
Cuaca masih tampak sejuk, justru Stefan tengah duduk di sofa menemani Stevie yang tengah menghirup barang haram yang sudah sejak lama menjadi candunya.
Ya..... Stefan selalu menemani Stevie yang masih mengkonsumsi barang haram sejenis serbuk putih, yang menjadi bisnis menguntungkan baginya dan Will.
Sesekali Stevie menawarkan Stefan agar menemaninya, untuk menenangkan pikiran kembali. Namun, Stefan enggan melakukannya karena memikirkan kehadiran Stela yang membuatnya sedikit tidak nyaman.
Stela menggeliatkan tubuhnya, sesekali melirik kearah Stevie yang membelakangi untuk menutupi apa yang keduanya lakukan.
Stefan yang menyadari bahwa adik perempuannya telah terjaga, memilih mendekati Stela, memberikan pakaian yang akan adiknya kenakan setelah membersihkan diri.
Sangat berbeda dengan Stela, dia justru tampak kesal karena melihat Stefan yang datang menghampiri nya. Bukan Stevie, karena masih membelakanginya.
Stela merampas pakaian yang ada ditangan Stefan, memilih berlalu masuk kamar mandi namun, matanya melirik tajam kearah Stevie yang masih sibuk dengan dunia yang berbeda.
Melihat apa yang di lakukan Stevie, sontak membuat Stela kaget bukan kepalang. Bagaimana tidak, berani-beraninya mereka menggunakan barang haram itu di hadapannya.
Dengan langkah sangat garang Stela menghampiri Stevie, mengacak-acak serbuk putih yang masih terletak di mejanya seraya berkata, "Apa yang kalian lakukan? Aku pikir kalian hanya berbisnis ini tanpa menggunakannya! Apa kamu gila, Stev? Kenapa kamu tidak memikirkan kesehatan dan keselamatan mu?" teriaknya dengan lantang.
Mendengar bentakan Stela yang sangat memuakkan di telinga Stevie, membuat dia berdiri garang dihadapan adik kembarnya, meremas kuat lengan saudaranya tanpa perasaan bersalah.
"Apa yang aku lakukan? Bukankah kamu tidak ingin mendengarkan apa nasehat ku? Di kepalamu hanya melanjutkan hubunganmu dengan tua bangka itu? Kenapa kamu tidak menjadi wanita yang sangat bermartabat!? Apa yang kamu harapkan dari seorang Adrian Martadinata Panjaitan, haaaah!?" bentak Stevie menggeram.
Stela benar-benar semakin berang. Rasa kesal, bahkan muak jika berada didalam kamar bersama kedua orang yang sudah menjadi target operasi internasional, dia menantang Stevie, "Jangan mencampur kan urusan pribadiku dengan urusan haram ini, Stev! Ingat.... aku akan melakukan apa saja untuk merebut Adrian Martadinata Panjaitan kembali kepelukan ku! Apa saja!!"
Stela menghentakkan lengannya agar terlepas dari genggaman Stevie, yang menatapnya seakan-akan apa yang dia lakukan saat ini karena kesalahan adik kembarnya.
Stela berlalu memasuki kamar mandi, dia menyirami tubuhnya menggunakan air hangat, sementara Stefan hanya terdiam mematung duduk dipinggir ranjang kamar yang mereka tempati.
__ADS_1
"Stev.... lebih baik kamu tinggalkan Munich untuk melihat kondisi Steiner. Aku akan mengurus Stela disini. Jangan menghilang seperti yang biasa kamu lakukan. Aku takut Mama dan Papa mengkhawatirkan kita bertiga," jelas Stefan sedikit berbisik.
Stevie menghela nafas panjang, dia tidak ingin berbasa-basi. Baginya kesenangan yang dia rasakan saat ini sebagai seorang pria muda yang bebas, namun harus memiliki harga diri yang tinggi untuk melindungi keluarga dari hantaman orang di luar sana. Dia mendekati Stefan menghampiri saudara kembarnya dengan tatapan penuh dendam jika mengingat Adrian.
Stevie mengikuti semua perintah Stefan, sedikit menitipkan pesan untuk adik kesayangan mereka berdua, "Jangan sampai dia melakukan hal gila. Karena aku tahu, Stela memiliki pemikiran yang jauh lebih sadis di bandingkan kita untuk mendapatkan apa yang dia mau. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya, apalagi jika berhadapan dengan seorang Lauren Bennett. Kamu mengerti, bro?" tangan kekar dan bersih mulus itu menepuk pipi saudara kembarnya.
Stefan menaikkan kedua alisnya, tersenyum tipis mendengar nasehat dari Stevie, dia menepuk pundak pria yang hampir mirip dengannya itu sambil berkata, "Apapun yang di lakukan nya, setidaknya ini masalah hati. Kita tidak bisa menahan apalagi melarang. Jika dia siap dengan semua resiko, biarkan Stela memperjuangkan cintanya."
Stevie menaikkan kedua bahunya, "Terserah....!!"
Hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Stevie, sambil menghubungi heli yang membawanya ke Munich. Dia tidak ingin berlama-lama dalam situasi seperti ini, karena akan membuang-buang waktu sebagai seorang pria yang memiliki jam terbang tinggi dalam menjalankan bisnis yang sangat memilukan.
Stela keluar dari kamar mandi, mencari keberadaan Stevie, dan menoleh kearah Stefan yang masih menunggunya.
Stela bertanya tanpa perasaan bersalah, "Kak Stev mana? Masih marah dengan aku?"
Stefan menggeleng, "Cepatlah bersiap. Steiner sudah siuman, dan kita akan kembali ke rumah sakit, karena aku akan kembali ke Napoli untuk bertemu dengan Will. Dia berada disana!" tegasnya.
Sibuk mencari keberadaan handphonenya, namun dia menemukan satu alat canggih yang dia miliki untuk melacak keberadaan Adrian tanpa menghubungi pria beristri tersebut.
Stela melacak keberadaan Adrian, sedikit melirik Stefan yang tengah di sibukkan dengan beberapa urusan percintaannya dengan Calita.
Berkali-kali Stela menghela nafas panjang saat mengetahui keberadaan Adrian, disalah satu rumah sakit yang berada di Munich. Dia melirik kearah Stefan, mencari keberadaan kunci mobil milik saudara kembarnya meminta izin untuk mencari makanan, setelah menemukan keberadaan orang yang dia cintai.
Stefan memberikan jempol, dan anggukan setuju tanpa menaruh rasa curiga mengingat Stela belum mengisi perutnya sejak tadi.
Stela menghubungi beberapa rekan yang mengenalnya, untuk menunggunya di salah satu rumah sakit tempat Adrian berada, membawa semua peralatan yang dia minta.
__ADS_1
Tentu saja itu menjadi suatu hal yang mudah bagi Stela karena gadis itu memiliki rekan yang sangat luas, jika telah menginjak kan kaki di Eropa.
Stela memastikan keberadaan Adrian, dari alat yang dia miliki. Melihat kearah gedung yang merupakan rumah sakit terbaik disana. Dia kembali berfikir, "Bagaimana caranya untuk aku naik keatas? Dan menemukan keberadaan Bang Adrian? Aku tidak ingin berdebat, aku hanya ingin memperjuangkan hak ku sebagai wanita, yang mencintai seorang pria beristri. Aku tidak akan lemah. Aku harus memperjuangkan hubungan ini, apapun caranya!"
Setelah Stela bertemu dengan beberapa rekannya, meminta semua pihak untuk membantu. Namun, tidak menyebutkan alasan apa mereka turut membantu melainkan hanya karena mengenal siapa wanita muda yang cerdas itu.
Ini merupakan awal perjuangan Stela, dalam mempertahankan hubungannya sebagai simpanan seorang komandan, yang akan melakukan apa saja demi seorang Adrian Martadinata Panjaitan.
"Aku akan datang menjemput mu, Bang! Kamu tidak bisa meninggalkan ku seperti ini, karena kamu akan melihat kegigihan ku untuk mendapatkan mu, walau hanya sebagai yang kedua," bisiknya dalam hati menatap jauh kearah jendela yang dia tuju. Tersenyum tipis, mengepalkan kedua tangannya, menyebut nama Adria didalam hatinya berkali-kali.
"Setelah ini, kita akan melakukan perjalanan dinas sesuai permintaan mu....!!!"
________
Curhatan Author Pemes sedikit....
"Kenapa yah, statistiknya naik.... tapi like and komentar sedikit..." tanya othor.
"Karena kami pembaca yang hanya menikmati tulisan Kakak saja." Jawab reader.
"Ooogh..... berarti aku hanya berharap, namun tak di anggap. Aku hanya seperti author yang kesepian tanpa vote dan hadiah yang tidak begitu banyak. Padahal aku selalu berusaha untuk update dan memperbaiki tulisanku sebagai pengangguran propesional yang produktif! Aaagh... ini hanya menjadi curhatan Author Pemes seperti aku."
Reader.... jika kalian memang mencintai karya ku, tunjukkan wujud kalian sebagai penyemangat aku sebagai penulis pemula yang tidak mengharapkan apa-apa.
Aku hanya manusia biasa yang memiliki satu impian yang luar biasa, seperti othor pemes lainnya.
Terimakasih mau mampir di karya ku, terimakasih mau membaca tulisan ku yang terkadang memuakkan mata kalian. Tapi hiburlah aku, dengan kalimat penyemangat dari kalian.
__ADS_1
Salam hangat Author Pemes...
Tya Calysta....😘🥰❤️