Gairah Cinta Kedua

Gairah Cinta Kedua
Anda senang, saya musibah....!


__ADS_3

Kedua bola mata Stela membulat, tidak percaya atas pernyataan yang dia dengar malam ini tentang siapa William sesungguhnya, "Tidak-tidak-tidak, ini tidak mungkin, jika Will adalah anak Uncle Fredy, berarti dia anak tiri Abang?"


"What....?!"


Adrian tersenyum, "Maaf, jika aku terlalu jahat padamu dan keluarga kalian. Aku baru mengetahui semua ini karena Kennedy dan istriku Lauren, tapi aku harus menerima kenyataan, bahwa kita harus bisa bersatu untuk melumpuhkan Stefan dan Stevie. Incaran ku adalah ketiganya, Will, Stefan dan juga Stevie. Tapi yang paling berbahaya adalah Will dan Stefan. Maka dari itu, aku meminta pada Will agar dia menyerahkan mu padaku!"


Stela menoleh dengan tatapan tajam kearah Adrian yang berdiri tegap disampingnya, "Apa Abang juga akan membunuh anak Uncle Fredy? Aku fikir Uncle Fredy benar-benar tidak memiliki keturunan! Ternyata salah satu penyebab perceraian Aunty dan Uncle itu adalah Abang? Terus, sekarang Abang juga yang menceraikan aku dan Will!? Ooogh My God....!!!"


Stela mundur, menjauh dari Adrian, ingin rasanya dia menerkam atau bahkan membunuh pria yang ada dihadapannya, "Ternyata aku salah menilai anda komandan. Selain anda tidak setia pada pasangan, ternyata anda juga tidak setia pada negara!"


Sontak pernyataan Stela membuat Adrian semakin tertampar, bahkan sangat tertekan karena merasa bersalah. Dia mendekati Stela, "Dengar baby, aku bukan tidak setia... tapi mereka yang mempermainkan perasaanku, mereka yang tidak sepenuhnya mengerti akan dunia pekerjaanku, mereka yang terlalu egois, bahkan aku tidak pernah terfikir untuk menjadi selingkuhan Lauren Bennett kala itu. Dia yang menggoda ku...!"


Stela ternganga..."Ha-ha-ha... ternyata anda terlalu lemah dalam godaan seorang Lauren? Bagaimana jika dia mengetahui anda mengancam keselamatan Will? Bagaimana jika Aunty mengetahui bahwa anda ternyata dalang dari perceraian aku dan Will? Bagaimana jika semua terbuka, bahkan tentang kamu meniduri putri Leonal Alkhairi Baros, Tuan Adrian....!"


Stela merasa tidak terima atas pengakuan Adrian, membuat emosi dan amarahnya benar-benar memuncak dikepala. Wajah cantiknya, semakin menantang pria Batak yang dia fikir seorang komandan yang benar-benar baik, ternyata pemakan segalanya.


"Otak anda kotor, bahkan dengan sangat tega anda ingin memusnahkan Will dengan kekuatan yang anda miliki. Anda bawa saya dalam masalah ini, hingga aku harus memilih, saudara kembarku... atau pekerjaan dan karirku...! Permisi Tuan Adrian, saya menyatakan mundur, dan saya akan kembali ke Indonesia! Selamat malam...!" Stela berbalik, sama sekali tidak dihiraukan oleh Adrian.


Dhuuar.... dhuuar...!!!


Saat gadis itu menekan tombol lift, suatu ledakan terjadi di lantai bawah membuat gedung hotel yang bertingkat itu bergetar dengan hebat.

__ADS_1


"Aaaaaagh....!!!"


Stela berlindung ditiang, tentu dikejar Adrian, agar wanitanya tidak terluka.


Gadis berwajah cantik rupawan itu, menyentuh dada Adrian yang mendekapnya, memeluk dengan erat. Rasa takut yang bercampur aduk, bahkan sangat menakutkan membuat mereka berlari dengan sangat cepat kepinggir gedung.


"Apa yang harus kita lakukan Bang? Bagaimana dengan keadaan Stefan dan Will? Mereka masih berada didalam kamar! Aku tidak ingin berdebat, aku hanya ingin mereka selamat. Kau gila...!!" Stela berteriak keras penuh amarah pada Adrian, karena ini merupakan satu ancaman pada keluarganya.


Adrian menggeram, "Aku tidak tahu akan terjadi situasi yang mengancam seperti ini, baby...! Aku justru terfikir ini bukan ulah team kita, melainkan Kennedy untuk merebut Calita. Are you understand...!"


Stela terdiam, air matanya mengalir, membayangkan Stefan dibawah sana akan hancur karena ledakan, dan api masih berkobar dilantai kamar mereka.


"Dimana Stefan...? Tuhan, jangan biarkan saudara kembarku mati dengan cara tragis! Apa yang harus aku katakan pada Mama dan Papa. Aaaagh....!" Stela mendengus kesal, dengan sangat kesal dan marah, dia menggigit lengan Adrian yang kekar sekuat tenaga, membuat pria itu benar-benar berteriak merasa kesakitan.


Cahaya dari atas helikopter kepolisian Shanghai mencari keberadaan Stefan dan William, dari arah atas gedung menggunakan cahaya yang sangat terang.


Terdengar peringatan dari arah helikopter, "Jangan lari....! Silahkan serahkan diri kalian, karena tempat ini telah dikepung...!!!"


Stela memukul keras kepala Adrian, "Dasar laki-laki bodoh...! Siapa yang menghubungi pihak kepolisian Shanghai? Jika mereka masih hidup, mereka tidak akan bisa meninggalkan Shanghai!!"


Adrian mendengus kesal, "Kenapa mesti marah ke aku, baby...! Ini ulah Kennedy! Aku hanya membawa Yudas, untuk membawa Calita pulang! Bukan untuk menangkap Will dan Stefan. Kenapa kamu jadi kasar begini? Bagaimana jika aku geger otak karena sikap kasar mu!"

__ADS_1


Stela hanya menyunggingkan bibir mungilnya, tanpa mau berbasa-basi terkait misi awal Adrian.


"Terserah...! Jika Abang memang hanya berniat untuk membawa Calita? Kenapa membawa satu contener pihak kepolisian? Menangkap satu orang saja mesti rame-rame. Bisanya keroyokan, coba hadapi sendiri...! Nggak beranikan?" Stela semakin jengkel menahan amarahnya dengan wajah merah padam.


Mereka hanya bersembunyi dibawah tower yang dilindungi satu tangki besar yang merupakan tempat watter heater yang merupakan pemanas air untuk hotel tersebut.


Kedua insan yang semakin lama semakin dekat terbawa perasaan mereka yang berkecamuk, dalam diam hanya bisa saling memahami. Bagaimana mungkin dalam keadaan terancam seperti ini akan saling menyakiti? Bagaimana jika pihak kepolisian Shanghai mengetahui keberadaan Adrian dan Stela yang bersembunyi disana?


Mungkin ke-duanya akan dideportasi karena melanggar aturan hukum yang berlaku di negara itu.


Adrian bersandar pada tiang, "Maafkan aku, baby. Jujur aku tidak mengetahui bahwa istri Will kala itu adalah putri Leonal. Jika aku tahu, aku tidak akan menyentuhmu. Aku juga tidak akan merusak masa depanmu diusia muda," dia menarik nafas panjang.


Stela menelan salivanya, jika dia harus memilih, mungkin dia ingin melanjutkan hubungannya dengan Adrian ke jenjang lebih serius, tanpa harus menjalani problematika pekerjaan yang sangat memusingkan kepalanya.


"Apa aku harus memintamu untuk bertanggung jawab?" Stela menunduk lesu, hatinya enggan untuk kembali mengeras, karena merasakan suatu getaran yang berbeda.


"Ya...! Of course...! Aku akan bertanggung jawab, karena telah merusak kebahagiaanmu. Jujur seumur hidupku, aku tidak pernah merasakan bercinta dengan wanita muda sepertimu," Adrian melirik kearah Stela, untuk meyakinkan gadis yang tengah menunduk.


"Ck.... kasihan sekali hidupku, harus direbut paksa oleh pria yang sudah memiliki istri, bahkan pernah menjadi seorang pebinor, perebut istri orang tanpa memikirkan bagaimana perasaan Uncle Fredy!" Stela mengejek Adrian.


Adrian hanya tersenyum tipis, "Itulah cinta, tapi aku merasa senang, dipertemukan dengan wanita cantik dan kuat sepertimu!"

__ADS_1


Stela menatap tidak suka pada pernyataan Adrian, "Anda senang...! Saya musibah, Tuan...!"


Helikopter kepolisian Shanghai, masih berada diatas kepala mereka, untuk mencari jejak Stefan dan Will.


__ADS_2