Gairah Cinta Kedua

Gairah Cinta Kedua
Hak sebagai kedua


__ADS_3

Stela masih tampak seperti memikirkan sesuatu, saat akan meninggalkan rumah sakit, dimana sang kekasih hati masih berada disana. Mata sembab karena menangis, meratapi nasib percintaannya yang harus berakhir walau masih seumur jagung dan menjadi yang kedua bagi seorang Adrian Martadinata.


Stela benar-benar terpuruk, karena keadaan dia harus menelan pil pahit harus ditinggal oleh Adrian, saat melihat kondisi istri sahnya Lauren Bennett yang terluka karena ulah saudara kembarnya.


Apa maksud Stevie? Sehingga mau melukai mereka! Apa dia tidak tahu aku sangat mencintai Bang Adrian? Pikir Stela saat memasuki mobil sport milik saudara kembarnya.


Stela bergegas menekan pedal gas, menuju tempat Stefan menunggu untuk kembali kerumah sakit, menjenguk Steiner yang masih menunggu kedatangan mereka disana.


Setibanya dia di guest house tempat mereka menginap, ternyata Stefan sudah menanti kehadiran Stela sedari tadi. Tampa pikir panjang pria tampan itu memasuki mobil.


Stela melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi saat Stefan memasuki kendaraannya. Mereka menuju kearah rumah sakit yang cukup jauh dari Munich untuk mengunjungi Steiner dan keluarga yang sudah menunggu kehadiran mereka di sana.


Tanpa mau berbasa-basi, ataupun berdebat. Stela hanya fokus pada stir kemudi, dan melaju kencang membawa Stefan yang tampak santai saat menjadi joki yang duduk di bangku penumpang.


Wajah tampannya sesekali melirik kearah Stela, karena dia sangat mengetahui watak seorang Stela tampak sedang memikirkan sesuatu.


"Hmm.... apakah kamu merencanakan sesuatu untuk membalas Adrian atau kami, dear?" goda Stefan menepuk pundak adik kembarnya.


Stela hanya tersenyum tipis, dia enggan membahas apa yang sedang dia rencanakan saat ini. Baginya, dia harus menghadapi semua sendiri untuk memperjuangkan haknya sebagai yang kedua bagi seorang Adrian Martadinata.


Mereka kembali diam membisu, berlalu memecah jalanan yang tampak tidak begitu padat.


Mobil sport itu terparkir di halaman parkir rumah sakit, setelah menempuh perjalanan selama dua jam. Mereka turun dengan wajah dingin dan enggan untuk berkata-kata sejak dalam perjalanan.


Stela hanya sibuk pada pikirannya, begitu juga dengan Stefan.


Namun, apa yang mereka harapkan tidak sesuai dengan apa yang ada dalam benak kedua orang tuanya Leo dan Paras.

__ADS_1


Saat Stela dan Stefan memasuki ruangan Steiner yang tampak tenang, Leo menghampiri putri kesayangannya dengan wajah merah padam.


Dengan langkah cepat dia mendekati Stela yang menjadi anak paling cantik dari empat anak kembar yang dia miliki.


PLAAAAK....!!


Tangan kanan Leonal mendarat di pipi mulus Stela putri tercintanya.


Semua mata tertuju pada kejadian itu, terutama Stefan juga Stevie. Steiner yang masih terbaring terlonjak kaget, karena tidak pernah Papa mereka melakukan hal sadis itu pada adik perempuan kesayangan mereka.


Paras, yang mendengar tamparan keras Leonal pada Stela, semakin tersulut api amarah. Bagaimana mungkin anak yang sudah dewasa, disakiti oleh Leonal tanpa mau mendengar penjelasan dari putri mereka.


Leonal menatap tajam mata Stela yang tidak menangis menantang matanya, dia berkata sangat lantang, "Apa yang kamu lakukan, Stel! Apa kamu tidak memandang aku sebagai orang tua yang telah merawat mu? Kenapa kamu justru merebut kebahagiaan orang lain!? Apa yang ada dikepala mu? Haaaah.....!! Jawab aku....!!"


Stela benar-benar tidak menyangka akan perlakuan kasar Leonal padanya, pipinya terasa sangat panas dan perih, bahkan tampak sangat memilukan baginya, karena baru kali ini Papa Leo menampar keras wajah cantiknya.


Stela benar-benar tak kuasa menahan emosinya, "Ya..... aku mencintai Bang Adrian! Karena dia selalu ada untuk ku! Apa selama ini kalian ada untuk aku!? Papa terlalu egois, sama halnya dengan Kak Stev dan Stefan! Kalian semua egois! Aku benci kalian, aku tidak ingin bertemu kalian lagi!!" teriaknya menantang Leonal yang masih berdiri di hadapannya.


Stela membalik, membuka pintu ruang rumah sakit, berlari sekencang-kencangnya meninggal kan rumah sakit tanpa mau memikirkan perasaan Paras sang Mama.


Stefan yang tidak terima adiknya di perlakukan seperti itu oleh Leonal, memilih mengejar adik kembarnya, namun sebelum dia pergi, dia berbalik menatap Leo dengan wajah garang, "Aku berusaha membujuknya! Apa yang Papa lakukan? Kenapa Papa terlalu egois!! Apakah dengan kekerasan dapat menyelesaikan masalah? Dia wanita, tidak sama seperti aku dan Stev! Aku kecewa sama Papa, lebih baik kita berjauhan! Selamat siang!!"


Stefan berlari kencang mengejar Stela adiknya, namun dia tidak berhasil menemukan keberadaan adik perempuannya yang lebih dulu meninggalkan rumah sakit.


Stefan berteriak memanggil nama adiknya, "Stela .... Stela ....!!"


"Kemana dia!? Apakah secepat ini dia menghilang!?" Stefan melacak keberadaan Stela melalui alat yang dia miliki, namun semua nihil. Alat canggih yang dia punya ternyata sudah terblokir secara otomatis karena telah di acak oleh adik kembarnya, Stela.

__ADS_1


"Aaagh.... shiiit....!!" Stefan menggeram, bahkan semakin tampak seperti serigala yang sangat menakutkan.


Bergegas dia mengambil mobilnya, meninggalkan rumah sakit, mencari keberadaan Stela yang sudah menghilang.


Kemana dia? Apa yang akan dia lakukan?


Wajahnya tampak kebingungan, mencoba menghubungi Stevie yang masih berada di rumah sakit.


Stefan menghubungi Stevie berulang kali, karena hanya dia yang mampu mencari keberadaan adik kembar mereka agar tidak terjadi sesuatu hal yang mengancam keselamatan mereka.


["Hmm,"]


["Lacak keberadaan Stela, karena ini sudah diluar kendali kita."]


["Sudah, tapi dia memblokir semua akses datanya! Cari dia sampai dapat, jangan sampai anak itu melakukan hal gila, karena akan mengancam keselamatan kita berdua. Aku sangat membenci kekerasan, tapi aku sedang tidak mood untuk berdebat karena kondisi ku yang tidak stabil."]


Stevie menjelaskan kondisi dia yang masih dalam pengaruh serbuk putih, yang dia hisap beberapa jam lalu.


Stefan menutup telfonnya, meletakkan handphone di bangku penumpang, mempercepat kecepatan kendaraannya. Tidak lupa dia menghubungi salah satu rekan mereka untuk membantu mencari keberadaan adik perempuannya, Stela.


"Kamu akan menyesal, Stel! Telah melakukan hal ini. Adrian itu belum tentu mencintai mu, seperti kamu mencintai dia. Dia hanya seorang pria hidung belang yang akan memanfaatkan mu," geram Stefan.


Mereka benar-benar berpencar, mencari keberadaan Stela. Jika gadis itu telah melawan semua takdir, dia akan melakukan apapun demi kebahagiaan dan kepentingan diri sendiri.


Sementara Stela masih menangis diatas roftop rumah sakit. Ingin sekali dia terjun bebas dari atas gedung mengakhiri hidupnya demi seorang Adrian, karena mendapat perlakuan kasar dari Leonal. Papa yang selama ini menyayanginya, namun karena kesalahan kecil dia harus menerima perlakuan kasar dari Papa Leo.


"Marah boleh, Pa....! Tapi jangan pernah pukul aku! Karena ini sangat menyakitkan buat aku!! Aku hanya korban dari permainan mereka? Apa yang harus aku lakukan, Tuhan!!!" teriaknya menangis menengadah kan kepala menantang langit meminta kekuatan.

__ADS_1


__ADS_2