
Adrian terlonjak seketika melihat gadis muda yang menjadi selingkuhannya saat ini berada di hadapannya.
"What are you doing here....!?"
Stela menatap wajah Adrian lekat, wajah cantik itu kembali memohon pada pria yang telah mengisi hari-harinya selama ini.
"Aku ingin menjemput mu, Bang ..." ucapnya pelan, dan dapat di dengar oleh Adrian yang berada diruangan itu sendiri.
Stela mencari keberadaan Lauren Bennett, 'Dimana dia? Apakah wanita iblis itu telah mati?' batinnya.
Jujur dalam hati ke-duanya bergemuruh kerinduan yang teramat sangat. Bagaimana mungkin seorang Adrian akan pergi lari dari situasi sulit ini? Sementara Lauren kini masih dalam perawatan pasca operasi.
Perlahan Stela mendekati Adrian, dengan deraian air mata, dia memeluk tubuh kekar yang kini menjadi candunya dalam kerinduan.
Adrian menelan salivanya, dia hanya diam mematung. Wajahnya tampak memerah bahkan salah tingkah, menyadari saat ini Lauren berada dalam kamar mandi untuk membuang air kecil.
"Stel ... Jangan lakukan ini padaku. Lauren ada di dalam kamar mandi. Pulanglah, aku akan memberi kabar padamu. Aku mohon, biarkan aku menyelesaikan semua permasalahan ku dengannya. Sebelum orang suruhannya menyakiti kita. Kamu tau, Aunty Lauren punya kekuatan di kota ini. Aku mohon ..." kecup Adrian pada bibir basah Stela yang masih menangis.
Oooogh ... Bagaimana mungkin seorang komandan bisa jujur di hadapan Stela.
"Bang ... Jangan pernah tinggalkan aku! Aku mencintaimu hingga saat ini. Sungguh aku mencintaimu, Bang!" tangis Stela masih mendekap tubuh Adrian.
Adrian mengusap pelan tubuh Stela.
Namun, di dalam sana ... Air mata seorang wanita yang berstatus istri seorang Jenderal menangis menjerit mendengar kejujuran seorang gadis telah jatuh cinta pada suaminya.
'Tuhan ... Ambil saja nyawa ku, agar tidak mendengar juga melihat kejadian ini ...' tangis Lauren dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
Bersusah payah wanita tangguh itu bangkit dari duduknya, menata hatinya agar kembali tenang dari pengaruh obat bius yang masih terasa sedikit memusingkan kepalanya.
Lauren membuka pintu perlahan, menguatkan hati dengan apa yang akan dia lihat nantinya. Wajah lemah tak berdaya dengan langkah tertatih, dia meraih tiang infus yang masih menempel di dekatnya.
Adrian yang menyadari bahwa istrinya telah kembali, berusaha mendekati Lauren. Namun wanita itu menepis tangan pria yang telah memberikannya seorang putra.
"Lepaskan aku! Aku tidak ingin terus berada dalam kondisi menyakitkan seperti ini, Adrian," ucap Lauren tegas.
Adrian terhenyak, wajahnya berubah menggeram, "Apa salah ku? Bukankah aku ada disini untuk mu Bennett?"
Lauren mendecih, "Dengar Adrian! Kemana kau suruh jallang itu? Bukan kah dia telah jujur dan meminta mu untuk kembali padanya? Aku kecewa pada mu! Ternyata kamu juga mencintai jallang itu dari pada aku!!" teriaknya.
Mata Lauren kembali liar, mencari keberadaan wanita yang telah berani masuk ke dalam kamarnya, "Kemana dia? Apa yang telah kau lakukan di belakang aku, sudah sangat menyakitkan Adrian!" tegasnya.
Adrian terhenyak, mengusap lembut punggung Lauren, namun kembali mendapat penolakan dari wanita yang telah dia khianati secara sadar.
Sementara Stela tengah berjuang di balik dinding jendela yang hanya berlapis kaca, tanpa kawat seling. Stela berusaha bertahan, demi menyelamatkan dirinya dari ancaman Lauren Bennett.
"Aaaagh sial ... Dimana Calita? Bukankah aku memintanya agar menunggu ku untuk mengirimkan kawat seling lagi ...!" sesal Stela dalam hati.
Stela berusaha bertahan, agar tidak tergelincir dari pijakannya, yang jika melihat kearah bawah akan mengancam keselamatannya hanya untuk cinta yang salah.
Akan tetapi, tangan kekar seorang pria muda menarik tubuh Stela dari balik kaca yang terbuka lebar.
Sontak membuat gadis itu tersentak kaget, karena merasa tubuhnya didekap kuat oleh tangan kekar yang tidak dia kenal.
Stela menoleh ke belakang, melihat sosok Will ada di hadapannya. Dia menelan ludahnya kasar melakukan hal yang tidak pernah terbayangkan oleh Will selaku mantan suaminya.
__ADS_1
PLAAAAK ...!
Stela menampar pipi Will yang berdiri di hadapannya.
"Aaaagh shiiit! Apa yang kamu lakukan, Stel? Jika kamu terjatuh ke bawah sana, aku yang akan di kuliti oleh Stefan dan Stevie! Apa kamu masih berharap cinta seorang Adrian Martadinata? Apa kamu tidak tahu siapa laki-laki itu!" kesal Will menatap tajam mata wanita yang pernah dia nikahi.
Stela menatap tajam tanpa berkedip kearah Will, "Kenapa kamu membohongi aku? Selama ini kamu selalu mengatakan bahwa kamu keturunan Tionghoa, tapi ternyata aku salah. Kamu adalah anak kandung Lauren Bennett dan Fredy. Apa salah ku pada mu, Will!?" teriak Stela memukuli dada bidang yang tampak tenang menerima pukulan bertubi-tubi.
William hanya diam tak bergeming, matanya basah melihat gadis yang penuh kecewa kini harus menelan pil pahit yang sangat menyakitkan.
"Ikutlah denganku, tinggalkan Munich, lupakan Adrian Martadinata. Aku akan membawamu pergi jauh. Jangan pernah mengharapkan apapun dari pria yang tak mampu memperjuangkan cintanya," tarik Will pada tangan Stela, tanpa meminta persetujuan dari gadis yang masih menantangnya kejam.
Stela terpaksa mengikuti langkah Will, menggunakan topi dan masker untuk menutupi wajahnya dari serangan orang-orang Lauren yang tengah sibuk mencari keberadaan gadis itu, atas perintah sang majikan.
Sontak Adrian ketar-ketir di buat Lauren, karena semua ini akan mengancam keselamatan Stela yang merupakan simpanannya.
"Hentikan kebiasaan mu memperlakukan orang lain buruk seperti ini, Bennett!" teriak Adrian menatap tajam kearah Lauren yang tengah berbaring.
Lauren mendengus, menyunggingkan senyuman tipis, namun penuh dendam, "Aku akan menghabisi simpanan mu, jika kau tidak pernah memperjuangkan aku, Adrian! Karena kau tahu bagaimana aku! Tak seorangpun yang dapat merebut kebahagiaan ku! Ingat Adrian, sampai detik ini kau masih suami ku. Sampai kita benar-benar bercerai. Apapun akan aku lakukan! Jangan pernah mempermainkan perasaanku, karena aku akan melakukan hal gila yang tidak pernah kau sangka-sangka!"
Adrian terdiam, dia sangat mengetahui bagaimana istrinya. Wajahnya merah padam, bahkan ingin sekali dia menghabisi nyawa wanita yang tengah berbaring di ranjang rumah sakit tanpa perduli akan luka yang di deritanya.
Pria itu menghentakkan tubuhnya di sofa ruang rumah sakit yang mewah, mencari tahu keberadaan Stela dari handphone pintar miliknya.
"Aaaagh shiiit! Kenapa handphone Stela tidak aktif? Apakah dia baik-baik saja? Atau dia sudah mati di tangan peliharaan, Lauren?" sesal Adrian menggeram.
Sementara Stela dan Will, telah berhasil keluar dari rumah sakit, meninggalkan Munich, menuju Italia.
__ADS_1
"Damn it ...!! Dimana adik ku Calita!" teriak Stefan di atas gedung rumah sakit, karena tak kunjung mendapatkan kabar dari Stela.