Gairah Cinta Kedua

Gairah Cinta Kedua
Mengalir deras darah Silutak Panjaitan


__ADS_3

Dua insan masih enggan melepas penyatuan cinta mereka, tubuh keduanya masih saling menceritakan kerinduan di setiap sentuhan-sentuhan lembut yang di ciptakan tanpa rasa lelah.


Adrian masih berada dibelakang Stela, sambil meremas benda kenyal yang semakin menggodanya setelah berkali-kali saling mereguk kenikmatan duniawi yang indah.


Untuk kesekian kalinya, Adrian mampu membuat tubuh Stela kembali menegang dan mengerang dalam mencapai puncak kebahagiaannya.


Cuaca yang semakin dingin diluar sana, namun terasa hangat bahkan semakin panas saat kedua insan itu tengah larut dalam keringat cinta yang bercucuran mengalir dalam penyatuan cinta, yang semakin lama semakin terasa manis dalam mereguk kenikmatan cinta.


Berkali-kali Adrin meremaas bagian belakang gadis yang tengah mendesssah, meletakkan kedua tangannya di bantal kembali basah, karena keringat yang menetes membasahi sprei putih menjadi saksi betapa dahsyatnya mereka melepas kerinduan dalam penyatuan yang tak pernah kenal lelah.


Adrian menghentak kan pinggulnya, mengerang dalam meraih puncaknya dan menyiramkan benih cinta di rahim gadis yang ada di hadapannya.


Tubuh keduanya masih saling mendekap, enggan untuk melepas pelukan tangan kekar yang masih melilit di pinggang Stela. Nafas memburu kembali saling menatap bahkan tampak menyiratkan senyum kebahagiaan.


Stela menggigit bibir bawahnya, memejamkan mata menantikan bibir Adrian yang masih mengecup punggung telanjangnya untuk segera berada di wajah cantiknya.


Adrian berbisik lembut ditelinga Stela, "Kamu sungguh nikmaat, baby! Aku sangat mencintaimu, jangan pernah pergi dari ku! Karena aku benar-benar ingin hidup bahagia denganmu, selamanya," kecupnya pada mata Stela yang masih terpejam.


Perlahan Stela membuka mata, melepas penyatuan cinta mereka, sedikit mendessah karena milik Adrian masih terasa sangat penuh didalam miliknya.


Stela memeluk tubuh Adrian yang tengah berada di sampingnya, seraya berbisik, "Hmm, jangan terlalu banyak berharap, Bang. Karena hubungan kita sudah menjadi masalah besar bagi keluarga. Aku takut kita akan di pisahkan secara paksa, bahkan aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu. Aku takut tidak bisa melihat mu lagi!"


Ketakutan yang menghantui kedua insan yang tengah dimabuk asmara membuat pikiran semakin nekat untuk melawan siapa saja yang akan menghadang.


Adrian membawa Stela dalam pelukannya, mengecup lembut puncak kepala gadis yang sangat dia cintai selama ini. Rasa cinta tumbuh begitu saja, bahkan semakin hari semakin dalam karena perasaan nyaman dia rasakan jika berada di dekat gadis vegetarian tersebut.

__ADS_1


Adrian membalikkan tubuhnya, memperbaiki posisi mereka, yang awalnya saling menelungkup, kini telentang, kemudian membawa tubuh Stela agar tidur lebih nyaman diatas dada bidang sang komandan.


Ke-duanya saling bercerita sejenak, sebelum masuk kedalam dunia mimpi, setelah mereguk keindahan malam panjang mereka. Perasaan nyaman, cinta, dan sayang yang terucap, membuat mereka larut dalam suasana hangat sangat menggairahkan.


Adrian masih mengusap lembut punggung Stela yang sangat halus dan lembut, sedikit penasaran dengan hubungannya dengan William beberapa waktu lalu.


Adrian memberanikan diri untuk bertanya percintaan mereka, anak tirinya dan gadis yang saat ini berada dalam pelukan, "Apakah kalian tidak pernah menghabiskan waktu bersama? Dimana kamu bertemu dengan Will, baby?"


Stela tengah memainkan jemari telunjuknya di dada Adrian sambil membentuk angka delapan dengan penuh kelembutan, hanya menjawab singkat, "Aku tidak pernah menghabiskan waktu bersamanya. Kami menikah karena permintaan Papa yang sangat menginginkan menantu oriental. Aku tidak menyangka bahwa Will adalah putra kalian!"


Stela merenggangkan dekapannya, tidak ingin mengingat semua kenangan bersama Will. Baginya, melupakan pria itu lebih baik daripada terus menerus mengingat pernikahan dua hari yang telah menorehkan luka.


Namun, Adrian menarik tubuh ramping Stela, kembali membawa gadis tersebut masuk kedalam pelukannya, "Maafkan aku, baby...!!"


Entahlah, yang pasti saat ini tubuhnya sangat menginginkan Adrian Martadinata walau telah berkali-kali mereka melakukannya.


Tanpa perasaan malu, Stela membalikkan tubuhnya, kembali mengusap lembut wajah tampan Adrian yang tengah menatap.


"Apakah ini yang di namakan cinta, Bang? Aku sangat senang berada dalam pelukan mu. Jangan pernah tinggalkan aku!" Stela berbicara tanpa ada rasa canggung. Dia membuat Adrian semakin tersenyum sumringah, bersorak-sorai didalam hati dengan perasaan bahagia luar biasa.


Adrian tersenyum tipis, menjawab pertanyaan gadis cantik yang hanya berjarak dua sentimeter tersebut dengan suara lembut, "Aku tidak akan pernah melepaskan mu, baby. Sampai kapanpun kita akan terus bersama. Apapun yang terjadi, aku tetap akan berjuang untuk mu."


Gadis mana yang tidak akan terlena, mendengar janji dari mulut manis setampan Adrian? Wajah pria itu mampu membius mata hati Stela, memiliki tubuh yang kuat bahkan mampu membuat wanita seumurnya merasakan kebahagiaan sempurna diatas ranjang.


Stela merasakan hembusan nafas Adrian yang semakin lama semakin menggodanya, dia memberanikan diri untuk mengecup bibir basah pria Batak tersebut lebih dulu dengan sangat lembut.

__ADS_1


Tentu saja itu menjadi hadiah luar biasa menyenangkan bagi Adrian. Jika ini yang dilakukan keduanya saat pertama kali mengenal Stela, mungkin situasi tidak akan sesulit saat ini.


Adrian kembali membahagiakan gadis muda nan cantik rupawan tersebut tanpa ada perasaan lelah, bahkan sangat menyenangkan baginya mampu memberikan kenyamanan dan kepuassan luar biasa bagi Stela yang baru merasa kecanduan akan hal itu.


Stela benar-benar terbius, bahkan semakin larut dalam suasana hati yang bahagia tanpa memikirkan perasaan kedua saudara kembarnya di seberang sana yang masih melihat kejadian tersebut dari kejauhan.


Jendela yang terbuka lebar, memberi ruang bagi keempat pasang mata diseberang sana untuk menyaksikan kemesraan saudara kembarnya dengan sangat liar.


Berkali-kali Stefan menggeram, bahkan kini dia tengah sibuk merakit senjata laras panjang yang dibawa salah seorang kerabat mereka ke guest house tempat mereka menginap.


Jhonson, salah seorang sniper handal asal Italia yang siap membantu mereka berdua untuk menghabisi Adrian tepat pukul 07.00 waktu Munich.


Penembakan berencana yang akan segera mereka lakukan dari jarak dekat atas perintah Stevie untuk menghabis Adrian Martadinata Panjaitan, yang dengan tega membawa adik perempuan mereka satu-satunya menjauhi keluarga, demi sebuah janji palsu yang pria Batak ucapkan atas nama cinta untuk meyakinkan gadis cantik berdarah Padang blesteran tersebut.


Jhonson melihat foto yang Stevie berikan padanya dari pesan singkat whatsApp, yang dikirim sahabat lama tersebut.


Betapa terkejutnya Jhonson, "Apa kamu serius akan memecahkan kepala pria ini, Stev? Bagaimana dengan adikmu? Apakah kamu siap? Dia akan membenci mu seumur hidupnya, karena kalianlah yang menghabisi nyawa kekasihnya. Bagaimana jika adikmu hamil? Apa kalian tahu betapa sakitnya adikmu nanti?" tanyanya sedikit ragu.


Stefan dan Stevie saling menatap, wajah kedua pria kembar tampan itu semakin menggeram.


Namun, Stevie menjawab pertanyaan sahabatnya dengan sangat santai, "Apapun yang terjadi pada Stela, itu adalah tanggung jawab kami. Yang pasti di dalam darah Adrian Martadinata masih mengalir deras darah Silutak Panjaitan yang merupakan musuh keluarga besar ku, Jo!"


Jhonson menggelengkan kepalanya, merasa tidak mengerti dengan jalan pikiran kedua anak muda tersebut, "Jika adikmu hamil, maka yang dia lahir kan adalah darah Silutak Panjaitan, Stev!!"


Stevie terdiam, rahangnya mengeras dan semakin menggeram, "Lakukan sekarang, Stef....!!! Now....!!!" perintahnya.

__ADS_1


__ADS_2