
Steiner menyaksikan saudara kembarnya disiksa, sedikit kaget karena kehadiran seorang yang tidak dikenalnya mendekati, bahkan memberi pukulan keras padanya.
BHUUUUG....!
BHUUUUG....!
"Aaaagh...!" Steiner meringis menahan rasa sesak di ulu hatinya.
Calita tampak kebingungan, menjerit-jerit meminta pertolongan, "Tolong.... tolong....!!!!"
Pria tegap berkulit hitam yang menghajar kedua saudara kembar itu menghilang.
Saat mereka bertiga tampak panik, Kennedy muncul dihadapan Stefan dan Steiner. Kedatangannya kali ini untuk menjemput sang putri kesayangan Calita.
Betapa terkejutnya Calita, tidak menyangka bahwa Kennedy dapat menemukan keberadaannya.
"Daddy...!!"
Calita berteriak, saat melihat pria berwajah tegas itu menggenggam erat leher Stefan yang masih meringkuk dilantai.
"Dengar anak muda, dimanapun keberadaan mu...! Aku akan menemukanmu! Walau kelobang semut sekalipun! Kau terlalu pintar menjadi incaran pihak internasional," tangan kekar Kennedy masih mencekik leher Stefan, namun dengan sigap Stela muncul dihadapan mereka.
Krek... krek.. krek...!!
"Lepaskan tangan mu Tuan...!"
Stela mengarahkan sempi kecil miliknya, tepat dikepala Kennedy.
Calita tampak panik, saat tangan halus nan lembut itu mengancam keselamatan sang Ayah seraya berteriak, "Lepaskan Dad...!"
"Kalian telah mencuci otak putriku! Kalian pikir, aku akan tinggal diam!?"
Kennedy menggeram, namun tidak berani menolehkan kepalanya.
Stela tertawa kecil, mendengar suara Kennedy yang bergetar, "Hmm... ternyata kau tak kalah takutnya dengan peluru yang akan menembus kepala mu, Tuan Kennedy? Kenapa kalian tidak pernah menyelesaikan masalah kalian pada kedua orang tuaku! Kenapa mesti kami yang kalian sakiti, haaaah!!"
Calita menggelengkan kepalanya, memohon pada Kennedy, agar meninggalkan kediaman Steiner segera, sebelum Stela benar-benar nekat menghujamkan sempi kecil itu ke kepala sang Daddy.
"Daddy... tinggalkan kediaman mereka! Pergilah, aku akan kembali padamu, tapi tidak sekarang!" Calita memohon pada Kennedy.
Kennedy semakin menggeram, wajah tampan yang mapan, semakin terlihat mengeras, rahang tegasnya terdengar berbunyi sangat menyeramkan, "Kembalikan putriku, Stef!"
Sontak membuat ketiga anak kembar itu sedikit kaget mendengar ucapan Kennedy.
__ADS_1
"Apa urusannya? Calita yang ingin bersamaku! Bukan aku yang memaksa!" Stefan membela diri.
Stela yang masih menodongkan senjata api dikepala Kennedy, kembali mengancam pria sakai yang tidak memiliki perasaan itu.
"Uncle... pergi dari kediaman Steiner! Aku tidak akan main-main!"
Stela menekan tombol switch, akan menghancurkan kepala Kennedy dihadapan putrinya.
Krek... krek... krek...!
Suara itu sangat menakutkan bagi siapa saja, namun tidak bagi Kennedy. Tanpa diketahui oleh mereka, saat Stela akan melepaskan tembakannya.
BHUUUUG....!!!
Dor... dor...!
"Stela...!!!"
"Awaaaas... shiiit..!!"
Tubuh Stela ambruk, bersama seorang pria tampan yang menahan kepala gadis cantik itu agar tidak terbentur.
"Abang.....!!!"
Stela meringis menahan rasa sakit karena bahunya saat terhempas. Wajah garang tampak jelas saat Adrian menarik paksa sempi yang masih dalam genggaman.
"Ikut dengan ku!"
Adrian membantu Stela untuk berdiri, namun ditahan oleh Steiner dan Stefan.
"Mau kemana kau bawa adikku tua bangka!!!"
"Diam kau... urusan kita belum selesai! Saat ini Stela dalam pengawasanku!"
Adrian menarik paksa lengan Stela, namun kepanikan terlihat jelas di wajah Steiner dan Stefan.
"Damn it... fuuck you man...!"
Kennedy terlihat shock, karena suara tembakan, namun Calita mendekati sang Daddy agar kembali tenang, dan memilih ikut dengan pria itu.
Namun sebelum Kennedy keluar dari apartemen Steiner, dia menatap lekat kearah Stefan yang masih meringkuk dilantai, "Jangan pernah menyentuh putriku! Aku rasa urusan kita belum selesai! Kau tahu itu...!!!"
BHUUUUG...!
__ADS_1
Kennedy menghujamkan satu pukulan pada wajah Stefan, hanya karena perasaan tidak sukanya pada keluarga Leonal Alkhairi Baros.
Bukan tidak beralasan Kennedy sangat membenci keluarga Leonal. Semua dikarenakan putri kesayangan Alea yang lebih menyayangi Willion dan Berlin, dibandingkan dia Daddy kandungnya.
Semua kejadian masa lalu, masih teringat jelas dikepala Kennedy. Itulah yang membuat mereka menyusun strategi untuk menghancurkan Keluarga kaya Leonal Alkhairi Baros dan Parassani Chaniago.
Dendam masa lalu yang melibatkan keempat anak kembar mereka sangat membingungkan, ditambah cinta terlarang Stela dan Adrian, yang semakin lama semakin intim bahkan mampu mengalahkan logika, dan meninggalkan kembarannya hanya untuk seorang Adrian Martadinata.
Saat apartemen kembali sepi, Calita sudah tidak berada disamping Stefan, wajah tampannya, menatap kearah Steiner.
"Kita harus mencari keberadaan Stela, aku tidak ingin dia dipermainkan oleh pria seperti Adrian. Dia bukan pria baik seperti yang dikatakan William. Mana Will? Apakah dia sengaja menghindari kita?"
Stefan berusaha bangkit dari tempat dia dihajar oleh orang suruhan Kennedy, menolong Steiner yang masih terlihat menahan rasa sakit yang sama.
"Aaaagh shiit! Aku besok akan bertanding, bahkan sore ini aku akan melakukan latihan race, tapi keadaan ku seperti ini. Bangssat kalian semuanya. Datang kesini hanya menyusahkan aku. Tinggalkan aku sendiri, aku tidak ingin melihatmu!"
Steiner dengan tegas tidak memperdulikan Stefan, ataupun Stela, karena merasakan kehadiran kembarannya hanya menghancurkan karirnya sebagai seorang pembalap motor cross.
Stefan terdiam, wajah tampannya merenung, "Apakah yang aku lakukan ini sebuah kesalahan? Jika memang ini kesalahan, lebih baik kita berpisah seperti dulu. Aku tidak ingin melihat karir mu hancur hanya karena kehadiran ku. Aku akan menghubungi Stevie, memintanya agar mengirimkan dua orang wanita untuk dikirim ke Italia."
Stefan memilih meninggalkan apartemen Steiner, mereka seperti berantakan bahkan sangat hancur. Emosi keempat anak Leonal sangat diluar perkiraan.
"Apa yang dipikirkan Stela, hingga mau dengan pria seperti itu?" Stefan menghubungi William, sambil bergumam dalam hati.
Stefan memasuki lift, menuju loby apartemen, betapa terkejutnya dia saat melihat adik kembarnya benar-benar dihadapkan dengan berbagai pertanyaan oleh Lauren Bennett.
Secepat kilat Stefan berlindung dibalik pilar loby apartemen, mendengarkan cemoohan dari Lauren.
"Bukankah kamu sudah menikah dengan putraku, Stel? Jangan pernah kamu merebut suamiku, karena aku telah mendapatkan bukti kemesraan kalian selama di Shanghai. Dimana Will? Apakah Leonal tidak mengetahui perceraian kalian?"
Lauren Bennett berkacak pinggang, seperti akan menerkam gadis berusia 22 tahun itu.
Stela menaikkan kedua alisnya, "Aunty, aku rasa yang mengejarku adalah putramu dan suamimu. Bukan aku yang seharusnya Aunty caci maki. Kenapa mesti aku? Aku disini korban! Aunty dengar... aku korban... korban pemerkosaan dan pemaksaan tugas oleh suami mu! Jika Aunty menyalahkan aku, tanya sama komandan bodoh ini. Saya permisi!"
Sontak jawaban Stela membuat Lauren Bennett terbakar api cemburu, bahkan diluar perkiraan mereka yang mendengarnya, "Jika memang suamiku memperkosa mu! Aku rasa itu hal yang wajar, karena kau memang pantas diperlakukan seperti wanita jallang!"
PLAAAAK....!!
Stela melayangkan tamparan keras kewajah Lauren, "Aku menghargai mu sebagai wanita. Sama sekali aku tidak pernah ingin menjadi bagian dari keluarga mu! Jika aku tahu William adalah putramu, aku tidak akan menikah dengannya! Kau dengar Lauren Bennett!!! Cepat pergi dari sini, sebelum kesabaran ku habis!"
Tatapan mata Stela semakin memerah, memandang sinis kearah Adrian dan Lauren secara bergantian.
"Propesional komandan!"
__ADS_1