
Hati Stela sedikit khawatir, namun tidak mampu menyembunyikan rasa bahagia yang memberi isyarat, perasaan seorang wanita yang sedang jatuh cinta.
"Ooogh Tuhan...! Apakah aku jatuh cinta dengannya? Jika iya, bagaimana dengan Aunty Lauren dan anak mereka!? Aku tidak ingin menghancurkan keutuhan rumah tangga yang hampir sempurna."
Stela menggelengkan kepalanya, namun wajah bahagia tampak jelas terlihat dari raut cantiknya.
"Stel, are you okay? You seem happy?"
Stevie yang sudah sejak tadi menunggu mereka di loby hotel, memeluk adik kembarnya. Wanita satu-satunya yang menjadi putri kesayangan Keluarga Leonal pemilik perusahaan terbesar Langhai Group.
Mata Stevie mencari keberadaan Steiner, "Stef, mana Steiner? Apakah dia sudah memasuki sesi latihan?"
Stefan tertawa, "Sepertinya Steiner lebih mencintai kariernya daripada kita."
Stela membulatkan kedua bola mata indahnya kepada Stefan, "Jangan seperti itu, dia tengah sibuk berfikir untuk memenangkan seri musim ini. Aku rasa dia sudah menuju Sachsenring."
Stevie mengangguk mengerti, memberi card pada Stela untuk kamar pribadinya, "Apa kamu akan berkencan dengan seorang pria?"
Stela tertawa kecil, mendengar celotehan Stevie yang sengaja menggodanya, "Entahlah Kak, aku hanya ingin menyelesaikan semua permasalahan pribadiku. Aku harap kalian memberikan aku ruang bersama Adrian."
Stevie dan Stefan saling bertatapan mendengar penuturan adik kecilnya.
"Apakah si tua bangka itu akan menyusul mu kesini? Kamu tahu, kita disini dalam pengawasan, jangan memancing pria itu. Aku sudah kehilangan Calita, dan aku tidak ingin kehilangan mu, Stel!" tegas Stefan.
Stela menggelengkan kepalanya, "Aku harus menyelesaikan semua urusan pribadi ku dengan Bang Adrian, bukan untuk melanjutkan hubungan terlarang kami. Please pahami bagaimana keadaan ku."
Stefan dan Stevie mengangguk setuju, "Dengan catatan kamar kita connecting, aku tidak ingin kamu didatangi nenek lampir itu lagi!" Stefan meyakinkan Stevie.
"Maksudmu?" Stevie menatap Stefan dan Stela bergantian.
"Ck, sudahlah... aku hanya ingin bicara empat mata dengannya. Bukan untuk menjadi perebut suami perempuan itu! Sepertinya dia lebih kejam dari bayangan ku!" Stela memasuki lift, yang sudah terbuka lebar dihadapan mereka.
Stefan merangkul bahu adiknya, "Dengar, jangan kamu yang memohon padanya. Aku yakin dia memiliki niat yang terselubung mendekati mu! Bisa jadi karena kamu adalah putri satu-satunya dari Leonal dan Paras. Kita juga belum tahu, siapa keluarga Adrian Martadinata. Dia terlahir dari keluarga yang bagaimana, apakah setara dengan kita!"
Stela terdiam, wajahnya memerah, "Oya Kak, aku tidak melihat keberadaan Will! Apa dia tidak menghubungimu? Dia ingin bicara dengan ku, tapi aku tadi terbawa suasana."
Stevie menatap Stefan menaikkan kedua bahu mereka bersamaan, enggan menjawab dimana keberadaan Will, "Setahu aku, Adrian Martadinata itu keturunan Batak blesteran Netherland, tapi aku tidak mengetahui nama keluarganya. Mungkin sebentar lagi kita akan mengetahui siapa dia! Karena aku telah menghubungi Alea."
Stefan melepas pelukannya dari Stela, sedikit berbisik pada Stevie, "Apa kamu sering komunikasi dengan Alea?"
__ADS_1
"No, kebetulan saja aku menemuinya di bandara beberapa waktu lalu. Dia lebih cantik dari sebelumnya. Tapi aku tidak berbicara banyak, hanya dia ingin bertemu dengan pamannya. Aku penasaran, dan aku bertanya siapa pamannya. Ternyata Adrian Martadinata komandan mu! Coba kamu pastikan nama keluarganya. Mungkin ada sangkut pautnya dengan musuh lama Papa dan Mama yang mati dipenjara, Silutak Panjaitan," Stevie menjelaskan panjang lebar.
Stela menelan salivanya, sedikit penasaran apa yang dikatakan Stevie tentang Adrian Martadinata.
Benarkah jika Adrian keluarga Silutak? Bagaimana dengan hubungan ku?
Pertanyaan itu seketika menari-nari dikepala Stela.
Jika benar Adrian keluarga bermarga, tentu ini akan menjadi polemik panjang bagi keluarga mereka. Permusuhan Papa Leonal akan semakin memuncak, apalagi jika mengetahui perceraian Stela dan William.
"Aaaagh...!"
Stela enggan melanjutkan pembahasan mengenai Adrian, dihadapan Stefan dan Stevie.
Mereka bertiga tiba dilantai 17, kamar yang dipesan Stevie merupakan kamar mewah yang sangat luas. Memasuki kamar indah, yang memiliki pemandangan lepas kearah kota Frankfurt Jerman.
Membuat Stela langsung berlari merebahkan tubuhnya di ranjang kingsize, berwarna putih dan sangat empuk.
Stefan membuka pintu connecting, "Stel, jangan lupa besok kita akan ke Sachsenring melihat pertandingan Steiner. Aku rasa kamu tidak menghabiskan waktu lama bersama laki-laki tua bangka itu! Happy yah...!"
"Hmm," Stela hanya memandang, dan menumpukkan bantal dikepalanya.
"Apa yang harus kita lakukan Stef? Jika Adrian Martadinata putra dari Silutak Panjaitan?" Stevie melanjutkan pembicaraannya.
"Apa kamu yakin?" Stefan menaikkan kedua alisnya, meyakinkan apa yang disampaikan Stevie.
"Hmm, Alea menceritakan padaku. Adrian Martadinata anak perselingkuhan Silutak dan wanita Netherland. Berbeda dengan Aunty Sintya. Aku yakin, komandan bajingan itu hanya ingin merebut Stela dari Papa. Memperalat dengan sebuah ikatan pekerjaan. Entahlah...! Jika yang disampaikan Alea benar adanya, aku akan membawa Stela menghilang dari Adrian."
Stevie membuka kotak cerutu terbaik didunia, yang dia dapat dari rekannya.
"Apa kita akan meminum sebotol sampanye?" Stefan tertawa.
Stevie mengangguk setuju, mereka memesan beberapa makanan, dan sebotol sampanye untuk menemani pembicaraan mereka malam itu.
.
Malam yang semakin dingin, dikota Frankfurt Jerman, Stela masih disibukkan dengan berendam didalam bathtub yang dia taburkan dengan busa beraroma lavender.
Busa putih, terasa sangat lembut di kulit halusnya, saat kaki semampainya saling mengusap.
__ADS_1
Terdengar suara bel, dari luar kamar miliknya. Deringan telpon kembali berbunyi saat Stela masih enggan keluar dari dalam bathtub.
"Ck, kenapa tidak mengambil kunci dari sebelah saja. Mengganggu kesenanganku saja."
Stela ngedumel sendiri dalam hati, meraih handuk kimono, menutupi tubuh mulusnya.
"Wait...!"
Stela meraih remote televisi, menyalakan lampu ruangan agar tampak lebih terang.
Dia membuka pintu kamar, terlihat Adrian Martadinata berdiri dengan gagahnya dihadapan gadis berusia 22 tahun tersebut.
Stela menelan salivanya, menahan kerinduan yang teramat sangat, namun tidak ingin melakukan hal yang bodoh lagi.
"Ada apa Abang menemuiku? Bukankah semua sudah selesai?"
Stela masih enggan membukakan pintu dengan lebar.
Adrian tersenyum, menarik nafas panjang, "Bisakah kamu membiarkan Abang masuk, baby?"
Stela membuka perlahan pintu dengan lebar, masih enggan untuk menjelaskan bahwa ada kerinduan yang sangat besar, namun harus menjaga demi sebuah harga diri.
Stela melanjutkan ritualnya, kembali masuk kedalam kamar mandi, dengan hati gembira. Melihat kehadiran Adrian diwaktu yang tepat. Namun seperti kata Stevie, dia harus mengetahui siapa Adrian Martadinata.
Sesaat kemudian, Stela keluar dari kamar mandi menggunakan celana pendek, dan baju kaos polos berwarna putih.
Tentu pemandangan itu membuat Adrian semakin ternganga, saat gadisnya mengambil minuman kaleng untuk sang pujaan hati.
"Aku telah menceraikan Lauren Bennett!"
Stela mematung, menatap lekat wajah pria tampan yang ada dihadapannya.
"Are you sure?"
Hanya kalimat itu yang keluar dari bibir mungil Stela, karena tidak menyangka Adrian Martadinata akan memberi kabar perceraian itu padanya.
"Apa maksud laki-laki ini!?"
_____
__ADS_1
Fillen danke... please coment and like...