
Cuaca cukup sejuk, saat Stela keluar dari kamar mandi setelah melakukan ritualnya membersihkan diri sendiri, tanpa bersuara dengan pria yang tengah menikmati segelas kopi sambil tersenyum sumringah menatap gadis cantik blesteran Padang tersebut.
Di tangan kanan Adrian masih terdapat handuk kecil yang berisikan ice kristal untuk meredakan memar yang masih terasa sangat sakit di wajahnya. Pertikaian yang dia hadapi saat ini sungguh sangat menyakitkan, untuk memperjuangkan seorang Stela Chaniago Leonal Alkhairi.
Stela kembali seperti seorang tawanan, bahkan sangat menyebalkan. Dia mesti tinggal satu kamar dengan pria yang diam-diam dia cintai.
"Aaaaagh... kenapa aku mesti jatuh hati pada pria beristri, yang jelas-jelas dia belum bercerai. Apakah perpisahan Aunty Lauren dan Bang Andrian hanya akal-akalan saja? Atau mereka benar-benar telah berpisah. Tapi kenapa Bang Adrian ada di rumah sakit?" bisik Stela dalam hati, merebahkan tubuhnya diatas kasur.
Stela tidak ingin menatap wajah Adrian, yang masih terlihat memar karena di hantam tangan Stefan yang kekar. Jika kembarannya sudah tersulut emosi, maka semua akan hancur di tangannya, tanpa memperdulikan siapa pun.
Sama halnya, kekasih Stela masa sekolah Landon. Pria kutu buku yang bertubuh kurus, selalu menjadi bahan bullyan Stefan dan Stevie, karena wajahnya yang lucu dan penurut. Apapun akan dia lakukan demi hubungannya bersama Stela berjalan baik.
Namun, keputusan Stela untuk melanjutkan sekolah di Melbourne, mereka harus berpisah. Itu lah awal mereka berpisah karena mengikuti permintaan keluarga, di suport kesibukan kedua orang tua yang tidak memiliki waktu untuk mereka.
Landon menghilang entah kemana. Terakhir Stela mendengar kabar mantan kekasihnya itu berada di Jakarta menjadi orang hebat di salah satu instansi pemerintahan.
Stela memejamkan matanya, menutup tubuh langsing itu dengan selimut tebal untuk melepas lelah. Namun kepalanya sedikit tenang karena dia ditemani pria tampan dan mapan sebagai seorang yang dicintai saat ini.
Adrian melihat wajah gadis cantik yang sangat membius perasaannya, beranjak dari tempat duduk mendekati Stela. Memeluk tubuh ramping gadis itu agar lebih hangat.
Stela menggeliat, sedikit tidak nyaman karena di perlakukan seperti itu oleh seorang pria. Walau mereka pernah menghabiskan waktu bersama, tapi gadis cantik tersebut merasa sangat risih dengan wajah semakin merah merona karena menahan rasa malu.
Stela membuka matanya, tertawa sendiri karena merasa jemari lentik Adrian mulai menggelitik bagian tubuhnya, dia berteriak dengan suara serak, "Bang, geli.... lepaskan tangan mu dari bagian pribadi ku!" kesalnya, namun tak bisa menahan.
__ADS_1
Adrian menoleh kearah Stela yang masih bergumul dalam selimut. Wajah memar bagian mata, terlihat sangat mengenaskan.
Bagaimana mungkin Stefan setega itu pada Adrian. Jikalau tidak ada hubungan cinta kedua insan ini, mungkin Adrian Martadinata lah yang akan menyelesaikan Stefan untuk membawanya segera ke meja pengadilan.
Namun percintaan yang cukup rumit, membuat mereka lebih memilih jalan seperti ini, karena waktu mereka hanya tinggal lima bulan lagi.
Ke-dua bola mata mereka saling menatap, rasa rindu yang dirasakan oleh gadis blesteran Padang tersebut terlihat jelas dari netra indah yang terpancar dari kedua bola matanya.
Adrian membasahi bibirnya sendiri, yang terasa sangat kering, perlahan dia mencium lembut bibir gadis yang masih pada posisi sama seperti tadi.
Stela menyambut ciuman Adrian, kedua mata saling menutup bahkan ciuman kali ini terasa sangat berbeda, hangat bahkan sangat penuh perasaan. Mata tertutup, tangan halus keduanya saling mengusap wajah penuh kerinduan, membuat kedua nya saling menikmati lummatan lebih dalam lagi yang saling mereka berikan.
Adrian masih memberi ruang pada gadisnya, agar dapat bernafas dengan lega sebelum tangan kanannya masuk kedalam selimut untuk melakukan yang mereka dambakan, bahkan semakin memabukkan.
Seketika tubuh kedua insan itu memanas, ada sedikit gairah yang tertahan, karena tidak ingin terburu-buru melakukan sesuatu perasaan indah bagi cinta mereka.
Adrian membuka baju kaos yang dia kenakan, memperlihatkan otot kekar dan dada berbulu lebih menggoda mata hati gadis berusia 22 tahun tersebut.
"Apa kamu menginginkan ku, baby?" bisik Adrian kembali saat bibirnya kembali mengecup kening, pipi dan terakhir berada di bibir gadis yang sudah ada dalam dekapannya.
Stela menikmati setiap kecupan yang diberikan Adrian. Seumur hidupnya, baru kali ini dia di perlakukan baik oleh seorang pria, bahkan mau memperjuangkan nya sebagai wanita yang tidak pernah mengerti dunia percintaan. Dia hanya mengikuti alur sesuai irama yang diberikan pasangannya kala itu.
Namun, kali ini Stela lebih bergairah, lebih berani sehingga dia benar-benar meremas kuat punggung Adrian yang ada dalam pelukannya saat pria bertubuh tegap dan bermarga tersebut menghentakkan pinggulnya dengan hentakan lembut saat penyatuan cinta mereka.
__ADS_1
Dunia yang terasa sangat indah, sehingga mampu memberikan kenyamanan yang berbeda bagi gadis yang semakin lama semakin agresif saat tubuhnya kembali mengeerang nikmmat.
Getaran tubuh ramping yang meliuk-liuk bak gitar Spanyol, memberikan pemandangan yang sangat indah bagi Adrian. Dengan pengalaman yang dia miliki, dia mengatur Stela untuk mau bermain-main di atasnya agar dapat memeluk bahkan memandang wajah gadis yang sangat cantik memiliki tubuh indah yang tengah melayang-layang di mabuk asmara, karena sentuhan jemari lentik Adrian mampu memberikan rassa yang sangat berbeda bagi gadis berwajah blesteran itu.
Mereka saling mendekap, mellumat bahkan Adrian mengulum benda kenyal yang telah menampar wajah pria Batak tersebut.
Kedua tubuh itu saling memeluk saat mencapai puncak surga dunia yang terasa indah bahkan tak ingin mengakhirinya.
Mereka larut dalam cinta dan harapan-harapan untuk saling menggenggam erat, saat kembali di hadapkan dengan segala permasalahan yang akan menerpa.
Disisi lain, teropong yang mampu menembus batas kesadaran seorang Stefan tengah menggeram kesal, saat menyaksikan adik kembarnya tengah berada dalam dekapan Adrian Martadinata.
"Brengsek dia....! Aku akan menyelesaikan ini semua, sebelum kita meninggalkan Jerman. Aku yakin Adrian telah menjebak adikku karena benda tumpul yang dia miliki. Tapi aku melihat, tua bangka itu sangat mencintai Stela. Apa yang harus kita lakukan, Stef? Bagaimana ini?" tanya Stefan setelah menyaksikan adegan adik kembarnya sendiri.
Stevie tersenyum tipis, menatap wajah Stefan lekat, kemudian berkata, "Habisi dia! Aku tidak ingin Papa dan Mama kembali teringat masa lalu mereka. Aku sudah menghubungi Will, saat ini dia berada di Napoli bersama Uncle Fredy karena menghindar dari pertikaian ini."
Stefan terdiam mendengar pernyataan Stevie, "Bagaimana caranya?"
Stevie hanya menjawab dengan tegas, "Pecahkan kepalanya dari jarak 500 meter. Aku yakin, tidak akan yang tahu jika tua bangka itu mati ditangan kita. Ingat, kita tidak pernah ada mengeluarkan kata 'maaf'!"
Stefan semakin menggeram, wajah tampan terlihat lebih garang, bahkan tidak ingin bermain lebih lama lagi untuk merebut adiknya Stela kembali ke pelukan keluarga mereka.
"Aaaagh.....! Damn it....!!!"
__ADS_1