.


["Apa mau mu? Aku masih berada di Munich! Ada urusan dengan keluarga ku!"]


Bentak Stefan saat mendengar suara Calita yang memaksanya agar menjemputnya segera.


Stefan justru membanting handphonenya sendiri, karena dihantui oleh wanita seperti Calita.


"Damn it.... kenapa wanita selalu memaksa? Aku sedang tidak ingin berkencan! Ini yang membuatku tidak nyaman saat merusak seorang gadis. Aku justru tidak mencintai nya," kesal Stefan saat menutup dan membanting telepon seluler itu kelantai kamar. 


Stevie yang tidak pernah memiliki hubungan dengan wanita mana pun, hanya tersenyum mendengar celotehan kembarannya. Dia tidak ingin di pusingkan dengan wanita, apalagi masalah hati. Itulah mengapa hingga saat ini Stevie selalu menyendiri sama halnya dengan Steiner.


Kecewa masa lalu dengan seorang wanita, bernama Marsela masih sangat membekas untuk Stevie, karena memilih meninggalkan nya untuk menetap di Barcelona.


Entah kenapa situasi saat ini, sangat menyulitkan bagi seorang Jhonson untuk melakukannya. Dia lebih banyak melihat situasi Adrian dan Stela yang semakin mesra, bahkan ada sedikit perasaan tidak tega akan melakukan hal itu pada saudara kembar sahabatnya.


Tidaklah mudah bagi seorang Jhonson untuk menghabisi dua insan yang masih menghangatkan tubuh mereka dalam penyatuan cinta.


Stevie justru tampak memperhatikan Jhonson yang tengah berdiri sambil berfikir sesuatu, sambil menyesiasati situasi di seberang sana.


"Cepat lakukan, Jo! Sebelum aku yang melakukannya!!" perintah Stevie tanpa perasaan kasihan.


Jhonson menoleh kearah Stevie yang masih duduk di sofa, sembari meraih sempi yang terletak di meja dengan kaki kanannya.

__ADS_1


Jhonson menarik nafas panjang, "Maaf Stev, aku tidak bisa melakukan hal ini! Aku masih menghargai mu sebagai sahabat. Jika memang kamu tega, silahkan lakukan sendiri! Dengan tanganmu!"


Mendengar penuturan seperti itu, tentu membuat Stevie merasa tidak senang. Dia telah membayar Jhonson mahal untuk menghabisi Adrian Martadinata, namun tidak bisa dia lakukan.


"Ada apa dengan mu? Apakah kamu memiliki hubungan darah dengan Adrian?" tanya Stevie menatap tajam penuh selidik.


Jhonson menghela nafas, menatap Stevie yang tengah emosi dengan sangat santai sambil berkata, "Silahkan kamu lihat, dan lakukan dengan tanganmu! Ini bukan masalah hubungan darah, tapi ini mengenai adik kembar mu, Stela!" ucapnya menegaskan.


Stevie menoleh kearah Stefan, agar mengambil alih sesuai perintahnya.


Dengan langkah sigap, Stefan menghampiri Jhonson yang masih berdiri di dekat jendela. 


Stefan berdiri, melihat posisi Adrian yang masih berdiri tepat tengah memberikan kebahagiaan pada adik kembarnya Stela, yang masih mendekap mesra di sebuah dinding. Sontak pemandangan itu membuat tubuhnya sedikit bergetar, "Sial.... perasaan apa ini? Kenapa aku tidak bisa melakukannya, Stev!!"


Stefan mundur selangkah, membiarkan Stevie yang melakukan semua ini. Memberi ruang pada saudara kembarnya untuk menghabisi pria yang tengah menikmati tubuh adik saudara perempuan mereka. 


Stevie, melihat pemandangan yang sangat menjijikkan baginya, tanpa menggunakan sarung tangan, menggeram kesal.


Dia mengarahkan senjata yang sudah ada di hadapannya, mencari kepala Adrian untuk melepaskan pelatuk dan menekan tombol otomatis agar tidak terjadi kesalahan dalam menghabisi sasarannya di seberang sana.


Zhiing.... zhiing....!!


Dua kali suara sniper di seberang sana hampir mengenai kepala Adrian.


Tentu Adrian yang mendapat serangan mendadak tersebut menjadi kalang kabut.


Bergegas dia merangkul tubuh Stela, untuk segera menunduk di bawah ranjang dan mencari keberadaan senjata miliknya. Berusaha melindungi wanita yang sangat dia cintai, memberikan pakaian pada gadis itu dalam keadaan panik.


Bagaimana mungkin, saat mereka tengah melakukan penyatuan cinta terlarang, karena terbakar gairah yang berbeda kini harus kembali terancam oleh serangan tidak disangka-sangka.


Stela melihat jenis senjata yang menyerang mereka berdua, matanya tertuju pada peluru yang berada di lantai kamar, "Ini senjata sniper Italia, Bang! Aku yakin saat ini Stevie dan Stefan berada di dekat sini! Aaaagh..... shiiit....!!" teriaknya beranjak dari persembunyiannya.


Matanya tertuju pada cahaya yang sangat jelas berada diseberang mereka.


Stela mencari telepon genggam miliknya, dengan penuh perasaan takut dan emosi, menyalakan handphone yang sejak tadi sengaja dia matikan.

__ADS_1


Adrian masih sibuk mengenakan pakaiannya, sambil mencari beberapa butir peluru untuk melakukan penyerangan balik pada orang yang sengaja menghancurkan kebahagiaan mereka.


"Angkat Stev....!!!" teriak Stela masih menggeram.


Seketika tangan kanannya bergetar hebat karena tidak segera mendapatkan jawaban dari Stevie di seberang sana.


Adrian yang mengetahui kegilaan keluarga Leonal, berusaha menenangkan Stela yang tampak semakin frustasi karena perlakuan saudara kembarnya.


Saat Adrian tengah meraih handphone milik Stela dari tangan gadis yang dia cintai, seketika terdengar pintu kamar mereka di dobrak kasar oleh orang yang sejak tadi mengetahui langkah mereka.


BRAAAK....!!


Beberapa orang suruhan Lauren Bennett telah berdiri dihadapan kedua insan yang masih tampak panik karena serangan mendadak dini hari tersebut.


Stela semakin tampak ketakutan, merasa bahwa semua telah berakhir, hanya bisa berlindung dibalik tubuh Adrian dengan wajah memerah dan tampak ingin menangis.


Adrian dengan sigap melindungi Stela, dengan posisi gadis itu berada dibelakang tubuhnya. Wajah tampak mengeras bahkan tidak ingin berdebat dengan wanita yang sudah nyata dia ceraikan beberapa hari lalu.


Tampak Lauren berdiri dengan sangat angkuh, bahkan memandang Stela dengan tatapan sinis, "Hmm.... ternyata kalian menghabiskan waktu disini? Dikamar keluarga ku, Adrian! Hotel ini masih milik keluarga ku. Jika kamu tidak mencampakkan wanita perebut suami orang, ini! Aku akan melaporkan kalian pada atasan mu!" ancamnya.


Stela tampak salah tingkah, wajahnya semakin merah padam, bagaimana pun sang komandan belum berpisah dari Lauren Bennett yang masih berstatus suami istri tersebut dalam ikatan pernikahan yang sah dimata hukum. Tentu julukan sebagai perebut suami orang kembali melekat dikepala gadis muda tersebut.


Benar saja, pemandangan itu semakin membuat kedua saudara kembar Stela yang masih menyaksikan kejadian semakin tidak kondusif, dengan pemandangan bodyguard berkulit hitam yang menggunakan jas hitam, dan beberapa headset di telinga mereka, membuat kedua-nya mengambil langkah cepat.


Tanpa perduli dengan keselamatan mereka semua, Stevie menghujamkan beberapa tembakan kearah seperti tadi.


Zhiing.... zhiing...!!


Dor..... dor.... dor....!!


Terdengar suara tembakan sangat menggema dan mencekam dari arah seberang sana, membuat mereka semua semakin kalang kabut.


"Run.... run....!! Move....!!"


Terdengar suara teriakan dari salah seorang untuk melindungi majikan mereka.

__ADS_1


__ADS_2