Gairah Cinta Kedua

Gairah Cinta Kedua
Menghancurkan Keluarga


__ADS_3

Steiner lebih dulu terjun bebas dari udara ke tanah, ditimpa oleh motor diatas tubuhnya.


PRAAAAK....!!!


Tubuh gagah itu ditimpa motor yang memiliki berat yang teramat sangat. Steiner menarik nafas dalam, menatap langit yang seketika mendung, membayangkan wajah Paras sang Mama yang selalu menginginkan dia kembali ke Jakarta.


Steiner berdoa dalam hati, "Tuhan, jika aku menang disesi pertandingan ini, aku akan kembali bertemu Mama!" dia berusaha bangkit, memberikan kode bahwa dirinya baik-baik saja.


Sontak itu menjadi kejutan luar biasa bagi team leader di dalam pedok. Mereka berteriak keras, menyaksikan Steiner meraih motornya yang masih tergeletak.


Secepat kilat, Steiner menunggangi motor kesayangannya, mengikuti arah untuk kembali ke pedok.


Steiner menggeber motornya berkali-kali, melewati jalan dengan sangat mudah, menembus tikungan mengikuti arah bendera yang dikibarkan marshal saat even race berlangsung.


Bendera merah berkibar karena ternyata terjadi tabrakan beruntun dibelakang Steiner yang mengakibatkan patah tulang bahu, bagi rider yang melakukan kualifikasi untuk menentukan posisi mereka.


Steiner disambut oleh Petter, dan team, agar segera memeriksa kondisi pembalap mereka yang baru saja mengalami kecelakaan cukup mengejutkan.


Petter, bertanya dengan wajah khawatir, "Bagaimana badanmu? Apakah ada yang terluka? Apakah motor kita menimpa bahumu yang menggunakan pen?"


Steiner menggelengkan kepalanya, dia berbicara sedikit berteriak, karena suaranya dikalahkan oleh suara geberan motor yang tengah dilakukan pengecekan.


Team mekanik segera melakukan pemeriksaan sesuai perintah Steiner, untuk segera kembali ke kursi kebanggaannya.


Stela mendekati Steiner, tampak khawatir dengan keadaan saudara kembarnya, memberi satu kaleng minuman, yang ada dalam genggaman.


Stela bertanya, dibarengi Stefan dan Stevie, "Bagaimana kondisimu...?"


Steiner membuka helm dan gogle yang menutupi wajahnya, "Taraaaa... aku baik-baik saja. Hanya sedikit memar sepertinya dibagian punggung. Karena motor itu menimpa punggung ku bagian sini," tunjuknya pada tubuh yang masih terbalut pelindung.   


Stela memeluk Steiner, tanpa perasaan jijik karena tubuhnya terbalut tanah dan sedikit lumpur.


Alea, yang melihat kejadian tersebut, mendekati Steiner memberi sedikit perhatian agar bisa kembali dekat seperti dulu.

__ADS_1


Alea memberikan sebotol air mineral, agar Steiner membersihkan wajah tampannya, yang terlihat sangat mempesona walau dihiasi tanah coklat.


"Nih....!" Alea tersenyum tipis pada Steiner.


"Thankyou..." Steiner yang masih kurang nyaman diperlakukan seperti itu oleh Alea dihadapan Stefan hanya mengambil botol air mineral, memilih menjauh untuk membersihkan wajahnya.


Stela melirik kearah Stefan, dan Stevie, menggeleng tersenyum tipis menepuk pundak kedua saudara kembarnya, sembari berbisik, "Jangan pernah mencampurkan urusan pribadi dengan keluarga."


Stefan membesarkan kedua bola matanya kearah Stela, yang sengaja menggoda saudara kembarnya.


Mereka tampak lega, saat melihat mukjizat yang nyata didepan mata, menyaksikan Steiner yang baik-baik saja walau ditimpa oleh motor.


"Sepertinya dia memiliki ilmu pelindung yang sangat tinggi, sehingga tidak mengalami patah tulang seperti team sebelah."


Terdengar suara reporter yang meliput acara balap tersebut, yang memberitahukan bahwa salah seorang rider mengalami kecelakaan, membuat mereka mengundurkan jadwal pertandingan sesuai permintaan team penyelenggara.


Stela yang tampak khawatir, kembali bertanya pada Petter, "Apakah salah seorang yang tabrakan tadi mati ditempat, bro?"


Petter tertawa, "Pembalap motor cross tidak seperti MotoGP, kalau GP pasti bahaya, karena mereka 1000cc, dan lintasannya aspal, sangat berbahaya. Kalau motor cross ini tanah, dan hanya patah tulang yang rentan dialami rider. Sama seperti Steiner beberapa bulan lalu, mengalami patah tulang, dan saat ini kedua bahunya masih menggunakan pen."


Stela memanggil Steiner, "Kak....!"


Steiner yang masih sibuk membersihkan wajah dan menyeka kulit putih mulusnya, dengan handuk pemberian Alea, hanya menjawab sedikit dengan, "Hmm..."


Alea memilih mundur saat Stela mendekati saudara kembarnya.


Stela kembali bertanya, "Sakit nggak bahu kamu?"


Steiner melempar handuk kecil yang ada ditangannya kewajah Stela, "Udah, jangan lebay! Aku baik-baik saja kok! Selesai pertandingan musim ini aku akan kembali ke Jakarta! Aku merindukan Mama," kenangnya.


Stela tersenyum berhamburan memeluk Steiner yang masih berdiri, tengah sibuk membersihkan diri.


Saat mereka tengah sibuk bersenda gurau, menanti pengumuman team panitia, Stela dikejutkan dengan kehadiran Lauren Bennett.

__ADS_1


Ya, Lauren Bennett hadir disana menemani Alea tanpa sepengetahuan keempat anak Leo dan Paras.


"Hai boy...!"


Terdengar suara Lauren Bennett menghampiri mereka, sehingga team management Steiner tidak mampu mengusir wanita yang memiliki kuasa di negara itu untuk perusahaan Marsedez Benz.


Alea yang melihat kehadiran Lauren, mendekati wanita dewasa tengah membuka kaca mata merk terkenalnya, "Aunty....!!"


Stela memilih berlindung dibalik punggung Steiner, sementara Stefan sudah berdiri dihadapan nenek lampir yang seakan-akan menerkam adik kembarnya.


Stefan sedikit berselengah, namun bertanya tanpa melihat, "Ada apa anda kesini Nyonya? Bukankah suami anda sudah saya kembalikan kemaren malam?"


Alea tampak kebingungan, melihat kearah Stefan, Steiner bergantian, "Apa maksudmu, Stef? Aunty kesini menemani aku, bukan untuk menanyakan keberadaan suaminya Uncle Adrian! Dia juga entah kemana, kami juga tidak mencarinya!"


Lauren tidak menghiraukan ucapan Alea, baginya gadis yang ada dihadapannya, yang tengah berlindung dibalik tubuh Steiner itu sasaran utama untuk diterkam hingga tidak bersisa.


Lauren berkacak pinggang, bertanya dengan tatapan yang sangat menyeramkan, "Heii, gadis ingusan! Dimana, suamiku kamu sembunyikan haaah? Tega sekali dia menceraikan aku, hanya karena wanita ingusan sepertimu! Ingat Stela, kamu hanya gadis ingusan, yang tidak mungkin bisa akan merebut suamiku!!!"


Sontak ucapan Lauren yang terdengar menghina adik kembar mereka, membuat tiga pria tampan itu maju menghadapi Lauren Bennett tanpa perasaan takut. Beberapa kamera tidak ingin ketinggalan berita yang akan menggemparkan jagad raya dunia bisnis keluarga mereka.


Steiner menggeram, berteriak meminta pada Petter untuk segera mengusir nenek lampir dari pedok mereka, agar tidak menjadi bulan-bulanan media.


"Pergi kau dari sini Nyonya besar!! Aku tidak ingin kau menghancurkan Keluarga Leonal Alkhairi Baros. Suamimu yang mengejar adikku, bukan adikku yang mau dengan suamimu! Ingat, urusan kita belum selesai! Mungkin kami akan menuntut suamimu atas pemerkosaan yang dia lakukan beberapa waktu lalu!!! Dan penipuan data William Danu Barata! Kamu mengerti Nyonya!!!"


Mendengar ucapan yang keluar dari bibir Steiner, Lauren Bennett mundur perlahan, ada ketakutan dalam hati, karena ancaman dan terkuaknya siapa putranya.


Lauren bergegas meninggalkan pedok, menarik paksa tangan Alea, yang tampak kebingungan bahkan panik.


Alea bertanya dengan wajah gundah, "Aunty, ada apa ini!? Apa yang membuat mereka berkata seperti itu? Apakah benar Aunty memalsukan data Will? Apakah Uncle memiliki hubungan spesial dengan Stela!?"


____


Komen... komen... komen...

__ADS_1


Terimakasih...🤣🤭


__ADS_2