
Mereka tiba diapartemen milik Steiner Leonal Alkhairi. Tentu Adrian semakin enggan menginjakkan kaki disana. Bergegas dia meraih tas ransel miliknya, segera meninggalkan kediaman putra kembar Leo dan Paras.
Stela yang melihat Adrian mengikuti langkah kekasih gelapnya, memilih keluar dari kediaman saudara kembarnya, bergegas mengejar pria yang selama ini menemaninya.
Gadis cantik itu menarik lengan Adrian, "Abang mau kemana?"
Adrian menoleh dengan wajah dingin tanpa menjawab. Kejadian dimobil tadi membuatnya malu, bahkan tidak mampu berucap, jika diikutkan hati ingin rasanya dia menghabisi tiga anak kembar Leonal dan Paras hari ini juga, karena telah berani-beraninya mengata-ngatai seperti merendahkan dirinya sebagai pria sejati.
Semua keadaan berubah setelah Adrian Martadinata menikah dengan Lauren Bennett yang merupakan tangan kanan Marsedez Benz. Perselingkuhannya yang menjadi pusat perhatian kala itu, membuat Fredy Einstein memutuskan untuk meninggalkan Lauren dan menetap di Napoli, tanpa membawa William yang masih berusia tiga tahun.
William tumbuh menjadi seorang anak yang sering berdiam diri, wajah oriental yang dikira bukan anak biologis Fredy, membuat semua orang bertanya-tanya, benarkah Will bukan anak Fredy dan Lauren?
Mereka sepakat melakukan test DNA, agar mengetahui keabsahan putra kesayangan mereka William Einstein. Hasil yang sangat memuaskan bagi Lauren, karena William benar putra kesayangan Fredy.
Hanya saja pertumbuhan Will yang kurang mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya, menjadikan dia sosok anak yang nakal, bahkan pembangkang. William tidak berhasil menyelesaikan kuliahnya, karena pergaulan bebas yang dia lakukan diusia muda.
Pertemuan pertamanya dengan Stefan dan Stevie, membuat mereka memutuskan menjadi satu team yang sangat menggemparkan jagad raya. Keputusan yang diambil Stefan untuk memberi modal pada William, menjalankan bisnis haram mereka pertama kali sangat menguntungkan bagi mereka.
Hingga mereka memutuskan menjadi penadah terbesar di Jerman dan merambah ke dunia Internasional.
Bahaya? Ya... bahkan sangat membahayakan.
Mereka merupakan orang terpandang di negara masing-masing, kini menjadi salah satu target bagi Badan Narkotika Internasional yang sewaktu-waktu dapat mengancam keselamatan mereka.
Mendengar pertanyaan gadis cantik berwajah blesteran Padang tersebut, Adrian hanya menatap kemudian berlalu meninggalkannya.
"Bang...! Abang...!"
Stela berlari kecil mengejar Adrian yang akan memasuki lift. Perlahan pria berdarah Batak blesteran itu menarik nafas panjang.
"Apa! Saya mau pulang! Sopir Aunty sudah berada dibawah. Saya tidak ingin berada disini. Apa kamu mau ikut dengan saya?" Adrian masih menahan pintu lift yang segera tertutup.
Stela terdiam, lidahnya terasa kelu tak mampu berucap, "Hmm, pulanglah...!"
Stela berbalik, tak menghiraukan Adrian, berharap pria tegap yang telah mencuri perhatiannya sejak di Shanghai memanggil namanya, agar kembali meminta untuk tetap menunggu.
Namun semua itu hanya harapan Stela, Adrian benar-benar pergi meninggalkannya di apartemen Steiner.
"Ooogh... shiiit!"
__ADS_1
Air mata mengalir tanpa Stela sadari, hatinya terasa perih, saat mengatakan Adrian akan pulang kerumahnya, "Apa ini? Kenapa hatiku terasa sakit? Apakah aku seorang perebut suami orang? Kenapa cinta ku justru tumbuh bersamanya? Aaaagh....!"
Stela bersandar didinding koridor apartemen, menangis terisak, merasakan kepiluan yang sangat perih, hati seperti teriris sembilu, bahkan terasa perih namun tak berdarah.
"Tuhan... inikah rasanya mencintai suami orang?" isak tangis Stela semakin dalam, dia duduk, meringkuk, berharap agar Adrian Martadinata menjemputnya.
"Berdirilah... jangan terlalu berlarut!"
Terdengar suara dingin William menghampiri Stela, membuat gadis itu segera mengusap lembut wajahnya.
"Ko...!"
Stela bersusah payah menelan salivanya, berdiri cepat, mencoba berlalu.
Namun William menahan lengan mantan istrinya, "Bisa kita bicara sebentar? Koko rasa kamu belum tahu sepenuhnya siapa Adrian Martadinata!"
Stela menggelengkan kepalanya, melepaskan lengannya dari genggaman Will.
"Semua sudah terlambat!"
Stela berlalu meninggalkan Will, dengan penuh perasaan kesal, memasuki kediaman Steiner.
Steiner yang melihat adik kembarnya berwajah sembab, menghentikan langkah Stela.
Steiner yang asal bicara, membuat Stela menggeram tersulut emosi.
"Kak, cukup kamu menghakimi aku! Siapa yang bermain hati? Siapa yang memulai? Apakah selama ini kalian pernah melindungi aku sebagai adik kalian? Adik perempuan yang kalian bilang sayang! Bahkan kalian berikan aku uang di pernikahan yang hanya bertahan dua hari dengan pria yang tidak jelas statusnya. Yang aku butuh bukan uang, tapi perhatian!! Siapa yang membuat hidup ku hancur? Kalian kan!? Jawab...!!!!"
Stela menantang Steiner, membuat dia semakin menggeram.
Steiner terdiam.
Stefan justru ternganga mendengar penuturan saudara kembarnya. Dia berdiri menghampiri Stela, namun gadis itu berlalu meninggalkan kedua pria itu.
"Stel... Stela... Come on...! Kita bicarakan baik-baik, jangan seperti ini. Aku mencintaimu girl...!"
Stefan berteriak, namun tidak diindahkan oleh Stela.
Calita terdiam, wajahnya seketika berubah menjadi serba salah, "Sepertinya aku salah telah berada disini!"
__ADS_1
Ingin rasanya Calita mengejar Stela, tapi enggan dia lakukan, karena tidak ingin memperkeruh suasana diapartemen yang semakin memanas.
Stela benar-benar menangis, rasa sakit semakin dalam karena dimusuhi oleh saudara kembarnya sendiri.
"Kenapa mereka tidak pernah mengerti apa yang aku rasakan? Bahkan dengan mudahnya mereka mengatakan itu? Jika memang aku salah, tapi William lah yang harus disalahkan. Seenaknya dia menjual ku dengan Ayah tirinya. Kenapa hidup ini tidak adil? Apa salah ku dengan keluarganya? Jika memang ini merupakan dendam, dendam siapa? Dendam yang sangat menyakitkan bahkan membingungkan!"
Seketika Stela teringat akan sahabatnya Pedro, "Hmm, Pedro di Swiss. Aku yakin dia akan menemui ku disini."
Bergegas dia mencari nomor telepon Pedro, mengirimkan beberapa pesan melalui whatsApp.
Seharian gadis cantik itu menghabiskan waktu didalam kamar, tanpa menghiraukan panggilan dari Stefan yang sejak tadi memanggil namanya.
"Baby, bisakah kamu membujuk adikku?"
Stefan mendekati Calita.
Calita menggeleng, dia enggan ikut mencampuri urusan keluarga orang lain, bergumam dalam hati, "Urusan aku sama Alea saja tidak pernah akur, malah disuruh mencampuri urusannya. No, ini tidak mungkin."
Stefan justru membujuk Steiner, agar mau memanggil Stela yang tengah mengurung dirinya didalam kamar.
"Bro, minta maaf! Stela benar, kitalah yang harus disalahkan atas kejadian ini. Sebelum semua benar-benar hancur, aku lebih baik pergi. Oke! Aku akan kembali ke Italia. Jika pertandingan mu selesai, kunjungi aku! Aku menunggumu!"
Stefan mendekati pintu utama apartemen, namun tubuhnya dihujam pukulan keras dari orang yang tidak dikenal.
BHUUUUG...!
BHUUUUG...!
BHUUUUG....!
Seketika tubuh Stefan roboh, nafasnya terasa sangat sesak, pandangannya seketika membayang.
"Siapa kalian?"
Steiner menyaksikan saudara kembarnya disiksa, sedikit kaget karena kehadiran seorang yang tidak dikenalnya mendekati, bahkan memberi pukulan keras padanya.
BHUUUUG....!
BHUUUUG....!
__ADS_1
"Aaaagh...!" Steiner meringis menahan rasa sesak di ulu hatinya.
Calita tampak kebingungan, menjerit-jerit meminta pertolongan, "Tolong.... tolong....!!!!"