
Adrian hanya terdiam, keinginan untuk terus bersama pupus sudah. Stela memiliki visi dan misi yang berbeda.
"Lakukan jika itu yang terbaik menurut mu, jaga diri dan kesehatanmu," Adrian kembali memeluk Stela, setelah gadis itu membisikkan sesuatu dicuping kirinya.
Keduanya berpisah, demi sebuah misi dan visi yang berbeda, keluarga paling utama bagi Stela, apalagi saat ini dia harus bertemu dengan saudara kembar dan menarik Calita kembali dari pelukan sang saudara kembar.
Stela dijemput orang suruhan Stefan, tentu dengan penjagaan ketat, karena tidak ingin ada yang mengikuti langkah mereka. Dia dibawa kesesuatu tempat, yang Stela sendiri tampak bingung.
"Maaf... apakah ini tempat yang aman untuk kami? Dimana kembaranku?" Stela celingak-celinguk melihat-lihat sekelilingnya.
Suatu tempat yang sepi, bahkan jauh dari kalimat bandara seperti yang dijanjikan Stefan ataupun Steiner.
"Apakah yang menjemputku ini orang suruhan Stefan? Atau malah? Aaaagh... kenapa aku tidak menghubungi dia dulu?" Stela mengirimkan pesan pada Stefan melalui whatsApp, agar dapat mengetahui keberadaan saudara kembarnya.
Ternyata ooogh ternyata, Stela diculik oleh suruhan musuh dari Stefan dan William, tentu gadis itu tidak kehilangan akal, bahkan dia memiliki senjata kecil yang selalu dia bawa kemana-mana untuk melindungi diri sendiri.
"Shiiit... damn it! Siapa mereka? Apakah mereka suruhan orang-orang yang ingin menyakiti keluargaku?" Stela meringkuk di mobil, menyesiasati situasi agar tidak terjadi sesuatu.
Betapa terkejutnya Stela saat matanya tertuju pada sosok Kennedy dan Adrian ada disana, "Brengsek...!! Ternyata pria ini sepenuhnya ingin menyakiti keluargaku, dan ingin melumpuhkan kekuatan kami berempat. Dasar laki-laki binatang, ternyata dia hanya berpura-pura mencintaiku, tapi ingin menguasai aku sepenuhnya."
Kennedy mendekati pintu mobil, untuk menemui keponakannya Stela Chaniago Leonal Alkhairi.
"Hai baby....!"
Kennedy tersenyum sumringah, menunjukkan gigi emas yang ditempel berlian menghiasi senyumannya.
"Uncle....!? Apa maksud kalian membawa aku kesini? Apa urusan kalian dengan menipu ku?" Stela berteriak keras agar ada yang mendengarnya.
Kennedy menarik lengan Stela, meremas kuat, karena dia kehilangan Calita putrinya.
"Dimana Calita? Apakah kalian sengaja menjebak putriku?" Kennedy menatap lekat wajah Stela.
Betapa terkejutnya Stela saat Kennedy menanyakan keberadaan putrinya Calita, "Aku tidak mengetahui dimana keberadaan Calita, tapi dia mencoba menjadi mata-mata malam tadi untuk menjebak Koko Will, selanjutnya aku sama sekali tidak mengetahuinya."
__ADS_1
Kennedy kembali menatap Adrian yang berdiri tidak jauh dari mereka, "Apakah kamu tidak tahu bagaimana keempat anak kembar Leonal? Kenapa kamu begitu ceroboh haaaah...!?"
Stela terdiam, matanya mengarah pada satu cahaya diseberang gedung tua, yang berada tidak jauh dari mereka berdiri, seketika dia berteriak, "Shiiit.... Bang, menunduk....!!!!!"
Dor... dor... dor...!!!
Suara tembakan dari kejauhan terdengar semakin mendekat ketelinga mereka, Stela menunduk, merayap kearah mobil agar bisa melarikan diri.
"Sial, ini pasti kerjaan Will atau Stefan!" Stela berlindung, mencari handphone yang ada dalam saku celana, menghubungi nomor Stefan.
Dengan nada lantang dia memaki saudara kembarnya.
"Apa kamu ingin membunuhku?" teriak Stela menggeram.
Stefan tertawa, "Cepat menuju kesini, sebelum aku jemput kamu kesana. Atau Pak tua itu akan aku habisi?"
"Pak Tua mana yang kamu maksud kak?" Stela.
Bergegas Stela beranjak, menaiki mobil yang menjemputnya tadi, menginjak pedal gas, menuju yang diarahkan Stefan melalui aplikasi, "Brengsek...! Ternyata mereka....!"
Belum juga jauh Stela meninggalkan tempat yang sangat sejuk, karena merupakan pabrik yang sudah lama tidak ditempati, terdengar suara ledakan bom dari tempat itu.
Dhuuar... dhuuar... dhuuar...!
"Ooogh shiit, Stefan... are you crazy?" Stela berteriak memukul stir kemudi dengan perasaan khawatir.
Bagaimana tidak gadis itu tidak merasa khawatir, pria yang berada disana merupakan komandan bahkan kekasih gelapnya, cinta keduanya setelah William.
Stela melajukan kendaraannya, dengan wajah memerah. Perasaan emosi bercampur aduk, bahkan lebih khawatir saat dia melihat dari balik spion kobaran api masih menyala dengan sangat besar.
"Hmm... aku harap Abang baik-baik saja!" Stela bergumam dalam hati, semakin melajukan mobilnya.
Saat akan mendekati petunjuk arah GPS yang tertera dilayar handphone miliknya, Stela mencari keberadaan Stefan dan Will.
__ADS_1
Tentu suatu pemandangan yang aneh bagi Stela saat melihat keberadaan Calita berada disana. Dia turun dari mobil, mendekati Stefan yang tengah sibuk menikmati ciuman hangatnya bersama Calita.
Sontak emosinya membludak, menyaksikan kenekatan yang dilakukan Stefan padanya, "Apa kamu sengaja ingin menyakiti aku, bro? Apa kamu lupa aku ini adalah adikmu? Kenapa kamu melakukan ini? Bagaimana jika aku terluka?" Stela melampiaskan kekesalannya, melirik tajam kearah Calita.
Stefan memeluk Stela, "Tenanglah, tempat itu hanya sebagai tempat latihan team kami. Mereka sudah meninggalkan kandang macan itu dan sedang sibuk mencari keberadaan mu, baby!"
Stela mendengus kesal, "Sepertinya kita tengah sibuk dengan dunia yang berbeda kak. Aku ingin menikmati dunia ku dalam menjadi team informasi. Oya, aku melihat keberadaan Uncle Kennedy, dia menanyakan keberadaan Calita!"
Stefan melirik kearah kekasih barunya, "Dia memutuskan meninggalkan team kalian, untuk menjadi kekasih ku."
Stela menggelengkan kepalanya, "Mana Ko Will?" dia melirik kearah William, yang tengah menatapnya.
William membuka tangannya lebar, agar dapat memeluk tubuh ramping Stela, yang merupakan mantan istrinya.
Stela terdiam, "Tidak mungkin aku kembali pada pria yang telah mempermainkan perasaanku, aku hanya ingin menikmati indahnya cinta yang tidak terasa, namun memiliki rasa yang berbeda."
William kembali menatap wajah cantik Stela, enggan untuk mendekat. Ada perasaan menyesal dan bersalah, tapi tidak mampu dia ucapkan. Rasa cinta mungkin sudah pudar, namun rasa sayang yang telah lama terpupuk karena karakter manja Stela menjadikannya wanita yang paling sempurna dalam kehidupannya.
"Kenapa bercerai? Jika masih ada perasaan itu?" keduanya hanya sibuk dengan perasaan mereka masing-masing, tapi enggan untuk mencari jawaban.
Kebersamaan William dengan beberapa gadis selama berada di Shanghai, teringat jelas dikepala Stela, membuat gadis itu menerima semua perlakuan Adrian pada dirinya agar tidak merasakan sakit teramat dalam.
Bukankah cinta mereka sangat tragis? Berpisah saat akan melakukan hubungan setelah menikah, namun harus berpisah karena alasan yang tidak jelas, bahkan memanfaatkan orang-orang berkuasa yang berada dalam lingkungan gadis manja namun tegas, putri kesayangan Leonal dan Paras.
Mereka segera meninggalkan gedung tua itu, menuju salah satu hotel bintang lima dikota tirai bambu itu.
Stela terdiam, wajah cerianya seketika berubah, saat menjadi saksi kebersamaan Stefan dan Calita.
"Ko Will, dimana keberadaan Kak Stevie dan Steiner? Bukankah mereka ada disini?" Stela mendekati pemuda oriental itu, menanyakan saudara kembarnya yang lain.
"Aku rasa wanita cantik Stevie sudah masuk, makanya mereka meninggalkan Shanghai lebih cepat," Will sibuk dengan berbagai macam minuman yang dia racik sendiri, untuk menghangatkan tubuh dan suasana kebersamaan mereka.
Stela hanya terdiam, "Kali ini, aku harus siaga satu. Pasti Adrian akan menemukan keberadaan ku."
__ADS_1